
[Bagus tante, jadi mereka setuju untuk menikah hari ini?]
[Tentu saja, Olive. Lalu orang tua Aini bagaimana? Apa mereka sudah sampai.]
[Mereka sudah di bandara, Ramon suami Laras sedang menjemputnya.]
[Baik Olivia, jika mereka sudah sampai sebaiknya kalian langsung ke sini saja, kita persiapkan pernikahan mereka. Kau sudah memesan make up artist serta membelikan baju kebaya untuk Aini kan?]
[Sudah tante, semuanya sudah siap. Tante tenang saja, sebentar lagi kami akan ke rumah tante.]
[Baik Olive terimakasih, tante tunggu kedatangan kalian.]
[Iya tante.] jawab Olivia lalu menutup panggilan itu.
Olivia lalu tersenyum pada Calista dan Laras yang ada di depannya.
"Bagaimana Olive?"
"Rencana kita berhasil Kak, mereka setuju untuk menikah hari ini."
"Rencana Mba Olivia memang benar-benar bagus, aku bahkan tidak memiliki pemikiran seperti itu."
"Awalnya ini bukan rencana dariku Laras tapi Kak Calista yang menyuruhku untuk membujuk Tante Heni agar menikahkan mereka. Tapi sebelum aku mengatakan rencana ini pada Tante Heni, dia sudah menyuruhku untuk membuat rencana agar mereka bisa menikah secepatnya."
"Wow ini benar-benar kebetulan."
"Iya Laras, untung saja Kak Calista memiliki rencana untuk segera menikahkan mereka."
"Ya itu memang rencanaku tapi kau yang membuat skenarionya agar Aini tidur di tempat Roy Olive, itu sama saja rencanamu."
"Mba Calista, sebenarnya apa tujuan Mba Calista menikahkan mereka secara mendadak?" tanya Laras sambil mengerutkan keningnya.
"Itu semua karena Olivia. Olivia bicara padaku jika Roy mengatakan pada Kenan jika dia akan menikahi Aini dua atau tiga bulan lagi. menurutku itu terlalu lama, Laras. Aku takut sesuatu hal bisa saja terjadi pada hubungan mereka karena masih ada sesuatu yang ditutupi dalam hubungan tersebut."
"Ya, aku juga memiliki sedikit firasat buruk jika mereka menunda pernikahan mereka terlalu lama."
"Apa menurut Mba Olive dan Mba Calista suatu saat Aini akan mengetahui jika Roy lah yang menjadi penyebab kecelakaan itu?"
"Semua hal terkadang terjadi di luar kehendak kita, Laras."
"Tapi jika mereka menikah bukankah kemungkinan buruk itu masih tetap bisa terjadi?"
Olivia dan Calista pun berpandangan mendengar perkataan Laras.
__ADS_1
"Kenapa kalian malah tertawa?" gerutu Laras.
"Laras, bukankah kau sudah menikah? Kau pasti tahu jawabannya?" jawab Calista sambil terkekeh.
"Mba Calista, aku benar-benar tidak mengerti."
"Laras coba kau pikir baik-baik, sepasang suami istri yang sudah melakukan hubungan suami istri pasti lebih memiliki ikatan perasaan yang lebih kuat dibandingkan dengan sepasang kekasih. Selain itu mereka juga sudah memiliki Darren, rasa cinta yang dirasakan oleh Aini pasti semakin lama akan semakin dalam jika sudah menjadi istri dari Roy dan ibu dari Darren."
"Mba Calista benar, jika rasa cinta itu sudah begitu dalam, saat kemungkinan terburuk itu tiba-tiba datang, Aini pasti tidak akan peduli lagi akan semua hal itu, dia tidak akan pernah peduli lagi pada kesalahan yang Roy pernah lakukan dalam hidup Aini karena cinta Aini untuk Roy sudah begitu dalam." kata Laras sambil tersenyum.
"Itulah maksud kami merencanakan semua ini, Laras."
"Iya mba, Laras mengerti."
💜💜💜💜💜
Delia yang tengah menimang putri kecilnya dalam gendongannya tampak begitu cemas. Berulangkali dia melihat halaman rumahnya, namun sosok yang dia tunggu tak juga menampakkan batang hidungnya. Hingga beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dia kemudian menaruh Shakila di atas box bayi lalu membukakan pintu itu.
"Mas Firman." kata Delia setelah membuka pintu tersebut.
"Mas, kau darimana saja? Bukankah tadi malam aku hanya meminta bantuanmu untuk membelikan diaper tapi kenapa tiba-tiba kau pergi begitu saja tanpa kabar? Berulangkali kuhubungi ponselmu tapi juga tidak aktif, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu Mas?"
Namun Firman hanya terdiam, dia lalu masuk ke dalam kamar Delia lalu membuka lemari di dalam kamar itu.
"Mas, apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba kau memasukkan baju-bajumu ke dalam tas?"
"Mas Firman kau kenapa Mas? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini? Jangan lakukan itu mas, jangan pergi dariku." kata Delia sambil menarik tas yang sedang dibawa Firman.
Firman kemudian memandang Delia.
"Sudah cukup Delia, sudah cukup."
"Cukup apanya mas? Mas Firman tolong jelaskan padaku sebenarnya apa yang telah terjadi padamu!" kata Delia disertai dengan nada yang mulai meninggi.
"Sudah cukup selama ini aku dibodohi olehmu!" teriak Firman sambil menatap tajam ke arah Delia.
"Dibodohi? Dibodohi apa mas?"
"Jangan pura-pura bodoh, Delia! Ternyata malam itu kau juga ikut menjebakku bersama dengan Dimas kan? Jadi semua tangismu malam itu adalah tangis palsu hah? Apa kau tidak sadar karena perbuatanmu dan Dimas, kalian telah menghancurkan masa depanku! Kalian benar-benar tidak memiliki perasaan! Kalian hanyalah manusia menjijikan yang begitu egois yang tega mengobarkan perasaan orang lain untuk kepentingan kalian berdua! DASAR BREN*SEK!!!"
"DAN ANAK ITU, ANAK ITU BUKAN ANAK KANDUNGKU KAN!!"
"Mas tolong dengarkan aku mas." kata Delia sambil bersimpuh di kaki Firman.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan karena saat kau berhubungan denganku, kau bahkan sudah hamil darah daging Dimas, pantas saja anak itu lahir lebih cepat! Selama ini sebenarnya aku dan keluargaku sudah sedikit curiga karena kelahiran bayi itu yang lebih cepat dan wajah Shakila yang tidak mirip dengan kita berdua! Tapi karena aku menghormatimu aku selalu membuang prasangka burukku!!" Sekarang tolong biarkan aku pergi! INI SEMUA SUDAH BERAKHIR!!! AKU TIDAK MAU DIBOHONGI LAGI OLEH WANITA SEPERTI DIRIMU, DELIAAAAA!!!"
"DENGARKAN AKU, SEKARANG JUGA KUTALAK DIRIMU DELIA ANINDITA DAN MULAI HARI INI KUHARAMKAN TUBUHKU ATAS DIRIMU!!" teriak Firman dengan begitu menggelegar.
"Mas tolong maafkan aku, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki diriku." isak Delia.
"TIDAK TIDAK AKAN PERNAH KARENA KAU SUDAH MENGHANCURKAN MASA DEPANKU YANG TELAH KURANGKAI BERSAMA DENGAN AINI!!"
"Apa kau tahu bagaimana hancurnya diriku saat harus melepaskan Aini untuk menikahi dirimu tapi APAAAA? TERNYATA SELAMA INI KALIAN MEMPERMAINKANKU!! AKU SUDAH DIBODOHI OLEH KALIAN BERDUA! DASAR BRENG*EK!!"
Delia pun hanya bisa duduk di atas lantai sambil menangis.
"Maafkan aku mas." kata Delia lirih di sela isak tangisnya.
"Hentikan air mata palsumu! Aku sudah begitu muak padamu dan tolong jangan pernah temui aku lagi!" bentak Firman kemudian pergi dari rumah itu sambil membawa seluruh barang-barangnya.
"Mas Firman, maafkan aku." isak Delia sambil menatap kepergian Firman dari rumahnya. Namun Firman tak mengindahkan tangisan Delia.
'Masih ada waktu, masih ada waktu.' gumam Firman saat keluar dari rumah tersebut sambil berjalan ke arah motornya. Firman yang memarkirkan motornya di depan rumah Delia lalu mengendarai motor tersebut dengan begitu kencang. Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di sebuah rumah joglo modern disertai halaman luas yang ditumbuhi oleh berbagai macam bunga.
TOK TOK TOK
Cukup lama Firman mengetuk pintu rumah itu namun tidak ada jawaban. Hingga tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya.
"Cari siapa Firman?" teriak seorang wanita paruh baya dari samping rumah tersebut.
"Cari Pak Sugeng, Bu. Kok sepertinya sepi ya."
"Oh Pak Sugeng sama Bu Sugeng lagi ke Jakarta."
"Ke Jakarta memangnya ada acara apa mereka ke Jakarta?"
"Aini, kamu tahu kan Aini sudah dilamar pengusaha kaya?"
"Iya."
"Aini hari ini menikah Firman."
"Apa Aini menikah?"
"Iya Firman." jawab wanita paruh baya itu sambil meninggalkan Firman yang masih berdiri termenung, air mata pun kini mengalir membasahi wajahnya. Hatinya pun terasa begitu sakit.
"Tidak... Tidak..."
__ADS_1
Perasaannya pun kini semakin bergejolak hingga tidak bisa menahan sakit di dadanya.
"AIIIIINIIIIIIII!!!"