Salah Kamar

Salah Kamar
Logika


__ADS_3

"KENAPA KAU TIDAK BISA MENJAWAB PERTANYAANKU, ILHAM? CEPAT KATAKAN APA YANG SEBENARNYA TELAH TERJADI?" teriak Leo di depan wajah Ilham.


"Maafkan aku Leo, aku tidak tahu luka di kepala Rima. Tadi malam setelah pulang dari kantor aku sangat lelah jadi aku langsung tidur dan tidak melihat Rima di rumah, mungkin saat aku pulang Rima sudah pergi ke rumah sakit."


"ALASAN!" bentak Leo kembali sambil melayangkan bogem mentah pada Ilham.


BUGH BUGHHH


Ilham pun hanya terdiam saat Leo beberapa kali melayangkan pukulan padanya, tubuh Ilham pun kemudian terhempas ke lantai.


"Heh pecundang! Kau tidak usah banyak berbohong! Jika kau bisa menjaga Rima dengan baik tentu dia tidak harus mengalami kejadian yang buruk akhir-akhir ini. Lihat tubuh Rima! Belum lama dia menikah denganmu tapi sudah begitu banyak luka di tubuhnya!" teriak Leo.


Ilham lalu berdiri. "Maafkan aku, aku memang bukan suami yang baik. Aku tidak bisa menjaga Rima dengan baik." kata Ilham sambil berlutut di depan Leo dan Calista.


'Dasar bermuka dua.' kata Calista dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Leo, Calista tolong maafkan aku."


"UNTUK APA KAU MINTA MAAF PADA KAMI HAH!! JIKA KAU INGIN MINTA MAAF, MINTA MAAFLAH PADA RIMA YANG TELAH KAU SAKITI!"


Mendengar perkataan Leo, Ilham pun kemudian bangkit dan berjalan mendekati Rima.


"Rima, tolong maafkan aku, maafkan aku Rima. Mulai hari ini aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Tolong maafkan aku Rima, tolong beri aku kesempatan." kata Ilham sambil terisak dan menggenggam tangan Rima.


Rima pun kemudian memegang wajah Ilham dan mengangguk.


"Ya." jawab Rima lirih.


"Jadi kau sudah memaafkan aku, Rima?" tanya Ilham.


Rima pun kemudian mengangguk kembali sambil tersenyum. Leo dan Calista pun begitu heran melihat sikap Rima.


"Apa-apaan ini Rima? Kenapa kau begitu saja memaafkan pecundang itu? Lihat keadaanmu Rima, kau kini terlihat begitu menyedihkan. Baru sebulan kalian menikah tapi sudah begitu banyak luka di tubuhmu." kata Leo pada Rima.


"Dan aku juga yakin, tidak hanya tubuhmu yang penuh luka tapi hatimu juga pasti terluka karena perbuatan Ilham!" kata Calista ikut menimpali.

__ADS_1


"Kak Calista, Kak Leo, aku sudah memaafkan Ilham, semua yang kualami ini karena murni kecelakaan jadi tolong jangan terlalu menyalakan Ilham." kata Rima sambil menangis.


"Terimakasih Rima, terimakasih sudah percaya padaku." kata Ilham kemudian memeluk Rima.


"Rima tolong pikirkan semua ini dengan jernih, kau harus memikirkan kembali hubunganmu dengan Ilham, rumah tangga kalian tidak sehat."


"Kak Calista, semua orang pernah berbuat kesalahan. Apa kalian lupa aku juga dulu bahkan lebih jahat dibandingkan Ilham. Aku hampir saja membunuh anak kalian dan juga Stella. Namun kalian memilih tidak memasukkanku ke penjara dan memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki semua kesalahanku. Lalu apakah aku salah jika aku memberi kesempatan pada Ilham?" kata Rima.


"Kami tidak yakin Ilham sudah berubah." jawab Leo.


"Kak Leo, aku istrinya, aku sangat mengenal bagaimana sifat Ilham."


"Come on Rima. Kenapa jika kau jatuh cinta kau selalu tidak pernah menggunakan akal sehatmu."


Rima pun kemudian tersenyum. "Memangnya cinta membutuhkan logika? Begitu kan Kak Leo? Lihat dulu Kak Leo yang sangat mencintai Kak Calista padahal tahu Kak Calista saat itu mengalami masalah di rahimnya. Jika kau mau, kau bisa dengan mudah menikahi wanita lain yang bisa memberikan keturunan padamu, tapi kau lebih memilih Kak Calista dan bersabar sampai akhirnya kalian mendapatkan keturunan."


Leo dan Calista pun hanya terdiam mendengar perkataan Rima. Calista lalu mendekat pada Rima kemudian memeluknya.


"Maaf jika kami terlalu ikut campur dalam rumah tanggamu, kami melakukan semua ini karena kami menyayangimu."


Calista dan Leo pun melirik pada Ilham.


"Ilham kami pegang janjimu, tolong kau jaga Rima dengan baik jadilah suami yang baik untuknya." kata Leo sambil menatap tajam pada Ilham yang kini hanya termenung melihat mereka.


"Tentu, aku berjanji mulai hari ini aku akan menjaga Rima dengan baik."


Calista dan Leo pun akhirnya pulang dari rumah Rima dengan perasaan yang begitu kacau.


"Bagaimana Leo? Apa kau yakin Ilham sudah berubah?"


"Tidak. Aku tidak yakin."


"Lalu kita harus bagaimana?"


"Aku akan menyuruh anak buahku untuk mengawasi gerak-gerik Ilham."

__ADS_1


"Iya Leo."


Sementara Drey yang kini sudah jauh meninggalkan rumah Rima, begitu terkejut saat melihat sebuah ponsel di jok mobilnya.


'Jangan-jangan ini ponsel milik Rima.' kata Drey dalam hati sambil memegang ponsel tersebut.


"Emhhh lebih baik aku kembalikan sekarang." kata Drey lagi sambil memutar balik arah mobilnya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah melihat Leo dan Calista pergi dari rumah mereka, Ilham pun kini terlihat begitu cemas.


'Bagaimana ini? Calista dan Leo sudah tahu sikap kasarku pada Rima, bagaimana jika mereka mengatakan semua ini pada Olivia? Bagaimana jika Olivia berpikiran buruk padaku?' kata Ilham dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya.


'Aku harus menemui Olivia, ya... aku harus menemui Olivia sebelum dia menjauhiku.' kata Ilham dalam hati.


"Kau kenapa Ilham? Kenapa kau tampak cemas?" kata Rima sambil mendekat ke arah Ilham.


"Kau tidak usah ikut campur Rima!" bentak Ilham. Rima pun begitu terkejut mendengar perkataan Ilham yang begitu ketus padanya.


DEGGGGG


'Bukankah Ilham sudah berjanji untuk memperlakukanku dengan baik? Kenapa dia bersikap seperti ini lagi padaku?' kata Rima dalam hati.


Ilham lalu masuk ke dalam kamar kemudian mengambil jaket dan kunci motornya. "Kau mau kemana Ilham?" tanya Rima saat melihat Ilham yang kini menaiki sepeda motornya. Rima lalu memegang tangan Ilham.


"Bukankah sudah kubilang kau tidak usah ikut campur! Lepaskan aku Rima!" teriak Ilham pada Rima sambil mencoba melepas tangan Rima yang kini memegang tangannya.


"Ilham kenapa kau masih bersikap kasar padaku? Bukankah tadi kau sudah berjanji akan memperbaiki semua kesalahanmu?" kata Rima sambil mengiba.


"Bull*hit dengan semua yang tadi kuucapkan! Aku tidak ingin mati di tangan Leo jadi aku terpaksa meminta maaf pada wanita menjijikan seperti dirimu!" bentak Ilham yang membuat hati Rima begitu sakit.


Cengkraman tangan Rima pada tangan Ilham pun akhirnya mengendur. Ilham kemudian menghempaskan tubuh Rima ke atas bebatuan di halaman rumahnya. Keseimbangan Rima yang belum sempurna karena masih menggunakan tongkat pun membuatnya terpental sedikit keras ke arah bebatuan. llham yang melihat Rima terjatuh kemudian meninggalkan Rima begitu saja dengan mengendarai motornya.


Dengan sisa tenaga dan sedikit tertatih, Rima pun kemudian bangkit. Namun di saat itu juga dia begitu terkejut karena darah segar kini mulai mengalir membasahi kakinya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa ada darah yang mengalir di kakiku?" kata Rima dengan begitu panik.


__ADS_2