
"Jadi mereka sudah bertemu, Kenan?"
"Mungkin."
"Apakah ini yang disebut dengan jodoh?" tanya Olivia yang membuat Kenan tercengang.
"Olive, ini hanya kebetulan saja. Bukankah Aini masih memiliki suami.
"Ya tapi kau juga tahu kan, dia tidak bahagia dengan pernikahannya."
"Mba Olive sama Mas Kenan lagi ngapain? Kok dari tadi bisik-bisik?" tanya Aini yang membuat Kenan dan Olivia gugup.
"Oh ini Kenan, katanya dia ngantuk." jawab Olivia sambil meringis.
"Kalian kembali ke kamar perawatanku saja. Aku mau disini saja bersama putraku." jawab Aini dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Tidak Aini, kau tidak boleh seperti ini, kau harus memikirkan kesehatanmu, kau baru saja selesai operasi, kau harus banyak beristirahat dan tidak boleh banyak bergerak." kata Olivia sambil membelai rambut Aini.
Namun Aini hanya terdiam.
"Aini kau tidak boleh seperti ini, kau harus jadi wanita yang kuat, tunjukkan kalau kau mampu menghadapi semua ini." kata Kenan.
"Apa untungnya untukku Mas Kenan? Hidupku sudah selesai, aku kini tidak memiliki masa depan. Aku bahkan sudah tidak bisa kembali menjadi wanita yang seutuhnya, aku bukanlah wanita yang sempurna lagi."
"Aini kau tidak boleh seperti itu, apa kau lupa dulu Kak Calista juga sama sepertimu, tapi dia menjalani kehidupannya dengan ikhlas dan menyerahkan semua yang terjadi pada Tuhan. Lalu, kini kau bisa lihat kan bagaimana kehidupan Calista, dia sekarang bisa hidup bahagia setelah melalui berbagai cobaan. Dia memiliki suami yang begitu mencintainya serta dua orang anak yang lucu. Kau tidak boleh menyerah, kau harus bersemangat menjalani hidup serta berdoa pada Tuhan agar diberikan jalan atas semua yang kau alami."
"Tapi kehidupan rumah tanggaku tidak sama dengan Mba Calista, dia dan suaminya saling mencintai sedangkan aku? Aku bahkan tidak pernah sedikitpun memiliki rasa cinta pada suamiku."
"Kenapa kau tidak pernah mencintai suamimu? Bukankah dia kaya dan cukup tampan?"
Aini lalu tersenyum. "Memangnya Mba Olive menikah dengan Mas Kenan karena dia tampan dan kaya?"
"Tentu tidak, aku sudah mencintai Kenan sejak dulu."
"Itulah yang kurasakan Mba, aku dulu pernah mencintai seseorang, aku sudah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun. Namun Dimas suamiku, memfitnahnya agar dia menikahi wanita lain lalu setelah itu dia memperkosaku." kata Aini dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
"Astaga, jahat sekali." kata Olivia sambil menatap Kenan.
"Ya, dia adalah anak orang paling terpandang di desa kami jadi semua yang dia inginkan harus terpenuhi. Dan, itulah alasannya kenapa aku tidak pernah mencintainya, dialah penyebab utama kehancuran hidupku."
Air mata pun mulai mengalir di wajah Aini.
"Aini tenangkan dirimu, kau harus yakin jika pasti ada hikmah dibalik semua ini. Siapa tahu setelah ini kau bertemu dengan jodohmu, jodoh yang sebenarnya, yang mau menerimamu apa adanya." kata Olivia sambil tersenyum.
"Olive, kau ada-ada saja, di saat-saat seperti ini kau malah bicara seperti itu." gerutu Kenan.
"Apa maksud Mba Olive?"
"Tidak Aini, lupakan saja kata-kataku." jawab Olivia dengan salah tingkah.
"Aini sebaiknya kita kembali ke kamarmu, Laras sudah begitu panik mencarimu sejak tadi."
"Tapi aku masih ingin bersama putraku."
"Aini bukan itu yang terpenting karena yang terpenting bagi putramu saat ini adalah doa darimu."
"Ya, doa dari orang tua untuk anaknya, itulah yang paling penting Aini, dan kau harus mampu melanjutkan hidupmu dan menjalaninya dengan penuh semangat agar kau bisa selalu mendoakan putramu." kata Kenan pada Aini.
"Aini, benar yang Kenan katakan. Kau memang boleh bersedih atas kematian putramu tapi ingat kau juga harus melanjutkan hidupmu, anggap saja kau melanjutkan hidup ini untuk anakmu agar kau selalu bisa mendoakannya." tambah Olivia.
Aini pun termenung mendengar perkataan Kenan dan Olivia. 'Mungkin benar yang mereka katakan, aku harus bisa bersemangat menjalani hidup ini.' gumam Aini.
"Aini, lebih baik sekarang kita pergi ke ruang perawatan, kau beristirahatlah."
Aini pun masih terdiam, namun beberapa saat kemudian dia menganggukkan kepalanya secara perlahan. Kenan dan Olivia lalu saling berpandangan sambil tersenyum.
"Ayo kita kembali ke kamar perawatanmu." kata Olivia sambil mendorong kursi roda Aini, hingga akhirnya mereka pun sampai di kamar perawatan Aini, dan melihat Laras yang masih terlihat panik di dalam ruangan itu.
"Aini." teriak Laras kemudian mendekat pada Aini. Mereka lalu membantu Aini turun dari kursi roda kemudian menaikkan tubuh Aini di atas tempat tidur rumah sakit.
"Mba Olive, Aini baik-baik saja kan?" bisik Laras pada Olivia.
__ADS_1
"Tentu, kau tidak perlu cemas Laras karena aku yakin sebentar lagi Aini akan bertemu dengan orang yang akan menjadi jodohnya dan bisa membuat dirinya bahagia." jawab Olivia.
"Olive kau ada-ada saja, mereka semua masih dirundung duka." gerutu Kenan.
"Maaf." jawab Olivia sambil mengigit bibirnya.
🌸🌿🌸🌿🌸🌿
"Laras, Kenan sebaiknya sekarang kalian pulang saja untuk memakamkan jenazah putranya Aini, aku disini saja menemani Aini." kata Olivia.
"Mba Olive gapapa sendirian di sini?"
"Gapapa Laras, sebentar lagi Kak Calista juga datang."
"Oh baiklah kalau begitu, kami pulang dulu ya Mba." kata Laras.
Kenan lalu mendekat pada Olivia. "Kau hati-hati ya sayang, beritahu aku jika kau membutuhkan sesuatu." kata Kenan sambil mengecup kening Olivia.
"Iya Kenan."
Laras dan Kenan lalu pulang untuk memakamkan jenazah putra Aini.
Aini yang melihat perlakuan Kenan pada Oliva pun tersenyum kecut. 'Seandainya saja aku bisa hidup bersama dengan orang yang kucintai, mungkin perasaanku tidak akan sehancur ini, pasti kami bisa saling menguatkan.' gumam Aini dalam hati, tiba-tiba rasa kantuk pun mulai datang padanya. Beberapa saat kemudian dia lalu tertidur.
"Oh Aini sudah tidur, lebih baik kutinggal ke kantin sebentar untuk membelikan makanan dan buah-buahan untuknya." kata Olivia. Dia lalu keluar dari ruang perawatan Aini lalu pergi ke kantin.
Aini yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya pun begitu terkejut karena Olivia saat ini tidak ada di ruangan itu.
"Mba Olive kemana?" kata Aini.
"Mungkin dia ada urusan sebentar diluar." kata Aini kemudian memejamkan matanya kembali. Namun saat baru saja memejamkan matanya, pintu kamar perawatan itu kembali terbuka. Aini pun tampak mengamati sosok yang kini memasuki ruangannya tersebut.
"Kau sudah datang?" tanya Aini pada seseorang yang kini berdiri di depannya.
"Ya, ayo ikutlah bersamaku."
__ADS_1