
Pagi-pagi sekali Calista sudah selesai menyiapkan sarapan. Herman yang keluar dari kamar begitu terkejut dengan kedatangan Calista.
"Calista, kapan kau datang?"
"Tadi malam Pa, kata Laras Papa sudah tidur jadi Calista tidak membangunkan Papa."
"Iya, tadi malam Papa sedikit pusing jadi Papa tidur lebih awal. Kamu yang memasak semua ini Calista?"
"Iya," jawab Calista sambil tersenyum.
"Hebat kamu Calista, benar kata Olive kau memang sudah benar-benar berubah, bukankah dulu kau tidak bisa masak? Tapi sekarang kau bisa menyiapkan ini semua. Hahahaha," ledek Herman sambil tertawa.
"Papa, bisa saja, Calista cuma ingin jadi istri yang baik, makanya Calista belajar masak."
"Bagus kalau begitu, sepertinya Leo banyak memberi perubahan dalam hidupmu. Jika mama bisa melihatmu saat ini, dia pasti akan sangat bahagia Calista."
Calista hanya tersenyum mendengar kata-kata Papanya. "Dimana Leo?" tanya Herman.
"Dia sedang mandi. Sebentar lagi Leo harus berangkat ke kantor, dia kan habis cuti satu minggu, pasti sudah banyak pekerjaan menumpuk di kantor," jawab Calista.
"Selamat pagi Calista, Om Herman," kata Laras yang kini sudah berdiri di samping Herman.
"Selamat pagi Laras, ayo ikut sarapan."
"Iya..." jawab Laras kemudian duduk di samping Calista. Beberapa saat kemudian Leo pun keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi Papa," kata Leo pada Herman.
"Selamat pagi Leo. Lihatlah istrimu sekarang sudah mulai pandai memasak Leo, Papa tak menyangka Calista akan begitu banyak berubah saat menikah denganmu."
"Hahahaha itu karena Calista wanita yang hebat Pa, dia selalu belajar dari masa lalu," kata Leo sambil mengedipkan matanya.
"Wow Calista sama Leo mesra sekali ya," kata Laras tiba-tiba.
"Ya tapi kamu jangan lihat suamiku dengan tatapan seperti itu."
"Hehehehe iya...." kata Laras sambil tersipu malu, kemudian mereka meneruskan sarapan mereka.
"Papa, Calista, aku berangkat dulu ya!" pamit Leo.
"Iya Leo, hati-hati," jawab Herman.
__ADS_1
"Iya sayang, ayo aku antar ke depan."
Leo dan Calista lalu berjalan ke halaman rumah, diikuti Laras di belakangnya. Kemudian Laras berjalan ke rumah Kenan. Calista lalu mengikuti Laras, saat Leo sudah melajukan mobilnya.
"Eh Laras, kamu ngapain ke sini?" kata Calista saat Laras kini berdiri di samping mobil Kenan.
"Mau berangkat kerja Mba."
"Berangkat kerja ke sini?"
"Laras satu kantor sama Mas Kenan, jadi tiap hari Laras ikut mobil Mas Kenan," kata Laras sambil melihat Olivia dan Kenan yang kini keluar dari dalam rumah.
"Apa-apaan kamu Laras? Kenan itu sudah punya istri, tidak baik kamu selalu ikut mobil Kenan, lebih baik kamu naik taksi saja," kata Calista. Kenan yang mendengar kata-kata Calista kemudian ikut tersenyum.
"Benar kata Calista, sebaiknya hari ini kamu naik taksi saja, Laras."
"Terima kasih Calista," bisik Kenan sambil tersenyum.
"Olive, masa Laras harus naik taksi," gerutu Laras.
"Ya sudah, kamu bawa saja mobilku."
"OLIVEEEE!" kata Kenan dan Calista bersamaan. Laras yang begitu gembira lalu langsung masuk ke mobil Olivia.
"Tapi dia sepupu kita Kak."
"Kenan, istrimu memang selalu saja seperti itu, hatinya terlalu lembut, bagaimanapun juga kita tetap harus berhati-hati Olive, meskipun dia adalah saudara kita," kata Calista sambil menggerutu.
"Benar apa yang dikatakan Calista, Olive, kau terlalu baik pada semua orang," Olivia kini hanya termenung mendengar kata-kata suami dan kakaknya. Sedangkan Laras kini tampak begitu bahagia bisa membawa mobil mewah Olivia ke kantor.
"Lumayan bisa buat bergaya," kata Laras saat di dalam mobil.
'Calista kau memang sombong, tidak seperti Olivia yang baik hati, tapi karenamu juga aku bisa membawa sebuah mobil mewah hari ini,' batin Laras saat mengendarai mobil Olivia dengan begitu jumawa.
***
Berangsur-angsur kesadaran Giselle pun mulai pulih, perlahan dia pun membuka matanya. Tangannya kini meraba perutnya. "Bayiku..." isak Giselle.
"Nyonya Giselle anda sudah sadar? Apa ada yang bisa saya bantu?" kata seorang suster di sampingnya.
"Suster kapan saya boleh pulang?"
__ADS_1
"Besok pagi anda sudah bisa pulang Nyonya Giselle."
"Terimakasih sus, sepertinya saya sedang tidak ingin diganggu." jawab Giselle.
"Baik Nyonya Giselle, saya permisi, jika ada memerlukan sesuatu anda bisa memencet bel di samping tempat tidur anda."
"Iya..." jawab Giselle. Dia kemudian mengambil ponselnya di nakas samping tempat tidurnya.
"BRENGSEK!" umpat Giselle saat melihat foto yang diunggah Ramon saat tengah memamerkan mobil barunya.
"Kau bersenang-senang di atas penderitaanku Ramon. Aku bahkan harus menguras semua tabunganku untuk membiayai hidupmu. Lihat saja nanti, aku pasti bisa hamil lagi dan akan kuhentikan tingkah lakumu! Jika saat itu tiba, rasakan pembalasaku padamu!" umpat Giselle kembali.
***
Laras keluar dari dalam kantor dengan perasaan begitu bahagia, dia lalu berjalan menuju parkiran mobil di basemen gedung. Saat sudah sampai di depan mobil Olivia, dia berdiri sejenak dan memandang mobil itu.
"Mobil yang bagus, aku harus memanfaatkan dan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sedikit bersenang-senang." kata Laras sambil tersenyum. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke sebuah rumah makan mewah di pusat kota.
"Saat aku keluar dari mobil ini pasti semua mata akan tertuju padaku," kata Laras sambil tertawa.
Sementara Ramon tampak asyik duduk di dalam restoran sambil menyantap makanan yang ada di hadapannya. 'Saatnya mencari mangsa baru,' batin Ramon.
"Terima kasih banyak Giselle, karena kecerobohan dan kebodohanmu, kini aku bisa hidup mewah tanpa bekerja," kata Ramon sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian netranya lalu tertuju pada seorang wanita muda yang baru saja keluar dari sebuah mobil mewah di parkiran. 'Sepertinya itu mangsa yang bagus.' gumam Ramon disertai senyuman yang menyeringai sambil terus mengamati wanita itu yang kini duduk tak jauh dari mejanya.
Beberapa saat kemudian, Ramon beranjak dari tempat duduknya kemudian mendekati wanita. "Hai boleh saya duduk di sini?"
Wanita itu begitu terkejut dengan kedatangan Ramon. "Emh... Tentu," jawab wanita itu dengan sedikit gugup.
"Maaf jika saya sudah mengganggu anda."
"Oh tidak saya tidak terganggu," kata wanita itu sambil tersenyum.
"Bolehkah saya berkenalan dengan anda?"
"Tentu."
"Kenalkan saya Ramon, siapa nama anda?" kata Ramon sambil tersenyum dengan sedikit menggoda. Wanita itu tampak begitu bahagia melihat Ramon yang seolah tertarik padanya.
"Laras, saya Laras," jawab wanita itu.
__ADS_1
Sementara Laras yang didekati oleh Ramon juga tampak begitu bahagia. 'Akhirnya ada laki-laki kaya yang mau berkenalan denganku. Lihat saja Calista yang sombong itu pasti akan terkejut karena aku bisa mendapatkan laki-laki yang kaya seperti Leo,' gumam Laras.