Salah Kamar

Salah Kamar
Pengobat Luka


__ADS_3

"Mama, bukankah sudah kukatakan jika aku meminta waktu, tidak semudah itu melupakan orang yang kita cintai, Ma."


"Tante, benar apa yang Roy katakan. Dia butuh waktu untuk melupakan orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Jika terlalu dipaksakan akan berakibat tidak baik dan bisa menyakiti satu sama lain." kata Olivia ikut menimpali.


"Mama bisa memahami itu, memang tidak mudah melupakan orang yang paling kita cintai, mama bisa merasakan itu saat papa meninggal dulu. Maaf jika mama sudah terlalu memaksamu Roy, mama hanya tidak ingin kau larut dalam kesedihan dan terbelenggu masa lalu."


Roy pun kemudian terdiam, Olivia lalu menatap Heni sambil memberi sebuah kode. Heni pun kemudian mengangguk, dia lalu masuk ke dalam ruang perawatan Darren kemudian menghampiri Aini yang sedang memeras ASI untuk Darren.


"Aini." panggil Heni sambil tersenyum.


"Iya tante."


"Terimakasih Nak." kata Heni sambil membelai wajah Aini.


"Sama-sama, Aini senang melakukan ini untuk Darren." kata Aini yang kini sudah selesai memeras ASI nya. Dia lalu memberikan botol penyimpan ASI tersebut pada perawat yang ada di ruangan tersebut. Aini kemudian mendekat pada kaca yang menjadi pembatas antara ruangan tersebut dengan ruangan inkubator tempat Darren dirawat.


Melihat Darren yang tampak mengeliat, Aini pun tersenyum. "Dia sangat lucu, aku tak sabar menggendong Darren saat dia sudah bisa keluar dari inkubator itu." kata Aini sambil tersenyum.


"Apa kau menyayanginya?"


Aini pun mengangguk.


"Aku sangat menyayanginya meskipun dia bukan putra kandungku." jawab Aini sambil menundukkan kepalanya.


"Sekali lagi terimakasih Aini, terimakasih sudah mau menyayangimu Darren seperti anak kandungmu." kata Heni sambil terisak.


"Tante, kenapa tante menangis?"


"Tidak apa-apa Aini, tante hanya merasa beruntung bisa bertemu denganmu."


"Tante, Aini juga merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Darren yang bisa mengobati luka yang ada di dalam hati Aini akibat kecelakaan tersebut. Bagi Aini, Darren adalah sosok yang dikirimkan Tuhan untuk mengobati luka hati Aini. Entah bagaimana hancurnya hati Aini jika tidak bertemu dengan Darren, bahkan saat ini dia lah semangat hidup bagi Aini." kata Aini yang kini ikut terisak sambil menatap wajah polos Darren yang kini sedang tertidur.


Mendengar perkataan Aini, Heni pun kemudian memeluknya. "Aini, aku bahkan tidak bisa berkata apapun untuk bisa menunjukkan rasa terimakasihku padamu karena sudah begitu menyayangi cucuku seperti anak kandungmu."


"Tante, tolong jangan berkata seperti itu, aku juga mengucapkan banyak terimakasih karena telah diijinkan untuk bisa merawat dan menyayangi Darren seperti putraku sendiri." jawab Aini yang kini juga ikut menangis dalam pelukan Heni.


Beberapa saat kemudian setelah mereka selesai larut dalam isak tangis, Heni pun melepas pelukannya. Dia lalu menghapus air mata yang mengalir di wajah Aini.


"Jangan menangis lagi Aini, aku tidak ingin kau bersedih."

__ADS_1


"Iya Tante." jawab Aini kemudian tersenyum.


"Kau sangat cantik jika tersenyum seperti ini." kata Heni yang membuat Aini tersipu malu.


"Sama cantiknya seperti bunga yang kami berikan padamu." kata Heni sambil membelai rambut Aini.


"Bunga?" tanya Aini sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, bunga yang Roy bawakan untuk mu. Bunga itu pemberian dari kami berdua."


"Tante, apa maksud tante? Hari ini Aini, tidak menerima bunga dari Roy."


"Jadi, Roy belum memberikan bunga itu untukmu?"


Aini pun menggelengkan kepalanya.


"Belum tante." jawab Aini.


"Ayo kita kedepan Aini, kita tanyakan pada Roy."


Aini pun menganggukkan kepalanya lalu Heni mendorong kursi roda Aini keluar dari ruangan tersebut.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu Roy. Memang tidak mudah melupakan orang yang sangat kita cintai."


"Iya Olive, tidak mudah, bahkan sangat sulit. Bagaimanapun juga Diana adalah cinta pertamaku."


Olivia pun mengangguk.


"Kau juga merasakan itu kan, Olive? Bertahun-tahun kau berpisah dari Kenan, bahkan saat itu Kenan sudah menikah dengan Calista tapi kau tetap mencintainya karena dia adalah cinta pertamamu."


"Ya, meskipun tidak sepenuhnya sama."


"Apa maksudmu, Olive?"


"Maaf Roy, Diana sudah meninggal kau harus mengikhlaskannya agar dia tenang di alamnya."


"Ya Olive, aku selalu berusaha untuk ikhlas meskipun masih begitu sulit."


"Iya Roy, aku tahu itu."

__ADS_1


"Lalu apakah menurutmu aku adalah seorang pecundang?"


"Tidak Roy, kau bukan seorang pecundang. Yang kau butuhkan hanyalah waktu dan keberanian untuk membuka lembaran baru dalam hidupmu."


"Tapi kenapa mama selalu memaksaku?"


"Roy percayalah setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia, itu yang mamamu inginkan darimu. Hanya saja, caranya sedikit salah karena sudah memaksamu di saat yang belum tepat. Bisa dibilang Tante Heni terlalu terburu-buru."


"Iya Olive kau benar, bukankah kau tahu jika cinta tidak bisa dipaksakan? Dan untuk saat ini aku belum bisa mencintai wanita lain kecuali almarhum istriku meskipun selama menjalani rumah tangga, Diana belum bisa sepenuhnya menjadi istri yang baik untukku tapi aku sangat mencintainya. Bahkan mungkin aku tidak akan pernah bisa mencintai wanita lagi karena rasa cintaku yang begitu dalam pada Diana." kata Roy yang tanpa sengaja didengar oleh Heni dan Aini yang kini sudah ada di samping mereka berdua.


'Oh tidak, kenapa Aini harus mendengar Roy saat berkata seperti itu. Ternyata kami keluar dari ruangan ini di saat yang tidak tepat.' kata Heni dalam hati.


🌿🌸🌿🌿🌸


Dimas tampak mondar-mandir di dalam kamar perawatan Aini sambil sesekali mengusap kasar wajahnya.


"Apa sebenarnya yang sedang diperbuat oleh Aini? Siapa yang dia rindukan? Kenapa dia meminta Olivia untuk menemaninya ke ruang perawatan bayi, apa yang Aini lakukan disana?"


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, aku tidak rela jika aku harus berpisah dengan Aini." kata Dimas kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Disaat itulah tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.


"Ibu." kata Dimas saat melihat sebuah nama di layar ponselnya. Dimas lalu mengangkat panggilan telepon itu.


[Iya Bu.]


[DIMASSSSS!!! KAU SEBENARNYA ADA DIMANA? KENAPA SEJAK KEMARIN PONSELMU TIDAK AKTIF!] Bentak Ibu Dimas di ujung sambungan telepon.


[Dimas sedang berada di Jakarta, Bu.]


[APAAAA??? DI JAKARTA? UNTUK APA KAU PERGI KE JAKARTA, DIMAS!!]


[Dimas ingin bertemu dengan Aini, Bu.]


[APAAAA??? Berani-beraninya kau menemui wanita itu Dimas! Apa kau tidak sadar, dia telah menginjak-injak harga diri kita dengan meninggalkanmu begitu saja hah!! Seharusnya dia bersyukur bisa menjadi menantu orang terpandang yang memiliki kekayaan berlimpah seperti kita, bukannya malah melarikan diri. Lebih baik kau sekarang pulang, Dimas!! Tinggalkan saja wanita itu!]


[Tidak Bu, Dimas hanya mencintai Aini.]


[Berani-beraninya kau membantah Ibu demi wanita itu, Dimas!!]


[Bu, Dimas sudah dewasa! Dimas berhak menentukan hidup Dimas.]

__ADS_1


[DIMAAASSSSS!!] teriak ibunya di ujung sambungan telepon, namun bergegas Dimas menutup panggilan telepon itu.


__ADS_2