
Risma tersenyum saat mengintip dari pintu ruang perawatan melihat Rima dan Drey yang sedang bercanda sesekali diiringi gelak tawa dari keduanya.
"Aku dulu juga sepertimu Rima, aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang dibuang di panti asuhan karena keluargaku tidak ada yang mau merawatku. Memang itu bukan hal yang mudah, aku harus membangun kepercayaan dan mentalku sendirian dalam menghadapi kehidupan ini, dan aku ingin kau menjadi wanita yang kuat sepertiku, Rima. Itulah sebabnya aku begitu menyayangimu, aku sudah menganggapmu sebagai putriku." kata Risma sambil tersenyum. Dia kemudian masuk ke ruang perawatan Drey.
"Mama." kata Rima dan Drey bersamaan.
"Apa aku mengganggu kalian?"
"Tidak ma, kami hanya sedang mengobrol." jawab Rima.
"Sepertinya hubungan kalian jauh lebih baik dibandingkan dengan saat Drey mengenalkan Rima sebagai istrimu, dulu kalian terlihat tidak akrab dan sangat kaku, sangat berbeda dengan sekarang."
Drey dan Rima pun tersenyum. Drey kemudian melirik pada Rima yang tersipu malu.
"Kenapa kalian sepertinya tampak malu-malu? Apakah ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari mama? Ataukah sebenarnya kalian pernah membohongi mama?"
"Tidak ma!" teriak Drey dan Rima secara bersamaan yang membuat Risma terkekeh melihat tingkah mereka.
'Baru kuledek begitu saja sudah panik.' gumam Risma dalam hati.
"Rima, ini sudah malam mama pulang dulu ya, besok pagi mama kesini lagi." kata Risma.
"Iya ma, hati-hati di jalan." kata Rima yang kini duduk di samping Drey.
Melihat Risma yang sudah keluar dari ruang perawatannya Drey pun kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Rima.
"Naiklah ke atas ranjang ini, malam ini aku ingin tidur di sampingmu." bisik Drey yang membuat Rima tersipu malu.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Ma, apa mama lapar? Mama mau makan apa ma biar Giselle belikan."
Namun Santi hanya terdiam dan memandang Giselle dengan tatapan kosong.
"Ma." panggil Giselle lagi.
"Mama kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing."
"Lebih baik mama istirahat saja, mama mau kubelikan makanan apa?"
"Apa saja, terserah kamu."
"Iya ma. Giselle pergi dulu ke kantin ya."
Santi pun kemudian mengangguk. 'Haruskah aku menerima dia sebagai menantuku dengan lapang dada? Kenapa rasanya sulit sekali karena dia sangat jauh dari yang kubayangkan.' gumam Santi sambil menatap Giselle yang keluar dari ruang UGD.
Beberapa saat kemudian, Giselle pun masuk ke dalam ruangan itu lagi lalu mulai membuka makanan yang dibelinya kemudian menyuapkannya pada Santi.
"Terimakasih sudah mau merawatku." kata Santi setelah menyelesaikan makannya.
__ADS_1
"Iya ma."
"Apa kau membenciku?"
"Tidak."
"Kenapa? Bukankah kau tahu aku sangat membencimu?"
"Karena mama adalah orang tua Revan, laki-laki yang sangat kucintai."
"Apa kau benar-benar tulus mencintaiku putraku?"
"Ya, aku sangat amat mencintainya."
"Meskipun putraku tidak memiliki harta yang banyak apakah kau masih mau mencintainya?"
"Ya, meskipun dia tidak memiliki apapun aku akan selalu mencintai Revan."
"Apa alasanmu mencintai putraku?"
"Karena hanya dia yang mau menerimakku dengan segala kekurangan dan masa laluku. Saat awal menikah dengan Revan adalah masa-masa yang begitu berat dalam hidupku, kami disatukan dalam ikatan pernikahan tanpa cinta, keadaan yang mempersatukan kami. Revan masih mencintai Stella sedangkan aku belum bisa sepenuhnya melupakan Leo."
"Ja.. Jadi, apa yang sebenarnya telah terjadi pada kalian berdua? Bukankah kau yang selama ini mendekati putraku?"
"Tidak, kami disatukan karena keadaan akibat sebuah kesalahan yang dilakukan kami berdua ma."
Santi pun kemudian terdiam.
Giselle lalu mengambil nafas panjang.
"Maafkan Giselle ma, karena kehadiran Giselle mama tidak bisa mendapatkan menantu seperti yang mama inginkan tapi kami tak kuasa menolak takdir."
Santi pun masih terdiam. "Beri aku waktu, aku akan berusaha menerimamu sebagai menantuku. Tolong maafkan semua sikapmu padamu. Jika kau ingin mengadukan semua sikapku pada papa dan Revan, lakukan saja."
"Tidak ma, hal ini cukup untuk menjadi rahasia kita berdua saja, aku tidak ingin semakin memperpanjang masalah jika mereka tahu semua ini. Biarkan mereka tahu jika hubungan kita baik-baik saja dan tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kita berdua."
Mendengar perkataan Giselle, Santi pun meneteskan air matanya. "Terimakasih Giselle, terimakasih. Sekali lagi tolong maafkan mama. Selama ini mama belum pernah bersikap bijak dalam memahami semua ini, mama sudah begitu egois dan memandang sesuatu hal dari sudut pandang mama saja tanpa memikirkan perasaan kalian berdua." kata Santi sambil terisak.
"Iya ma." jawab Giselle kemudian menggenggam tangan Santi.
Santi pun kemudian mendekatkan tubuhnya pada Giselle lalu memeluknya hingga mereka larut dalam suasana haru disertai tangisan diantara keduanya.
"Aku ingin pulang, bisakah kau mengatakan pada salah satu teman doktermu untuk memperbolehkanku pulang secepatnya?" kata Santi setelah melepaskan pelukannya.
"Iya, tapi lebih baik mama sekarang istirahat terlebih dulu, ini sudah malam. Besok pagi Giselle akan bicarakan dengan David."
"Lalu kau tidur dimana? Kau sedang hamil Giselle, kau juga harus banyak istirahat. Lebih baik sekarang kau pulang dan suruh Bi Cici saja yang menunggu mama."
"Apa mama tidak apa-apa jika harus Giselle tinggal?"
"Tidak apa-apa, ingat kau harus menjaga kandunganmu, mama tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan jika kau memaksakan dirimu untuk merawat mama."
__ADS_1
"Iya ma, Giselle pulang sekarang. Besok pagi Giselle kesini lagi."
"Iya hati-hati di jalan." kata Santi kemudian merebahkan tubuhnya.
Giselle pun mengangguk kemudian keluar dari ruangan itu. Namun saat tengah berjalan di lorong rumah sakit, tiba-tiba Giselle berpapasan dengan salah seorang korban kecelakaan, seorang wanita hamil yang masih terlihat muda dengan luka di perutnya.
'Astaga, keadaannya memprihatinkan sekali.' gumam Giselle sambil mengelus perutnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Calista masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit terburu-buru.
'Semoga Leo tidak marah karena hari ini aku tidak di rumah sampai membiarkan Nathan dan Nala diasuh oleh baby sitternya selama seharian.' gumam Calista dalam hati.
Dia lalu membuka pintu kamarnya. 'Sepi.' gumam Calista.
Dia lalu menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Namun baru saja Calista menutup pintu kamarnya tiba-tiba seseorang sudah mendekapnya dari belakang.
"Kau darimana saja sayang? Kau biarkan aku menunggumu terlalu lama di rumah." kata Leo sambil menciumi tengkuk dan leher Calista.
"Aku baru saja menjadi superhero." jawab Calista.
"Superhero?" tanya Leo sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, ceritanya panjang, nanti kuceritakan, aku mau mandi dulu."
"Aku temani, aku juga belum mandi." kata Leo sambil tersenyum jahil.
"Ya.. Ya.." jawab Calista, kemudian mereka pun berjalan ke arah kamar mandi, namun saat itu juga terdengar suara nada panggilan dari ponsel Calista.
"Aku angkat teleponnya dulu Leo."
"Ya."
Calista kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.
"Dari siapa?" tanya Leo.
"Olivia." jawab Calista sambil mengerutkan keningnya.
"Leo ternyata Olivia sudah berkali-kali menghubungiku."
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Entahlah." jawab Calista kemudian mengangkat panggilan dari Olivia.
Note: Othor ngucapin makasih banyak buat para pembaca yang tetep setia mampir ke cerita othor, tapi maaf othor ga bisa update banyak dalam satu hari karena di Noveltoon ini othor ngerjain 2 novel yang on going jadi othor harus adil, selain itu othor juga punya banyak bocil yang harus diurus jadi setiap hari jadi othor harus bisa bagi waktu biar kehandle semua.
Bagi yang masih mau memahami othor, othor ucapkan terimakasih banyak, bagi yang udah ga suka karena nunggu othor kelamaan di skip aja gapapa 🤭😉✌️
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, love you dear 😘❤️
__ADS_1