
"Oh, iya Roy tapi aku tidak yakin ada seorang laki-laki yang mau denganku jika mereka tahu kondisiku yang sebenarnya." kata Aini sambil menundukkan wajahnya.
"Aini, kau tidak perlu putus asa. Aku yakin suatu saat nanti pasti ada laki-laki yang mau mencintaimu dengan tulus serta mau menerima kekurangan yang ada pada dirimu." jawab Roy yang kini membuat Aini tersenyum.
"Iya Roy."
"Iya Aini, kau tenang saja, aku juga yakin kau pasti menemukan laki-laki yang mencintaimu apa adanya, dan kau tidak perlu mencarinya jauh-jauh karena lelaki itu adalah dia yang sedang duduk di depanmu. Hahahaha."
"KENAN!!!!" teriak Roy yang kini terlihat begitu salah tingkah.
Olivia dan Aini pun hanya tersenyum. Aini lalu memandang Roy yang kini memelototkan matanya pada Kenan.
'Apakah Roy menyukaiku? Ah rasanya tidak mungkin, dia laki-laki yang tampan dan terpandang, pekerjaannya juga bagus, tidak mungkin dia menyukai gadis desa sepertiku.' gumam Aini sambil terus memperhatikan Roy.
"Hei sudah, lebih baik kita kembali ke kamarmu Aini, Kak Calista sudah menunggu kita. Ada sesuatu yang ingin dia ceritakan padamu."
"Apa ini ada hubungannya dengan perceraianku?"
"Salah satunya."
'YESSS.' gumam Roy dalam hati.
"Hei kau kenapa Roy, kenapa saat mendengar perceraian Aini kau tersenyum, kau juga terlihat sangat bahagia."
"Kenan." gerutu Roy sambil menatap tajam pada Kenan kembali yang membuat Olivia dan Kenan tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Aini kembali melirik pada Roy yang kini masih terlihat salah tingkah.
'Roy.' gumam Aini di dalam hati.
"Ayo kita kembali ke kamar." kata Olivia yang membuyarkan lamunan Aini.
"Iya mba."
Olivia kemudian mendorong kursi roda Aini menuju ke kamarnya. Sedangkan Kenan dan Roy berjalan di belakang mereka.
"Jadi sekarang kau benar-benar mencintainya, Roy?"
"Entahlah, aku pun tidak tahu." jawab Roy sambil tersenyum.
"Kenapa kau tidak yakin dengan perasaanmu?"
"Aku hanya tidak ingin berharap banyak, Kenan. Jika Aini tahu kenyataan yang sebenarnya jika akulah yang menyebabkan semua kemalangan yang terjadi di dalam hidupnya apakah dia masih mau menerimaku?"
"Mudah saja Roy, jika tidak ada yang memberitahu Aini tentang kenyataan yang sebenarnya, hal itu tidak akan menimbulkan masalah apapun bagi hubungan kalian."
"Tapi Kenan, aku tidak mau hubunganku didasari atas dasar kebohongan, hubungan yang disadari kebohongan tidak akan berdampak baik, Kenan. Kau sendiri mengalaminya dengan Calista."
"Tidak juga Roy tergantung dari setiap individu, saat itu Calista memang tidak pernah mencintaiku. Tapi kau juga bisa lihat bagaimana hubungan Calista dan Leo yang juga didasari oleh kebohongan dan tipu muslihat tapi juga bisa berakhir bahagia."
"Tetap saja berbeda Kenan, posisiku dan Leo berbeda karena dia tidak pernah menghancurkan masa depan Calista, tidak seperti diriku yang telah menyebabkan masa depan Aini hancur."
__ADS_1
"Roy, anggap saja itu sebagai bentuk tanggung jawabmu padanya." kata Kenan sambil menepuk bahu Roy.
"Tanggung jawab?"
"Iya Roy, berikan kebahagiaan pada Aini sebagai bentuk tanggung jawabmu padanya."
"Kau benar juga, Kenan. Tapi bagaimana jika Aini tidak mencintaiku? Usia kami terpaut sangat jauh, Kenan."
"Roy, sejak kapan cinta mengenal usia?"
Mendengar perkataan Kenan, Roy pun tersenyum.
"Kau benar juga, Kenan. Cinta tidak mengenal usia." kata Roy disertai raut wajah berbinar. Kenan pun hanya bisa terkekeh melihat tingkah Roy.
"Tapi apa Aini mau menjadi istriku, Kenan? Aku ragu, dia masih muda dan sangat cantik, apa dia mau menerimaku?"
"Hei Roy, kenapa kau pesimis seperti itu? Coba kau lihat dirimu, sangat matang dan mapan, selain itu kau juga cukup tampan, ya meskipun tidak setampan diriku tapi wajahmu tergolong lumayan, Roy."
"Jadi kau mengejekku?"
"Tidak, bukankah tadi sudah kukatakan kau cukup tampan."
"Cukup tampan Kenan, bukan tampan itu sama saja mengejekku."
"Hei apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian hanya berdiri di situ. Kak Calista dan Leo sudah menunggu kita."
"Ayo Roy, cepat kita akan mengurus perceraian Aini."
"Iya Kenan, ayo cepat." kata Roy sambil melangkah meninggalkan Kenan.
"Dasar manusia aneh." gerutu Kenan.
💓💓🍀💓💓
"Hai kalian lama sekali."gerutu Calista saat mereka masuk ke dalam ruangan itu.
"Tidak mudah mencari orang yang sedang berkencan Calista, kami bahkan harus berkeliling ke rumah sakit ini untuk mencari mereka berdua." jawab Kenan.
"Siapa yang berkencan, Olive?"
"Nanti saja kuceritakan." jawab Olivia sambil berbisik.
Calista lalu memperlihatkan beberapa berkas yang berisi tanda tangan Dimas.
"Semua sudah beres kan? Dimas sudah mau menandatangani semua ini."
"Mba Calista memang hebat." kata Aini sambil tersenyum.
"Tentu saja, jangan sebut aku Calista jika melakukan hal seperti ini saja tidak bisa."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kejadian tadi malam Kak?"
"Kejadian tadi malam? Kejadian apa maksud Mba Olive?"
"Begini Aini, kemarin sore saat aku keluar dari kamarmu aku melihat Dimas bersikap sangat mencurigakan. Jadi aku langsung menghubungi Leo untuk memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi gerak-gerik Dimas, dan benar saja tadi malam dia menaruh sekotak kue di depan pintu agar Laras dan kau memakan kue tersebut tapi aku buru-buru mencegah Laras memakannya kemudian memerintahkan Laras untuk membuang kue tersebut, lalu anak buah Leo segera menangkap Dimas."
"Lalu apa tujuan Dimas menaruh kue tersebut?" tanya Roy.
"Kue tersebut berisi obat tidur untuk Laras dan Aini, jadi saat mereka lengah Dimas akan menculik Aini dan membawanya pulang bersamanya, Dimas tahu kondisi Aini masih lemah jadi kemungkinan saat dia membawanya, Aini tidak akan melakukan banyak perlawanan."
"Dasar laki-laki kurang ajar! Untungnya kalian bertindak cepat. Jadi setelah itu kalian menyekap Dimas?" tanya Kenan.
"Tentu saja, itulah sebabnya kami dengan mudah mendapatkan tanda tangannya seperti ini. Dia sendiri yang menjerumuskan dirinya hingga membuatku tidak kesulitan mendapatkan tanda tangannya. Bahkan aku sudah meninggalkan banyak kenang-kenangan di sekujur tubuhnya." kata Leo sambil terkekeh.
"Itulah keahlianmu." jawab Kenan.
"Dia pantas mendapatkan itu agar jera dan tidak berani mendekati Aini lagi."
"Ya, karena Aini berhak hidup bahagia dan bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Benar kan Aini?" kata Olivia sambil menatap Aini.
"Aku tidak berharap banyak Mba Olive, kalian tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya, aku bisa lepas dari Dimas saja itu sudah cukup untukku."
"Kau kenapa berkata seperti itu, Aini?"
"Memang itulah kenyataannya Mba Calista."
"Kau tidak perlu cemas, pasti suatu saat ada laki-laki yang mencintaimu dengan tulus dan menerima kekurangan yang ada padamu."
"Iya kau benar Calista, bahkan Aini tidak usah jauh-jauh mencarinya karena orang tersebut sudah ada disini." jawab Kenan sambil terkekeh.
Leo dan Calista pun saling berpandangan, lalu netra mereka tertuju pada Roy yang kini terlihat salah tingkah. "Oh pantas saja, tingkahmu seperti orang yang sedang kasmaran Roy, Calista lebih baik kita ke kantin dulu saja, aku lapar." kata Leo sambil menarik tangan Calista.
"Emh Olive, sepertinya kita juga harus ke bagian administrasi untuk mengurus kepulangan Aini besok."
"Iya Kenan." jawab Olivia.
Mereka lalu meninggalkan Aini dan Roy sendiri. "Maaf Roy, kakak sepupuku memang sedikit jahil padamu."
"Tidak apa-apa, Aini. Emh Aini, jadi besok kau sudah boleh pulang?"
"Iya Roy."
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa menemuimu?"
"Menemuiku? Untuk apa?"
"Karena aku merindu... Ah bukan maksudku untuk mengambil ASI mu." jawab Roy dengan gugup karena Aini kini menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
'Ah sial, kenapa aku selalu salah bicara terus jika di depan Aini, bagaimana caranya agar aku bisa menahan gejolak di dalam hatiku ini.' kata Roy dalam hati.
__ADS_1