Salah Kamar

Salah Kamar
Teka Teki


__ADS_3

"Kau sendiri yang sudah mengibarkan bendera peperangan denganku, baik sekarang aku akan memulai semua ini." kata Santi kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya. Dia lalu bergegas keluar dari rumahnya lalu menaiki mobilnya.


Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di sebuah rumah minimalis berwarna abu-abu dengan pekarangan yang tidak terlalu luas. "Jika aku tidak sedang memiliki rencana untuk menyingkirkan Giselle, aku tidak akan pernah mau datang ke rumah kumuh ini " gerutu Santi saat keluar dari mobilnya.


TOK TOK TOK


Santi pun mengetuk rumah tersebut, dan beberapa saat kemudian terlihat seorang wanita paruh baya seusianya yang membuka rumah tersebut.


"Eh Ibu Santi." kata wanita tersebut dengan raut wajah begitu bahagia saat melihat kedatangan besannya.


Santi pun mencoba tersenyum meskipun dengan sedikit terpaksa. "Emh tadi saya lewat sekitar sini jadi saya mampir sebentar." kata Santi sambil tersenyum.


"Oh iya mari silahkan masuk." kata mama Giselle mempersilahkan Santi masuk ke dalam rumahnya.


'Pengab sekali rumah ini, tidak ada AC nya.' gerutu Santi dalam hati sambil melihat sekeliling rumah.


'Bahkan tidak ada barang mewah di rumah ini, sungguh sangat memalukan memiliki besan seperti dia.' gumam Santi lagi.


"Saya tinggal sebentar ya Bu Santi, saya buatkan minum terlebih dulu."


"Oh.. Tidak usah, mama Giselle, saya datang ke sini hanya untuk memberikan ini." kata Santi sambil memberikan beberapa kotak kue.


'Enak saja dia mau memberikan aku air minum, bisa-bisa tenggorokanku gatal kalau meminum air di tempat seperti ini.' gumam Santi dalam hati.


"Begini Mama Giselle, saya tadi ke toko roti di dekat sini, jadi saya berfikir sekalian membelikannya untuk mama Giselle."


"Alhamdulillah, anda baik sekali Bu Santi. Giselle sangatlah beruntung memiliki mertua seperti anda." kata mama Giselle.


"Ya tentu saja, karena sebelumnya dia tidak memiliki mertua karena orang tuanya sudah meninggal." kata Santi sambil tersenyum. Mama Giselle pun sedikit terkejut mendengar kata-kata Santi.


"Mama Giselle, saya permisi pamit pulang dulu ya. Saat ini Giselle sedang hamil besar, saya tidak tega meninggalkan Giselle terlalu lama."


"Oh iya silahkan Bu Santi, hati-hati di jalan. Sampaikan salam saya untuk Giselle."


"Iya, mari saya permisi dulu." kata Santi kemudian berjalan ke dalam mobilnya.


"Ayo Pak jalan, jangan lama-lama disini, bikin gatel." kata Santi pada supirnya sambil mengibas-ibaskan bajunya sambil sesekali menyemprotkan hand sanitizer.


"Pasti banyak kuman di dalam." gerutu Santi.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Kau kenapa? Sejak tadi terlihat sering termenung, Revan. Apa sesuatu telah terjadi padamu?" tanya Farhan pada Revan saat di kantor.


"Pa, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati Revan."

__ADS_1


"Sesuatu yang mengganjal? Apa itu?" tanya Farhan.


"Revan sebenarnya sedikit curiga akan sikap mama."


"Sikap mama? Memangnya ada apa dengan mama?"


"Pa, beberapa hari ini mama terlihat begitu ngotot meminta Revan untuk ke rumah Tante Resti, sebenarnya apa tujuan mama sebenarnya?"


"Mungkin hanya perasaanmu saja Revan, kau tahu sendiri kan mama memang suka memaksa." kata Farhan sambil terkekeh.


"Tapi tidak hanya itu keanehan yang Revan rasakan."


"Apa maksudmu Revan?"


"Sikap Giselle pa."


"Memangnya ada apa dengan Giselle?"


"Revan sebenarnya sedikit curiga saat Revan baru pulang dari Kalimantan dan melihat Giselle yang terlihat sedikit murung, karena itulah Revan menanyakan pada Giselle tentang sikap mama padanya."


"Lalu apa jawaban Giselle?"


"Dia memberikan jawaban yang ambigu pa, itulah yang membuatku bingung."


"Entahlah."


"Mungkin kita harus mencari tahu, Revan."


"Iya, Revan juga berfikir seperti itu. Revan ingin tahu apakah sebenarnya ada sesuatu yang Giselle dan mama sembunyikan."


"Iya Revan, sebenarnya papa ingin keluarga kita bisa hidup tenang dan damai, karena itulah papa menyuruh kalian untuk tinggal bersama kami lagi. Papa pikir mama juga sudah berubah, tapi jika Giselle mengatakan seperti itu, tentu ini masih menjadi teka-teki tentang sikap mama yang sebenarnya."


"Iya pa."


🍀🍀🍀🍀🍀


Giselle terlihat asyik menatap dirinya dengan perut besarnya di cermin yang ada di depannya. Sesekali dia tertawa saat beberapa kali tendangan di perutnya begitu mengagetkannya.


"Putri kecilku, meskipun kau perempuan ternyata kau sangat lincah di perut mama. Hei, putriku bagaimana kalau sudah besar kau kujodohkan dengan Nathan, sepertinya itu ide yang bagus. Ah.. tidak.. tidak, mama tidak ingin menjodohkanmu karena perjodohan itu tidak selalu berakhir indah, contohnya papamu." kata Giselle sambil mengelus perutnya.


Hingga tiba-tiba suara ponsel mengagetkan dirinya. "Mama." kata Giselle saat melihat seseorang yang menelponnya. Giselle lalu mengangkat panggilan itu.


[Hallo ma.]


[Giselle, bagaimana kabarmu dan anak dalam kandunganmu?]

__ADS_1


[Baik ma. Kami baik-baik saja, Giselle bahkan baru berbicara dengan putri Giselle.]


[Putri?]


[Oh iya, anak yang ada dalam kandungan Giselle perempuan ma dua minggu yang lalu saat Giselle kontrol kehamilan, dokter mengatakan jika anak yang ada dalam kandungan Giselle itu perempuan.]


[Alhamdulillah, mama memiliki cucu perempuan. Tapi yang terpenting saat ini adalah dia sehat.]


[Iya ma.]


[Giselle, sebenarnya ada sesuatu yang mama ingin tanyakan padamu.]


[Iya ma, ada apa?]


[Tadi mama mertuamu datang ke rumah ini.]


DEGGGGG


Jantung Giselle pun seakan berhenti berdetak.


[Oo..Oh ya ma. Lalu ada apa?] tanya Giselle mencoba menenangkan hatinya.


[Kenapa tadi mama mertuamu mengatakan jika sebelumnya kau tidak memiliki mertua karena orang tuanya sudah meninggal. Mama sungguh tidak mengerti bukankah ini pernikahan pertamamu kenapa dia sampai berkata seperti itu?]


[Emhh.. E... Begini maksud Mama Santi, dia tahu saat itu Giselle berpacaran dengan seseorang yang orang tuanya sudah meninggal tapi hubungan Giselle dengan laki-laki itu putus di tengah jalan lalu Giselle bertemu dengan Revan dan menjalin hubungan dengannya. Jika Giselle menikah dengan mantan pacar Giselle tentu Giselle tidak memiliki mertua. Begitu maksud Mama Santi.] Jawab Giselle dengan jantung yang berdegup kencang.


[Hahahaha, kau benar Giselle, kenapa hal seperti itu saja mama tidak mengerti.]


[Eh iya ma.]


[Ya sudah, sekarang kau istirahat saja Giselle, mama mau membersihkan rumah.]


[Iya ma.] kata Giselle kemudian menutup teleponnya.


"Syukurlah mama tidak curiga." kata Giselle sambil mengelus dadanya.


"Jadi, ancaman Mama Santi itu tidak main-main untuk memberitahukan masa laluku pada mama? Bahkan hari ini dia sudah mendatangi rumah mama." kata Giselle lagi dengan raut wajah begitu cemas.


"Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Mama menderita penyakit jantung, jika mama tahu semua ini pasti akan berakibat fatal untuknya. Aku harus memberitahu Revan, ya Revan harus tahu mamanya belum berubah, bukankah tadi malam dia menanyakan padaku tentang sikap mamanya. Nanti sore sepulang dari kantor aku harus memberitahu Revan."


Namun tiba-tiba sebuah teriakkan begitu mengagetkannya.


"GISELLE!!!" teriak sebuah suara.


"Astaga, itu pasti mama sudah pulang."

__ADS_1


__ADS_2