Salah Kamar

Salah Kamar
#43 Posisi yang Tidak Bisa diganti


__ADS_3

Kinan tersenyum jahil saat mendapati sang suami sedang melamun dekat jendela. Dengan perlahan, dia berjalan kemudian mengejutkan Bram. Tentu ini membuat Bram yang sejak tadi melamun, sangat terkejut. Sementara itu, Kinan tertawa puas karena berhasil menjahili sang suami. Namun, tawanya terhenti saat mendapati respon Bram yang malah kesannya biasa saja.


"Gak asik," kesal Kinan kemudian memilih melangkah menuju ranjang. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berharap Bram mau membujuknya. Namun, satu menit berlalu dan Bram masih belum menunjukan tanda-tanda akan mendekat ke arahnya.


Kinan mengintip dari balik selimut. Dia semakin kesal karena Bram tetap dengan posisinya, melamun di balkon.


"Apa sih yang dipikirin mas Bram?" Kinan meraih ponselnya. Dia mencari berita yang mungkin saja membuat Bram berakhir seperti itu. Bisa saja Bram merasa sedih karena menyesal melaporkan saudara tirinya. Ternyata tak ada berita apa pun mengenai penangkapan Wira.


"Apa karena mas Bram bingung mau lapor atau enggak ya?" gumam Kinan. Dia lantas menyingkap selimut kemudian kembali menghampiri suaminya. Dia menatap Bram sebelum akhirnya berdeham dan membuat Bram menoleh.


"Kenapa? Mau beli sesuatu?"


Kinan menggeleng kemudian menatap langit yang cukup cerah sore ini. "Mikirin apa sih?"


"Ah ... Soal kerjaan," jawab Bram bohong. Dia sungguh ragu untuk mengatakan pada Kinan soal dirinya juga Rena. Dia tak dapat memungkiri bahwa sisa rasa itu masih ada. Namun, sisi lain dia sangat tidak mau melukai Kinan. Dia yakin jika dia jujur, Kinan akan sangat sakit hati. Apalagi, Rena adalah masa lalunya.


"Mas Wira bikin ulah lagi?" tanya Kinan yang membuat Bram mengangkat bahunya.


"Begitulah."


"Udah, gak usah dipikirin. Mending laporin soal kasusnya. Dibiarin malah bikin mas Wira berpikir bisa ngelakuin hal yang sama ke depannya."


Bram menatap tangan Kinan yang kini menggenggam tangannya. Dia tersenyum lalu mengangguk. Meski sebenarnya bukan itu yang kini dia pikirkan, namun Kinan berhasil membuat hatinya sedikit lega. Soal Wira, dia benar-benar belum melapor karena berpikir lebih baik menghukumnya lebih dulu. Kini dia akan benar-benar memulai prosesnya. Setidaknya agar sang nenek bisa beristirahat dengan tenang.


"Masuk yuk, anginnya makin gede," ujar Kinan sembari menarik perlahan tangan Bram. Cuaca yang mulai memasuki musim hujan memang membuat udaranya terasa lebih dingin.


"Makan malem di luar yuk. Mas pengen sesuatu."


Kinan mencebik. Dia juga sebenarnya ingin makan di luar. Namun, dia sudah membayangkan jika memasak bersama akan lebih menyenangkan. Tapi, lupakan saja kemampuannya dalam memasak tidak sebagus itu hingga Bram lebih memilih makan di luar.

__ADS_1


Menyadari respon Kinan yang agak lain, membuat Bram tersenyum. "Oke, kita makan malem di rumah aja ya."


"Masakan Kinan segak enak itu?"


"Bukan gitu," ujar Bram sembari mencoba menahan tawanya. Memang tidak seburuk itu. Namun, menurutnya lebih baik Kinan tak melakukannya. Dia juga mengerti Kinan terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak terlalu serius belajar memasak. Tak masalah bagi Bram karena dia bisa melakukannya.


"Terus apa?"


"Kamu cuma sedikit remedial soal itu," ujar Bram yang tentu saja membuat Kinan kesal dan segera melepas genggaman tangannya. "Maaf, tapi itu kenyataannya."


"Apa salahnya bilang masakannya enak?"


Bram sebenarnya ingin sedikit menghibur dengan cara seperti itu. Namun, dia tak mungkin menikmati makanan-makanan itu seumur hidupnya. "Makanya kita belajar."


...***...


Kinan menghela napasnya sembari meletakan piring berisi tumisan itu di meja. Sejak tadi hanya Bram yang sibuk sedangkan dia hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kecil. Padahal dia juga ingin memasak. Namun, Bram bersikeras membuatnya untuk tak mengerjakan apa-apa karena khawatir.


"Duduk aja. Kasian kalo kamu berdiri terlalu lama," ujar Bram diakhiri senyum. Pria itu memang terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Makanya untuk urusan dapur saja dia sangat lihai.


"Kebetulan. Makan dulu," ujar Bram saat menyadari Raka ada di sana. Namun, pria itu segera tersenyum dan menggeleng sebagai penolakan. Dia hanya menyimpan flashdisk milik Bram serta memberitahu soal Wira yang kini sedang diperiksa oleh penyidik.


"Saya ada urusan lain."


"Hati-hati," ujar Kinan yang segera dibalas anggukan oleh Raka. Dia lantas menghela napas kemudian menatap Bram yang kini beralih ke menu selanjutnya. "Mas Raka betah banget padahal bosnya galak."


"Saya gak galak, Kinan."


Kinan berdecih. Dia sangat ingat bagaimana Bram saat awal pertemuan mereka. Saat itu Bram benar-benar dingin meski memang selalu memberikan perhatian-perhatian kecil padanya. Berbeda dengan sekarang. Namun, dia merasa ada sedikit perubahan dari suaminya.

__ADS_1


"Udah yuk, makan." Bram menarik kursi untuk sang istri sebelum duduk di kursinya. Dia tersenyum saat Kinan menatap senang makanan-makanan yang tersaji di depan matanya.


Namun, melihat senyum Kinan sekarang rasanya agak membuatnya sesak. Kenyataan bahwa dirinya mencoba untuk bermain api dibelakang Kinan. Meski dia merasa itu tidak sama dengan selingkuh, tetap saja esensinya sama. Hatinya terbagi jadi 2.


Suara nada dering membuat Bram langsung meraih ponselnya dan menolak telepon yang baru saja masuk. Bagaimana dia bisa menerima telepon tersebut sedangkan Kinan sedang ada bersamanya.


"Apa itu Rena?" gumam Kinan dalam hati. Sebenarnya dia sudah merasa tak berselera makan. Namun, bayi yang ada di kandungannya harus mendapatkan asupan. Jadi, dia terpaksa tetap melahap makanannya.


Untuk sesaat hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Mereka sama-sama diam dan mencoba menikmati makan malam yang tersaji.


"Angkat aja," ujar Kinan secara tiba-tiba. Toh, menurutnya jika itu bukan apa-apa, Bram takkan setakut itu 'kan?


"Telepon orang iseng kayaknya."


Kinan meletakan sendoknya. Dia menatap serius Bram yang kini nampak jelas menghindari kontak mata dengannya. "Saya tau itu Rena."


Jantung Bram serasa berhenti saat Kinan mengatakannya. Dia sudah susah payah menyembunyikannya dan Kinan malah mengetahuinya dengan sangat mudah.


"Iya 'kan?" tanya Kinan saat Bram hanya diam tanpa merespon pertanyaannya. Dia kemudian memilih beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar. Saking sakitnya, dia bahkan merasa tak ingin menangis sekarang.


Kinan mengembuskan napas sembari mengusap dadanya. Menurutnya meledak-ledak juga bukan satu-satunya jalan. Hingga akhirnya dia dikejutkan dengan Bram yang tiba-tiba memeluknya.


"Maaf."


Kinan sungguh kehabisan kata. Artinya memang benar Rena 'kan? Dia pikir itu hanya pikiran-pikiran negatifnya. "Mas beneran masih kontakan sama Rena?"


"Dengerin dulu, Nan."


"Apapun alesannya, Kinan gak mau denger. Lagian, Kinan juga gak berhak nyingkirin Rena gitu aja. Kinan ngantuk." Kinan melangkah menuju ranjang kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut meski belum mengantuk. Lagipula, bagaimana dia bisa mengantuk di saat seperti ini?

__ADS_1


"Nan, mas bakalan selesain semuanya secepetnya."


"Kinan paham kok. Lagian di sini posisi Kinan juga gak akan bisa gantiin Rena 'kan?"


__ADS_2