
"Siapa Kenan?" tanya Olivia saat mendengar ponsel Kenan yang berbunyi sewaktu mereka sedang berjalan-jalan di sebuah mall.
"Revan."
"Revan, suami dari Giselle?"
Kenan pun menganggukkan kepalanya kemudian mengangkat telepon dari Revan. Melihat Kenan yang kini tampak sibuk menerima panggilan telepon, akhirnya Olivia pun memutuskan untuk masuk ke sebuah toko sepatu branded.
"Olive." panggil seseorang saat Olivia asyik mencoba salah satu sepatu.
"Emh..Drey?" tanya Olivia kembali pada seorang lelaki tampan berdarah blasteran yang kini ada di hadapannya.
"Yeah, you remember me?"
"Sure."
"Lama tidak bertemu Olive, bagaimana kabarmu?"
"Baik Drey, kau sedang berlibur di Indonesia?" tanya Olivia pada Drey yang merupakan salah satu teman kerjanya dulu saat di Australia.
"Tidak Olive, aku meminta ke kantor untuk dipindahkan bertugas di Indonesia. Kau tahu sendiri jika mamaku tidak mau pindah ke Ausie dan terus memaksaku untuk hidup di sini menemani masa tuanya, jadi terpaksa aku pulang ke Indonesia."
"Oh bagus kalau begitu, seorang anak memang harus berbakti pada orang tua Drey."
"Emh iya Olive, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"
"Tentu saja Drey." jawab Olivia kemudian memberikan nomor ponselnya.
"Terimakasih Olive, kapan-kapan kau kuhubungi. Lalu bagaimana kabar Vansh?" tanya Drey sambil tersenyum.
"Baik, dia sekarang sudah besar."
"Ya, waktu begitu cepat berlalu, dia anak yang sangat tampan dan lucu, seandainya dulu kau mau menerima cintaku tentu kita bisa menjadi sebuah keluarga."
"EHEMMMM." kata Kenan sambil pura-pura batuk.
"Permisi, saya Kenan suami Olivia sekaligus ayah kandung dari Vansh." kata Kenan sambil memeluk pinggang Olivia sambil menatap tajam pada Drey.
"Oh maafkan aku Kenan, kupikir Olive belum menikah."
"Kami sudah lama menikah dan memiliki dua orang anak."
"Oh maafkan aku Kenan, aku tidak tahu kalau kalian sudah menikah."
"Tidak apa-apa Drey." jawab Olivia.
"Olive, ayo kita pergi aku ada urusan mendadak. Permisi Drey." kata Kenan sambil menarik tangan Olivia.
"Kau kenapa Kenan, apa kau cemburu padanya?" kata Olivia sambil tersenyum.
"Tentu saja, dia mendekatimu seolah-olah kau belum memiliki suami."
"Wajar Kenan, karena dia belum tahu kita sudah menikah."
"Sekarang dia sudah tahu kan? Dia tidak boleh dekat-dekat denganmu! Dan kau tidak boleh dekat dengan lelaki lain kecuali aku." kata Kenan.
"Hahahaha iya iya Kenan sayang." kata Olivia sambil mencubit pipi Kenan.
__ADS_1
"Kenan, ngomong-ngomong ada apa Revan menelponmu?"
"Oh dia menanyakan lowongan pekerjaan di kantorku."
"Untuk siapa?"
"Ilham."
"Ilham? Bukankah Ilham sudah memiliki pekerjaan di Jogja?"
"Emh begini Olive, Ilham ternyata sudah dijodohkan dengan Rima, tapi Rima mengajukan syarat jika dia mau menikah dengan Ilham asalkan tetap tinggal di Jakarta, jadi Revan menanyakan lowongan pekerjaan di kantorku untuk Ilham."
"Lalu kau jawab apa?"
"Aku belum menjawab apapun pada Revan, aku cuma menjawab akan kutanyakan dulu ke kantor."
"Kenan, tolong beri Ilham pekerjaan, kasihan dia."
Kenan lalu tampak berfikir sejenak. "Baiklah." jawab Kenan kemudian menghubungi Revan kembali.
"Terimakasih sayang." kata Olivia sambil memeluk dan mencium Kenan.
"Olive, ini di tempat umum."
"Hahahaha, maaf aku lupa." jawab Olivia sambil meringis.
***
'Tampan sekali.' kata Rima sambil memperhatikan lelaki yang ada di hadapannya. Namun saat Rima masih mengagumi laki-laki itu, dia mendengar suara Revan di sampingnya.
"Iya, ada apa tiba-tiba Pak Revan memanggil saya?"
"Oh begini, maaf aku sudah mengganggu, aku tahu kau sedang menunggu istrimu yang baru saja melahirkan di sini jadi aku ingin minta tolong padamu."
'Oh jadi dia anak buah Revan, tapi sialnya lelaki tampan ini sudah memiliki anak dan istri.' gerutu Rima.
"Minta tolong apa?"
"Tolong kau temani salah seorang temanku membeli pakaian untuk wawancara nanti siang di kantor Kenan. Tolong juga kau rubah sedikit style rambut dan cara berpakaiannya."
"Baik Pak Revan." jawab Andre.
"Sebentar kupanggilkan dia." kata Revan kemudian masuk ke ruangan David untuk memanggil Ilham.
"Ilham, kau pergi dengan Andre, gantilah bajumu dengan pakaian formal lalu setelah selesai kau pergilah untuk wawancara di kantor Kenan."
"Iya Revan, terimakasih."
"Sama-sama, kau bawa ini ya." kata Revan sambil memberikan kartu ATM nya.
"Tidak perlu Revan, tidak perlu aku masih memiliki uang yang cukup untuk membeli semua itu."
"Tidak apa-apa Ilham, jika kau menganggap aku teman tolong bawa ini." kata Revan sambil memberikan kartu ATM nya.
"Baik, terimaksih banyak."
"Ayo Ilham, kita pergi sekarang."
__ADS_1
"Iya." jawab Ilham kemudian mengikuti Andre yang sudah berjalan di depannya.
'Beres.' gumam Revan dalam hati sambil melirik Rima yang masih mencibir.
Menjelang sore, Rima tampak sedang menemani Stella yang meminta berjalan-jalan di taman.
"Cepat dorong kursi roda ini ke sana Rima, aku ingin melihat bunga itu." kata Stella sambil terkekeh.
'Dasar mak lampir cerewet.' kata Rima dalam hati. Namun tiba-tiba netranya tertuju pada sosok lelaki yang berjalan ke arahnya.
"Oh tidak mungkin." kata Rima sambil menutup mulutnya.
"Kenapa Rima? Kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Stella.
"Lihat itu." kata Rima sambil menunjuk seorang lelaki yang mendekat ke arahnya.
"Ilham." teriak Stella dengan sedikit terkejut.
Ilham pun tersenyum.
"Kau berubah Ilham, kau kini terlihat keren dan sangat tampan." kata Stella sambil tersenyum saat melihat Ilham yang tatanan rambutnya sudah berubah dan kini memakai pakaian formal dengan memakai sepatu kerja. Selain itu di tangannya juga tampak beberapa bungkus paper bag yang berisi pakaian model terbaru.
"Terimakasih Stella, ini karena Revan. Dia meminta anak buahnya untuk mendandaniku hingga berpenampilan seperti ini." kata Ilham sambil tersenyum.
"Bagus sekali, ide Revan memang luar biasa. Aku yakin sekarang Rima pasti sudah jatuh cinta padamu. Benar kan Rima?" kata Stella sambil meledek.
"Emh.. E.." Rima yang tampak begitu gugup pun tidak dapat menjawab sepatah katapun.
Tiba-tiba David pun mendekat ke arah mereka, dia pun begitu terkejut melihat Ilham saat ini. "Wow, kau berubah Ilham, ini luar biasa." kata David sambil tersenyum.
"Iya sayang, ini semua ide Revan untuk mengubah style Ilham."
"Hahahaha, bagus sekali. Aku yakin saat ini Rima pasti juga sudah terpesona padamu." kata David sambil melirik Rima yang salah tingkah.
"Benar kan Rima? Kau tidak usah malu-malu untuk mengakui jika kau sudah terpesona dengan Ilham." ledek Stella.
"Apa-apaan kau Stella!" gerutu Rima.
"David, sepertinya hari ini Rima kita perbolehkan pulang saja dengan Ilham, mereka akan menikah, biarkan mereka mengurus pernikahan mereka."
"Iya Stella, Ilham tolong bawa Rima pulang ke rumah Laras lalu temuilah Pak Pram, nanti biar kuhubungi Calista untuk memberitahu Laras jika kalian akan pulang ke rumahnya."
"Iya Stella, David, kami pulang dulu ya." kata Ilham.
Stella dan David pun mengangguk sambil melihat kepergian Rima dan Ilham. Sesekali Rima melirik Ilham yang kini berjalan di sampingnya. Sebuah getaran pun mulai dirasakan Rima.
***
Keesokan paginya, Olivia tampak tergesa-gesa saat mendengar suara bel yang berulangkali berbunyi. Dia lalu bergegas membuka pintu rumahnya, namun saat pintu itu terbuka dia tidak melihat siapapun, yang ada di depan pintu hanyalah sebuah buket bunga warna merah.
Olivia pun kemudian mengambil bunga itu dan melihat sebuah kertas yang terselip di buket itu. Olivia lalu membaca kertas itu yang bertuliskan.
"Teruntuk Si Cantik Olivia,
Sampai kapanpun aku akan
selalu mencintaimu, Olive ❤️."
__ADS_1