Salah Kamar

Salah Kamar
Bab Empat


__ADS_3

Sebuah jam tangan merk Casio jenis Sporty melingkar di pergelangan tanganku, kado dari Istriku. Kupandangi jam tangan dan wajah istriku yang duduk tepat didepanku itu secara bergantian.


“Gimana? Suka?” tanyanya meminta tanggapanku.


“Suka, suka banget. Jamnya mewah, Pasti harganya mahal?” kataku.


“Iya, itu hasil tabunganku sejak pertama kali bekerja. Seperempat gajiku kutabung dengan tujuan akan membelikan kado mahal dan mewah untuk siapapun yang akan menjadi suamiku nantinya. Seseorang yang istimewa yang akan menemaniku meniti perjalanan yang indah serta bahagia,” Ucapnya lalu memandang kearah ku.


“Dan aku bersyukur bahwa akulah yang menjadi pria istimewa itu.” Kataku sambil tersenyum.


“Kado itu sebenarnya ada artinya,”


“Ada artinya? Apa?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


“Emh, jam tangan itu menunjukkan sebuah waktu. Dan kamu tentu tau, waktu tidak akan bisa terulang. Waktu akan terus berjalan tanpa kita mampu menghentikannya. Maka dengan jam tangan itu aku berharap kamu bisa selalu menghargai waktumu, terutama waktu ketika bersamaku. Aku tidak ingin ketika kamu bersamaku, kamu masih sibuk dengan sesuatu yang lain. Aku ingin kamu tinggalkan semua urusanmu ketika sudah bersamaku. Dan yang pasti aku berharap kamu bisa mengisi waktumu dengan sebaik-baiknya. Dan sebaik-baiknya waktu adalah ketika bersama keluarga.” Ungkap istriku dengan tatapan penuh makna terhadapku, suaminya. Kuraih tangannya, kugenggam erat.


“Percayalah, aku akan berusaha menjadi suami terbaik buat kamu. Aku akan membagi waktu kerjaku dan keluarga sebaik-baiknya.” kataku meyakinkan.


“Maukah kamu berjanji sesuatu padaku Mas?”


“Insya Allah ,,”


“Janji jangan bawa kerjaan ke rumah,”


“Janji,,, “


“Janji jangan Main Handphone di rumah,”


“Janji, dan tak perlu khawatir lima tahun pegang Android isinya masih bawaan pabrik, ada sih satu aplikasi donwnload’an, bubble shooter.” Kataku sambil tertawa.


“Ih, udah tua kok mainan balon. Kayak anak kecil aja,” kata istriku meledek


“Ya habis mau main balon beneran kayak anak gede ga ada yang mau ngasih,” kataku menggoda.


“Apa’an sih?” Katanya sambil tersenyum tersipu malu.


“Sekarang gantian, aku juga mau kamu berjanji,” ku tatap lekat bola matanya.


“Insya Allah ,,,”


“Janji jangan pernah memberi aku makan dengan KERAK NASI,”


“Janji,,,”


“Janji belajar mengupas salak dengan baik dan benar,”


“Yeee, kalo itu aku dah mahir. Aku bukan Nia Ramadani kali Mas,” katanya sambil mencubit manja pinggangku. Hmmm, sudah mulai berani dia.


“Janji akan menjadi istri sholeha dan Panutan bagi anak-anak kita kelak?”


“Berikan yang terbaik buat aku mas, maka akan kuberikan yang terbaik pula untukmu, untuk keluarga kita,” kali ini sambil menyodorkan wajah. Tanpa pikir panjang langsung ku kecup keningnya, lalu pipinya, lalu,,,,, pipinya lagi. Pipinya kan kanan dan kiri. Jika yang kukecup hanya pipi kiri, nanti pipi kanannya bisa meraju. Sudah itu saja. Bibir, sensor.

__ADS_1


“Sinian duduknya, di samping aku. Aku juga mau kasih kado buat kamu,” kataku padanya sambil menarik lembut tangannya yang sedari tadi digenggamanku. Dia menurut, duduk merapat tepat di samping kiriku. Kulingkarkan tangan kiriku kepundaknya, setengah memeluk. Istriku nampak setengah kaget dengan perlakuanku.


“Halal kan bebas Dek,” kataku sambil tersenyum, kubuat senyum senakal mungkin. Kembali dia tertunduk tersipu malu. Lalu kuambil dompet yang masih dikantong celanaku. Ku buka dengan tangan kananku. Tangan kiriku yang sudah lengket di pundaknya enggan ku lepas.


“Dek, ambil kartu yang warna kuning,” kataku sambil menyodorkan dompet lipatku padanya.


“Eh, bukan yang itu Dek! Kalau itu sih, kartu Timezon,” dia tesenyum meringis, manis.


“ATM ini Mas?” tanyanya kemudian setelah mendapat kartu yang ku maksud.


“Yups, mulai sekarang kamu pemiliknya. Semua gajiku masuknya kesitu, mulai malam ini ku percayakan sepenuhnya padamu. Menejemen ku yang baru. Oh, ya! Penghasilanku aku rasa cukup untuk kebutuhan kita, apalagi saat ini masih kita berdua saja. Jadi untuk itu aku minta kesedian kamu untuk berhenti bekerja, cukup di rumah saja. Fokus sama aku dan keluarga kita kedepannya. Bagaimana? Bersedia berhenti kerja?” panjang lebar ku menuturkan maksudku.


“Dengan senang hati Mas,,,” ucapnya, lalu menyenderkan kepalanya di pundakku. Ah, ikan sudah hampir mendekati kail.


“Alhamdulillah, besok sudah mulai bisa kamu pergunakan. Sekarang saldonya belum terlalu banyak sih, baru setara dengan saldonya Bill Gates gitu,”


“Wow Bill Gates kan orang terkaya di dunia Mas, serius kamu Mas,” kata Istriku dengan mimik terkejut.


“Ya serius lah Dek, asal saldo Atta halilintar, Rafi Ahmad, dan Ardie Bakrie di gabungin sama Saldo aku,” kataku tertawa lepas.


“Ih, kamu nyebelin Mas,” katanya sambil memukul-mukul manja dadaku. Ihhh, gemes rasanya. Kalau saja aku punya keberanian lebih, sudah ku ajak dia terbang ke angkasa.


“Belum ngantuk kan DeK?” tanyaku kemudian.


“Belum mas,”


“Ceritakan masa kecilmu dong Dek!” kataku sambil mengelus-elus rambutnya. Sejenak setelah mengatur nafas, Istriku pun mulai bercerita. Tentang sekolahnya, tentang teman-temannya dan tentang kekonyolan-kekonyolan bersama teman-temannya.


“Loh kok bisa Dek?”


“Iya Mas, jadi waktu dia melempar bekas permen karetnya, ternyata malah kena Pak Guru, parahnya permennya itu nyangkutnya di kumis. Trus Pak Guru teriak ‘Kurang ajar, siapa berani melempar permen karet ke arah saya ini, aroma jigongnya ampun-ampunan. Rasa mau pingsan saya, ayo ngaku!’ begitu Mas. Lalu kami serempak nunjuk Mukidi. Nah, Sejak saat itu kami tidak lagi melihat Mukidi di Kelas kami, dan kami tidak melihat Kumis Pak Guru lagi. Waktu kami tanya kemana kumisnya, Pak Guru bilang kumisnya di cukur. Trauma dengan jigong Mukidi.” Ulas Istriku dan ku sambut dengan gelak tawa.


“Trus, Mukidi kemana Dek? Keluar sekolah gitu?”


“Enggak Mas, dia turun kelas. Di kembalikan ke kelas lima. Tapi Alhamdulillah Mas, walau dulu SD nya begajulan tapi kabar terbaiknya, sekarang aku dengar dia jadi Lurah di Desa Mundur Alon-alon,”


“Alhamdulillah, nasip orang mana kita tau ya Dek.”


“Betul itu Mas, sekarang gantian. Ceritakan tentangmu yang dulu Mas,”


“Waduh, jangan Dek. Aku malu.’


“Hmmm, curang! Ya udah, ceritakan yang tentang kamu sama Bu Rina aja Mas,” Ebuset. Itukan aib yang memang kututup-tutupin. Darimana pula Istriku tau tentang cerita itu.


“Ah enggak-enggak, cerita apa itu. Cerita ga mutu banget itu Dek,” kataku menutupi malu.


“Aku sudah tau kok Mas, waktu persiapan pernikahan kita tempo hari, si Meta kan ikut. Dan dia cerita semua.” Alamak, bocah rese itu ternyata biangnya. Hening sesaat... istriku lalu mendongak menatapku.


“Iya deh iya, aku ceritain! Jadi ceritanya waktu itu masa SMA, remajalah istilahnya. Kenakalan kami standar saja sebenarnya, hanya salah orang. Waktu itu kami para cowok suka jailin cewe, taukan cermin? Nah, cermin itu kita selipin ke sepatu bagian atas disela-sela talinya. Setelah itu kami datangi tuh para cewe-cewe yang lagi pada berdiri. Tau kan untuk apa?”


“Mau lihat daleman kan,”

__ADS_1


“Betul. Tapi ya begitulah, untung tidak dapat diraih malang tak dapat di tolak. Aku salah memasukkan kaki ku. Ternyata targetku kena ke Bu Rina, posisinya kan membelakangi apalagi rok Bu Rina warnanya hampir sama abu-abunya, jadi kupikir itu murid cewek. Pas lagi asik-asiknya ngintip daleman, ada yang berdehem dibelakang ku, ku jawab ‘Iya-iya warnanya kuning, tar lagi gantian’ kataku berbisik, eh yang di belakang berdehem lagi. Ku jawab lagi ‘Iya, ada renda-rendanya juga. Trus ada,, ‘ belum selesai aku bicara kepalaku dikemplang. Aku menoleh, eh ternyata Kepala Sekolah, kaget lah aku. Lebih kaget lagi setelah tau yang ku intip Bu Rina. Sumpah malu banget, apalagi ternyata anak-anak udah banyak pada bergerombol di belakangku. Dan sebagai hukuman aku dijemur Kepala Sekolah. Dan diberi penghargaan sebuah kalung bertuliskan ‘REY MESUM’ gitu Dek. Puas?” tanyaku sambil manyum. Dia terkekeh. Dasar ya wanita.


“Kenapa ga pernah punya pacar Mas,” tiba-tiba dia bertanya lagi, dengan nada serius.


“Sebenarnya mau aja sih Dek cari pacar. Tapi,,,”


“Tapi kenapa Mas?” ada nada penasaran di pertanyaan itu.


“Tiap malam minggu mang Kosim selalu ngajak nyari Jangkrik, jadi ga sempat deh nyari cewek.” Kataku tertawa.


“Ihhhhh, bohong....”


“Bener, ntar tanya Mang Kosim,”


“Bohong,”


“Bener.”


“Bohong,”


“Bener Dek..”


“Bohong,” kali ini sambil mendongakkan kepalanya menatapku.


Tanpa pikir panjang kupagut bibir mungilnya dengan gemas. Sedetik, dua detik, tiga detik,,,,, tiga menit. Ciuman gemas berubah menjadi ciuman dua orang dewasa yang sedang ingin menumpahkan hasrat. Entah hasrat apa namanya. Karena ini baru pertama kulakukan. Detak jantungnya bersahut sahutan dengan detak jantungku. Menandakan bahwa apa yang kami lakukan benar-benar pertama kali untuknya dan untukku. Kucari saklar lampu yang berada dinding tepat diatas sisi ranjangku. Klik, padam! Perlahan segera kubuka semua yang menempel di badan istriku. Lalu ......


“Tok! Tok! Tok!” sebuah ketukan di Jendela. Aku terperajat, Istriku tak kalah kaget. Cepat dia menarik selimut, menutupi tubuhnya yang entahlah. Sensor ya! Aku yang masih berpakaian lengkap segera membuka tirai jendela, mengintip siapa diluar.


“Tok! Tok! Tok!” terdengar lagi, lebih keras. Karena posisiku sudah didekat jendela. Perlahan kubuka, sedikit!


“Cieeeeeee, Joni kikuk-kikuk .........” Ferdy muncul dari balik jendela.


“Astaqfirullah, wedus, semprul, jaran, kadal, juangkrikkkkkkkkk ,,,, baru mau mulai Cukkkk.” sumpah dongkol sangat dongkol. Dia tidak tau bagaimana prosesnya ke arah ini. Sudah hampir kena malah di cut. Dasar saudara kampret. Kuambil sesuatu yang ada diatas kasur, sekenanya. Karena lampu ku matikan dan hanya remang-remang. Kulemparkan ke arah Ferdy yang sudah lari tunggang langgang.


“Ya Allah, berikanlah surga yang indah baginya. Kalau bisa sekarang saja Ya Allah,” umpatku lirih. Segera ku tutup jendela beserta tirainya. Kembali ku datangi istriku.


“Maaf ya Dek,” kataku merasa tak enak hati.


“Ga pa-pa Mas!” katanya, masih kulihat senyumnya dalam remang-remang.


“Ya udah Lanjut lagi yok Dek!” kataku dan hendak kembali naik ke ranjang.


“Nanti dulu Mas, Ambil dulu yang kamu lempar tadi Mas!”


“Lho, emang apa’an Dek?” tanyaku heran.


“Dalemanku semua Mas.”


“Alamak, aku pingsan aja dulu ya dek.” Kataku sambil menjatuhkan diri di kasur.


‘Awas saja kau Ferdy, akan kudatangkan pasukan jangkrik di malam pertamamu nanti'

__ADS_1


__ADS_2