Salah Kamar

Salah Kamar
Bab Sembilan


__ADS_3

Hari ini aku tidak masuk kerja, aku diberi waktu libur dua hari oleh Bosku karena sabtu kemarin sudah lembur hingga larut malam saat survei lahan. Kulihat Aldo sudah bersiap hendak berangkat kerja, sementara Istriku sedang memandikan Riri di kamar mandi utama.


“Do, bawa aja mobil. Aku tidak masuk hari ini,” ku sodorkan kunci mobil.


“Bolos Rey?”


“Enggak, bos ngasih tambahan libur sehari karna kemarin pulang larut malam.”


“Oke lah, aku bawa mobilnya ya!” aku menganguuk tak lama ku tinggalkan Aldo bersama istrinya yang mengantarkan keberangkatan Aldo di teras rumah.


“Dek, hari ini masak ‘Arsik’ lagi ya! Kolab deh dengan gudeg Jogja andalanmu!” kataku pada istriku yang tengah asik mendandani Riri yang sudah selesai mandi.


“Ya Mas, nanti beli bahannya dulu di bulek sayur. Bahan kemarin sudah habis. Sarapan nasi goreng dulu sana Mas!” titah istriku.


“Iya, mau mandi dulu. Mau mandi bareng?” kataku menggoda.


“Gakkkkk, gak kelar-kelar malahan nanti mandinya. Lagian aku kan dah mandi Mas, emang kelihatan belum mandi ya?” Kata istriku sambil mendelik. Uhhh, ku cubit pipinya gemas.


“Ya kali aja dek mo mandi lagi.” Aku pun beranjak meninggalkannya. Bergegas mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku tolong ibu membersihkan tempat tidurku.


“Mas, antar aku ke warung bentar ya,” kata istriku saat melihat aku keluar dari kamar mandi.


“Tumben minta antar, ke warung sama Tiara aja ya dek. Sakit perut nih?”


“Ya udah deh ga usah aja, aku sendiri aja. Tiara lagi nyuapin Riri di depan Tv.” kulihat ada sedikit kecewa di sorot matanya.


“Maaf dek, beneran sakit perut nih. Kebanyakan makan sambal deh kayaknya tadi malam.” Kataku lagi.


“Ya udah, tar ku belikan sekalian obat sakit perut.” Katanya sambil berlalu, melangkah keluar kamar.


Selesai beberes, aku segera ke meja makan. Ku lihat nasi goreng dengan telur dadar tak biasa terhidang di sana. Telur dadar padang. Humm, yummy! Beberapa suap nasi sudah masuk ke tenggorokkan, ku lihat Tiara melangkah ke dapur sambil membawa piring kosong bekas makan Riri sepertinya. Ia melewatiku sambil tertunduk. Tiba-tiba aku ingat kejadian semalam. Cepat kususul dia kedapur.


“Emh, Tiara! Maaf yang semalam itu aku,, anu,, ini,, baju,, kamu,, baju anita anu,, “ susah payah aku menjelaskan. Ku garuk-garuk kepala yang tidak gatal ini. Segera ia menoleh, lalu tersenyum.


“Iya, ga apa-apa! Saya tau pasti salah paham.” Jelasnya singkat padat namun berbobot dan berisi.


“Kamu gak marahkan?” tanyaku mencoba mengorek isi hatinya.


“Insya Allah tidak, karna saya tau semalam terjadi karena ketidaktauan mu.” Ucapnya masih tetap tersenyum. Mempesona! Dih, kok pada sewot. Wajarlah, aku lelaki normal. Kalo aku bilang Ahmad dani ganteng memikat hati baru deh dipertanyakan dan kalian berhak sewot.


“Emh, ya sudah. Sekali lagi aku minta maaf! Oia, kamu ya yang bikin telur dadarnya itu? Rasanya sangat enak, nanti ajari Anita untuk resepnya ya,” kataku mengalihkan pembicaraan.


“Siap.” Katanya sambil melakukan gerakan hormat upacara. Akhirnya kami pun tertawa lirih bersama. Terlihat sangat manis wajah istri Aldo ini, tak jauh beda dengan Anitaku.


Astqfirullah, tersadar aku saat mengaggumi dan memuji wanita lain selain istriku, segera aku beristiqfar sebanyak-banyaknya. Jaga mata, jaga pikiran, jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini. Alhamdulillah, Aa Gym hadir tepat waktu.

__ADS_1


Merasa masalah semalam dengan Tiara sudah clear, segera kuberniat ingin kembali melanjutkan santap sarapanku. Apa lagi Tiara juga sudah beranjak ke tempat cuci piring. Segera ku membalikkan badan, hendak menuju meja makan, namun tiba-tiba tenggorokan ku tercekat, malaikat maut serasa mendekat, aku melihat istriku sudah berdiri dibelakangku dengan tatapan tajamnya. Aku tau ini tatapan tak biasa, tatapannya Tukul Arwana. Tak sobek-sobek! Dan entah sudah berapa lama ia ada di sana, nyatanya ia melihat aku dan Tiara tertawa bersama. Merasa tak ada apa-apa, aku berusaha bersikap biasa saja. Meskipun aku tau ada keganjilan suasana yang tiba-tiba hadir menyeruak, hadir karena saat ini Si dia tengah dilanda cemburu.


“Sudah ku bilang kan Rey, istrimu akan peka jika kamu berdekatan dengan wanita lain. Penglihatannya lebih tajam dari anak indihome,” kata nuraniku


“Indigo,” kataku membenarkan.


“Ya itulah maksudku, penglihatannya mampu menembus tujuh dimensi. Makanya kamu,,,,, ” Cep! Tiba-tiba terdiam kicep bisikan hatiku demi melihat matanya yang sedikit melotot.


Segera kuhampiri dia, berniat mengambil semua barang belanjaannya. Namun ditampiknya tanganku. Akh! Benarkan? benar dia sedang cemburu, dia sudah salah paham padaku.


“Silahkan habiskan dulu sarapannya sayanggggg! Silahkan dinikmati bersama lauk telur dadar terenak sedunia” lirih namun penuh penekanan, dan itu terdengar tajam setajam silet.


“Tiara, bantu aku beresin ini ya,” katanya sambil berlalu dariku. Dan tak lama ia sudah asik dengan Tiara.


Dengan perasaan tak enak, kembali aku menuju ke meja makan. Menghampiri sarapanku yang tadi ku tinggalkan. Namun nafsu makanku mendadak telah hilang, telur dadar dipiring seolah-oleh meledekku, bahkan nasi gorengnya nantang ngajak tawuran. Argh! Ku tinggalkan meja makan, menghampiri Riri yang tengah bermain sambil menonton televisi. Sejenak kulupakan kegalauan hatiku dengan ikut bermain bersama Riri.


*********


Cepat ku raih tangannya sebelum ia kabur lagi. Sedikit meronta namun apalah kekuatan wanita dibanding dengan laki-laki.


“Apa-apaan sih dek, dari tadi cuekin aku terus. Dipanggilpun tak menyahut,” kataku pura-pura, padahal aku sudah tau apa penyebab dari sikapnya itu.


“Gak apa-apa.” Katanya cuek, namun intonasinya terdengar tajam.


“Sudah ah, aku mau siapin makan malam dulu.” Katanya sambil berusaha melepaskan tangannya yang ku cengram dari tadi.


“Gak akan ku lepas sampai kamu bilang ada apa denganmu,” kataku sambil menariknya ke pelukanku. Namun reaksi yang diberikan tak seperti biasanya, dia meginjak kakiku hingga aku mengaduh. Terlepaslah pelukanku dan cengkraman tanganku padanya, konsentrasiku telah terbagi dengan sakit di kaki karena injakannya. Segera istriku berlari ke luar dari kamar.


“Ya Allah, jahatnya kamu dek,” kataku meringis sambil mengusap kaki ku yang kesakitan. Ini terasa luar biasa, pertama kalinya istriku memperlakukan aku sekejam ini setelah lima tahun menjalani biduk rumah tangga. Artinya, apa yang ia rasakan saat ini benar-benar mengusik hatinya yang terdalam. Beranjak aku keluar, memastikan bahwa dia dan Tiara baik-baik saja.


“Rey, kata bos besok di suruh bawa peta lahan yang kemarin,” kata Aldo menyambutku saat aku keluar dari kamar.


“Oke!” kataku, kulirik istriku yang tengah menyiapkan makan malam di ruang makan. Nampak ia tengah bercanda bersama Tiara di sana.


“Eh, Mas! Ayo cepetan kesini. Masakan sudah siap. Aldo, ayo makan!” seru istriku ramah, ramah sekali. Hmm, terlalu pintar dia menyembunyikan permasalahan.


Kejadian ini pun juga berlaku siang tadi. Dia akan sangat ramah padaku di depan semua orang, melayaniku dengan sebaik-baiknya. Makan dan minum di sajikan dengan baik. Tapi kalau sudah di kamar, wajahnya akan berubah seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


Sempat salah paham dengan perlakuannya padaku siang tadi. Kupikir saat dia menawari aku makan siang tadi dengan segala keramahannya, selesai sudah perkara. Ternyata tidak! Perlakuannya padaku saat kami bertemu di kamar, berubah 180 derajat. Di tegur tak jawab, di panggil tidak menoleh, disentuh pun di tampik. Sungguh terlalu pintar dia menjaga harkat dan martabatku sebagai seorang suami di mata umum. Dan itu membuat aku memberi tambahan nilai untuknya sebagai seorang istri.


“Ayo Rey, malah bengong,” kata Aldo sambil menyenggol pundakku.


“Oh iya-iya,,” kataku tergagap. Segera ku beranjak, bergabung dengan mereka yang telah lebih dulu disana.


Makan malam pun berlalu dengan beberapa lontaran pujian tentang hidangan yang disantap. Tiara tak segan-segan memuji-muji masakan istriku, begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


“Arsik mu uenak banget Tiara, tuh lihat suamiku aja lahap banget makannya,” kata ‘suamiku’ diberi penekanan yang kuat oleh istriku. Seolah sedang mengatakan padaku bahwa aku ini suaminya.


“Kamu juga hebat Nit! Pantes Bang Aldo setiap pulang timbangan selalu naik. Ternyata di sini di beri makan dengan menu goyang lidah.” Kata Tiara menyambung.


“Besok tulisin resep-resep masakanmu ya! Supaya kalau Mas Rey kangen masakanmu aku bisa buatin,” dan lagi-lagi kata kangen di beri penekanan. Aku tersedak, lalu mengambil air minum.


“Maksudnya Aldo yang kangen masakanmu Ra! Bisa aja kamu dek kalo bercanda,” kataku mengalihkan perhatian. Di sambut senyum sinis olehnya. Untung saja Aldo dan Tiara tak melihat itu. Ya Allah, dia benar-benar sedang cemburu akut ternyata.


***********


Aku masih setia, duduk di sisi ranjang menunggu istriku yang sedang menidurkan Riri di ranjang sebelah. Aku harus selesaikan semua masalah malam ini juga. Tak sanggup rasanya aku mendapat perlakuan seperti ini dari istriku. Sangat menyiksa.


Tak lama Riri telah tertidur, istriku pun beranjak pindah ke ranjang kami. Menaruh guling di tengah-tengah lalu menarik selimut menutupi badannya hingga keleher. Posisinya membelakangiku, tanda ia benar-benar marah.


“Mahhhhhh,” panggilku dengan sebutan mesra, sambil menyentuh tubuhnya.


“Mohhhhhh.” Ebusetttt! Nandes banget. Terkejut aku dengan sahutannya.


“Dek, sudah dong dek! Kamu kenapa sih uring-uringan gini,” kataku sambil menarik selimutnya.


“Apa-an sih.” katanya sambil menarik lagi selimutnya, tapi kalah cepat denganku. Cepat kulempar selimut itu ke lantai.


“Kamu yang apa-apaan Dek! Aku salah apa sih?” tanyaku kemudian. Akhirnya dia bangkit dari tidurnya, beringsut dengan menyenderkan badan dibahu ranjang.


“Terasa janggal di telinga saat kamu memuji masakan Tiara di depanku, terasa tak biasa.” Istriku mulai berbicara. Aku diam mendengarkan.


“Aku hanya tak mau kamu terlalu dekat dengannya, meninggalkan kalian berdua-duaan di rumah. Sedang ada aku saja kamu sudah berani memujinya didepanku, bagaimana jika tidak ada aku. Oleh karnanya aku memintamu mengantarkan aku ke warung. Tapi apa? Kamu menolak ,,,” hening sesaat. Kubiarkan dia menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu. Kubiarkan ia menumpahkan apa yang sedari tadi menyesakkan dadanya.


“Dan benar saja, pemandangan tadi siang cukup menjawab tentang tanyaku. Pantas saja kamu tak mau mengantarkan aku ke warung, ternyata lebih asik tertawa berdua dengan Tiara di dapur.” Kali ini ada bening yang jatuh dari kedua bola matanya.


Seandainya aku boleh jujur, aku ingin tertawa terbahak-bahak. Cemburunya sudah di luar nalar. Tapi, tidak! Aku tidak akan tertawa, aku menghargai kecemburuan istriku ini. Meski aku tau bahwa itu hanya cemburu buta. Ini satu-satunya sikap minus yang dia miliki, oleh karnanya aku tetap telateni sifanya ini.


Ku usap air matanya, lalu ku peluk dia. Senjata andalan seorang suami jika istrinya marah, ngambek, atau telat ngasih uang bulanan. Dan ini pun seperti yang biasa ku lakukan padanya setiap kami berselisih paham. Tapi, kali ini dia menolak. Bahkan dengan sedikit kasar di dorongnya tubuhku menjauh darinya.


“Kamu suka kan sama Tiara,” tuduh istriku. Ya Allah, stand up komedi banget kan ini. Tapi lagi-lagi aku tetap menahan tawaku. Jangan sampai ketawaku meledak dan akhirnya dioa tersinggung. Bisa lebih runyam masalah.


“Astaqfirullah dek. Apakah ada orang bisa suka dengan seseorang, dalam waktu satu hari. Tiara di sini baru kemarin dek,” kataku penuh dengan kesabaran.


“Senyatanya, kita belum pernah ketemu. Tapi kamu tetep langsung mau di nikahkan sama aku.” Katanya memberi argumen.


“Ya itu beda dek, dulu itu karena aku sudah kepepet. Aku takut jadi bujang lapuk. Kalo sekarang aku jatuh cinta sama kamu, itu karena kamu memamg telah berhasil membuat aku mencintaimu. Ayolah dek! Kamu hanya cemburu buta.” Kataku masih dengan intonasi serendah mungkin dan dengan sedikit bercanda, mencoba mencairkan suasana meski tak berhasil. Aku tau, saat ini dia tak butuh argumen. Dia hanya butuh penenangan.


Kembali ku mendekat, mencoba meraihnya dalam pelukan. Berharap kali ini berhasil seperti beberapa pertengkaran kecil yang pernah kami lalui. Namun ternyata kali ini tidak begitu, aku gagal lagi memeluknya. Ia tetap menampik. Lalu turun dari ranjang, berpindah ke ranjang Riri.


“Ijinkan aku berpikir jernih tanpa kamu ganggu Mas,” ucapnya sesaat sebelum selimut benar-benar menutupi badannya. Huft!

__ADS_1


__ADS_2