Salah Kamar

Salah Kamar
Kesepakatan


__ADS_3

"Bagaimana jika itu notifikasi penting?"


"Tidak ada yang lebih penting dibandingkan dirimu saat ini." jawab Aini sambil tersenyum manja.


Roy pun mulai membelai wajah Aini kembali kemudian mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut, namun Aini membalas ciuman itu dengan begitu bergairah yang membuat Roy membalas ciuman itu sambil melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Aini.


"Aini, mulai malam ini kau adalah milikku."


"Ya, jadikanlah aku milikmu selamanya, mas."


"Iya Aini." jawab Roy sambil menciumi setiap lekuk tubuh Aini.


"Kau menikmatinya?"


"Ya, sangat mas." jawab Aini sambil me*desah yang membuat Roy semakin bernafsu menikmati tubuh Aini. Roy kemudian menciumi bu*h d*da Aini. "Sayangnya aku belum bisa menikmati ini sepenuhnya karena harus berbagi dengan Darren." kata Roy sambil terkekeh yang membuat Aini tersipu malu.


Aini pun menatap Roy yang kini di atas tubuhnya sambil memainkan ping*ulnya di atas tubuh Aini. 'Ternyata seperti ini rasanya bercinta dengan orang yang kucintai? Saat menikah dengan Dimas, aku tidak pernah merasakan apapun karena aku begitu membencinya.' kata Aini dalam hati.


'Aku sangat mencintaimu, mas. Aku ingin kita selalu bersama sampai maut memisahkan kita berdua.' gumam Aini dalam hati sambil terus mende**h karena Roy semakin bernafsu memacu gerakan tubuhnya. Desa*an dan era*gan pun kini begitu menggema di setiap sudut kamar itu. Hingga mereka berdua akhirnya menikmati puncak kenikmatan.


"Aku mencintaimu." bisik Roy saat mencapai puncak kenikmatan sambil menciumi bahu Aini.


"Aku juga mas." jawab Aini sambil menciumi dada Roy yang menindih tubuhnya.


Sementara Firman tampak begitu gusar di dalam kamarnya, beberapa kali dia membuka akun sosial media miliknya namun tetap tidak ada jawaban di kotak masuknya.


"Pasti malam ini Aini sedang menikmati malam pertamanya dengan laki-laki itu."


"BREN*SEK!!" umpat Firman sambil melempar ponselnya.


"Semua ini gara-gara Delia dan Dimas sialan itu!!!" teriak Firman kembali.


🏠❀️🏠🌿🏠❀️


Di saat itulah seorang pembantu mendekat ke arah mereka.


"Ada apa bi?"


"Itu Nyonya, ada Nona Delia di luar."


Dimas dan Ibunya pun saling berpandangan.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba." kata ibu Dimas sambil tersenyum.


"Suruh dia masuk, antarkan dia masuk ke kamar ini bi."


"Iya Nyonya."


"Ibu, ibu apa-apaan sih? Kenapa ibu menyuruh Delia masuk ke kamar Dimas? Dimas malu kalau sampai Delia tahu Dimas seperti ini? Dimas yakin Delia datang ke rumah ini pasti karena dia marah pada Dimas karena rahasianya terbongkar."


"Bukankah lebih baik seperti itu? Setidaknya setelah melihat keadaanmu dia mungkin bisa lebih bersimpati padamu."


"Ibu ada-ada saja." gerutu Dimas.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Delia pun masuk ke kamar Dimas. Delia pun begitu terkejut melihat keadaan Dimas saat ini.


"Apa kabar Delia."


"Baik Tante Fitri."


"Ada apa kau datang kemari?"


"Emh... Tante, bolehkah Delia berbicara berdua dengan Dimas?"


"Oh silahkan, tapi bukankah kau sudah memiliki suami? Apa suamimu tidak marah jika kau berduaan dengan laki-laki lain?"


Delia pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak tante, karena saat ini keadaannya sudah tidak seperti yang tante pikirkan, saat ini tidak ada yang lebih berhak atas diriku kecuali kedua orang tuaku."


"Apa maksudmu, Delia? Apa kau sudah berpisah dengan Firman?"


Mendengar perkataan Fitri, Delia pun hanya tersenyum, matanya pun kini mulai berembun.


"Ya sudah, tante tinggal dulu ya." kata Fitri kemudian keluar dari kamar tersebut.


'Bagus sekali, sepertinya Firman sudah menalak Delia, dengan seperti ini aku bisa menikahkan mereka berdua saat Delia sudah resmi bercerai.' gumam Fitri sambil mengintip Delia dan Dimas di dalam kamar. Delia yang kini duduk di samping Dimas pun menatap Dimas dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak lihat keadaanku saat ini? Ini karena ulah suamimu!"


"Kau pantas mendapatkannya. Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa kau menghancurkan kehidupan rumah tanggaku? Bukankah kau sendiri yang menginginkan agar aku menikah dengan Firman tapi kenapa tiba-tiba kau menghancurkan kehidupan rumah tangga kami?"


"Kenapa kau diam Dimas?"


Dimas pun mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Karena aku menginginkan anak itu, Delia. Aku adalah ayahnya, aku memiliki hak atas anak itu."


"Menginginkan Shakila maksudmu? Apa kau sudah lupa, dulu kau menyuruhku mengugurkan kandungan ini setelah tahu aku hamil? Lalu kau juga yang membujukku agar mau menjebak Firman agar dia menikahiku dan bertanggung jawab atas darah dagingmu yang sedang kukandung? Setelah kehidupan rumah tangga kami bahagia, kau menghancurkannya begitu saja!!! Kau benar-benar kurang ajar Dimas! Kau sungguh BIADAB!!!"


"Maafkan aku Delia, saat itu aku tidak berfikir panjang karena aku hanya mencintai Aini."


"Lalu saat Aini sudah membuangmu kau kembali lagi padaku dan menginginkan anak itu? Kau benar-benar PICIK DIMAS!!"


"Delia tenangkan dirimu, bagaimanapun juga aku adalah ayah kandung dari Shakila, aku juga memiliki hak atas dirinya."


"Apa kau bilang Dimas? Kau berhak atas dirinya? Kenapa kau baru mengatakan semua ini saat sekarang? Memangnya kau pikir aku ini wanita apa? Memangnya aku wanita yang tidak punya harga diri yang bisa kau permainkan sesuka hatimu? Aku memiliki perasaan, Dimas!!"


"Tenang Delia."


"Tenang katamu? Setelah semua yang terjadi pada hidupku kau bisa mengatakan seperti itu? Dasar laki-laki BREN**EK!!"


"Lalu, sebenarnya apa tujuanmu ke rumahku? Apa kau hanya ingin marah padaku?"


"Aku ingin kau bertanggung jawab atas semua yang kau perbuat, Dimas!!"


"Bertanggung jawab, apa maksudmu kau memintaku untuk menikahimu?"


"Jangan bermimpi!!"

__ADS_1


"Lalu apa maksudmu?"


"Kau tahu karena perbuatanmu Firman tadi siang menalakku."


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Dimas kau harus bertanggung jawab agar Firman mau kembali padaku, aku tahu selama ini sebenarnya Firman masih menyukai Aini, dengan adanya kejadian seperti ini pasti dia akan kembali pada Aini!!!"


Mendengar perkataan Delia, Dimas pun tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa Dimas? Tidak ada yang lucu!!!"


"Delia.. Delia ternyata kau begitu bodoh, mungkin kau terlalu banyak menghabiskan waktumu dengan anakmu hingga kau tidak tahu berita terbaru tentang Aini yang membuatnya terkenal di seluruh negeri."


Delia pun begitu terkejut mendengar perkataan Dimas, dia kemudian mengusap air mata yang mengalir di wajahnya.


"Me... Memangnya apa yang telah terjadi dengan, Aini?"


"Kau tahu alasanku sebenarnya bercerai dengan Aini?"


Delia pun menggelengkan kepalanya.


"Aku bercerai dengan Aini karena Aini mengalami masalah pada kesuburannya saat mengalami kecelakaan di Jakarta."


"Ja...Ja..Jadi."


"Iya Delia, Aini sangat sulit mendapatkan keturunan, karena itulah aku bercerai dengan dirinya. Lalu apa kau juga belum tahu berita tentang Aini beberapa hari yang lalu?"


Delia kemudian menggelengkan kepalanya.


"Aini baru saja dilamar oleh seorang pengusaha, bahkan beritanya menjadi headline beberapa portal berita online karena pengusaha itu melamar Aini dengan sangat romantis."


'Astaga, Aini benar-benar beruntung.' kata Delia dalam hati sambil menutup mulutnya.


"Bahkan ada salah seorang tetangga Aini yang mengatakan pada ibuku jika hari ini Aini dan laki-laki itu menikah, orang tua Aini sendiri yang mengatakannya saat mereka akan pergi ke Jakarta."


"Ja.. Jadi kemungkinan Aini kembali pada Firman bisa dikatakan mustahil?"


"Mungkin seperti itu, coba kau pikir baik-baik mana ada laki-laki yang mau menikah dengan wanita seperti Aini yang tidak bisa memberikan keturunan padanya."


"Tapi bagaimana dengan pengusaha tersebut, mengapa pengusaha itu mau menikah dengan Aini."


"Pengusaha tersebut duda yang sudah memiliki anak, jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan kondisi Aini."


"Pantas saja."


"Aku harus pergi, aku harus pergi menemui Firman." kata Delia kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana Delia?" tanya Dimas.


"Menemui Firman." jawab Delia sambil berlari ke arah pintu. Namun baru saja Delia membuka pintu tersebut, Fitri sudah berdiri di depannya sambil tersenyum.


"Kau tidak bisa pergi dari rumah ini sebelum membuat kesepakatan denganku, Delia." kata Fitri sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2