
Laras membuka pintu rumah dengan sangat hati-hati. 'Loh, kok lampunya masih nyala,' batin Laras. Dengan langkah pelan akhirnya dia masuk ke dalam rumah. Tampak Kenan, Olivia, dan Calista tengah asyik bercanda.
"Laras, kau dari mana saja? Kata Kenan kau sudah pulang dari tadi?" tanya Calista.
"Laras tadi main dulu ke rumah teman."
"Teman? Kamu punya teman di sini?"
"Iya, teman kantor."
"Oh," jawab Calista dengan tatapan tajam pada Laras.
"Olive, besok Laras pinjem mobilnya lagi, boleh atau tidak?"
Calista dan Kenan langsung melotot mendengar perkataan Laras. "Olive, bagaimana?" tanya Laras dengan tatapan memelas, melihat tatapan mata sayu itu, Olivia pun tak tega.
"Ya sudah boleh, kamu boleh bawa mobil aku lagi," jawab Olivia, meskipun dengan sedikit ragu-ragu, karena dia pun yakin pasti Kenan dan Calista tidak akan setuju.
"OLIVE!" teriak Kenan dan Calista bersamaan.
"Ok terima kasih Olive, Laras masuk kamar dulu," pamit Laras sambil tersenyum lalu masuk ke dalam kamar.
"Olive, kan udah aku bilang dari tadi ga boleh terlalu baik ke orang lain," tegur Calista dengan begitu gemas.
"Olive tidak tega lihat muka Laras, kasihan kalau harus naik taksi," Olivia sambil tersenyum getir.
***
Giselle keluar dari kamar perawatan dengan sedikit tergesa-gesa. "Aku harus hati-hati, Leo punya banyak mata-mata, jangan sampai ada yang tahu aku di rumah sakit ini," kata Giselle sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Aman," ujar Giselle kembali. Dia kemudian berjalan dengan sedikit berlari. Saat berjalan menuju pintu keluar tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.
"Awwwww!" teriak wanita yang ada di depannya.
"Kamu kalau jalan hati-hati, punya mata apa tidak sih!" bentak Giselle.
"Bukannya kamu yang nabrak saya? Saya lagi jalan tiba-tiba kamu nabrak saya, dari tadi kamu jalan sambil nengok kanan kiri terus seperti lagi dikejar-kejar orang."
"Lancang, asal tuduh aja. Perut saya lagi sakit, saya habis keguguran makanya nengok kanan kiri terus."
"Apa hubungannya, keguguran sama nengok kanan kiri?"
"Sudah, saya banyak urusan, males ngomong sama kamu cuma buang-buang waktu!" kata Giselle sambil berjalan pergi.
"Olive, kamu lagi ngapain sama perempuan itu?" tanya Kenan.
"Itu, dia tadi udah nabrak aku malah marah-marah sendiri. Pake alesan keguguran lagi," jawab Olivia.
"Tapi kamu tidak ada yang luka kan, Sayang?"
__ADS_1
"Tidak, cuma kaget saja."
"Ya sudah kita ke ruang dokter saja. Aku sudah tidak sabar lihat anak kita yang ada di dalam perutmu," sambung Kenan dengan tatapan jahil pada Olivia.
***
Giselle masuk ke dalam rumah dengan sedikit perasaan takut dan ragu-ragu. Tentunya dia takut jika Leo akan bertanya hal yang tidak-tidak padanya karena dia tidak pulang selama beberapa hari.
"Nyonya Giselle," panggil seorang pembantu.
"Bi Asih, kenapa sepi, pada kemana?"
"Sejak malam itu, Tuan Leo dan Nyonya Calista belum pulang ke rumah, Pak Asep bilang kalau mereka berdua sekarang di rumah orang tua Nyonya Calista. Kemarin Pak Asep disuruh mengantarkan berkas Tuan Leo yang tertinggal."
"Oh ya sudah terima kasih banyak Bi, saya masuk ke kamar dulu," kata Giselle.
'Oh, bagus jadi sejak malam itu mereka belum pulang ke rumah? Jadi posisiku aman saat ini, mereka tidak tahu jika aku juga sudah dua hari meninggalkan rumah,' batin Giselle. Kemudian dia menghubungi nomor Leo, tapi panggilannya tidak mendapat jawaban dari Leo. Giselle lalu mendengus kesal kemudian masuk ke dalam kamar.
"Suamiku memang sangat menyebalkan!"
***
"Siapa Leo?" tanya Frans.
"Giselle," jawab Leo
"Sudah dua hari ini dia tidak menghubungiku, malam itu dia mengatakan ingin pergi meninggalkan aku dan Calista. Kupikir ini akan menjadi kenyataan dan kami akan bisa hidup tenang, tapi ternyata dia masih saja menggangguku."
Ponsel Leo kemudian bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Leo lalu membuka pesan itu. "Lihat Frans, sekarang dia mengatakan jika dia sudah kembali ke rumah kami."
"Hahahaha..., dia takut anaknya tidak mendapatkan pengakuan darimu Leo."
"Ada satu yang lebih penting Frans."
"Apa itu?"
"Dia takut kehilangan kemewahan yang kuberikan. Hahahaha...."
"Hahahaha... Lalu bagaimana dengan Ramon?"
"Dia sudah tidak berani menampakkan batang hidungnya di depanku Frans, tapi lihat saja aku tetap akan melakukan perhitungan dengannya karena sudah berani mengusik hidupku."
"Bagus, kau memang harus memberinya pelajaran, Leo."
"Tentu saja, dan aku sudah mengirimkan mata-mata untuk selalu mengawasinya."
***
Laras menunggu Ramon di sebuah cafe dengan jantung yang berdegup kencang. Berulangkali dia merapikan tatanan rambutnya dan riasan di wajahnya. 'Sempurna,' batin Laras saat melihat wajahnya di pantulan cermin.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dia melihat sebuah mobil mewah memasuki area parkir. "Itu pasti Ramon, mobilnya bagus banget, pasti dia benar-benar kaya. Mungkin jauh lebih kaya dibandingkan Leo, suami Calista yang sombong itu. Lihat saja akan kuinjak-injak harga diri Calista saat aku sudah menjadi istri Ramon," kata Laras sambil terkekeh.
"Selamat sore cantik," sapa Ramon saat ada di hadapan Laras.
"Eh.. Ramon."
"Kamu sedang melamun Laras?"
"Tidak, cuma liatin burung lagi pada terbang," kata Laras sambil tersipu malu.
"Burung? Dimana ada burung?"
"Oh itu tadi lewat, lupakan saja Ramon, silahkan duduk, kau mau pesan apa?"
'Dia sudah menawarkanku makanan? Bagus, biar wanita ini saja yang membayar tagihan kami,' batin Ramon.
Setelah memesan makanan, Ramon lalu duduk mendekat pada Laras. "Kamu cantik banget hari ini Laras."
Laras pun tersipu malu. "Kamu bisa saja," jawab Laras. Ramon lalu membelai rambut Laras dan menaruh beberapa helai rambut yang terlihat berantakan ke bagian belakang telinganya yang semakin membuat jantung Laras berdegup dengan kencang.
"Permisi ini pesanannya," kata seorang pelayan yang membuat mereka kaget.
"Mari kita makan dulu Ramon."
Saat hari sudah terlihat gelap, Laras dan Ramon pun berniat untuk pulang dan meninggalkan cafe tersebut.
"Aku pulang dulu ya Ramon," pamit Laras sambil berdiri.
'Brengsek, jadi aku yang harus membayar bill di cafe ini?' gumam Ramon.
"Ooooh iya, hati-hati Laras," jawab Ramon sambil tersenyum kecut membayangkan tagihan yang akan dibayarnya.
"Tidak apa-apa, anggap saja ini untuk mengambil hatinya terlebih dahulu," kata Ramon sambil melihat bill yang dibawakan pelayan. Matanya langsung melotot tajam saat melihat tagihan di bill yang ada di tangannya.
"Beneran sebanyak ini tagihannya?"
"Iya itu sudah benar Tuan, memang itu jumlah tagihannya."
'BRENGSEK!' kata Ramon dalam hati saat melihat angka tiga juta tertera di bill itu.
***
Leo berjalan masuk ke dalam kamar Calista. "Sayang," kata Leo sambil membelai rambut Calista.
"Kamu sudah pulang?"
Leo lalu mengangguk, kemudian duduk di depan Calista sambil menggenggam tangannya. "Sayang bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Tentu," jawab Calista dengan sedikit takut karena melihat Leo yang kini terlihat begitu serius.
__ADS_1