
"Bagaimana kak?" tanya Olivia pada Calista.
"Dia tidak mau menjawab teleponku, Olive."
"Tidak mau menjawab teleponmu?"
"Ya dia bahkan mengalihkan panggilan dariku."
"Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Rima?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu Leo. Atau jangan-jangan dia sudah kembali ke rumahnya?" kata Calista.
"Kita harus memastikan keadaannya. Aku takut sesuatu yang buruk kembali terjadi padanya."
"Iya Leo, sebaiknya kita pergi ke kontrakan Rima sekarang." jawab Calista.
"Kami ikut." jawab Kenan dan Olivia.
Mereka pun kemudian keluar dari kantor polisi tersebut. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati mereka dari balik jendela kaca.
'Sekarang kalian boleh bersenang-senang, tapi lihat saja jika aku sudah bebas, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua, terutama kau Leo! Kau sama seperti Rima, kau telah merendahkan harga diriku!' kata Ilham dalam hati.
BRAG!!!
"Apa kau tuli? Beberapa kali kami mengajukan pertanyaan padamu tapi kau malah melihat ke arah luar!" bentak seorang penyidik yang ada di hadapannya.
Ilham pun hanya terdiam. 'Dasar polisi sialan, kalian sama bren*seknya dengan mereka.'
🍃🍃🍃☘️
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di kontrakan Rima. Mereka lalu bergegas masuk ke rumah tersebut.
"Tidak dikunci, lihat itu, seisi rumah masih tampak berantakan." kata Calista saat membuka pintu rumah itu dan melihat keadaan di dalam rumah.
"Jadi rumah ini ditinggalkan begitu saja saat polisi menangkap Ilham?"
"Ya, kemungkinan seperti itu."
"Jadi, Rima juga belum pulang ke rumah ini."
"Iya Olive."
"Sebentar, aku mau masuk ke dalam." kata Kenan, lalu masuk ke dalam rumah.
"Kau mau apa Kenan?" tanya Olivia saat melihat Kenan masuk ke dalam kamar Ilham. Namun Kenan tidak menjawabnya, dia tampak sibuk mengamati seluruh isi kamar.
Olivia, Calista dan Leo pun kemudian mengikuti Kenan masuk ke kamar tersebut.
"Apa yang mau cari, Kenan?"
"Bukti tambahan Leo, Ilham orang yang licik. Aku tidak yakin dia telah menyadari semua kesalahannya. Kita harus mencari bukti tambahan di kamar ini agar dia tidak bisa berkelit di pengadilan nanti."
"Kau benar Kenan. Aku juga tidak yakin Ilham sudah berubah. Berulangkali dia meminta maaf tapi ternyata semua itu adalah palsu." kata Leo sambil tersenyum kecut.
"Sebaiknya kita pergi dari sini Olive, kamar ini sangat panas tidak ada AC nya, biar Kenan dan Leo saja yang mencari bukti tambahan di kamar ini." kata Calista sambil menarik tangan Olivia.
Calista yang menarik tubuh Olivia begitu saja membuat keseimbangan Olivia sedikit goyah, tanpa sengaja dia sedikit menabrak sebuah lemari plastik yang ada di sampingnya. Lalu tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari atas lemari.
__ADS_1
"Apa itu?" kata Kenan saat melihat sebuah kotak yang jatuh.
"Leo bisakah kau mengambilkan kotak itu, perutku masih sakit jika harus berjongkok."
"Iya Kenan."
Leo pun mengambil kotak itu, dan saat dia mengambilnya ada beberapa isi kotak tersebut yang tercecer.
"Sepertinya ini sebuah foto." kata Leo sambil mengambil foto-foto yang terjatuh tersebut. Saat melihat foto tersebut, betapa terkejutnya Leo karena foto-foto itu adalah foto Olivia.
"Kenan, lihat ini. Ini foto-foto Olive." kata Leo sambil memperlihatkan beberapa foto yang terjatuh.
Kenan pun akhirnya merebut kotak kecil yang ada di tangan Leo dan membuka kotak tersebut. Emosi Kenan pun semakin memuncak saat melihat sisa foto yang ada di dalam kotak itu berisi foto-foto dirinya yang telah dicoret-coret selain itu ada beberapa bagian foto yang terputus dan di atas foto Kenan tertulis kata "DIE"
"DASAR BRENG*EK!" umpat Kenan yang membuat Calista dan Olivia terkejut saat mereka sedang duduk di depan televisi.
🍀🍀🍀🍃🍃🍃
"Calista."
Namun Rima mematikan panggilan tersebut.
"Kenapa kau tidak menjawabnya?"
Rima pun kemudian menangis. "Drey, bawa aku pergi. Bawa aku pergi dari kehidupan mereka."
"Rima, apa yang kau katakan?"
"Drey, bawa aku pergi?"
"Ya, mereka memang sangat menyayangiku, tapi..."
"Tapi kenapa Rima?"
"Aku sudah begitu banyak berbuat jahat dan merepotkan mereka. Aku ingin melanjutkan hidupku sendiri, aku ingin hidup mandiri Drey. Aku ingin melupakan masa laluku, aku ingin melupakan semua masa-masa kelam yang telah kualami, dan yang terpenting aku ingin melupakan suamiku, aku ingin lepas darinya, sudah cukup penderitaan yang kualami saat hidup bersamanya, setelah anak ini lahir aku akan segera bercerai darinya, meskipun perceraian itu secara verstek."
"Apa kau yakin bisa hidup sendiri?"
"Ya." jawab Rima sambil mengangguk.
"Drey, bisakah kau memberikan aku pekerjaan?"
"Pekerjaan? Kau sedang hamil, Rima.'
"Tapi aku membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi anak dalam kandunganku."
Drey kemudian mengusap kasar wajahnya.
"Baik, aku akan mencoba membantu mencarikan pekerjaan untukmu."
"Terimakasih." jawab Rima sambil tersenyum.
Ponsel Drey tiba-tiba pun berbunyi. "Mama." kata Drey kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo ma.]
[Dreyyyyyy!!!!] teriak mamanya di ujung panggilan telepon. Drey pun kemudian menjauhkan telinganya dari ponselnya.
__ADS_1
[Mama, mama kenapa sih pake teriak-teriak gitu?]
[Dreyyyyyy kamu kemana saja? Sejak kemarin kamu belum pulang ke rumah tanpa memberi kabar ke mama!!!]
[Maaf ma, Drey ada urusan yang tidak bisa diganggu.]
[Urusan apa? Terlalu banyak urusan tak penting dalam hidupmu hingga kau lupa untuk menikah!!! Ingat Drey, ini Indonesia bukan Australia. Usiamu sudah kepala tiga tapi kau belum memiliki calon pendamping di hidupmu!!!]
[Ma, sabar ma.]
[Sabar, sabar, mau sampai kapan mama harus bersabar? Mama tidak mau tahu! Secepatnya kau harus memiliki pendamping di hidupmu! Jika dalam satu bulan ini kau belum memiliki kekasih maka kau harus mau mama jodohkan dengan anak teman mama!!!]
[Maksud mama Chintya?]
[Iya memangnya siapa lagi? Bukankah dia wanita yang cantik?]
"Juga matre." gerutu Drey.
[Apa kau bilang Drey?]
[Emm.. Tidak, tidak ma, sebenarnya Drey sudah memiliki calon istri.] kata Drey saat melihat Rima yang kini terlihat asyik menonton televisi sambil tersenyum.
[Apa Drey? Kau sudah memiliki calon istri?]
[Bukan ma, sebenarnya Drey telah memiliki istri. Ya Drey sudah memiliki istri.]
[Jangan bercanda Drey, kau pikir ini lelucon?]
[Tidak ma, sebenarnya Drey sudah menikah siri dengan seseorang tapi Drey belum berani mengatakannya pada mama.]
[Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kau menikah tanpa sepengetahuan mama!]
[Maaf ma.]
[Kalau begitu cepat kau bawa istrimu pada mama!]
[Satu minggu lagi akan kubawa pulang ma.]
[Memangnya kenapa harus satu minggu?]
[Karena dia sedang bed rest di rumah sakit, dia sedang hamil anak Drey ma.]
[APAAAAA DASAARRR ANAKKK KURANG AJARRRRR]
Drey kemudian menutup teleponnya. "Astaga, kenapa aku harus mengatakan semua itu pada mama, aku tadi benar-benar terpojok saat mendengar nama Chyntia." kata Drey sambil mengusap kasar wajahnya.
Perlahan dia pun mendekat pada Rima.
"Rima." panggil Drey.
"Ya, kenapa?"
"Emmm.. E..."
"Kenapa Drey?" tanya Rima sambil mengerutkan keningnya.
"Ri.. Rima.. Maukah kau berpura-pura jadi istriku?"
__ADS_1