Salah Kamar

Salah Kamar
Akhir Hidup


__ADS_3

Ilham pun menyeret tubuh Drey keluar dari rumah sakit, begitu dia melihat pintu keluar dia langsung menghempaskan tubuh Drey ke tanah.


"Aku sudah tidak membutuhkanmu dasar bule bodoh!" kata Ilham sambil menghempaskan tubuh Drey lalu berlari ke arah pintu keluar. Namun saat itu juga sebuah tembakan pun berbunyi.


DORRRR DORRRR DORRRRR


Langkah Ilham pun terhenti karena tiba-tiba ada sesuatu yang menembus bagian tubuhnya dan terasa begitu sakit. Beberapa buah timah panas yang menembus punggung Ilham membuat tubuhnya terkapar di atas tanah. Ilham lalu memegang bagian tubuhnya dengan tangan kanannya, dan melihat sudah begitu banyak darah yang berceceran di tubuhnya.


"Tidak." kata Ilham lirih, perlahan matanya pun terpejam hingga hembusan nafasnya pun terhenti.


Polisi yang menembak Ilham beserta Leo dan Kenan pun akhirnya menghampiri tubuh Ilham yang sudah tidak berdaya. Polisi tersebut lalu membalikkan tubuh Ilham dan memegang nadinya.


"Dia sudah mati." kata polisi tersebut sambil menutup mata Ilham.


Leo dan Kenan lalu saling berpandangan. "Inilah akhir kisah hidupnya." kata Leo sambil memandang jenazah Ilham yang masih terkapar. Di saat itu juga mereka melihat Calista dan Olivia yang membopong tubuh Rima dengan begitu tertatih.


"Kenapa? Apa yang terjadi dengan Rima?" tanya Kenan.


"Sepertinya dia mengalami pendarahan kembali Kenan." jawab Olivia.


"Ayo kita bawa Rima dan Drey ke rumah sakit."


Dengan dibantu oleh polisi tersebut, akhirnya tubuh Drey dan Rima dimasukkan ke dalam mobil.


"Kalian urusi teman kalian saja. Biar kami yang akan mengurus jenazah Ilham."


"Baik, terimakasih." jawab Kenan dan Leo.


Mereka pun kemudian masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Petugas medis yang melihat kedatangan mereka pun kemudian bergegas membantu mereka membawa Drey dan Rima yang kini tidak berdaya.


"Aku mencemaskan mereka berdua." kata Calista.


"Semua mencemaskan mereka, Calista. Tenanglah." jawab Leo.


Beberapa saat kemudian seorang dokter pun keluar dari ruang UGD tersebut.


"Bagaimana keadaan mereka dok?" tanya Olivia.


"Tuan Drey kehilangan banyak darah, tapi dia baik-baik saja, kami sudah menjahit lukanya dan mengobatinya namun saat ini dia belum sadarkan diri. Sedangkan Nyonya Rima, saat ini dia memang sudah sadarkan diri, tapi dia kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya, namun usia kandungannya masih sangat muda jadi kemungkinan dia tidak perlu dikuret, hanya saja dia harus memakan obat untuk mengeluarkan sisa janin yang ada di dalam rahimnya." kata dokter tersebut.


Mendengar perkataan dokter tersebut, Olivia dan Calista pun menutup mulutnya.


"Astaga, Rima keguguran." kata Calista.

__ADS_1


"Iya kak."


"Dokter, bolehkah kami menemui Rima?" tanya Calista.


"Tentu saja, silahkan masuk ke dalam."


Olivia dan Calista lalu bergegas masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Leo dan Kenan mengikuti di belakang mereka.


Mereka lalu langsung menghampiri Rima yang kini sedang menangis.


"Rima." kata Calista dan Olivia, mereka lalu mendekat pada Rima kemudian memeluknya.


"Kakak, anakku Kak." kata Rima sambil menangis tersedu-sedu.


"Rima tenanglah, kau harus sabar dan tenangkan hatimu." kata Calista sambil menggenggam tangan Rima.


"Aku tidak bisa melindungi anakku, aku memang orang tua yang tidak bertanggungjawab." kata Rima sambil terisak.


"Mungkin ini juga hukuman bagiku, aku juga dulu sudah begitu jahat mengugurkan bayi yang ada di dalam kandungan Stella." kata Rima lagi sambil terus terisak.


"Sudahlah Rima, ini sudah takdir dari Tuhan, kau jangan berbicara seperti itu."


"Iya Rima, ini adalah takdir dari Tuhan, kau jangan berbicara seperti itu lagi. Yang terpenting sekarang adalah kau bisa bersabar dan ikhlas dalam menjalani semua ini."


"Iya Kak." jawab Rima sambil terisak.


"Dimana Drey? Kenapa aku tidak melihat Drey?"


Mendengar pertanyaan Rima kemudian mereka saling berpandangan.


"Rima, Drey mengalami luka tusukan di punggungnya."


"Aa..Apa dia mengalami luka tusukan? Lalu bagaimana keadaan Drey sekarang?" tanya Rima dengan begitu panik?"


"Dia baik-baik saja, namun saat ini dia belum sadarkan diri."


"Bolehkah aku melihatnya." tanya Rima.


"Tapi Rima, kau baru saja mengalami keguguran."


"Tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja."


"Kami tanyakan dulu pada dokter." jawab Olivia. Dia lalu pergi dari bilik UGD tempat Rima dirawat ke arah ruang dokter jaga.


"Bagaimana Olive?" tanya Calista.

__ADS_1


"Ya, Rima boleh menjenguk Drey. Tapi tidak boleh terlalu lama."


"Baik, terimaksih." kata Rima.


Olivia dan Calista lalu membantu Rima turun dari brankar dan duduk di kursi rodanya. Mereka lalu menuju ke bilik tempat Ilham dirawat. Rima lalu menatap wajah Drey yang terlihat sedikit pucat.


"Drey, kenapa kau harus berbuat seperti itu hingga membahayakan nyawamu sendiri?"


"Dia menyayangimu." jawab Leo.


"Tidak Leo, tidak mungkin. Ada wanita lain di hatinya, tapi bukan aku" jawab Rima yang membuat Olivia tampak salah tingkah.


"Rima, bagaimana kau tahu jika Drey masih mencintai wanita itu? Dia menyayangimu Rima, jika dia tidak menyayangimu tidak mungkin dia bertindak seperti itu sampai membahayakan nyawanya sendiri." kata Olivia.


Rima pun hanya terdiam mendengar perkataan Olivia. 'Kau mengatakan seperti itu hanya untuk membesarkan hatiku saja kan Olive.' kata Rima dalam hati.


"Lalu bagaimana dengan Ilham?" tanya Rima untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang Drey.


Leo lalu memegang bahu Rima. "Dia sudah meninggal."


Rima pun begitu terkejut mendengar perkataan Leo.


"A.. Apa? Dia sudah meninggal? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku hanya tahu dia akan menusukku kemudian Drey menyelamatkan aku, setelah itu aku tidak tahu apa yang telah terjadi lagi."


"Rima, setelah itu, Ilham menyandra Drey yang sudah terkapar tidak berdaya."


"Lalu?"


"Saat dia keluar dari rumah sakit jiwa tersebut. Dia membuang tubuh Drey di halaman rumah sakit, namun di saat itu juga polisi menembakkan pelurunya beberapa kali tepat di punggung Ilham."


"Lalu dia meninggal?"


"Ya, akibat tembakan tersebut Ilham langsung meninggal di tempat, karena ada peluru yang langsung menembus ke jantungnya."


"Lalu dimana jenazah Ilham sekarang?"


"Polisi yang menanganinya, karena bagaimanapun juga Ilham masih jadi tanggung jawab dari pihak kepolisian."


"Oh." jawab Rima singkat.


"Apa kau sedih?" tanya Calista.


Rima pun kemudian tersenyum.


"Entahlah Kak Calista, aku tidak tahu. Aku bahagia bisa lepas darinya, tapi dalam hatiku yang paling dalam tak bisa kupungkiri jika bagaimanapun juga Ilham pernah menjadi bagian dalam hidupku." kata Rima sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kami mengerti bagaimana perasaanmu Rima." jawab Calista.


Di saat itulah mata Drey tiba-tiba terbuka. "Rima." kata Drey lirih.


__ADS_2