Salah Kamar

Salah Kamar
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Stella, apa benar kau tidak pernah pulang ke rumah selama beberapa bulan terakhir?"


"Ti.. Tidak Ma, Stella selalu pulang, yang tidak pernah pulang itu Revan, kenapa malah aku yang disalahkan seperti ini?"


"Hahahaha, Stellaaaa jika aku juga tidak pernah pulang ke rumah, lalu siapa yang menghamilimu? Semakin kau berbohong itu hanya akan semakin membuka kedokmu sendiri Stella. Hahahaha."


Stella menatap Revan dan Giselle yang kini tersenyum dengan tatapan tajam. 'Berani-beraninya kalian menertawakanku.' gumam Stella, kemudian pergi meninggalkan mereka ke kamar karena takut Santi akan bertanya macam-macam padanya.


"Mama bisa lihat kan bagaimana menantu kesayangan Mama itu membuka kedoknya sendiri. Hahahaha."


"Sudah, sudah Revan kita tunggu saja sampai anak dalam kandungan Stella lahir." gerutu Santi.


"Lebih baik kita membicarakan pernikahan kalian, bagaimana kalau kita laksanakan minggu depan?"


"Lebih cepat lebih bagus Pa,"


"Iya Revan, tapi maaf sepertinya Papa tidak bisa mengadakan pernikahan kalian secara besar-besaran karena kalian tahu sendiri jika kau dan Stella belum resmi bercerai,"


"Tidak masalah Pa, pesta tidaklah penting karena yang terpenting adalah pernikahan kami sudah sah sebelum anak dalam kandungan Giselle lahir."


"Iya Revan, sekarang sebaiknya kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Lihat, wajah Giselle sudah begitu pucat."


"Iya Pa. Ayo Giselle kita naik ke kamarku."


Giselle lalu mengangguk, dia kemudian melewati Santi dan Farhan sambil tersenyum yang hanya dibalas senyuman kecut dari Santi.


Santi kemudian mendekat pada Farhan. "Pa, Papa yakin akan menikahkan mereka?"


"Ya. Papa yakin, apa Mama belum bisa berfikir dengan jernih tentang Stella?"


"Jadi menurut Papa, anak dalam kandungan Stella bukanlah anak Revan?"


"Ya, menurut Papa itu bukan anak Revan apa belum cukup bukti yang Papa katakan tadi? Selain itu bukankah Mama juga tahu sejak dulu Revan sangatlah mencintai Stella, bagaimana mungkin tiba-tiba Revan mencari cinta yang lain tanpa alasan yang jelas."


"Mama masih bingung, mama tetap akan menunggu anak itu lahir baru mama bisa mengambil kesimpulan, tapi bagaimana dengan kedua orang tua Stella? Bagaimana hubungan persahabatan kita dengan mereka?"


"Tidak usah takut nanti Papa akan bicara pada mereka jika sudah memiliki bukti yang jelas."


"Iya Pa." jawab Santi sambil mengangguk.


***

__ADS_1


Stella masuk ke dalam kamar dengan penuh emosi. Dia lalu membanting barang-barang yang ada di dalam kamar sambil berteriak. "Brengsek!!!"


"Semua orang yang ada di rumah ini Brengsek!!" umpat Stella.


'Jangan senang dulu, Revan Giselle lihat saja aku pasti akan membalas perbuatan kalian!' gumam Stella dengan nafas yang tersengal-sengal menahan emosi yang begitu bergemuruh di dadanya. Disaat itu juga tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.


'David.' gumam Stella saat melihat sebuah nama di layar ponselnya. Dia lalu mengamati ponselnya yang terus berdering, hati kecilnya sebenarnya ingin mengangkat panggilan itu. Namun emosi yang kini telah menyelimuti hatinya membuat Stella melemparkan ponsel itu sambil berteriak. "Jangan pernah ganggu aku lagi dasar brengsek!!!"


Sementara itu, Revan kini di dalam kamar sedang membelai rambut Giselle yang sedang merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Revan. "Bagaimana Giselle, tidak seburuk yang kau bayangkan kan?" tanya Revan.


"Ya, tapi ini juga tidak terlalu baik Revan, air mataku saja sudah menetes dan aku hampir putus asa. Aku masih belum nyaman dengan Mamamu yang sepertinya tidak terlalu menyukaiku Revan."


"Hahahaha, kau tenang saja, Mama tidaklah seburuk yang kau pikirkan, dia sebenarnya sangat penyayang namun mungkin dia sudah terpengaruh oleh kata-kata Stella sehingga dia berkata seperti itu padamu."


"Benarkah?"


"Ya, mulai hari ini kau harus bisa mengambil hatinya Giselle, bukankah kau pintar memasak? Mama sangat menyukai wanita yang pintar memasak, sedangkan Stella tidak pernah bisa memasak, kau bisa memulainya dengan masakanmu, Giselle."


"Baik, akan kulakukan Revan. Oh iya aku meminta sesuatu darimu."


"Apa?"


"Kau juga harus memberitahu tentang pernikahan kita pada Mama besok."


"Terimakasih Revan." jawab Giselle kemudian bangkit dari tidurnya kemudian memeluk dan mencium Revan.


***


Stella baru membuka matanya saat matahari sudah masuk melewati celah-celah jendela kamarnya. 'Sudah siang ternyata.' gumam Stella saat melihat jam di sampingnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Semalaman Stella memang tidak bisa tidur menahan emosi yang begitu bergejolak di dadanya. Hingga rasa kantuk itu datang saat dia sudah lelah menangis.


"Sial, aku sampai melewatkan sarapan bersama mereka karena aku bangun kesiangan, padahal hari ini aku sudah mempersiapkan rencana untuk mempermalukan Giselle saat sarapan." gerutu Stella sambil keluar dari kamar lalu turun ke lantai bawah menuju meja makan.


"Bi.. Bi Cici, pada kemana sih? Kok sepi?" tanya Giselle sambil memakan sarapannya.


"Oh Tuan Farhan dan Nyonya Santi sedang pergi untuk mengurus pernikahan Tuan Revan, sedangkan Tuan Revan dan Nyonya Giselle pergi ke rumah orang tua Nyonya Giselle untuk membicarakan pernikahan mereka."


'Brengsek, merusak selera makanku saja, tau gini aku ga usah tanya ke Bi Cici.' gumam Stella sambil terus memakan sarapannya dengan begitu lahap.


"Eh Bi, tolong ambilkan saya makanan lagi dong, tumben Bi Cici masaknya enak banget."

__ADS_1


"Iya Nyonya." jawab Bi Cici sambil mengambilkan sarapan lagi untuk Stella.


"Terimakasih Bi, masakannya enak, lain kali kalau masak seperti ini ya Bi, sesuai sama selera saya."


"Iya Nyonya, tapi ini bukan masakan saya?"


"Hahhhhh jadi siapa yang memasak? Mama?"


"Bukan."


"Lalu siapa?"


"Nyonya Giselle yang memasak, tadi Tuan Farhan dan Nyonya Santi juga memuji masakan Nyonya Giselle."


"SUDAH CUKUP TIDAK USAH BICARA LAGI! KENAPA BIBI TIDAK BILANG DARI TADI JIKA YANG MEMASAK ADALAH GISELLE?"


"Maaf, maaf Nyonya Stella, saya pikir Nyonya sangat menikmati sarapannya."


"Iya tapi kupikir ini masakan Bibi kalau tahu ini masakan wanita sialan itu, aku ga mau makan Bi! Aku ga sudi!!!" teriak Stella pada Bi Cici.


Tiba-tiba saat itu juga terdengar suara bel yang berbunyi. "Sebentar Nyonya, saya buka pintu sebentar, mungkin ada tamu." kata Bi Cici sambil berjalan ke arah pintu dan meninggalkan Stella.


'Untung saja ada tamu, kalau ngga pasti Nyonya Stella belum berhenti ngomel.' gumam Bi Cici sambil terkekeh.


Stella yang masih begitu marah mencoba menenangkan dirinya, hingga suara Bi Cici tiba-tiba mengagetkan dirinya kembali.


"Nyonya Stella."


"Ihhh Bi Cici bikin kaget aja deh, ada apa sih?"


"Itu ada tamu nyari Nyonya Stella."


"Nyari saya Bi?"


"Iya nyari Nyonya Stella, sekarang sedang duduk di sofa depan menunggu Nyonya Stella."


"Ya udah biar saya temui ke depan." kata Stella kemudian berjalan ke ruang tamu.


Berbagai tanda tanya pun memenuhi benak Stella, hatinya semakin tak menentu saat melihat sosok yang kini duduk membelakanginya. 'Siapa ya.' gumam Stella sambil mendekat ke arah lelaki itu.


"Maaf, anda mencari saya?" tanya Stella saat kini sudah kian dekat. Lelaki itu kemudian berdiri dan membalikkan badannya.

__ADS_1


"David." teriak Stella sambil menutup mulutnya.


"Apa kabar Stella?" tanya David sambil tersenyum pada Stella yang kini masih terkejut dengan kedatangannya.


__ADS_2