Salah Kamar

Salah Kamar
Sebuah Rencana


__ADS_3

Firman pun kemudian membalikkan badannya.


"Selamat malam, Firman." kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.


"Maaf sepertinya aku tidak memiliki urusan denganmu." jawab Firman, dia lalu melangkahkan kakinya berjalan menjauhi Dimas.


"Tunggu Firman!" teriak Dimas, namun Firman tidak mengindahkan teriakan Dimas dan tetap berjalan masuk ke dalam minimarket.


"Tunggu Firman, dengarkan aku sebentar! Kau harus mendengarkan sebuah kebenaran dariku!"


Firman pun kemudian menghentikan langkahnya, dia lalu membalikkan badannya lagi menghadap pada Dimas. Melihat Firman yang terpengaruh dengan kata-katanya, Dimas pun tersenyum. Perlahan dia pun mulai mendekat ke arah Firman.


"Apa maksudmu, Dimas? Kebenaran apa yang ingin kau katakan? Apakah kebenaran tentang malam itu? Kebenaran jika sebenarnya kau yang menjebakku agar aku tidur bersama dengan Delia hingga membuatnya hamil?"


Dimas pun kembali tersenyum.


"Tapi kau menikmatinya kan, Firman? Bukankah tubuh Delia sangatlah menggairahkan dan kau sangat menikmatinya malam itu?" kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.


"Itu karena kau yang menjebakku agar malam itu aku berduaan bersama Delia saat orang tuanya tidak ada di rumah, lalu kau memberikan obat perangsang pada kami berdua agar kami tidur bersama!"


"Hahahaha, sayangnya kau tidak bisa membuktikan semua kata-kata yang kau ucapkan tadi kan, Firman?"


"Itu semua karenamu! Kau selalu bermain dengan uang dan kekuasaanmu di daerah ini, karena hanya itulah yang kau bisa, bermain dengan LICIKKKKK!!! DASARRR PECUNDANG!!!"


Dimas pun tersenyum.


"Jika tidak seperti itu bagaimana aku bisa mendapatkan Aini?"


"Dimas apa kau juga belum sadar? Sesuatu hal yang didapat dengan tipu muslihat tidaklah akan bertahan lama, kau lihat sendiri kan betapa menyedihkannya dirimu saat ini karena telah kehilangan Aini, kau bercerai dengannya lalu Aini akan menikah dengan laki-laki lain yang lebih segala-galanya dibandingkan dirimu! Itulah balasan dari semua perbuatanmu! Pada akhirnya kau tidak akan mendapatkan apa-apa, Dimas!!"


Mendengar perkataan Firman, Dimas pun terdiam. Emosi kini begitu menyelimuti hatinya. 'DASAR BRENG*EK!' umpat Dimas di dalam hati.


"Itu menurutmu Firman, karena mulai saat ini aku akan bisa lagi mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Maksudmu mendapatkan Aini lagi? Jangan bermimpi! Lebih baik kau tidak usah mengusik kebahagiaannya karena kau tidak akan mungkin bisa sanggup melawan mereka, lagipula Aini juga tidak pernah mencintaimu. Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa, Dimas."


"Bukan itu maksudku Firman, aku tahu aku tidak akan pernah bisa mendapatkan Aini kembali."


"Akhirnya kau sadar."


"Ya tapi aku menginginkan hal lain yang tak kalah penting yang sebenarnya merupakan hakku, milikku."


"Apa maksudmu?"


Dimas pun tersenyum kecut.

__ADS_1


"Anak Delia."


"Anak Delia? Apa maksudmu?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya. Perasaannya pun kian bergemuruh, berbagai tandanya tanya yang selalu hinggap dalam benaknya pun kini kembali hadir.


"Firman dengarkan aku baik-baik. Shakila, anak yang dilahirkan Delia adalah darah dagingku, sekali lagi dengarkan aku baik-baik Firman, Shakila adalah darah dagingku, sebelum Delia tidur denganmu dia sudah mengandung darah dagingku, kami yang sudah menjebakmu. Dia membutuhkan suami untuk menutupi kehamilannya sedangkan aku ingin menyingkirkanmu dari kehidupan Aini."


"Ja....Jadi benar Shakila bukan darah dagingku?" kata Firman, hatinya kini terasa begitu hancur, perasaannya kini terasa begitu campur aduk, emosi pun kini tak dapat lagi dibendungnya apalagi ketika mendengar suara Dimas yang sedang tertawa.


"DASARRRRRR BRENGSEKKKKK KAUUU DIMASSSSSS!!!"


BUGGGGHHHH BUUUGGGHHHH BUGGGGGGHHHHH


💜💜💜💜💜


"Aku ke kamar dulu ya Mas, kasihan Darren sendirian." kata Aini setelah mereka selesai makan malam di rumah Roy.


"Tunggu Aini, aku ikut."


"Kau mau tidur di kamar Darren?"


"Tentu." jawab Roy sambil tersenyum.


"Tidak mas, sebaiknya kau tidur di kamarmu."


"Memangnya kenapa? Kau pikir aku akan menerkammu malam ini?"


"Aku hanya ingin tidur bersama kalian, aku bisa tidur di atas sofa."


"Baik." jawab Aini.


Mereka pun kemudian masuk ke dalam kamar Darren. Aini lalu tidur di atas ranjang bersama Darren, sedangkan Roy merebahkan tubuhnya di atas sofa. Roy pun tersenyum saat melihat Aini yang kini mulai memejamkan matanya.


"Kau kenapa terus menerus menatapku, Mas?"


"Memangnya tidak boleh aku menatap kekasihku?"


"Terserah kau saja." gerutu Aini.


Roy pun kini mulai mendekat ke arah Aini lalu merebahkan tubuhnya di samping Aini.


"Mas, bukankah tadi kau bilang akan tidur di atas sofa."


"Aku berubah pikiran Aini, sekarang aku ingin tidur bersamamu, aku ingin kau tidur dalam pelukanku." kata Roy sambil memeluk tubuh Aini. Aini pun hanya tersenyum sambil menyenderkan kepalanya pada tubuh Roy.


"Mas, mas." panggil Aini, namun yang terdengar hanya dengkuran halus Roy yang kini membuat Aini terkekeh.

__ADS_1


"Dasar muka bantal." gerutu Aini kemudian ikut terlelap dalam pelukan Roy.


Roy dan Aini terbangun di pagi hari saat sebuah teriakkan mengagetkan mereka.


"ROYYYYYYYY... AINIIIIIIIII!!" teriak Heni saat membuka pintu.


"Roy bukankah tadi malam mama sudah mengirimkan pesan untukmu agar kalian tidur terpisah, kau dikamar mu sedangkan Aini di kamar Darren tapi kenapa kalian malah tidur bersama??? Apa yang telah kalian lakukan malam ini?"


Roy dan Aini yang masih kaget dengan kedatangan Heni pun hanya bisa termenung.


"Ma, sungguh ini tidak seperti yang mama pikirkan, Roy dan Aini tidak berbuat apapun ma."


"TIDAKKKKK MUNGKIN!! MAMA BUKANLAH ANAK KECIL YANG BISA KALIAN BOHONGI ROYYYYY!!"


"Tante, sungguh kami berdua tidak melakukan apapun." kata Aini disertai raut wajah yang begitu cemas.


"Kau tidak perlu mengatakan apapun untuk membela Roy, Aini. Roy adalah laki-laki dewasa tidak mungkin dia tidak melakukan apapun saat tidur dalam satu ranjang bersamamu!"


"Tapi memang inilah kenyataannya ma, Roy tidak melakukan apapun dengan Aini!"


"Cukup Roy tidak usah banyak alasan, ini sudah terlanjur terjadi. Mama tidak ingin kalian berbuat lebih jauh lagi, hari ini juga kalian akan mama NIKAHKAN!!!"


"APAAAA???" teriak Roy dan Aini bersamaan.


"Tidak bisa ma, kami akan menikah dua bulan lagi, banyak hal yang perlu kami persiapkan sekaligus memberi jeda dengan kematian Diana agar tidak terlalu dekat."


"Hei, kalian bisa menikah siri terlebih dulu. Beberapa bulan lagi kalian baru menikah resmi. Pokoknya hari ini kalian harus MENIKAHHHH!!" teriak Heni.


Roy dan Aini pun saling berpandangan.


"Kita bisa apa Aini? Mau tidak mau kita harus menuruti permintaan mama."


Aini pun terdiam.


"Tante, lalu bagaimana dengan orang tua Aini? Aini juga harus meminta ijin pada Mba Laras."


Heni pun tersenyum.


"Masalah itu biar tante saja yang mengurusnya, lebih baik sekarang kalian mempersiapkan diri kalian. Tante akan berbicara dengan Laras." kata Heni sambil tersenyum kemudian menutup pintu kamar tersebut meninggalkan Roy dan Aini yang masih saling berpandangan.


"Mas kita menikah?" kata Aini sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Roy.


"Iya Aini."


Sementara Heni masuk ke kamarnya sambil terkekeh. 'Beres, mama tahu kau tidak melakukan apapun dengan Aini, Roy. Aku juga tahu saat tadi malam aku mengirim pesan padamu untuk tidak tidur dalam satu kamar itu justru akan membuatmu semakin tertantang untuk tidur bersama Aini, karena aku sangat mengenal sifatmu yang suka menentang peraturanku. Tapi maaf kami harus melakukan ini agar kalian bisa menikah secepatnya meskipun ini pernikahan siri tapi setidaknya mama sudah lega jika kalian sudah menikah.' gumam Heni dalam hati, kemudian dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


[Halo Olivia, rencana kita berhasil.]


__ADS_2