
TETTT TEEEETT
Aini bergegas menuju ke arah pintu saat mendengar bel yang berbunyi, namun begitu terkejutnya Aini saat membukakan pintu tersebut dan melihat beberapa orang polisi yang berdiri di depannya.
"Selamat siang."
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Benar ini rumah saudara Roy?"
"Benar Pak, saya Aini istrinya."
"Oh jadi anda istri saudara Roy?"
"Iya Pak, silahkan masuk." jawab Aini kemudian mempersilahkan polisi tersebut masuk ke dalam rumah.
"Ada yang bisa saya bantu Pak Polisi?"
"Begini saudara Aini, ini berhubungan dengan kecelakaan beruntun beberapa bulan lalu yang melibatkan saudara Roy dan almarhum mantan istrinya."
"Oh iya bagaimana Pak?"
"Begini saudara Aini, menurut penyelidikan kami selama beberapa bulan terakhir mengenai penyelidikan kendaraan yang digunakan oleh Roy dan almarhum Diana, jika tidak ada kerusakan mesin pada mobil yang dipakai oleh mereka berdua, jadi kecelakaan tersebut benar-benar merupakan human error dari Almarhum Diana yang mengendarai mobil tersebut."
"A.. Apa maksud Bapak?"
"Begini saudara Aini, kesimpulan dari penyelidikan kami jika almarhum Diana lah tersangka dari kecelakaan beruntun tersebut, namun saudara Diana juga telah meninggal jadi kami tidak bisa memproses penyelidikan ini lebih lanjut."
"Ma.. Maksud Pak Polisi, penyebab kecelakaan beruntun itu adalah kendaraan milik suami saya?"
"Iya anda benar, Nyonya Aini. Dan saat itu yang mengemudikan mobil tersebut adalah almarhum mantan istri suami anda, ini hasil penyelidikan tersebut, tolong diterima." kata polisi tersebut sambil menyerahkan sebuah berkas pada Aini.
Aini pun menerima berkas tersebut dengan tangan yang bergetar. "Astaga." kata Aini sambil menutup mulutnya, air mata pun mulai menetes membasahi wajahnya.
"Saudara Aini, kami permisi dulu."
"Oh.. O.. Iya Pak Polisi." jawab Aini. Dia kemudian menatap beberapa lembar berkas yang ada di tangannya.
"Astaga, jadi penyebab kecelakaan ini adalah Mas Roy? Kenapa mas? Kenapa kau tidak pernah mengatakan semua ini padaku?" kata Aini sambil terisak.
🥀🥀🥀🥀🥀
"Dokter Vallen, apa anda sudah gila? Kenapa sejak tadi anda tersenyum terus menerus sambil menatap ke atas? Apa yang anda pikirkan sebenarnya?"
"Hani lancang sekali kau berkata seperti itu padaku? Aku tidak gila, aku masih sangat waras Hani."
"Tapi kenapa sejak tadi anda tersenyum terus menerus? Apakah anda begitu tergila-gila pada pangeran bermotor anda?"
"Bukankah sudah sering kukatakan jika itu bukan urusanmu, Hani?"
__ADS_1
"Tapi jika anda benar-benar gila saya yang repot dokter." jawab Hani sambil terkekeh.
"Ah sudahlah, aku tidak mau berbicara lama-lama denganmu, nanti aku benar-benar bisa jadi gila." gerutu Vallen. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Anda mau pulang, Dokter? Apakah pangeran anda sudah menjemput anda?"
"Belum, dia belum menjemputku. Aku mau pergi mengecek keadaan Amanda. Aku akan mengecek jahitan di perutnya."
"Oh, pasien koma itu?"
"Ya."
"Tampaknya anda dan Dokter David sangat memperhatikan dirinya, apa dia begitu istimewa bagi kalian?"
"Hani, tidak usah ikut campur." kata Vallen sambil berjalan keluar dari ruangannya. Namun saat Vallen akan menutup pintu tersebut, tiba-tiba Hani memanggilnya kembali.
"Dokter."
"Ada apa lagi?"
"Kenapa cara anda berjalan hari ini sangat aneh?" kata Hani sambil mengerutkan keningnya.
"HANIIII ITU BUKAN URUSANMU!!!" teriak Vallen kemudian pergi dari ruangan tersebut.
"Jangan-jangan Dokter Vallen sudah melakukan hal itu dengan pangeran bermotornya." kata Hani sambil terkekeh.
Vallen kemudian berjalan ke ruang perawatan Amanda, dia lalu masuk ke dalam ruangan itu lalu mengecek keadaan Amanda, setelah selesai mengeceknya dia lalu menatap Amanda.
"Oh Firman."
[Halo Firman.]
[Sayang, aku sudah di depan.]
[Iya tunggu aku sebentar.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan telepon itu.
Namun baru saja dia membuka pintu kamar itu tiba-tiba Abimana sudah berdiri di depannya.
"Selamat sore, Dokter Vallen."
"Selamat sore Tuan Abimana, anda mau menjenguk istri anda?"
"Tidak, saya sudah menjenguknya tadi. Anda mau pulang Dokter Vallen?"
"Ya."
"Mau saya antar?"
"Oh tidak usah karena sudah ada yang menjemput saya di depan, permisi Tuan Abimana." kata Vallen kemudian berjalan meninggalkan Abimana.
__ADS_1
"Dokter Vallen, kau memang begitu cantik dan menggairahkan, semua orang pasti sangat tertarik pada kecantikanmu, tapi sayangnya kau begitu sombong! Lihat saja, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut padaku." kata Abimana sambil menatap Vallen yang kini berjalan menjauhinya.
"Ah lebih baik aku ikuti saja dia, aku penasaran siapa yang menjemputnya." kata Abimana kemudian berjalan di belakang Vallen.
Sementara Firman yang sedang menunggu Vallen tampak sedang duduk di atas kap mobil sambil memainkan ponselnya.
"FIRMANNNN!!" teriak Vallen kemudian memeluknya.
"Kenapa kau tidak memelukku dengan pelukan manjamu sambil mengangkat tubuhmu?"
"Sakit." kata Vallen sambil terkekeh.
"Hahahaha." Firman pun ikut tertawa.
"Aku begitu merindukanmu." kata Vallen sambil memeluk Firman dan bersandar di dadanya.
"Istriku yang aneh, kita baru berpisah beberapa jam saja tapi kau selalu bertingkah seperti sudah berpisah selama bertahun-tahun."
"Memangnya aku tidak boleh bertingkah seperti ini? Seharusnya kau bahagia memiliki istri yang begitu setia sepertiku." gerutu Vallen sambil memonyongkan bibirnya. Firman kemudian menatap Vallen yang masih memonyongkan bibirnya lalu mengecup bibir tersebut.
"Hahahaha... Hahahaha." seketika Vallen pun tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa?"
"Suamiku memang sangat nakal, kau menciumku di tempat umum seperti ini, jika Kak David melihatnya dia akan berteriak seperti singa."
"Biarkan saja, lebih baik sekarang kita pulang. Hari ini aku sangat lelah, kita makan malam di apartemen saja ya."
"Maksudmu kau menyuruhku untuk memasak?"
"Tentu saja tidak, bukankah kita bisa memesan makanan?"
"Hahahaha, kau memang benar-benar suami yang baik, kau tahu jika aku tidak bisa memasak."
"Apa yang tidak kutahu darimu, meskipun kita belum lama mengenal tapi aku tahu semua tentangmu."
"Hahahaha terimakasih sayang, sekarang ayo kita pulang lalu lakukan tugasmu."
"Tugas?" kata Firman sambil mengerutkan keningnya.
"Iya tugasmu."
"Memang apa tugasku?"
"Menghamiliku, hahahaha. Ayo, kau harus bisa membuatku hamil."
"Hahahaha, baiklah." jawab Firman kemudian menarik Vallen masuk ke dalam mobil.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengamati mereka berdua.
__ADS_1
"Firman? Firman dan Dokter Vallen? Jadi yang menjemput Dokter Vallen adalah Firman? Kenapa dia begitu mesra dengan Dokter Vallen? Mereka bahkan berpelukan dan berciuman, apakah mereka sepasang kekasih?"
"Oh tidak, Firman memang benar-benar menyebalkan, dia tiba-tiba menjadi manager di perusahaanku lalu dia juga ternyata kekasih Dokter Vallen?? BRENGSEK!!! Nasibnya benar-benar sangat beruntung." kata Abimana sambil menatap Vallen dan Firman yang kini sudah menaiki mobil mereka.