Salah Kamar

Salah Kamar
Takdir


__ADS_3

Aini pun kemudian tersenyum.


"Tidak apa-apa, tante."


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?"


Aini pun menggelengkan kepalanya. "Tapi kenapa tiba-tiba kau bersedih? Apa kau masih mengingat putramu yang sudah meninggal?"


"Salah satunya."


"Jadi ada hal lain yang mengganjal di hatimu?"


Aini pun terdiam, air mata pun mulai membasahi pipinya. Risma pun kemudian menggenggam tangan Aini. "Jangan bersedih sayang." kata Risma.


"Hapus air matamu, apapun masalahmu yakinlah bahwa semua pasti ada jalan keluarnya. Suatu saat kau pasti akan bisa hidup bahagia Nak."


"Apakah aku masih memiliki harapan itu? Harapan untuk bahagia?"


Risma pun kemudian tersenyum. "Hei, apa yang kau katakan? Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas manusia, suatu saat kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu."


"Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya keluar dari penderitaan yang membelengguku saat ini."


"Kau pasti akan menemukan jalannya, tanyakan pada lubuk hatimu yang terdalam, itulah jawaban yang diberikan Tuhan untuk mu, itulah jalan yang harus kau tempuh, tapi ingat kau tidak boleh terlalu berambisi, karena semua itu justru akan merugikan dan menghancurkan hidupmu sendiri. Apa kau mengerti?"


"Iya tante."


Risma kemudian membelai rambut Aini. "Ingat sayang, jalani kehidupan ini seperti air yang mengalir, dan jangan terlalu memaksakan diri. Mungkin saat ini kau sedang bersedih atas semua kejadian buruk yang kau alami, tapi suatu saat kau pasti akan bisa mendapatkan hikmah dalam setiap kejadian, dan bersyukur telah mengalami kejadian seperti ini."


"Iya tante, terimakasih banyak atas semua nasehatnya, aku jadi sedikit lebih tenang."


"Iya nak, jangan menyesali semua yang telah terjadi, tetaplah bersemangat dalam menjalani kehidupan dan lakukan yang terbaik selama kau bisa."


Aini pun kemudian tersenyum. "Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan tante, suatu saat bolehkah aku bertemu dengan tante lagi?"


"Tentu saja, datanglah ke rumahku kapanpun kau mau, pintu rumahku selalu terbuka untukmu."


"Iya tante." jawab Aini sambil menyunggingkan senyumnya kembali.


"Nah seperti itu, kau sangat cantik Nak, tapi akan jauh lebih cantik saat kau tersenyum. Sayang sekali jika wanita secantik dirimu harus selalu terlihat murung." kata Risma sambil memonyongkan bibirnya yang membuat Aini tertawa.


"Hahahahahha, ternyata tante juga sangat lucu."


"Hei, kau pikir aku seorang pelawak?" gerutu Risma yang membuat Aini kembali tertawa.


"Kakak, lihat itu Aini sudah bisa tersenyum dan tertawa kembali."


"Ya, sepertinya bertemu dengan Tante Risma telah memberikan energi positif bagi Aini."


"Iya Kak."

__ADS_1


Risma kemudian membelai rambut Aini. "Aini, tante pulang dulu ya."


"Oh iya tante."


"Semoga lekas sembuh, Aini."


"Terimakasih banyak tante."


Risma lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Olivia dan Calista.


"Tante pulang dulu ya sayang, Drey sudah diperbolehkan pulang ke rumah, saat ini Rima sedang berkemas, sebentar lagi kami akan pulang ke rumah."


"Iya tante, salam untuk mereka." jawab Calista.


Risma pun mengangguk kemudian keluar dari ruangan itu. Calista dan Olivia lalu mendekat pada Aini.


"Bagaimana perasaanmu, Aini?" tanya Olivia.


"Jauh lebih baik, terimakasih telah mempertemukanku dengan orang sebaik Tante Risma."


"Ya." jawab Olivia.


"Aini sebenarnya ada yang ingin kutanyakan, bukankah kau tadi sudah mendengar perkataan Tante Risma jika kau tidak boleh terlalu berambisi karena hanya akan mengakibatkan kerugian untukmu?"


"Ya."


"Lalu apakah kau masih memiliki keinginan untuk menceraikan suamimu? Bukankah Dimas sangat menyayangimu? Apa kau mau melepaskannya hanya karena kebencian dan ambisimu?" tanya Calista yang membuat Aini terdiam.


πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€πŸŒΈπŸ€


TOK TOK TOK


"Masuk." jawab seseorang dari dalam kamar.


Heni pun kemudian masuk ke dalam kamar putranya dan melihat Roy yang sedang menangis sambil menatap foto istrinya.


"Roy, kau sedang menangis? Serapuh itukah kamu tanpa Diana, istrimu?"


Roy hanya terdiam. "Tidak semudah itu Ma, kami telah menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak mudah. Dia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum melihat buah hati kami, buah hati yang telah kami nantikan selama tujuh tahun pernikahan."


"Ya mama tahu, tapi inilah takdir. Tidak ada yang bisa menolak takdir dari Tuhan. Kau harus sabar dan ikhlas, mama yakin Diana sudah beristirahat dengan tenang."


"Ya, mungkin dia sudah bertemu dengan orang tua yang sangat dia rindukan."


"Roy kau juga harus bersemangat menjalani hidup ini, ada putramu yang harus kau rawat, dia adalah kenangan terindah dari istrimu yang harus kau jaga."


"Iya ma, Roy tahu itu."


"Mau kau beri nama siapa putramu?"

__ADS_1


"Darren, itu gabungan nama kami berdua."


"Mama sudah melihat putramu tadi, dan mama bertemu dengan seseorang di sana."


"Bertemu seseorang? Siapa maksud mama?"


"Seorang wanita muda yang sangat cantik, dia sedang memberikan ASI nya untuk Darren. Roy, kenapa kau tidak memberitahu mama akan keberadaan Aini? Darimana kau mengenal dia?"


"Ini tidak sengaja ma, dia adalah salah satu korban kecelakaan beruntun kemarin, dia kehilangan putranya karena kecelakaan itu, dan kuanggap dia kehilangan putranya karena kecerobohanku."


"Roy berhentilah menyalahkan diri sendiri karena saat itu yang mengendarai mobilmu adalah Diana! Jadi ini semua salah Diana, Roy!"


"Mama, sudahlah ma. Diana sudah meninggal, apa mama tidak bisa membuang sedikit rasa benci mama pada Diana?" teriak Roy yang membuat Heni terdiam.


"Roy, maaf bukannya mama masih memendam kebencian pada istrimu tapi mama hanya tidak ingin sepanjang hidupmu kau menyalahkan dirimu sendiri."


"Tapi inilah kenyataannya ma, karena kecerobohan ini bahkan aku telah menghancurkan masa depan seseorang."


"Masa depan seseorang? Apa maksudmu?"


"Iya ma, masa depan Aini hancur akibat kecerobohanku."


"A... Apa maksudmu Roy?"


"Ma, selain kehilangan putranya, masa depan Aini pun hancur karena akibat kecelakaan itu, kemungkinan Aini untuk hamil lagi itu sangatlah kecil.


"Astaga." kata Heni sambil menutup mulutnya.


"Kasihan sekali dia."


"Ya ma, karena itulah aku membiarkan dirinya untuk memberikan ASI nya pada Darren. Aku hanya ingin membuatnya merasakan kebahagiaan sebagai ibu. Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan yang telah kurenggut."


"Kau benar Roy, setidaknya Aini merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu."


"Iya ma."


Heni lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Roy, apa tidak pernah sekalipun terpikir dalam benakmu akan semua kejadian ini?"


"Apa maksud mama?"


"Pertemuan antara kau dan Aini."


"Roy sungguh tidak mengerti apa yang mama katakan."


"Bagaimana kalau ternyata kalian berjodoh?" tanya Heni yang membuat Roy begitu terkejut. Dia lalu memandang mamanya dengan tatapan penuh tanda tanya, disertai kening yang berkerut.


"Kenapa mama sampai memiliki pemikiran seperti itu? Makam Diana saja masih basah tapi mama sudah berfikir sejauh itu. Pertemuan kami hanya sebuah kebetulan saja ma."


Heni lalu memandang balik Roy yang masih menatapnya. "Bagaimana jika bukan hanya sebuah kebetulan, tapi takdir?" jawab Heni yang semakin membuat dada Roy kian bergemuruh.

__ADS_1


Note:


Makasih yang udah doain othor biar cepet sembuh, love you dear πŸ₯°πŸ€­


__ADS_2