
"Kenapa kau berteriak Giselle?" tanya Leo.
"Tidak, aku hanya sedikit terkejut kita akan ke rumah sakit."
"Kenapa harus terkejut?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka kita akan ke rumah sakit dan bertemu dokter kandungan."
"Memangnya kenapa jika kita bertemu dengan dokter kandungan?"
"Oh, kalian tenang saja, aku baru memeriksakan kandunganku beberapa hari yang lalu saat kalian pergi dan janin yang ada dalam kandunganku sehat dan dia baik-baik saja," jawab Giselle sambil tersenyum.
"Lebih baik kita pulang, karena aku sudah memeriksakan kandunganku."
"Tidak Giselle, aku sudah membuat janji dengan dokter."
"Calista, kau tidak berhak membuat janji dengan dokter, bukankah aku yang hamil, kenapa kau harus ikut repot?"
"Apa salahku jika aku membuat janji dengan dokter? Mengapa tiba-tiba kau marah padaku?"
Giselle hanya terdiam mendengar kata-kata Calista, sepanjang perjalanan yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya untuk kabur dari rumah sakit.
Jantung Giselle semakin berdetak kencang saat mobil Leo masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Saat Calista dan Leo sibuk di bagian pendaftaran, Giselle pelan-pelan berjalan menjauhi mereka, kemudian secepat kilat dia melarikan diri keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam taksi online yang sudah dipesannya.
'Akhirnya aku selamat,' gumam Giselle sambil menghempaskan tubuhnya ke jok mobil. Namun tiba-tiba ponselnya terus berbunyi.
'Leo?' batin Giselle, dia berulang kali mengabaikan panggilan dari Leo, namun dia tetap saja menghubunginya. Akhirnya dengan terpaksa, Giselle pun mengangkat panggilan dari Leo.
[Emmm sayang, maaf tadi tiba-tiba kepalaku sakit dan aku merasa sangat mual, jadi aku pulang terlebih dahulu.]
[Oh, tidak apa Giselle, kami hanya mengkhawatirkanmu karena kau tiba-tiba hilang.]
[Oh ya Leo, sekarang aku baik-baik saja, sebaiknya kalian juga langsung pulang karena aku tidak jadi memeriksakan kandunganku.]
[Tidak Giselle, kami tidak bisa pulang karena kami sudah ada janji dengan Dokter Syarif.]
[Kalian ada janji dengan dokter? Memangnya siapa yang akan bertemu dokter?]
[Calista, bukankah dia tadi sudah bilang padamu jika dia sudah membuat janji dengan dokter, kami akan menjalani program hamil, oleh karena itu Calista tadi mengajakku ke rumah sakit, dan kata dia kau mau ikut, jadi kau kami ajak sekalian.]
__ADS_1
[Jadi kalian ke rumah sakit bukan untuk memeriksakan kandunganku?]
[Tentu saja bukan Giselle, memangnya tadi kami bilang jika kami akan memeriksakan kandunganmu?]
[Tidak.]
[Baiklah, karena kondisimu sedang tidak memungkinkan, lebih baik kau istirahat saja di rumah Giselle, tampaknya kami juga akan pulang terlambat karena kami akan makan malam di luar, tolong kau juga bilang pada Bi Asih untuk tidak memasak terlalu banyak.]
[Baik Leo.] kata Giselle sambil menutup teleponnya.
"Sial," umpat Giselle di dalam taksi.
"Ada apa Nyonya?" tanya supir taksi yang tengah mengendarai mobilnya.
"DIAM KAU, LEBIH BAIK KAU MENGEMUDI SAJA TIDAK USAH IKUT CAMPUR URUSANKU!!"
Beberapa saat kemudian, panggilan dari Ramon pun masuk ke ponselnya. Dengan penuh emosi, Giselle lalu mengangkat panggilan dari Ramon.
[Diam Ramon, tolong jangan hubungi aku lagi hari ini!!] kata Giselle kemudian menutup teleponnya.
Ramon begitu terkejut karena tiba-tiba Giselle membentaknya. "Aku cuma ingin mengembalikan uangmu Giselle, uang yang kau berikan lebih sepuluh juta dari yang aku minta, tapi kau malah memarahiku, dan sepertinya kau tidak membutuhkan uang ini. Hahahaha," gumam Ramon sambil tertawa.
***
Sebuah mobil mercy berwarna merah kemudian masuk ke pelataran kantor milik Kenan, sang pengemudi lalu membunyikan klaksonnya beberapa kali. 'Itu Ramon,' batin Laras sambil sedikit berlari menghampiri mobil milik Ramon.
"Aya masuk Ras!" kata Ramon.
"Iya," jawab Laras sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ramon.
'Luar biasa, mobil yang benar-benar bagus, sama seperti milik Kenan dan Leo,' batin Laras.
"Maaf ya Ramon sudah merepotkanmu. Mobilku tiba-tiba rusak dan sekarang ada di bengkel."
"Tidak apa-apa Laras, aku senang hari ini bisa menjemputmu."
"Terima kasih banyak," kata Laras sambil tersenyum, hatinya begitu bahagia saat Ramon di dalam mobil beberapa kali memberikan perhatian padanya, belaian tangan Ramon pun semakin membuat jantung Laras berdegup kencang.
'Sepertinya Ramon benar-benar menyukaiku, akhirnya impianku sebentar lagi akan menjadi kenyataan,' gumam Laras.
__ADS_1
"Ramon, aku lapar. Kita mampir makan dulu yuk!"
"Maaf Laras hari ini dompetku tertinggal di rumah, sepertinya aku tidak bisa mengajakmu makan di luar," kata Ramon dengan sedikit gugup.
"Tidak apa Ramon, biar aku saja yang membayar tagihannya."
'Yes, berhasil, aku sudah tidak mau rugi dua kali membayarkan makanan wanita kaya ini,' batin Ramon.
"Baiklah, kita mampir makan dulu." Ramon lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah makan mewah yang membuat Laras menelan ludah dengan kasar.
'Bagaimana aku membayar tagihannya?' batin Laras.
***
Giselle duduk santai di sofa ruang keluarga sambil memakan cocktail dalam kaleng serta kentang goreng kemasan, sambil sesekali dia memainkan ponselnya. "Brengsek!" umpat Giselle saat melihat salah satu story what's app milik Calista, saat dirinya dan Leo tengah menikmati makan malam romantis.
"Kenapa aku tadi bisa begitu bodoh tidak menanyakan terlebih dahulu siapa yang akan bertemu dengan dokter kandungan!" kata Giselle sambil berteriak dan melemparkan ponselnya begitu saja.
Beberapa saat kemudian, Giselle mendengar suara mobil Leo masuk ke dalam garasi.
"Itu mereka sudah pulang. Lihat saja, malam ini, Leo harus tidur denganku."
Emosi di dada Giselle semakin memuncak saat melihat Leo dan Calista masuk ke dalam rumah sambil tertawa begitu bahagia.
"Kau belum tidur Giselle?" tanya Leo.
"Belum Leo, malam ini aku ingin tidur denganmu," kata Giselle sambil mendekat pada Leo dan bergelayut manja padanya sambil mendekatkan bibirnya pada wajah Leo. Namun, saat bibir itu hampir menyentuh pipi Leo, Giselle dikejutkan dengan teriakan Calista.
"Giselle, apa-apaan ini? Kenapa kau memakan makanan seperti ini? Ini bukanlah makanan yang baik untuk ibu hamil Giselle!" teriak Calista sambil melihat makanan yang dikonsumsi Giselle.
"Emmm.. Iya maaf aku lupa," jawab Giselle sambil menggaruk rambutnya.
"Benar apa yang dikatakan Calista, Giselle kau harus menjaga pola makanmu, makanlah makanan yang sehat dan bergizi."
"Iya Leo."
'Calista memang benar-benar brengsek, dia mempermalukanku di depan Leo. Awas kau Calista, malam ini akan kubuat kau menangis karena Leo akan menghabiskan malamnya denganku,' batin Giselle. Di saat itulah, tiba-tiba Bi Asih mendekat pada Giselle.
"Maaf Nyonya Giselle, ini pembalutnya, maaf sedikit lama karena sudah banyak toko yang tutup," kata Bi Asih sambil memberikan bungkusan berisi pembalut pada Giselle.
__ADS_1
"Pembalut? Kau memakai pembalut Giselle? Untuk apa? Bukankah kau sedang hamil?" tanya Leo yang semakin membuat wajah Giselle pucat pasi.