Salah Kamar

Salah Kamar
Jodohku


__ADS_3

"Firman kenapa kau memukulku!"


"Karena kau sudah berani mengganggunya!"


"Aku tidak pernah mengganggunya, aku hanya ingin berkenalan dengannya itu saja!"


"Firman, aku sudah bilang pada laki-laki ini kalau aku sedang terburu-buru dan tidak ingin diganggu, tapi dia malah memaksaku untuk mau berkenalan dengannya, jadi aku berteriak karena sudah sangat kesal akan sikapnya."


"Kau dengar sendiri kan Dimas, jika dia tidak ingin diganggu tapi kenapa kau terus memaksanya!"


"Memang apa salahnya aku meminta berkenalan dengan dirinya?"


"Kesalahanmu karena kau sudah memaksanya! Seharusnya kau sadar diri untuk tidak selalu memaksakan kehendakmu! Bukankah dulu sudah kuperingatkan kau agar jangan pernah lagi mengusik hidupku! Atau kau ingin kubuat babak belur lagi untuk kedua kalinya!"


Dimas pun hanya terdiam.


'Jika aku berduel dengan Firman aku bisa kalah karena postur tubuhnya jauh lebih besar dibandingkan dengan diriku!' gumam Dimas sambil menatap Firman dengan tatapan tajam.


"Sudahlah Firman, ini sudah sore lebih baik kita pulang saja."


"Iya sayang."


Firman kemudian menatap Dimas. "Dulu kau berulangkali membodohiku! Tapi jangan harap sekarang kau bisa melakukan itu lagi padaku! Kuperingatkan kau agar jangan pernah berani mengganggu kehidupanku lagi atau kau akan tahu akibatnya!"


"Ayo Firman." kata Vallen sambil menarik tangan Firman untuk menjauh dari Dimas.


"Awas kalian! Tunggu pembalasan dariku!" gerutu Dimas.


Mereka kemudian menaiki sepeda motornya lalu pergi dari minimarket tersebut. Dimas pun menatap kepergian Firman dan Vallen dengan tatapan tajam.


"Firman, memangnya siapa lelaki itu? Sepertinya kalian memiliki hubungan yang tidak baik."


Firman pun tersenyum.


"Dialah orang yang menyebabkan hidupku hancur, namanya Dimas. Dia orang terkaya di desa ini, karena itulah dia selalu berbuat semau dia sendiri." kata Firman sambil tersenyum kecut.


"Jadi orang itu yang sudah menjebakmu?"


"Ya, dia dan mantan istriku yang menjebakku. Padahal saat itu mantan istriku sedang mengandung darah dagingnya tapi dia mengatakan jika dia mengandung anakku. Lalu setelah aku menikah, laki-laki itu memperkosa mantan kekasihku lalu menikahinya. Namun sebuah hubungan yang diawali dengan kebohongan dan tipu muslihat tidak akan bertahan lama. Dia dan istrinya bercerai, lalu aku juga menceraikan Delia, mantan istriku. Tapi rupanya, aku dan mantan kekasihku tidaklah berjodoh, saat kami sudah bercerai dengan pasangan kami masing-masing dia menikah dengan laki-laki lain, sedangkan aku bertemu denganmu."


"Kejam sekali Dimas! Aku menyesal kenapa tadi aku tidak menamparnya saja!"

__ADS_1


"Jangan kotori tanganmu untuk mengurusi manusia seperti dirinya."


"Tapi dia benar-benar begitu kurang ajar dan tidak tahu diri!"


"Sudahlah jangan dipikirkan sayang, karena ketidakberuntungan yang telah terjadi dalam hidupku membuatku bertemu denganmmu."


"Hahahaha, memang seharusnya begitu karena kau adalah jodohku." jawab Vallen yang membuat Firman tersenyum.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Dimas memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, lalu dia masuk ke dalam rumah itu dengan begitu tergesa-gesa. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya, emosi yang ada di dalam dadanya, membuatnya membanting benda-benda yang ada di sekitar kamar itu. Fitri dan Delia yang sedang bermain bersama dengan Shakila di ruang tengah pun begitu terkejut mendengar suara berisik di kamar Dimas, mereka lalu bergegas menuju ke kamar Dimas dan melihat kamar itu telah begitu berantakan.


"Dimas! Apa yang kamu lakukan! Sembarangan sekali kau membuat kamarmu berantakan! Apa kau tidak sadar sedang ada Shakila di rumah ini! Apa kau tidak lihat banyak debu beterbangan gara-gara ulahmu! Itu tidak baik untuk Shakila!!"


"Maaf Bu, Dimas tidak sengaja. Dimas hanya merasa sedikit kesal."


"Kalau kau kesal apa kau tidak bisa bertingkah lebih sedikit dewasa, kendalikan emosimu! Kau memang hanya bisa menyusahkan orang tuamu saja." gerutu Fitri kemudian meninggalkan Dimas dan Delia lalu memanggil pembantunya untuk membereskan kamar Dimas yang berantakan.


"Ayo kita keluar, aku ingin bicara denganmu!" kata Delia kemudian menarik tangan Dimas. Mereka lalu duduk di taman yang ada di halaman rumah Dimas. Delia pun mengamati wajah Dimas yang terlihat memar.


"Kenapa ada memar di wajahmu? Apa kau baru saja berkelahi dengan seseorang?"


"Dimas, jawab pertanyaanku! Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu? Aku hanya menyuruhmu membelikan popok untuk Shakila tapi tiba-tiba kau pulang dengan keadaan seperti ini? Lalu kenapa kau juga sangat marah? Apa sesuatu telah terjadi padamu?"


"Aku sedang kesal Delia, lebih baik kau tidak usah banyak bertanya padaku."


Delia lalu tersenyum kecut.


"Kau bertemu dengan mereka kan?" tanya Delia dengan tatapan sinis pada Dimas.


"Jawab pertanyaanku Dimas? Kau bertemu dengan mereka kan? Lalu Mas Firman menghajarmu karena kau membuat masalah dengan mereka?"


"Aku tidak membuat masalah apapun, Delia. Aku hanya ingin berkenalan dengan wanita itu lalu tiba-tiba Firman memukulku. Sombong sekali dia, mentang-mentang memiliki kekasih yang cantik dia berbuat seperti itu padaku."


"Dimas, aku sangat mengenal kalian berdua. Mas Firman tidak mungkin terlebih dulu membuat masalah denganmu jika kau tidak memulainya terlebih dulu. Kau pasti melakukan sesuatu pada mereka."


"Kenapa kau terus membelanya?"


"Karena aku tahu bagaimana sifatmu, kau tidak pernah bisa mengendalikan sikapmu hanya untuk keinginanmu semata. Benar apa yang ibumu katakan jika kau memang sangat kekanak-kanakan."


"Memang aku tidak bisa mengendalikan diriku karena saat aku melihat kekasih Firman, aku begitu tertarik padanya. Dia sangat cantik dan membuatku terpesona, jadi aku mendekatinya lalu meminta berkenalan tapi dia malah menolakku sambil berteriak kemudian Firman datang dan memukulku! Kau sudah puas kan mendengar ceritaku?"

__ADS_1


"Jadi benar dugaanku, kau yang memulainya terlebih dulu. Dasar bodoh! Kau tidak pernah bisa menggunakan akal sehatmu!"


"Terserah kau mau berkata apa, Delia!"


"Lalu mana barang yang kuminta?"


"Barang yang kau minta?"


"Ya, diapers untuk Shakila."


"Tentu saja aku tidak membelinya, aku sudah terlanjur kesal pada mereka."


"Astaga Dimas, kau memang benar-benar bodoh!" kata Delia sambil mengusap kasar wajahnya. Dia kemudian bergegas pergi meninggalkan Dimas yang masih duduk di bangku taman rumahnya.


"Kau mau kemana Delia?"


"Minimarket! membeli popok untuk Shakila!" jawab Delia dengan ketus sambil terus berjalan meninggalkan Dimas.


🥀🥀🥀🥀🥀


Vallen tampak mengamati sebuah sepeda motor matic milik orang tua Firman yang terparkir di halaman rumahnya.


"Firman, tampaknya menaiki sepeda motor seperti itu sangat menyenangkan, bolehkah aku mencobanya sendirian?"


Firman yang sedang memangkas salah satu dahan pohon di halaman rumahnya pun tersenyum.


"Memangnya kau mau kemana?"


"Minimarket lagi, tadi sebenarnya aku belum selesai berbelanja tapi tiba-tiba Dimas sudah mendekatiku. Aku sangat terganggu dengannya, jadi aku langsung membayar barang belanjaanku ke kasir."


"Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri, saat ini aku tidak bisa menemanimu karena sedang memangkas dahan pohon ini agar tidak menyangkut pada kabel listrik."


"Tentu saja, aku bisa sendirian kau tidak perlu khawatir."


"Bagaimana jika kau bertemu dengan Dimas lagi?"


"Dia tidak akan berani mendekatiku lagi, apa kau tadi tidak melihat raut wajahnya yang begitu ketakutan saat kau memukulnya?"


"Ya, baiklah kau boleh pergi sendiri."


"Terimakasih." jawab Vallen lalu menaiki motor tersebut.

__ADS_1


__ADS_2