
Beberapa saat kemudian Olivia pun mengangkat panggilan dari Calista.
[Halo Kak, apa kakak sudah bisa menghubungi David?]
[Belum Olive, tapi aku mendapat kabar dari Giselle jika di rumah sakit tempat David bekerja, Giselle melihat ada seorang wanita hamil yang masih muda dan mengalami kecelakaan.]
[ASTAGA!!]
[Olive, bagaimana jika kau ke sana terlebih dulu, aku sedang ada urusan, nanti aku menyusul.]
[Iya Kak.] kata Olivia kemudian menutup teleponnya.
"Kenan, ayo kita pergi sekarang."
"Kemana?"
"Ke rumah sakit tempat David bekerja, tapi kita ke rumah Laras terlebih dulu."
"Apa Calista sudah menemukan Aini?"
"Mungkin, dan kita harus memastikannya."
"Ayo kita pergi sekarang." kata Kenan.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Olivia dan Laras tampak begitu panik masuk ke dalam ruang UGD, sedangkan Kenan berjalan di belakang mereka dengan sedikit tenang.
"Suster, apa ada seorang pasien wanita mudah yang sedang hamil yang menjadi korban kecelakaan beruntun tadi siang?"
"Ya, namanya saudara Aini."
"Benar." jawab Laras.
"Saudara Aini saat ini sedang ditangani oleh dokter, dokter memutuskan untuk mengoperasi sesar saudara Aini karena bayi yang ada di dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan." kata suster tersebut.
"ASTAGA." kata Olivia dan Laras secara bersamaan.
"Bisakah anda mengantar kami ke ruang operasi sesar tersebut?" kata Olivia
"Tentu mari saya antar." kata suster tersebut.
"Ayo Kenan." kata Olivia pada Kenan yang duduk di depan ruang UGD.
Mereka lalu berjalan mengikuti suster tersebut ke depan ruang operasi.
"Kalian bisa menunggunya disini sampai operasi sesarnya selesai."
__ADS_1
"Baik suster, terimakasih." jawab Laras.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi pun terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari ruang operasi tersebut.
"Dok bagaimana keadaan adik saya?" tanya Laras pada dokter tersebut.
"Emh begini, tadi keadaan adik anda sangat memprihatikan karena perutnya mengalami robekan akibat pecahan kaca. Selain itu tubuhnya juga penuh luka. Sangat beresiko untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Jadi kami memutuskan untuk mengoperasi saudara Aini, tapi sayangnya bayinya tidak bisa diselamatkan. Kami minta maaf yang sebesar-besarnya."
Mendengar penjelasan dokter, Laras pun kemudian menangis tersedu-sedu.
"Lalu bagaimana keadaan Aini dok?"
"Saudara Aini tidak memiliki luka dalam yang parah, dia hanya mengalami luka lecet dan robekan bagian perut yang sudah kami tangani. Kondisinya baik-baik saja, tinggal mengalami masa penyembuhan saja. Tapi ada sesuatu yang saya khawatirkan."
"Apa dok?"
"Luka di bagian perutnya akibat robekan itu, akibat luka itu kemungkinan Aini untuk bisa hamil sangat kecil." kata dokter tersebut dengan raut wajah yang sedikit murung.
Mendengar perkataan dokter tersebut sontak Laras pun begitu terpukul. "Tidak, ini tidak mungkin."
"Maafkan saya Nyonya, tapi inilah kenyataannya. Namun semua kemungkinan masih bisa terjadi, kita berdoa saja semoga kelak saudara Aini masih bisa hamil."
"Iya dok." jawab Olivia dengan begitu lemas.
"Baik dok."
"Saya permisi dulu."
"Iya dok, terimakasih."
Olivia lalu menghampiri Laras yang kini terduduk di lantai.
"Laras tabahkan hatimu. Kau harus tegar untuk bisa menguatkan Aini."
"Iya Mba Olive, Laras cuma tidak menyangka jika nasib Aini akan seperti ini. Dia diperkosa, lalu menikah secara terpaksa kemudian bayinya meninggal dan ada masalah di rahimnya." jawab Laras sambil terisak.
"Mba, Laras tidak tahu bagaimana kehidupan Aini setelah kejadian ini, dia anak yang tertutup. Laras takut jika semua yang dia alami akan membuatnya terpuruk." kata Laras dengan raut wajah cemas.
"Laras, meskipun pahit tapi ini adalah takdir yang harus Aini jalani, ini sudah jalan hidup dari Tuhan dan kita tidak bisa menghindar dari takdir ini. Yang terpenting saat ini adalah menjalani dengan ikhlas dan sabar, dan kau harus yakin pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian."
"Iya Mba."
Di saat itulah sebuah brankar yang membawa Aini keluar dari ruang operasi.
"Laras sebaiknya kau temani Aini, kau harus menjelaskan semua kejadian yang dia alami secara perlahan karena aku yakin kondisi psikisnya juga pasti sedang tidak sehat."
__ADS_1
"Iya Mba Olive."
"Aku dan Kenan akan mengurus jenazah bayi Aini terlebih dahulu ke ruang jenazah."
"Iya Mba."
"Ayo Kenan, kita pergi ke ruang jenazah." kata Olivia.
"Kasihan sekali Aini." kata Kenan saat berjalan ke ruang jenazah.
"Ya, padahal dia anak yang sangat manis dan cantik. Dia juga selalu menjaga pergaulannya. Namun memang salah seorang anak laki-laki di kampungnya yang merupakan anak dari seorang tuan tanah yang sangat terpandang sudah sangat menyukainya dari dulu, meskipun Aini sudah berulangkali menolaknya, tapi penolakan Aini menjadi bumerang baginya karena dia malah memperkosa Aini."
"Dasar laki-laki bajingan!" umpat Kenan.
"Iya Kenan saat mendengar tentang Aini aku pun begitu marah, tapi keluarga orang tua Laras tidak bisa berbuat banyak karena mereka orang yang sangat terpandang."
"Selama di Jakarta, kita harus bisa menjaga Aini, Olive."
"Iya Kenan, aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu."
Saat mereka sudah sampai di depan ruang jenazah, tiba-tiba mata Kenan tertuju pada sosok laki-laki yang sedang menangis di depan ruang jenazah tersebut.
"Olive, sepertinya laki-laki itu tidak asing bagiku. Aku sepertinya mengenali orang itu, aku pergi ke sana sebentar, kau tidak apa-apa kan mengurus jenazah itu sendirian?"
"Tidak apa-apa, Kenan. Kau kesana saja, sepertinya dia sangat terpukul." Perlahan, Kenan pun mulai mendekat pada laki-laki ini yang kini sedang menangis sambil menjambak rambutnya, tubuh laki-laki itu pun penuh luka.
"Roy, benarkah itu kamu?" tanya Kenan pada laki-laki itu.
Laki-laki yang sedang menangis itu pun kemudian mengangkat wajahnya.
"Roy apa yang sedang terjadi? Kenapa kau menangis disini?"
Mendengar perkataan Kenan, Roy pun terdiam.
"Roy, tenangkan dirimu." kata Kenan sambil mengusap bahu Roy.
"Bagaimana aku bisa tenang, Kenan. Istriku meninggal dalam kecelakaan." kata Roy sambil terisak.
"Istrimu meninggal?"
Roy pun kemudian mengangguk sambil terisak.
"Apakah kalian juga salah satu korban dalam kecelakaan beruntun tadi siang?" tanya Kenan dengan sedikit berhati-hati.
"Kenan, akulah penyebab kecelakaan beruntun tadi siang." kata Roy dengan sangat lirih sambil memejamkan matanya.
__ADS_1