Salah Kamar

Salah Kamar
Berita Online


__ADS_3

Aini kemudian melepaskan ciuman Roy. Namun Roy masih menempelkan wajahnya di wajah Aini.


"Roy lihat itu, pelayanan cafe sudah datang membawakan makanan untuk kita."


Roy pun kemudian melepaskan pelukannya pada Aini saat pelayanan cafe tersebut menaruh hidangan untuk mereka berdua lalu mereka duduk di kursi.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Aini?" tanya Roy karena saat ini Aini menatapnya sambil tersenyum.


"Mulai hari ini aku tidak mau lagi memanggilmu hanya dengan namamu saja seperti yang kau minta dulu."


Roy kemudian mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau memintaku untuk menikah denganmu?"


"Ya, apa kau tidak mau?"


"Bukan itu." jawab Aini sambil bergelayut di tangan Roy.


"Lalu apa?"


"Aku ingin memanggilmu dengan sebutan Mas. Mas Roy, bagaimana sangat romantis kan?"


"Mas? Kedengarannya itu sangat aneh tapi karena kau calon istriku terserah kau saja."


"Terimakasih Mas Roy." kata Aini sambil bersandar di bahunya.


Roy pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


πŸ’“πŸ€πŸ’“πŸ€πŸ’“πŸ€


Olivia tampak terburu-buru masuk ke dalam rumah Laras.


"Laras!!" teriak Olivia.


"Ada apa Mba Olive? Kenapa Mba Olive seperti dikejar hantu."


"Laras, mana Aini?"


"Dia masih di kamarnya, mungkin masih lelah karena dia tadi malam pulang begitu larut. Memangnya ada apa Mba Olive?"


"Laras lihat ini." kata Olivia sambil memperlihatkan ponselnya.


Laras kemudian mengambil ponsel Olivia lalu membaca sebuah berita online yang ada di ponsel Olivia.


"ASTAGA, aku malah baru tahu Mba Olive. Jadi mereka sudah berpacaran?"


"Ya, mungkin seperti itu. Lihat foto tersebut Roy dan Aini pun tampak sedang berpelukan." jawab Olivia sambil memperlihatkan foto Aini dalam dekapan Roy, di atas foto tersebut tertulis judul "LAMARAN ROMANTIS SEORANG PENGUSAHA MUDA PADA KEKASIHNYA."


"Oh aku tidak habis pikir ternyata Roy bisa berbuat hal seromantis ini pada adikku." kata Laras sambil terkekeh.


"Aku juga, bahkan Kenan pun tidak pernah melakukan hal seperti ini padaku."


"Apalagi Ramon." gerutu Laras.


"Pantas saja dia pulang larut malam, ternyata dia telah melewatkan malam yang begitu indah dengan Roy." kata Laras lagi.

__ADS_1


"Setelah semua penderitaan yang dialami oleh Aini, semoga sekarang Aini bisa hidup bahagia selamanya."


"Iya mba, aku yakin Roy pasti bisa membuat Aini bahagia, yang terpenting kita harus tetap menyimpan semua rahasia ini."


"Iya Laras jangan sampai ada yang tahu."


"Bahkan aku pun tidak memberitahu Ramon karena terkadang dia tidak bisa mengerem mulutnya."


"Iya kau benar Laras." jawab Olivia sambil terkekeh.


"Eh mba Olive, lihat itu Aini sudah keluar dari kamarnya."


Olivia dan Laras kemudian menatap Aini saat berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Mba Laras, Mba Olive, kenapa kalian menatap Aini seperti itu?"


"Kenapa kau tadi malam pulang sangat larut, Aini?"


"Oh itu karena Mas Roy mengajakku makan malam."


Olivia dan Laras pun tersenyum.


"Mas Roy? Sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan seperti itu? Bukankah dulu dia memintamu memanggilnya dengan sebutan namanya saja?" tanya Laras dengan mengerutkan keningnya sambil menahan tawa.


"Oh sejak tadi malam."


"Sejak tadi malam? Memangnya apa yang terjadi denganmu dan Roy tadi malam?"


Aini pun hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya.


Olivia dan Laras lalu saling berpandangan sambil terkekeh.


"Wah iya Mba Olive, cincinnya sangat indah aku bahkan belum pernah melihat cincin seindah itu."


"Aini, sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu dan Roy? Apa kalian sudah berpacaran?"


"Oh itu mba." Aini pun begitu gugup.


"Sudah kau tidak perlu menjelaskan, kami semua sudah tahu."


"Mba Laras sudah tahu?"


"Tentu saja, dia melamarmu di sebuah cafe rooftop kan? Lalu dia juga mengungkapkan rasa cintanya melalui sebuah videotron? Benar-benar romantis." kata Laras sambil terkekeh.


"Darimana Mba Laras dan Mba Olive tahu semua itu? Apa Mas Roy menceritakan itu semua pada Mas Kenan?"


"Tidak Aini, tidak hanya kami yang tahu tapi mungkin seluruh orang di negeri ini tahu kisah cintamu dan Roy."


"Ba... Bagaimana mungkin Mba?" tanya Aini dengan begitu gugup.


"Lihat ini Aini." kata Olivia sambil memperlihatkan sebuah berita online pada Aini.


"Oh tidak." kata Aini sambil menutup mulutnya, wajahnya kini pun terlihat pucat.


"Darimana para wartawan bisa mendapatkan berita seperti ini?" kata Aini sambil mengerutkan keningnya.


"Hei Aini, ini era milenial, mudah saja wartawan mendapatkan berita seperti ini, bisa saja dari salah seorang pegawai cafe atau pengunjung yang lain." jawab Laras.

__ADS_1


"Mba benar juga. Tapi aku malu mba, pasti banyak teman-temanku yang melihatnya."


"Heiii justru seharusnya kau bahagia Aini, biar sekalian Dimas tahu kalau kau kini sudah bisa hidup bahagia lepas darinya."


"Benar kata Laras, Aini. Biar Dimas tahu jika kau kini bisa bahagia lepas dari dirinya."


"Benar kata mereka Aini, biar dia tahu kau bukanlah wanita sembarangan yang bisa dia injak-injak harga dirinya. Memangnya siapa dia, sombong sekali menganggap dirinya paling tampan dan kaya. Sekarang kau juga bisa mendapatkan Roy yang jauh lebih kaya dibandingkan Dimas." kata Calista yang tiba-tiba datang ikut menimpali.


"Kak Calista, kapan kakak datang?"


"Baru saja, kalian berbicara terlalu serius sampai tidak menyadari kedatanganku." gerutu Calista.


"Maaf Mba Calista, maklum kami sedang meledek wanita yang baru saja dilamar tadi malam." kata Laras sambil mencolek dagu Aini.


"Iya aku sudah tahu, aku sudah membaca beritanya, Leo yang memberitahuku saat sedang sarapan tadi. Aku bahkan tak menyangka kau langsung begitu terkenal, Aini." kata Calista sambil terkekeh. Aini pun hanya bisa tersipu malu.


"Jadi itu sebabnya kakak kesini?"


"Ya, selain itu aku juga ingin memberikan undangan dari Drey dan Rima, mereka akan menikah akhir pekan besok, dan kalian semua diundang." kata Calista sambil memberikan beberapa undangan.


"Wah, acaranya di resort mewah di tepi Pantai Carita, pasti sangat menyenangkan." kata Laras dengan wajah yang berbinar.


"Kau dan Roy juga diundang, Aini."


"Aku? Tapi aku tidak terlalu mengenal mereka."


"Tapi kau mengenal Tante Risma kan? Selain itu Rima juga ingin bertemu dengan wanita desa yang tiba-tiba menjadi terkenal setelah dilamar oleh pengusaha." kata Calista sambil terkekeh.


"Mba Calista bisa saja." jawab Aini sambil tersipu malu.


πŸ’žπŸ’žπŸ€πŸ€πŸ€πŸŒΈπŸŒΈ


"Dimasasss lihat ini!!!" teriak seorang wanita paruh baya yang mendekat ke arah Dimas yang saat ini masih tertidur di atas ranjang.


"Ada apa sih Bu? Dimas kan baru saja mau tidur, tadi malam Dimas ngantuk habis begadang sama temen-temen."


"Dimas lihat ini!" kata ibu Dimas sambil memperlihatkan ponselnya.


"APAAAA???"


"Iya Dimas, Aini sudah dilamar oleh seorang pengusaha, dia benar-benar kurang ajar! Surat cerai kalian saja belum lama keluar tapi dia sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain! Wanita itu benar-benar kurang ajar Dimas, dia pasti sudah berselingkuh dibelakangmu dulu!"


Dimas pun termenung.


"Kenapa kamu hanya diam, Dimas!!"


"Memangnya apa yang bisa Dimas lakukan Bu? Jika kita membuat perhitungan dengan mereka, justru akan merugikan diri kita sendiri, kita tidak bisa berbuat apapun Bu. Jika kita berbuat macam-macam pada mereka, mereka bisa saja dengan mudah menghancurkan usaha milik Bapak."


"Iya, kau benar Dimas." jawab ibu Dimas sambil mengigit bibirnya.


πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«


Tak jauh dari rumah Dimas, seorang lelaki menatap ponselnya sambil mengelus foto seorang wanita di ponsel tersebut.


"Semoga kau bisa hidup bahagia, Aini." kata lelaki tersebut.


Tiba-tiba sebuah teriakkan membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Mas Firman, tolong bantu aku."


"Iya Delia, sebentar."


__ADS_2