Salah Kamar

Salah Kamar
Berbeda


__ADS_3

Vallen pun berjalan ke arah pesta tersebut kembali. 'Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak memberikan nomor ponselku saja padanya? Mungkin aku bisa berteman dengannya karena kami sama-sama sedang patah hati? Ah sudahlah, kenapa aku harus memikirkan orang itu? Dia saja sudah begitu sombong padaku?' gumam Vallen sambil terus berjalan ke arah pesta.


'Bukankah berbicara dengan laki-laki itu jauh lebih baik dibandingkan aku sendirian dan melihat orang-orang bermesraan disini? Ah kenapa tiba-tiba pikiranku jadi rumit seperti ini?' gumam Vallen lagi.


"Cepat Vallen!!" teriak David saat Vallen sudah berjalan ke arahnya.


"Kau lambat sekali, bahkan berjalan pun kau melamun, apa kau masih memikirkan laki-laki itu sampai berjalan saja sambil melamun?"


"Iya sabar Kak, aku bukannya melamun atau memikirkan Rayhan tapi aku tidak terbiasa mengenakan gaun seperti ini. Aku sedikit kesulitan berjalan, kau lihat aku bahkan harus mengangkat bagian bawah gaunku agar aku bisa berjalan." gerutu Vallen. Stella pun terkekeh melihat Vallen yang sedang mengangkat bagian bawah gaunnya.


"Kau harus sedikit membuang sifat tomboimu, Vallen."


"Suatu saat aku juga bisa menjadi wanita manis sepertimu, Kak Stella." kata Vallen sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar anak nakal." gerutu David.


"Sudah sana, lebih baik kau berjalan ke dekat panggung."


"Iya Kak Stella."


Vallen kemudian berjalan ke arah dekat panggung dekorasi tempat Rima akan melempar bunga pengantinnya.


"1, 2, 3 Lemparrrrr!!!" Teriak salah seorang MC


HAPPPPP


Vallen pun dengan lincah menangkap bunga tersebut. Dia lalu bersorak bahagia saat menangkap buket bunga pengantin tersebut.


"Hahaha.. Hahahahahha."


"Semoga kau cepat bertemu dengan jodohmu, Nak!' kata Risma yang kini berdiri di sampingnya.


"Iya tante terimakasih banyak. Tapi sepertinya tidak semudah itu karena aku bahkan tidak memiliki seorang kekasih."


"Apa kau baru saja patah hati?"


Vallen pun tersenyum.


"Bagaimana tante tahu?"


"Raut wajahmu terlihat begitu sendu, Nak."


"Bisa dibilang seperti itu, aku bersamanya dalam waktu yang cukup lama, sangat sulit untuk membuang semua kenangan yang telah kami lalui bersama."


Risma pun tersenyum, dia kemudian menggenggam tangan Vallen.


"Ikhlaskan saja semua yang telah terjadi, jika dia bukan jodohmu sekuat apapun kau mencengkeramnya dia tetap akan pergi darimu tapi jika kau sudah bertemu dengan jodohmu, meskipun kau sudah melepasnya jauh-jauh dia pasti akan kembali padamu."


"Ya, aku tahu itu, aku menyadari semua itu tante. Dia memang bukan jodohku."


"Syukurlah jika kau menyadari semua itu. Kau wanita yang cantik dan sangat menarik, jika kau mau membuka hatimu, kau pasti akan bisa dengan mudah mendapatkan pengganti laki-laki itu."


Vallen pun tersenyum.


"Semoga saja, karena sakit hati benar-benar membuatku merasa begitu lelah, lelah menghadapi kenyataan hidup." kata Vallen sambil terkekeh.


"Kau gadis yang sangat menyenangkan."

__ADS_1


"Tante juga sangat menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dibandingkan mamaku yang begitu kaku. Hahahaha."


"Hahahaha." Risma pun ikut tertawa.


"Tante, aku kembali ke mejaku dulu. Aku kemari bersama kakakku, aku takut dia mencariku."


"Memangnya siapa kakakmu?"


"David, Dokter David."


"Astaga, jadi kau adik Dokter David?"


Vallen pun mengangguk.


"Aku sangat mengenal kakakmu, pantas saja kau sangat cantik, kakakmu juga tampan, dia juga sangat baik."


"Tante terlalu berlebihan, dia tidak sebaik yang tante bicarakan. Bahkan dia sebenarnya sangat membosankan." gerutu Vallen yang membuat Risma terkekeh.


"MAMAAAA!!" teriak Drey dan Rima.


"Hei gadis manis aku ke sana sebentar ya."


"Oh.. Oh iya tante." jawab Vallen dengan sedikit gugup.


'Jadi dia orang tua pengantinnya?' gumam Vallen sambil berjalan ke meja David. Namun tiba-tiba netranya tertuju pada seorang laki-laki yang mengenakan kemeja warna biru tengah berdiri di samping area taman.


"Bukankah dia teman Firman? Jadi dia bekerja disini?"


Vallen pun tersenyum kemudian berjalan mendekati seorang lelaki yang sedang berdiri di samping sebuah speaker besar di sisi taman.


"Selamat malam."


"Ya saya membutuhkan bantuan anda." jawab Vallen sambil tersenyum.


🖤🖤🖤🖤🖤


Zidan membuka pintu kamar dan melihat Firman yang sedang menonton televisi sambil sesekali memainkan ponselnya.


"Kau belum tidur, Firman? Ini sudah hampir pukul dua belas malam."


"Aku belum mengantuk, mungkin karena aku baru saja bangun tidur tadi sore jadi aku belum mengantuk."


"Oh."


"Apa acaranya sudah selesai?"


"Acara utamanya sudah selesai tapi masih ada beberapa orang yang ada di lokasi acara pesta itu, mungkin mereka ingin menghabiskan malam bersama pasangannya masing-masing."


"Oh, termasuk Aini?"


Zidan pun tersenyum kemudian mengangguk.


"Sepertinya dia cukup dekat dengan pengantinnya. Mereka ada dalam satu meja besar bersama dengan para orang kaya itu."


"Ya, dua saudara sepupu Aini menikah dengan orang-orang kaya pemilik perusahaan nasional, mungkin suami Aini juga salah satu teman mereka."


"Ya, sepertinya begitu karena mereka terlihat sangat akrab."

__ADS_1


"Bagus, Aini pasti memiliki masa depan yang cerah bisa mendapatkan suami yang kaya, jauh lebih baik jika dibandingkan menikah denganku."


"Kau tidak usah berkata seperti itu, Firman. Suatu saat kau juga pasti bisa bertemu dengan jodohmu."


"Ya, tapi yang terpenting saat ini aku hanya ingin melupakan Aini."


"Firman, cara terbaik melupakan seseorang adalah dengan mencintai orang lain."


"Sayangnya aku belum bisa, Zidan. Aku belum bisa mencintai wanita lain. Aku bahkan tidak memiliki seorang teman wanita."


"Lalu bagaimana dengan wanita tadi?"


"Wanita? Wanita yang mana?"


"Tidak usah berpura-pura, Firman. Saat kau sedang memberikan ponselku, kau sedang bersama seorang wanita cantik kan?"


Firman pun tersenyum.


"Oh, wanita itu? Aku bahkan tidak mengenalnya, kami hanya tidak sengaja bertemu saat sedang berjalan-jalan di tepi pantai lalu kami bertemu kembali di pesta itu."


"Sepertinya dia tertarik padamu."


Firman pun mengerutkan keningnya.


"Tidak mungkin, kami sangatlah berbeda. Dia tidak mungkin tertarik padaku."


Zidan pun tersenyum.


"Jika dia tidak tertarik padamu bagaimana mungkin dia menitipkan nomor ponselnya untuk kuberikan padamu?"


"A...Apa maksudmu Zidan?"


"Iya Firman, wanita itu menitipkan sebuah kertas padaku yang berisi nomor ponselnya. Dia menyuruhku memberikannya padamu." kata Zidan sambil terkekeh.


"Dia memberikan nomor ponselnya padamu?"


"Ya, lihat ini." kata Zidan sambil memperlihatkan sebuah kertas dan memberikannya pada Firman.


"Astaga, dasar wanita aneh." kata Firman sambil tersenyum. Dia kemudian memandangnya kertas yang berisi nomor ponsel itu.


"Ayo cepat hubungi dia Firman."


Firman pun menggelengkan kepalanya.


"Tadi aku hanya bercanda saat meminta nomor ponselnya, aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh karena aku sadar, aku dan dirinya berbeda." jawab Firman kemudian menaruh kertas itu di nakas lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kau benar-benar membuang kesempatan bagus." kata Zidan sambil menggelengkan kepalanya.


💙💙💙💙💙


Sementara Vallen di dalam kamarnya melihat ponselnya dengan tatapan begitu bimbang.


"Kenapa dia belum juga menghubungiku?" kata Vallen sambil menatap layar ponselnya.


"Apakah dia sudah tidur? Ataukah temannya belum memberikan nomor ponselku padanya?" kata Vallen sambil mengigit bibirnya.


"Mungkin dia sudah tidur, lebih baik aku tidur saja sekarang." kata Vallen kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Namun baru saja dia menutup matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


__ADS_2