Salah Kamar

Salah Kamar
Pernikahan


__ADS_3

Rima berjalan ke arah parkiran mobil di basemen rumah sakit sambil sesekali berdendang untuk membuang rasa takut karena berjalan sendirian. "Kak Leo dan Kak Calista memang terlalu berlebihan, baru saja aku bekerja, aku sudah dibelikan mobil." kata Rima sambil tersenyum dan memperhatikan mobil berwarna silver yang kini ada di hadapannya. Namun saat dia akan masuk ke dalam mobil tersebut, tiba-tiba tubuhnya didorong oleh seseorang hingga menabrak dinding di dekat mobilnya.


"Si.. Siapa?" tanya Rima dengan begitu takut. Dia lalu membalikkan tubuhnya, dan di saat itu pula tepat di depan wajahnya sudah ada sosok laki-laki yang menatap tajam padanya.


"Kau wanita yang bertabrakan denganku, kemarin kan?"


"E.. E... Iya."


"Jadi kau juga yang memergokiku saat aku sedang berciuman tadi?"


Rima hanya bisa diam, lidahnya terasa begitu kelu dan perasaannya begitu takut karena yang ada di hadapannya adalah direktur rumah sakit tempat dia bekerja.


"Hei kenapa kau diam? Ayo cepat jawab! Atau kau kupecat sekarang juga!" teriak David.


"I.. Iya dokter. Emm, tapi darimana dokter tahu?"


"Nah begitu apa susahnya mengaku, kau sendiri yang memberi tahukan padaku karena menjatuhkan name tag ku yang hilang saat bertabrakan dengamu kemarin. Sekarang dengarkan kata-kata, tolong kau jangan pernah bilang pada siapapun di rumah sakit ini apa yang telah kau lihat tadi!"


"I.. Iya dok."


"Bagus, jika kau berani macam-macam padaku, kau akan kupecat dan akan kubuat kau menyesal karena telah menantangku!"


"I..Iya."


"Sekarang kau boleh pergi." kata David sambil menjauh dari Rima.


"Iya terimaksih dokter David." kata Rima lalu buru-buru masuk ke mobilnya.


'Huffffffttt hampir saja.' gumam Rima sambil menghembuskan nafas panjang saat sudah di dalam mobil.


***


"Leo, aku mau menemui pengantin perempuannya dulu ya." kata Calista saat mereka sudah sampai di rumah Revan.


"Iya sayang."


"Rima kau dan Leo tolong di sini jaga anak-anak ya."


"Iya Kak."


Calista lalu bergegas naik ke atas kemudian masuk ke sebuah kamar setelah menanyakan letak kamar pengantin pada Bi Cici.


"Kau terlihat cantik sekali, Giselle." kata Calista saat menghampiri Giselle yang kini sedang dirias.

__ADS_1


"Kau bisa saja, Calista."


"Memang kau cantik, kau juga berhak mendapatkan kebahagiaan setelah perjalanan yang berliku dalam hidupmu."


"Terimakasih banyak Calista, ini semua karena dirimu dan Leo yang sudah menyadarkanku. Jika tidak, selama lima tahun ini aku pasti masih saja hidup dalam bayang-bayang kalian sebagai orang ketiga dalam pernikahan kalian."


"Tidak Giselle, itu bukan karena diriku, tapi karena kebesaran hatimu, kau sudah begitu berani mengambil keputusan untuk hidupmu dan memulai semua yang baru." kata Calista sambil memeluk Giselle.


Tanpa mereka sadari, Stella kini berdiri tak jauh dari mereka dan mendengar semua percakapan mereka. 'Orang ketiga dalam pernikahan Leo dan Calista? Apa maksud kata-kata mereka?' gumam Stella sambil mengamati tingkah Calista dan Giselle.


"Kau sudah siap? Ayo kita ke bawah, semua orang sudah menunggumu Giselle."


"Iya Calista." jawab Giselle kemudian berjalan dituntun oleh Calista.


Melihat Calista dan Giselle yang akan keluar dari kamar, Stella lalu bergegas pergi dari kamar itu, dia lalu turun ke bawah dengan begitu tergesa-gesa hingga tubuhnya menabrak seseorang.


"Hehhhhh makanya kalau jalan lihat-lihat dong!" teriak Stella.


"Loh bukannya mba yang menabrak saya? Dari tadi saya berdiri di sini Mba." kata wanita itu yang terlihat sedang menggendong seorang bayi, namun wanita itu tampak mengamati Stella dengan begitu seksama sambil sesekali mengerutkan dahinya.


'Sepertinya aku pernah melihat wanita ini.' gumam wanita itu sambil terus menatap Stella.


"Hihhh dasar udah jelas-jelas salah ngeyel lagi!" bentak Stella sambil berjalan menjauhi wanita itu. Wanita itu pun kemudian berjalan mendekat pada dua orang lelaki yang sedang asyik bercakap-cakap.


"Itu Kak, tadi Rima lagi berdiri, tiba-tiba ditabrak seseorang eh malah dia yang marah-marah. Dasar orang aneh!" gerutu Rima.


"Sudah, kau tidak usah pedulikan orang seperti itu." kata Leo sambil menepuk bahu Rima.


"Memang mana orang yang kau maksud Rim?" tanya Revan yang ikut penasaran mendengar cerita Rima.


"Itu tuh, yang pake gaun merah." kata Rima sambil menunjuk Stella, namun belum sempat Revan berkata-kata tiba-tiba Rima sudah memperlihatkan raut wajah yang terlihat aneh.


"Itu namanya Stella, Rima. Kenapa kau memperhatikan Stella dengan tatapan seperti itu?" tanya Revan.


"Emmhhh aku seperti pernah melihat wanita itu, tapi dimana ya?" kata Rima sambil terus memperhatikan Stella.


Revan lalu memandang Leo yang kini tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Rima.


"Mungkin kamu salah orang Rim?"


"Ga Kak.. Ngga mungkin Rima salah orang, oh iya Rima ingat, wanita itu adalah wanita yang berciuman dengan dokter David kemarin siang."


"APAAAA!!" teriak Revan dan Leo secara bersamaan.

__ADS_1


"Benarkah yang kau katakan?"


"Tentu saja, aku masih mengingat dengan jelas karena aku tidak sengaja memergoki mereka berciuman saat aku akan mengembalikan name tag dokter David yang terjatuh."


Revan lalu melirik pada Leo. "Leo bolehkah aku minta tolong pada adikmu?"


Leo pun terlihat gugup mendengar pertanyaan Revan. "Emhhh bagaimana ya? Sebaiknya kau tanyakan langsung pada Rima." jawab Leo sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Rima, maukah kau membantuku?"


"Tentu saja aku mau, aku kan suka menolong." jawab Rima sambil tersenyum yang membuat Leo menepuk jidatnya.


"Kau mau minta tolong apa Kak Revan?"


"Rima wanita yang bernama Stella adalah istri pertamaku, tapi dia juga masih berhubungan dengan David dan kini tengah mengandung buah hati mereka."


"APAAAA?" teriak Rima begitu kaget mendengar perkataan dari Revan.


"Rima tolong aku, bukankah tadi kau sudah bersedia untuk menolongku?"


Rima lalu menelan ludah kasar. 'Kalau saja aku tahu ini berhubungan dengan dokter David tentu aku tidak akan menyanggupinya.' gumam Rima sambil meringis.


"Tolong apa?" jawab Rima lemas.


"Tolong carikan bukti perselingkuhan dokter David dan Stella. Tolong Rima, tolong. Tolong kasihanilah aku karena aku sedikit kesulitan menceraikan Stella karena tidak memiliki bukti perselingkuhan mereka." kata Revan dengan raut wajah memelas.


Rima lalu memandang Leo yang mengangguk. "Tenang saja, kau akan kulindungi. Kau bantu saja mereka sebisamu." bisik Leo di telinganya.


"Baik Kak Revan." jawab Rima meskipun dengan sedikit ragu.


"Hei kau sebaiknya bersiap Revan, lihat penghulu sudah datang." kata Leo sambil menepuk bahu Revan.


"Iya Leo." jawab Revan sambil mengangguk.


Calista menuntun Giselle sampai ke meja tempat dia akan melangsungkan akad nikah dengan Revan. Setelah itu dia duduk tak jauh dari tempat Giselle melangsungkan akad nikah.


"Mama coba kau lihat wanita itu, sungguh tidak berkelas, sangat tidak sepadan dengan kita." kata Stella pada Santi.


"Hei jaga kata-katamu, dia jauh lebih berkelas dibandingkan dengan dirimu wanita murahan tak tahu diri yang sudah berselingkuh dan mengandung anak dari laki-laki lain." kata Calista saat mendengar perkataan Stella yang kini duduk di depannya.


Stella lalu menengokkan kepalanya ke belakang dan begitu terkejut karena saat ini yang duduk di belakangnya adalah Calista.


"Calista." kata Stella.

__ADS_1


"Apa? Kalau kau berani mengatakan yang tidak-tidak, aku tidak segan-segan untuk menghajarmu." kata Calista dengan dengan tatapan begitu tajam yang membuat Stella pucat pasi.


__ADS_2