
"Ada apa Stella? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu? " jawab David saat keluar dari kamarnya.
Stella lalu melambaikan tangannya agar David mendekat ke kamar Vallen. David pun kemudian mendekat ke arah Stella.
"Ada apa Stella?"
"David, ayo kita masuk." jawab Stella kemudian menarik tangan David masuk ke dalam kamar Vallen. Stella kemudian mengambil kardus yang ada di pojok kamar lalu menaruhnya di depan David yang kini duduk di sofa yang ada di dalam kamar Vallen.
"Apa ini?"
"Kau lihat sendiri isinya."
David lalu membuka kardus itu kemudian mengamati isinya.
"Astaga." kata David sambil mengambil beberapa barang yang ada di dalam kardus tersebut.
"Apa dia sudah memiliki kekasih lagi?"
"Entahlah, aku sebenarnya sedang curiga padanya. Tapi aku belum sempat menanyakannya karena kau tahu sendiri beberapa hari ini aku sangatlah sibuk."
"Jadi, kau sudah curiga padanya?"
"Ya, sudah satu bulan ini aku mendengar bisik-bisik oleh beberapa orang yang bekerja di rumah sakit. Diantara mereka ada yang pernah melihat Vallen berpelukan dengan seorang lelaki di area parkir rumah sakit. Lalu aku pernah memergoki asistennya, Hani keluar dari ruangan Vallen sambil membuang sebuket bunga di tempat sampah. Saat aku menanyakan hal tersebut, dia mengatakan jika setiap hari Vallen selalu mendapatkan kiriman bunga dari seorang lelaki, tapi Hani mengatakan jika Vallen sedang marah pada lelaki itu jadi Vallen menyuruh Hani membuang bunga itu, padahal laki-laki itu memberikan bunga pada Vallen setiap hari."
"Dia mengirimkan bunga setiap hari pada Vallen?"
"Ya." jawab David sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi selama satu bulan terakhir ini dia mengirimkan bunga dan barang-barang ini pada Vallen?" tanya Stella sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, kemungkinan seperti itu."
"Wow laki-laki yang luar biasa, sepertinya dia sangat mencintai adikmu."
David pun tersenyum.
"Kenapa kau hanya tersenyum? Bukankah seharusnya kau bahagia ada laki-laki yang mencintai adikmu dengan begitu tulus?"
"Aku belum bisa mengambil kesimpulan apapun karena aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi sepertinya dia memang sangat mencintai Vallen."
"Jadi kau setuju jika Vallen menjalin hubungan dengan laki-laki itu?"
"Stella, aku tidak pernah mempermasalahkan Vallen menjalin hubungan dengan laki-laki manapun karena bagiku yang terpenting adalah dia mencintai dan menyayangi Vallen dengan tulus serta tidak mengecewakannya lagi seperti yang dilakukan oleh Rayhan. Hanya saja aku tidak tahu siapa laki-laki itu, aku tidak tahu apakah mama akan merestui hubungan mereka atau tidak karena kau tahu sendiri kan bagaimana sifat mama? Kita saja sangat sulit untuk mendapatkan restu darinya."
__ADS_1
"Iya David, kau benar. Lalu kita harus bagaimana?"
"Kita harus menyembunyikan semua ini dulu dari mama, aku akan mencari tahu siapa kekasih Vallen yang sebenarnya. Stella, sebenarnya aku hanya ingin melihat Vallen hidup bahagia dengan orang yang dicintainya tapi kau tahu sendiri bagaimana sifat mama. Jika aku sudah bisa bertemu dengan laki-laki itu aku baru bisa menentukan sikapku selanjutnya, mungkin saja aku bisa membantu hubungan mereka berdua."
"Tapi sepertinya dia laki-laki yang baik, David. Kau harus membantu hubungan mereka."
"Aku tidak bisa langsung mengambil sikap seperti itu, Stella. Aku ingin tahu ketulusan dari laki-laki tersebut."
"Baik, terserah kau saja. Tapi aku yakin dia adalah laki-laki yang baik. Jadi, Vallen pergi keluar kota dengan laki-laki itu?"
"Mungkin. Nanti malam dia pulang jam berapa, Stella?"
"Kira-kira pukul sepuluh malam. Memangnya kenapa?"
"Aku akan menjemputnya ke stasiun. Apa kau mau ikut?"
Stella pun menganggukkan kepalanya.
💜💜💜💜💜
"Kau sibuk sekali, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Firman saat mereka ada di dalam kereta.
"Sedang membalas pesan."
Vallen pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, dari pasienku yang bernama Aini." jawab Vallen disertai perasaan yang begitu perih di hatinya.
Firman pun tersenyum melihat raut wajah murung Vallen.
"Apa kau cemburu?"
"Tidak hanya sakit."
"Sakit? Memangnya aku menyakitimu?"
Vallen lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Firman sambil memeluk tubuhnya. "Entah kenapa saat aku menyebut nama Aini aku selalu teringat pertemuan pertama kita saat kau sedang begitu patah hati karena dirinya."
Firman lalu memegang wajah Vallen. "Kenapa kau masih memiliki pemikiran seperti itu, apa kau tidak percaya padaku? Apa semua yang kutunjukkan masih kurang bagimu?"
"Bukan, bukan itu Firman. Aku percaya jika saat ini hanya aku yang ada di hatimu, aku hanya merasa sakit jika mengingat bagaimana kau dulu berhubungan dengan Aini."
"Vallen, tolong buang pemikiranmu yang seperti itu. Itu semua sudah menjadi bagian dari masa lalu karena yang terpenting adalah hubungan kita saat ini. Kita hanya sedikit terlambat bertemu, jika saja aku lebih dulu bertemu denganmu mungkin tidak akan pernah ada Aini di dalam hatiku dan kehidupanku, begitupula dirimu kan? Jika kau lebih dulu bertemu denganku tentu tidak pernah ada nama Rayhan di dalam hatimu dan kehidupanmu. Begitu kan?" kata Firman sambil membelai rambut Vallen.
__ADS_1
Mendengar perkataan Firman, Vallen pun tersenyum.
"Kau benar juga Firman, aku berjanji tidak akan pernah lagi merasa seperti ini. Hubungan yang pernah terjadi antara kita dengan masa lalu kita adalah bagian hidup yang harus kita jalani. Baiklah mulai saat ini aku tidak akan mengingat masa lalumu lagi dengan Aini. Aku akan mencintai dirimu dan masa lalumu."
"Bagus, itu baru namanya kekasihku. Jadi kau besok akan bertemu dengannya?"
Vallen pun mengangguk. "Ya, besok aku akan bertemu dengannya."
💜💜💜💜💜
"Kau sibuk sekali, Aini. Memangnya siapa yang kau hubungi?" tanya Roy pada Aini.
"Oh, aku sedang menghubungi Dokter Vallen. Kemarin dia mengatakan jika sedang berlibur dengan kekasihnya selama satu minggu tapi baru saja dia menghubungiku jika besok dia sudah mulai kembali bekerja."
"Oh, jadi dia mempercepat kepulangannya?"
"Ya, dia mengatakan jika kekasihnya ada pekerjaan yang secepatnya harus diselesaikan jadi mereka kembali lebih cepat."
"Kekasih Dokter Vallen apakah laki-laki yang selalu mengirimkan bunga setiap hari padanya? Yang pernah kita bicarakan saat itu?"
"Iya mas, dia kekasih Dokter Vallen."
"Jadi mereka sudah berbaikan."
"Sepertinya begitu karena beberapa hari yang lalu mereka juga sudah berlibur bersama."
"Syukurlah, sepertinya dia sangat baik dan begitu mencintai Dokter Vallen."
"Ya. Emh... Mas, besok aku kontrol dengan Dokter Vallen sendiri saja, tidak usah kau temani."
"Memangnya kenapa?"
"Emh, aku tahu kau sedang sangat sibuk karena kau sedang mengerjakan proyek barumu, mas. Sedangkan aku sedang ingin banyak mengobrol dengan Dokter Vallen mengenai masalah pada rahimku ini, mungkin agak sedikit lama. Aku tidak mau membuatmu menungguku terlalu lama."
"Apa kau tidak apa-apa ke rumah sakit sendirian?"
"Tidak apa-apa, kau tenang saja. Selesaikan semua urusanmu."
Roy pun tersenyum, dia kemudian mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Aini.
"Terimakasih sayang, kau memang sangat perhatian padaku."
"Iya mas." jawab Aini sambil mengencangkan pelukan Roy.
__ADS_1
'Sampai bertemu besok Dokter Vallen, aku ingin berbicara hati ke hati denganmu.' gumam Aini dalam hati.