
"Mas, ada yang salah deh."
Bram tersenyum sembari meraih sebuah kaus pendek berwarna hitam. Dia tak menyangka Kinan juga akan dengan cepat menyadarinya. "Kirain kamu gak sadar, Nan."
"Agak gak masuk akal sih pembagiannya."
"Kita liat aja, siapa yang bener." Bram melepas pakaiannya, membuat Kinan refleks menutup mata hingga mengundang kekehan dari Bram. "Kamu udah liat semuanya ngapain tutup mata?"
"Mas bukanya tiba-tiba gitu," ujar Kinan diiringi rasa malu yang saat ini memenuhi dirinya. Dia sungguh malu karena Bram malah mengatakannya. Untung hanya ada mereka berdua di sana. Bagaimana jika ada orang lain?
Suara ketukan membuat keduanya menoleh bersamaan. Kemudian suara sang mama terdengar hingga membuat Kinan segera menghampiri pintu dan membukanya.
"Mama mau pulang. Udah mau malem nih," ujar mama Kinan.
"Katanya mau nginep."
"Gak enak, Nan, Aldo yang bawa soalnya," ujar sang mama diiringi tawa. Dia juga ingin menginap di sana. Namun, karena Aldo bersamanya, dia tak enak jika pria itu pulang sendirian. "Baik-baik ya. Terus sehat-sehat, terus jangan lupa kasih mama cucu."
"Ma ...." rengek Kinan yang tentu mengundang tawa dari Bram juga sang mama. Kinan juga sedang berusaha sekarang. Setelah dipikir-pikir memang lebih baik dia memiliki anak bersama Bram. Dengan begitu, hubungan mereka akan lebih erat. Setidaknya begitu yang dia baca di beberapa artikel yang berisi curhatan para istri. Belakangan dia memang masuk ke forum seperti itu untuk tahu beberapa hal. Dia malu jika harus bertanya pada sang mama.
"Iya, ma, do'ain aja," jawab Bram diiringi senyum. "Mau Bram anter gak?"
"Gak usah, kamu istirahat aja. Pasti cape. Dah, mama pulang dulu ya."
Kinan tersenyum kemudian mengangguk. Dia juga melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal. "Hati-hati, ma."
Kinan mengerutkan dahi saat berbalik. Bagaimana tidak? Bram yang tadi ada di belakangnya, menatapnya intens sembari melipat kedua tangannya. "Kenapa, mas?"
"Enggak, pengen aja liatin kamu."
Kinan terkekeh sembari memukul pelan lengan Bram. Dia sedikit merasa lega karena Bram akhirnya kembali bergurau di tengah dukanya. Meskipun matanya masih jelas memancarkan kesedihan, dia tahu Bram sudah mulai baik-baik saja.
__ADS_1
...***...
Saat ini memang sudah menunjukan pukul 11 malam. Namun, Kinan masih harus melakukan meeting online bersama timnya perihal beberapa acara yang akan mereka bantu. Kinan mempercayakan segalanya pada Aldo karena dirinya tak memungkinkan membantu untuk 1 minggu ke depan. Dia akan fokus menemani Bram dan menghiburnya karena baru saja merasakan kehilangan.
Bram memberikan kode pada Kinan untuk berhenti. Kemarin Kinan tak enak badan. Dia hanya tak mau Kinan sakit lagi.
"Temen-temen mungkin gitu aja. Kalo ada pertanyaan, bisa tanyain langsung. Ini soalnya udah terlalu malem, selamat istirahat." Kinan menutup pertemuan online itu kemudian menutup laptopnya. Dia tersenyum dan mengangguk sebelum Bram mengatakan sesuatu.
"Kamu juga butuh istirahat, Nan."
"Iya, mas. Kinan tau. Cuman ini darurat soalnya karena keteteran, buka buat yang freelance juga. Jadi, harus dijelasin dulu," ujar Kinan kemudian meletakan laptop itu di nakas. "Mas tadi belum makan malem. Makan aja sekarang yuk, Kinan laper."
Bram mengerutkan dahi. Padahal, Kinan ikut makan malam tadi. Dia punya alasan mengapa tak ikut makan malam. Dia malas berhadapan dengan Sarah juga Wira. Satu alasan lainnya adalah karena dia malah semakin teringat sang oma. Jadi, dia memutuskan untuk tak ikut makan malam dengan alasan pekerjaan yang belum tuntas.
Bram Kemudian duduk di tepi ranjang, Dia mulai mencari makanan apa yang bisa mereka makan saat ini. Namun, dia sungguh tak berselera untuk makan. "Kamu aja."
"Enggak, mas juga harus makan." Kinan mengambil alih ponsel sang suami. Memilih makanan yang ingin dia makan. Dia memilih menu ayam bakar 2 porsi untuknya dan untuk Bram. Dia benar-benar tergiur dengan foto yang ada pada katalognya. Tadinya dia ingin bakso. Namun, jam segini sepertinya sudah tak ada dan dapat dipastikan baksonya akan lembek saat tiba.
"Abisin ya."
Kinan tak tahu ini hanya sugesti atau memang iya. Namun, dari kemarin dia memang terus mengidam. Dia juga tak mau terlalu berharap karena takut hasilnya mengecewakan. Ditambah, seminggu lagi adalah siklusnya. Bisa saja dia mengidam karena PMS bukan karena hamil.
"Nan, obat di laci punya siapa?"
Kinan membulatkan mata. Ah, dia lupa menyimpan setiap vitaminnya dengan benar. Padahal dia berusaha untuk menyembunyikannya dengan baik sampai dia benar-benar dinyatakan hamil. "I-itu ...."
"Kamu sakit apa?"
"Itu vitamin. Dikasih sama dokter," jelas Kinan. Jangan sampai Bram bertanya lebih lanjut atau dia akan bingung harus mencari kebohongan seperti apa. "Gapapa kok, Kinan baik-baik aja, seriusan. Itu cuma vitamin biasa."
"Bener?"
__ADS_1
Kinan mengangguk dengan yakin. "Beneran. Masa Kinan boong sih?"
Sebuah telepon tiba-tiba masuk ke ponsel Bram. Segera pria itu meraihnya dan menjawab telepon yang datang dari Raka.
"Pak, saya udah coba nanya-nanya ke dokter atau perawat di rumah sakit. Katanya mereka gak kenal," ujar Raka yang kemudian membuat Bram mengangguk.
"Oke, makasih. Itu artinya memang orang itu kemungkinan besar ngelakuin sesuatu ke oma. Kamu pulang aja, kalo ada kabar baru, hubungi saya."
"Siap, pak."
Telepon itu terputus, menyisakan rasa bingung di benak Bram. Dia tak mengenali orang itu. Namun, dari perawakannya dia merasa itu mirip seseorang, tapi dia tak tahu siapa. Yang jelas, bukan Wira. Dia punya firasat Wira yang melakukannya, tetapi dari bukti CCTV, tak terlihat bahwa itu adalah Wira.
"Ketemu?"
Bram menggeleng. "Baru ada petunjuk, orang yang ada di CCTV bukan dokter di sana."
Bram mengusap kasar wajahnya. Bukan dia ingin membuat sang oma tak tenang. Justru dia merasa dengan menemukan pelakunya, dia akan membuat sang oma tenang. Apalagi, dia yakin orang terdekat yang melakukannya.
Kinan mengusap bahu Bram dan tersenyum. "Pasti bakal ada jalan keluarnya kok, mas."
Bram kemudian mengangguk. Dia kemudian memeluk Kinan untuk mengisi sedikit energinya. Kali ini tempatnya bersandar hanya Kinan. "Makasih, Nan."
"Yang sabar ya, mas," ujar Kinan sembari menepuk halus punggung sang suami. Dia kemudian melepas pelukan tersebut saat sesuatu terlintas di kepalanya. Dia tiba-tiba membayangkan ayam bakarnya terasa lebih enak jika pedas.
"Kenapa?"
"Kinan mau bikin sambel," ujar Kinan. Namun, senyum tertahan Bram membuat keinginannya hampir hilang. "Bisa kok."
"Yaudah, kamu bikin dulu sana. Minta bantuan bi Asri juga ya."
"Mas gak percayaan sama Kinan. Udah ah, Kinan mau tidur aja. Ayamnya abisin sama mas."
__ADS_1
Bram terkekeh saat Kinan memilih berbaring sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Sama mas aja yuk. Mas bantuin. Percaya kok masakan istrinya mas ini enak."
...****************...