Salah Kamar

Salah Kamar
Bencana


__ADS_3

"Apa?"


"Apa kau sedang hamil, Vallen?"


"Entahlah, tapi aku merasa benar-benar tidak enak badan."


"Tidak enak badan? Jadi kau masih sakit?"


"Mungkin."


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau di rumah saja sayang. Nanti kutelponkan Kak David kalau kau sedang sakit."


Vallen pun kemudian menganggukkan kepalanya.


"Aku berangkat dulu sayang." kata Firman sambil mengecup kening Vallen. Namun tiba-tiba Vallen menarik tangan Firman sambil memonyongkan bibirnya.


"Kenapa?"


"Jangan pulang terlambat, aku rindu. Jangan lupa nanti makan siang denganku."


"Vallen, nanti siang aku ada rapat. Waktuku sangat terbatas, aku tidak mungkin keluar dari kantor."


"Kau bisa melakukan video call untuk makan siang bersamaku." kata Vallen sambil terkekeh.


"Baik istriku sayang, sekarang aku pergi dulu." kata Firman sambil mencubit pipi Vallen.


"Ya, hati-hati." jawab Vallen dengan lemas.


Dia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


🏡🏡🏡


"Siapa yang meneleponmu, David? Kenapa kau tiba-tiba menyebut Vallen?"


"Oh.... E.. Mama."


"David katakan pada mama siapa yang meneleponmu? Kenapa kau menyebut nama Vallen? David, bukankah tadi malam mama sudah mengatakan jika Vallen akan mama jodohkan dengan Firman, kau jangan pernah coba-coba merubah keputusan mama ataupun menjodohkan Vallen dengan laki-laki lain."


"Tidak ma, David tidak pernah mencoba menjodohkan Vallen dengan laki-laki lain."


"Lalu tadi siapa yang meneleponmu?"


"Firman, Firman yang menelponku ma."


"Firman? Kau jangan berbohong David. Bukankah kalian belum saling mengenal? Bagaimana mungkin dia bisa menelponmu?"


"Mungkin Vallen yang memberikan nomor ponselku padanya."


"Oh iya mungkin saja. Memangnya apa yang Firman katakan padamu?"


"Tadi Firman bilang kalau Vallen saat ini tidak bisa pergi ke rumah sakit karena dia sedang sakit."

__ADS_1


"Astaga, jadi sakitnya bertambah parah? Ini tidak boleh terjadi, sebentar lagi Vallen akan menikah dengan Firman, dia tidak boleh sakit. Sebaiknya sekarang aku pergi ke apartemen Vallen saja."


"Tidak usah ma, Vallen pasti baik-baik saja."


"David!! Kenapa kau berkata seperti itu? Adikmu sedang sakit, bisa-bisanya kau mencegah mama untuk menemuinya?"


"Ma, bukan itu maksud David tapi...."


"Sudahlah lebih baik mau diam saja, mama mau ke apartemen Vallen sekarang juga."kata Nurma lalu berjalan meninggalkannya.


'Astaga, aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi.' gerutu David. Dia kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


"Stella.. Stella..."


"Ada apa David?"


"Mama mau pergi ke apartemen lagi."


"Astaga, aku takut sesuatu terjadi David."


"Ya, aku juga."


"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"


"Entahlah, hari ini aku sangat sibuk."


"Baiklah kalau begitu, sepertinya aku juga harus pergi ke apartemen itu."


🏡🏡🏡


"Sebenarnya aku ingin berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganku sendiri melalui USG, tapi tubuhku sangat lemas " gerutu Vallen di atas ranjangnya.


"Ahhhaaaa aku punya ide, lebih baik aku melakukan tes kehamilan di rumah saja." kata Vallen kemudian mengutak-atik ponselnya untuk membeli tespack lewat aplikasi online.


"Beres, aku tinggal menunggu kurir itu mengantarkan tespacknya." kata Vallen sambil terkekeh. Setengah jam kemudian, bel pintu apartemen pun terdengar.


TETTTT TETTTTT


Mendengar suara bel. Vallen pun bergegas membuka pintu apartemennya.


"Terimakasih." kata Vallen saat seorang kurir mengantarkan barang pesanannya. Vallen kemudian membawa tespack pesanannya sambil berjalan ke kamar mandi dan melakukan tes kehamilan dengan menggunakan tespack itu.


"Satu, dua, tiga." kata Vallen sambil menunggu hasil tes pada tespack tersebut, hingga akhirnya dua buah garis pun terlihat pada tespack tersebut.


"AAAAAAAAA AKUUUUU HAMIIIIILLLLLL!!! AKUUU HAMIIILLL ANAKKK FIRMANNNN!!! TERIMAKASIH TUHAN!!!" teriak Vallen kemudian bergegas keluar dari kamar mandi.


"Oh Tuhan, terimakasih Tuhan, aku sangat bahagia, aku sangat bahagia. Hahahaha."


Vallen kemudian mengambil ponselnya lalu menelepon Firman.


[Halo FIRMANNN!!]

__ADS_1


[Astaga Vallen, kau mengagetkanku.]


[FIRMANNNN!!]


[Astaga, ada apa lagi sayang? Kau sepertinya terlihat sangat bahagia.]


[Tentu saja, aku punya kejutan untukmu.]


[Kejutan apa?]


[Nanti saja kalau kau sudah pulang!]


[Ya, ya, ya. Kau semakin membuatku penasaran.]


[Hahahaha, semakin kau penasaran, semakin kau cepat pulang ke rumah kan?]


[Kau memang istri yang sangat pintar.]


[Tentu saja, jika aku tidak pintar kau tidak mungkin mencintaiku, iya kan?]


[Iya, iya.]


[Sampai nanti sayang.] kata Vallen sambil terkekeh. Namun baru saja menutup telepon dari Firman, suara bel pun kembali terdengar.


"Siapa yang datang?" kata Vallen sambil mengerutkan keningnya. Dia kemudian menaruh hasil testpacknya begitu saja di atas sofa lalu bergegas berjalan ke arah pintu. Saat pintu itu dibuka, tampak Nurma sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum padanya.


"Mama?"


"Tadi David ditelepon oleh Firman dan dia mengatakan jika kau saat ini sedang sakit, mama sangat khawatir."


"Ayo masuk ke dalam saja ma."


Nurma lalu menganggukan kepalanya kemudian mulai berjalan masuk ke dalam apartemen itu, lalu duduk di atas sofa.


"Vallen, maafkan mama. Tadi malam mama memang tidak terlalu memperhatikan kondisi kesehatan dirimu karena sibuk membicarakan pernikahanmu dengan Firman. Mama tidak menyangka jika sakitmu akan semakin bertambah parah. Maafkan mama sayang, sekarang bagaimana keadaanmu?"


"Vallen hanya sedikit pusing dan lemas. Lalu mual karena asam lambung Vallen sedikit naik."


"Oh, kau harus menjaga asupan dan pola makanmu, sayang. Mama yakin, kau pasti sering telat makan kan? Sebentar lagi kau akan menikah dengan Firman, kau harus menjaga kesehatanmu. Menjelang hari pernikahan kalian pasti akan sangat sibuk."


Mendengar perkataan Nurma, Vallen pun hanya tersenyum.


"Lebih baik sekarang kau istirahat saja di kamar, biar mama yang membersihkan apartemen ini dan memasakkan makanan untukmu."


"Iya ma, Vallen ke kamar dulu." namun baru saja Vallen bangkit dari atas sofa tiba-tiba perutnya terasa begitu mual, dia lalu bergegas berlari ke arah wastafel. Melihat Vallen yang terlihat begitu lemas, Nurma pun berniat mendekat ke arah Vallen untuk membantunya, namun baru saja Nurma bangkit dari atas sofa tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah benda pipih yang ada di sofa tersebut. Nurma lalu mengambil benda itu disertai dengan perasaan yang begitu tak menentu, jantungnya berdegup kian kencang dan tubuhnya kini terasa bergetar melihat benda pipih yang ada di tangannya. Dadanya kini terasa begitu sesak saat melihat dua garis yang tertera pada benda tersebut.


'Oh tidak. Apa ini tespack milik Vallen? Ah ini tidak boleh terjadi. Oh Tuhan, baru saja aku akan menjodohkan Vallen dengan laki-laki pilihanku tapi kenapa dia harus mengandung anak dari laki-laki lain?' gumam Nurma disertai perasaan yang begitu tak menentu, hatinya pun terasa begitu berkecamuk. Melihat Vallen yang menghampirinya, seketika emosi Nurma pun memuncak.


"APAAAA INIIII VALLENEENNNN!!! SIAPA YANG SUDAH MENGHAMILIMU!!! BARU SAJA MAMA MENJODOHKAN DIRIMU DENGAN LAKI-LAKI PILIHAN MAMA TAPI KENAPA KAU MALAH HAMIL ANAK DARI LAKI-LAKI LAIN!!! KATAKAN SIAPA YANG SUDAH MENGHAMILIMU, VALENNNN!!"


'Astaga, ini benar-benar bencana.' gumam Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2