Salah Kamar

Salah Kamar
Hidup Bahagia


__ADS_3

"Apa lagi yang dia lakukan, Kenan?"


"Tadi sore saat polisi akan membawanya ke rumah sakit jiwa, dia tiba-tiba mengambil pistol milk salah seorang polisi."


"Lalu?"


"Tapi untungnya Ilham kalah cepat, salah seorang polisi lalu menembak tangan dan kakinya sehingga dia berhasil dilumpuhkan."


"Syukurlah." kata Calista sambil menghembuskan nafas panjangnya.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Kenan?" tanya Olivia.


"Dia sekarang ada di rumah sakit. Dia belum sadarkan diri."


"Kita ke sana sekarang?" tanya Leo.


"Ayo." jawab Kenan.


"Aku ikut." kata Rima tiba-tiba ikut menimpali.


Semua mata pun kembali tertuju pada Rima.


"Kau yakin Rima? Ini berbahaya bagimu." kata Calista.


"Aku yakin, bagaimanapun juga dia masih suamiku."


Mereka lalu saling berpandangan.


"Tenang saja, dia akan aman ada aku yang akan selalu menjaganya." kata Drey.


"Baik kalau begitu, ayo kita pergi sekarang." kata Kenan. Kemudian mereka semua pun bergegas masuk ke dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung menemui beberapa orang polisi yang sedang menjaga Ilham di depan ruang perawatan.


"Bagaimana keadaan Ilham?" tanya Kenan.


"Masih belum sadar Tuan Kenan."


"Bolehkah kami melihat keadaannya?"


"Tentu, kami akan menemani anda. Dia sangat berbahaya, kami tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian semua."


"Iya, terimakasih."

__ADS_1


Mereka pun masuk ke ruangan Ilham dan melihat Ilham yang masih memejamkan matanya, wajahnya pun masih terlihat begitu pucat karena dia kehilangan banyak darah selama perjalanan menuju ke rumah sakit.


Rima menatap Ilham dengan tatapan kosong, perasaannya terasa begitu berkecamuk. Ada sebuah perasaan bahagia karena saat ini melihat Ilham dengan kondisi begitu tidak berdaya, namun dalam relung hatinya yang paling dalam dia masih merasakan sedikit rasa cinta untuknya. Mereka melihat Rima yang kini tampak meneteskan air mata.


"Tenangkan dirimu, Rima." kata Drey sambil menggenggam tangan Rima.


"Lebih baik kita keluar saja dari sini." kata Leo.


Mereka semua pun keluar dari ruang perawatan Ilham. Tanpa mereka sadari Ilham sedikit membuka matanya.


'Akhirnya Rima datang juga untuk menjengukku, kupikir dia sudah melupakan aku begitu saja. Tapi kenapa dia tampak begitu akrab dengan laki-laki yang pernah menolongnya? Apakah selama aku berada di dalam penjara mereka menjadi dekat? Oh tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus tahu bagaimana hubungan Rima dengan lelaki itu, apalagi saat ini Rima masih istriku.' kata Ilham dalam hati sambil terus mengawasi gerak-gerik Rima yang ada di depan ruang perawatan.


Ilham pun tampak sedikit kesal karena beberapa kali dia melihat Rima mendapat belaian dari Drey. 'Rima benar-benar kurang ajar, di saat kondisiku seperti ini dia malah bermesraan dengan laki-laki lain.' gumam Ilham lagi.


"Rima, Drey, tampaknya kita perlu bicara." kata Calista saat mereka sedang duduk di depan kamar perawatan Ilham.


"Iya." jawab Rima dan Drey bersamaan.


"Apa rencana kalian kedepan?" tanya Leo.


"Kami berencana untuk menikah setelah Rima bercerai dengan Ilham."


"Bagus itu namanya laki-laki, tapi kau tetap harus bertanggung jawab pada Rima, jangan pernah permainkan perasaannya." kata Kenan.


"Ya, aku mengerti, inilah konsekuensi yang akan kami jalani. Kami sudah terlanjur membuat kebohongan yang begitu besar, kini semua orang menganggap kami adalah pasangan suami istri."


"Drey, apakah kau mau menerima anak dalam kandungan Rima?" tanya Olivia.


Drey pun terdiam sejenak. "Ya, aku harus bisa menerima anak itu. Rima sudah berkorban, dia merelakan kebahagiaan yang seharusnya dia dapatkan di luar sana lalu masuk ke dalam sebuah jurang kebohongan yang kuciptakan, aku harus menerima apapun konsekuensinya termasuk menerima anak dalam kandungan Rima, dan menyayanginya dengan sepenuh hatiku."


"Kami pegang janjimu." jawab Leo.


"Drey, tolong jaga Rima dengan baik." kata Calista.


"Iya, aku akan menjaganya."


Rima pun kemudian tersenyum. "Drey selalu menjagaku dengan baik, mamanya pun begitu baik padaku, dari mama Drey, aku akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya." kata Rima sambil meneteskan air mata.


"Iya Rima, kami ikut senang jika kau bisa hidup bersama Drey dan keluarganya." kata Olivia.


Rima lalu melirik pada Drey yang sesekali melihat Olivia dengan tatapan yang sedikit berbeda.


'Apakah wanita yang dicintai Drey adalah Olivia? Bukankah saat dia menerima telepon dari Vian, Vian menyebutkan nama Olivia.' kata Rima dalam hati.

__ADS_1


"Ini sudah malam, mamaku sangat cerewet dan dia selalu menghawatirkan kondisi Rima, bisakah kami pulang sekarang?" tanya Drey.


"Tentu." jawab Leo.


"Jika kalian ingin bertemu dengan Rima, kalian bisa menemuinya di rumahku. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian."


"Terimakasih Drey."


"Kami pulang dulu." kata Drey kemudian mendorong kursi roda Rima. Sebelum pergi Rima pun sempat melihat Drey sempat memandang Olivia sambil tersenyum begitu manis padanya.


"Drey, bolehkah kutanyakan sesuatu padamu?" tanya Rima.


"Ya, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apakah wanita yang kau cintai adalah Olivia?" tanya Rima.


Drey pun begitu gugup mendengar pertanyaan Rima.


"Emhh... E... Itu."


"Sudah, kau tidak perlu menjawabnya Drey, aku sudah mendapatkan jawabannya." kata Rima sambil tersenyum.


"Aku belum mengatakan apapun, tapi kenapa kau sudah mendapatkan jawabannya?"


"Semua sikapmu pada Olivia tadi sudah menjelaskan padaku bagaimana perasaanmu pada Olivia."'


"Tolong jangan marah, Rima."


"Kau tenang saja, aku hanya sekedar ingin tahu siapa wanita yang pernah ada di hatimu. Aku tidak akan marah karena aku hanyalah istri pura-puramu." jawab Rima yang membuat perasaan Drey semakin tak menentu.


☘️☘️☘️☘️


"Dia belum sadarkan diri juga, lebih baik kita pulang sekarang." kata Leo saat mereka kembali masuk ke kamar perawatan Ilham.


"Iya ini sudah malam."


"Tapi pastikan dia tidak boleh tahu dimana Rima sekarang." kata Leo.


"Ya, setidaknya sampai mereka bercerai. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Rima."


"Kau benar Kak Calista, jangan sampai dia tahu yang sebenarnya. Rima sudah bahagia sekarang, dia sudah mendapatkan apa yang ingin dia rasakan selama ini. Jangan sampai Ilham merusak kebahagiaan Rima."


"Iya kalian benar, aku akan memastikan pada para polisi agar dia bisa selalu menjaga Ilham." kata Kanan.

__ADS_1


"Iya, ayo kita pulang sekarang." jawab Leo sambil menuntun Calista keluar dari ruang perawatan Ilham.


Setelah mereka semua pergi, Ilham pun kemudian membuka matanya. "Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Rima? Benarkah dia kini sudah hidup bahagia? Aku harus menyelidiki semua ini. Jangan-jangan Rima akan menikah dengan laki-laki blasteran itu jika dia sudah menceraikan aku? Heh ini tidak boleh dibiarkan, Rima harus tetap menjadi istriku! Selamanya Rima harus menjadi istriku!" kata Ilham dengan nafas yang menderu menahan emosi di hatinya.


__ADS_2