Salah Kamar

Salah Kamar
Rahasia Yang Terungkap


__ADS_3

Leo terus memandang Calista sambil sedikit tersenyum, kemudian membelai rambut dan wajahnya. "Sayang, kau ingat kan janji kita untuk selalu bersama dalam suka dan duka."


"Tentu Leo, memangnya ada apa?"


"Tidak, aku hanya sekedar mengingatkanmu." kata Leo kemudian mengecup kening Calista.


"Sudah mandi dulu, lalu temani aku jalan-jalan," kata Calista sambil mencubit pipi Leo. Leo kemudian mengangguk dan berjalan masuk ke kamar mandi sambil sesekali menoleh pada Calista dan menatapnya dengan tatapan sendu.


***


Kenan berangkat ke kantor dengan begitu terburu-buru pagi ini karena bangun sedikit terlambat, semalaman dia dan Olivia tidur sedikit larut karena bermain dengan Vansh sampai tengah malam.


"Kenan, tunggu sebentar."


"Ada apa sayang?"


"Bukankah hari ini hari pertama Laras bekerja? Tolong ajak dia berangkat bersamamu."


"Apa? Kau tak bercanda kan Olive, aku tidak mau berduaan dalam satu mobil dengan wanita lain."


"Kenan, bukankan kau diantar Pak Imam? Jadi di dalam mobil ada tiga orang kan?" kata Olivia sambil melotot.


"Baiklah." jawab Kenan dengan kesal. "Sebentar, aku panggilkan Laras," kata Olivia lalu berjalan keluar rumah.


Beberapa saat kemudian dia masuk bersama Laras yamg tampak tersenyum dengan begitu polos. "Terima kasih Mas Kenan, sudah mau memberi tumpangan pada Laras."


"Iya, cepat masuk ke mobil!" jawab Kenan ketus.


"Olive, aku berangkat dulu sayang," kata Kenan sambil mengecup kening Olivia dan membelai rambutnya.


Laras yang melihat kemesraan Kenan dan Olivia lalu menatap tajam ke arah mereka


'Lihat saja nanti, aku pasti bisa memiliki suami yang tampan dan kaya seperti Kenan," batin Laras.


Kenan lalu masuk ke dalam mobil, di perjalanan dia menerangkan semua job desk pada Laras selama menjadi sekretarisnya. Namun, Laras malah asyik dengan dunianya sendiri, beberapa kali dia terlihat merapikan dandannya di cermin, saat melihat gedung bertingkat yang begitu tinggi, dia seolah begitu takjub dan beberapa kali menjerit saat beberapa kali mobil naik dan turun melewati fly over.


"Sungguh memalukan," gumam Kenan.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, Kenan keluar dari dalam mobil masih dengan perasaan dongkol melihat tingkah laku Laras, tiba-tiba langkahnya tertahan saat mendengar Laras memanggilnya.


"Kenan, jangan tinggalin Laras. Ini kan hari pertama masuk kantor, Laras masih bingung harus kemana dulu."


"Kamu tolong urusi berkasmu ke bagian HRD, kau minta saja security untuk mengantarmu, setelah itu kau bisa ke ruanganku. Tolong sedikit cepat karena pagi ini kita akan meeting dengan Tuan Gani, kita harus berhati-hati karena dia memiliki power yang cukup besar di negeri ini, kita juga harus berusaha untuk tidak mengecewakannya."


"Baik Kenan. Apa Tuan Gani masih muda?"


"Ya, sedikit lebih muda dariku, memangnya kenapa?"


"Cuma tanya aja." jawab Laras sambil meringis.


"Aku naik ke atas dulu, tolong minta bantuan security untuk mengantarmu."


"Baik."


'Dasar aneh,' gumam Kenan.


Laras masuk ke dalam gedung dengan sedikit tersenyum. 'Awal yang bagus, pagi ini aku akan berkenalan dengan laki-laki kaya seperti Tuan Gani. Kita lihat saja nanti.' kata Laras dalam hati.


***


Netranya terbuka lebar dan senyuman pun tersungging di bibirnya saat melihat mobil milik Leo masuk ke dalam rumah. 'Itu dia, selamat menikmati kejutan dariku Calista,' batin Giselle sambil tersenyum menyeringai.


Leo dan Calista turun dari mobil sambil terus bercanda dan tertawa. "Pak Asep, tolong bawa barang-barang kami ke atas!" kata Leo.


"Kau lelah sayang? Mau kugendong ke atas?"


"Leo, ingat kita sudah di rumah, malu banyak orang."


"Hei kau juga lupa Calista, kita adalah suami istri, tidak perlu malu pada siapapun," kata Leo sambil mendekap tubuh Calista dari samping.


"Sudah cukup!" kata Giselle yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.


"Giselle, bagaimana kondisi kandunganmu?"


"Tidak usah berpura-pura baik padaku Calista setelah kalian memecundangi aku."

__ADS_1


"Apa maksudmu Giselle?" tanya Leo.


"Kalian pergi malam-malam meninggalkan aku sendirian di rumah ini tanpa meminta ijin dariku. Apa itu pantas? Apa namanya kalau bukan pecundang?"


"Hei, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan Giselle? Memangnya kau siapa sehingga kami harus ijin padamu? Kau hanya istri keduaku, lagipula kita hanya menikah secara siri, kau tidak berhak banyak mengatur kehidupan kami!"


"Tapi Leo, aku juga istrimu, aku bahkan sedang mengandung anakmu, aku memiliki hak yang sama dengan Calista, bahkan seharusnya aku lebih diistimewakan!"


"Jadi kau ingin aku mengajakmu berbulan madu? Apa kau tidak lihat bagaimana keadaanmu? Kau sedang hamil, akan lebih baik jika kau beristirahat di rumah dan menjaga kandunganmu dengan baik."


"Kenapa kau selalu berbuat tidak adil Leo? Kenapa kau selalu membela Calista, memangnya siapa dia? Apa yang telah Calista berikan padamu?"


"Dengarkan aku Giselle, aku sangat mencintai Calista, bersama dengannya sudah cukup memberikan aku kebahagian yang tak ternilai!"


"Hahahaha, kebahagiaan? Kebahagiaan apa maksudmu Leo? Bagaimana bisa seorang wanita mandul bisa memberikan kebahagiaan untuk suaminya!"


"Jaga kata-katamu Giselle!"


"Memang itulah kenyataannya, dia adalah wanita mandul, kau sudah begitu bodoh Leo ditipu oleh wanita seperti Calista!"


PLAKKKKK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Giselle. "Berani-beraninya kau menamparku Leo, lihat ini dan bukalah matamu!" kata Giselle sambil memperlihatkan sebuah kertas pada Leo.


Leo lalu membaca kertas itu dengan tatapan kosong. Calista yang begitu panik rahasianya diketahui oleh Leo lalu berlari pergi keluar dari rumah. Giselle tersenyum melihat Calista yang sudah keluar dari dalam rumah dengan wajah ketakutan. Leo yang baru tersadar akan kepergian Calista pun mencoba mengejarnya.


"Kau mau kemana Leo?" kata Giselle sambil menarik tangan Leo saat akan berlari.


"Lepaskan aku Giselle, aku harus mencegah Calista pergi!"


"Bukankah kini kau sudah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Calista? Kenapa kau masih mau mengejarnya Leo? Dia wanita yang mandul, apa yang bisa kau harapkan dari wanita seperti itu! Sudah seharusnya dia pergi dari rumah ini dan jadikan aku satu-satunya istrimu, karena harapanmu untuk memiliki keturunan ada padaku Leo!"


Leo lalu menatap Giselle dengan tatapan tajam. "Aku mencintai Calista, aku mencintai dia apa adanya, tanpa syarat, bahkan aku juga mencintai kekurangan yang ada dalam diri Calista! Ingat itu!"


"Dasar laki-laki gila, kau sudah dibutakan oleh cinta sampai tidak bisa berpikir dengan akal sehat!"


"Akal sehat katamu Giselle? Kau yang seharusnya menggunakan akal sehatmu sebelum bermain-main denganku! Memangnya aku tidak tahu jika kau sudah bekerja sama dengan Ramon, bahkan beberapa hari yang lalu dia datang ke rumah ini kan?"

__ADS_1


DEGGGGGG


Jantung Giselle seakan berhenti mendengar kata-kata Leo.


__ADS_2