Salah Kamar

Salah Kamar
Bukan Hal Yang Mudah


__ADS_3

"Aku hanya sedang membaca pesan dari Vallen saat kau memanggilku, jadi aku tidak sengaja memanggilmu dengan namanya." kata Firman untuk menutupi rasa malunya.


"Firman, tidak usah terus mengelak perasaanmu. Aku tahu kau sedang memikirkannya karena dia belum menghubungimu kan? Lebih baik kau hubungi saja dia terlebih dulu."


Mendengar perkataan Zidan, Firman pun hanya terdiam sambil terus mengamati ponselnya.


'Gadis aneh, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?' gumam Firman sambil tersenyum menatap foto Vallen di ponselnya saat bermain air laut.


Zidan pun mendekat ke arah Firman lalu tertawa terbahak-bahak saat melihat Firman sedang memandang foto Vallen.


"Hahahaha Firman... Firman, buang semua gengsimu, lebih baik kau hubungi saja dia sekarang."


Firman pun tersenyum kecut.


'Mungkin benar apa kata Zidan, lebih baik aku menghubunginya sekarang.' gumam Firman kemudian mengetik nama Vallen di ponselnya.


💙💙💙💙💙


Vallen berjalan membuka pintu rumah dengan begitu lemas, tapi tiba-tiba netranya tertuju dengan sosok yang kini sedang duduk di ruang tamu bersama dengan mamanya.


"Mama..." kata Vallen tertahan.


"Vallen, dia ingin bertemu denganmu."


Vallen pun mendekat ke arah mamanya dan wanita berhijab panjang yang duduk di sampingnya.


"Mama ke dalam dulu." kata Nurma.


"Iya Ma."


Vallen lalu duduk di sofa. Perasaan Vallen pun semakin tak menentu saat berdekatan dengan wanita berhijab panjang itu.


'Apakah dia istri Rayhan? Kenapa dia menemuiku?' gumam Vallen dalam hati.


"Selamat malam Vallen. Perkenalkan saya Inara." kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.


"Oh ya, saya Vallen." jawab Vallen sambil membalas uluran tangannya.


"Inara, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Oh begini....."


Belum sempat Inara melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponsel Vallen pun berbunyi.


"Maaf, sebentar saya angkat telepon dulu."


"Silahkan."


Vallen kemudian mengambil ponsel di tasnya.


"Firman." kata Vallen saat melihat nama Firman di layar ponselnya, bergegas Vallen pun mengangkat panggilan itu disertai raut wajah yang begitu bahagia.

__ADS_1


[Halo Vallen.]


[FIRMANNNNNN!!!] teriak Vallen saat mengangkat panggilan itu yang membuat Firman menjauhkan ponselnya dari telinganya.


'Astaga, benar-benar gadis yang aneh.' gumam Firman dalam hati.


[Vallen, apa tidak bisa kau kecilkan volume suaramu?]


[Hahahaha tentu saja bisa, aku hanya terkejut kau sudah meneleponku terlebih dulu.]


[Emh.. Itu karena kau belum juga menelponku, jadi aku meneleponmu terlebih dulu.]


[Itu karena aku kedatangan seorang tamu, jadi aku menemui tamuku terlebih dulu.]


[Oh tapi kau baik-baik saja kan? Kau sudah sampai di rumahmu?]


[Tentu saja. Jadi, kau sudah mulai merindukan aku?]


Firman pun tersenyum.


[Tidak. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu.]


[Hahahaha, dasar laki-laki sombong.]


[Ya sudah lebih baik kau temui tamumu terlebih dulu.]


[Iya Firman, nanti kau kuhubungi lagi.]


[Ya.]


[Ada apa?]


[Bukankah aku sudah bilang padamu jatuh cinta padaku bukan hal yang mudah karena kau tidak akan bisa melupakan aku meskipun hanya sebentar saja, dan kau mulai merasakan itu kan?] kata Vallen sambil terkekeh.


Firman pun tertawa terbahak-bahak.


[Dasar gadis aneh.] kata Firman kemudian menutup teleponnya.


Vallen pun menutup panggilan dari Firman sambil tersenyum. Dia lalu baru menyadari akan keberadaan Inara.


"Oh maaf jika kau sedikit terganggu."


"Tidak apa-apa Vallen, sepertinya kau sangat bahagia berbicara dengan seseorang yang menelponmu. Apakah dia kekasihmu?"


Vallen pun tersenyum.


'Bukankah Firman mengaku jika dia adalah kekasihku pada Rayhan, sebaiknya aku mengaku saja jika dia adalah kekasihku.' gumam Vallen.


"Ya, dia Firman kekasihku."


"Apa kau benar-benar mencintainya?" .

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak lihat bagaimana aku berbicara padanya? Bukankah bisa terlihat dari wajahku jika aku aku sangat mencintainya."


"Ya, sepertinya kau sangat mencintainya. Kau juga terlihat begitu bahagia saat berbicara dengannya."


'Bagus, jadi dia percaya padaku.' gumam Vallen dalam hati.


"Ya Inara, aku sangat mencintai Firman, itulah alasannya aku sudah tidak ingin membicarakan apapun tentang masa laluku. Itulah alasannya aku menolak ketika kau ingin berbicara mengenai Rayhan denganku."


Mendengar perkataan Vallen, Inara pun tersenyum.


"Tapi kedatanganku kesini juga ingin membicarakan Mas Rayhan."


"Memangnya ada apa lagi Inara? Hubunganku dan dirinya sudah lama berakhir sejak kalian akan menikah. Sejak saat itu, sungguh aku tidak pernah berhubungan dengannya lagi."


"Ya aku tahu itu."


"Lalu?"


"Vallen, mungkin bagimu hubunganmu dengan Mas Rayhan sudah berakhir, dan di hatimu sudah tidak ada lagi dirinya tapi tidak dengan Mas Rayhan."


"Apa maksudmu?"


"Bukankah tadi kau mengatakan jika sudah jatuh cinta padamu bukan hal yang mudah karena orang yang mencintaimu tidak akan bisa melupakanmu meskipun hanya sebentar saja. Begitulah dengan Mas Rayhan."


"Inara, aku benar-benar tidak mengerti. Saat itu Rayhan memutuskan hubungan kami karena dia memilihmu untuk menuruti permintaan kedua orangtuanya, dan aku menghormati pilihan Rayhan. Karena itulah aku ikhlas melepaskan dia untuk menikah denganmu tapi kenapa tiba-tiba beberapa bulan kemudian kalian jadi seperti ini? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti Inara."


"Iya Vallen, awalnya memang Mas Rayhan mengikhlaskan hubungannya denganmu kandas untuk menuruti kemauan orang tua kami. Namun mungkin ini tidak semudah yang dia pikirkan. Dia tidak pernah mencintaiku, bahkan dia hanya pernah menggauliku sekali saja di malam pengantin kami, dan saat menggauliku yang keluar dari mulutnya adalah namamu." kata Inara sambil terisak.


"A...Apa kau bilang?"


"Iya Vallen sampai saat ini Mas Rayhan masih sangat mencintaimu. Dia tidak pernah bisa mencintaiku, dan saat aku meneleponmu, di malam itulah dia menalakku lalu pergi dari rumah dan belum pernah kembali sampai saat ini."


"Astaga." kata Vallen sambil menutup mulutnya.


"Vallen, sebenarnya aku ikhlas jika Mas Rayhan menceraikanku tapi permasalahannya tidak sesederhana itu karena saat ini aku sedang mengandung darah daging Mas Rayhan." kata Inara sambil menghapus air mata yang masih mengalir deras membasahi wajahnya.


"Astaga Inara, kau harus memberitahu semua ini pada Mas Rayhan."


"Dia menghilang Vallen, sejak malam itu dia menghilang. Dan dia memblokir semua nomor teleponku dan keluarga kami, tidak ada yang bisa menghubunginya. Kami semua tidak bisa memberitahu aku sedang mengandung anaknya. Jadi itulah alasannya aku menemuimu, aku ingin meminta bantuanmu untuk berbicara dengan Mas Rayhan mengenai semua ini. Apa kau bisa menolongku Vallen, dua hari lagi dia akan pergi ke London untuk memulai pekerjaan di sana dan tidak akan pernah kembali ke negeri ini, aku tidak ingin dia tidak tahu apa yang terjadi padaku, aku tidak ingin dia tidak pernah bertemu dengan anak yang ada di dalam kandunganku."


Perasaan Vallen pun semakin berkecamuk.


'Kenapa aku harus ada di dalam lingkaran pernikahan mereka yang rumit.' gumam Vallen dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Vallen." panggil Inara.


"Vallen, maafkan aku jika sudah mengganggu dan merepotkanmu, aku sangat berterima kasih karena kau sudah bisa melupakan masa lalumu, aku yakin itu bukan hal yang mudah. Tapi saat ini hanya kau harapkanku, Vallen. Mas Rayhan hanya mau mendengarkanmu. Kau mau berbicara dengannya kan?"


"Baik, aku akan mencobanya." jawab Vallen.


Vallen pun merasa begitu iba melihat Inara yang kini menangis di hadapannya. Sebenarnya dia begitu enggan berhubungan kembali dengan Rayhan tapi rasa kasihan dalam hati terdalamnya membuatnya mengiyakan permintaan Inara untuk kembali bertemu dengan Rayhan. Vallen kemudian mengambil ponselnya lalu mengetikkan nama Rayhan. Beberapa saat kemudian Rayhan pun mengangkat panggilan Vallen.

__ADS_1


[Halo Vallen.]


[Vallen, aku begitu merindukanmu.] jawab Rayhan yang membuat Inara semakin terisak saat mendengar jawaban dari Rayhan.


__ADS_2