
"Aku pergi dulu Giselle." kata Leo sambil tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya, seolah meledek yang membuat Giselle merasa semakin terpojok.
Giselle hanya bisa diam mematung mendengar kata-kata Leo, tubuhnya terasa gemetar dan jantungnya berdegup kian kencang. Calista dan Olivia begitu heran dengan sikap Giselle.
"Giselle, kenapa kau diam saja di situ? Bukankah seharusnya kau senang karena Leo menunda kepergian kita ke rumah sakit?" kata Calista.
Giselle hanya diam dan mengabaikan perkataan Calista, dia lalu melangkah dengan lesu masuk ke dalam kamarnya disertai berbagai pikiran buruk yang berkecamuk dalam benaknya. Giselle kemudian melangkahkan kakinya ke depan cermin dan mencoba menenangkan dirinya yang ada di pantulan cermin itu.
"Giselle, habis sudah, semuanya sudah hancur, kemungkinan Leo sudah tahu semua yang telah kau lakukan, percuma kau ada di rumah ini Giselle, kau harus pergi!!!" kata Giselle pada dirinya sendiri sambil sesekali menjambak rambut di atas dahinya.
'Ya, aku harus secepatnya pergi dari rumah ini sebelum Leo bertindak lebih jauh padaku!' gumam Giselle disertai raut wajah yang begitu panik. Dia lalu bergegas mengambil barang-barang berharga miliknya yang ada di kamar itu.
'Semuanya sudah beres, sekarang aku tinggal memastikan jika keadaan rumah ini aman, semoga Calista dan Olivia tidak mengetahui kepergianku.' gumam Giselle sambil mengintip dari balik pintu kamarnya.
'Sepertinya aman.' kata Giselle dalam hati sambil keluar dari kamar dan mengendap-endap menuruni tangga.
Setelah sampai di lantai bawah, Giselle mendengar gurauan Calista dan Olivia yang ada di lantai atas.
"Aku harus cepat." kata Giselle kemudian berjalan ke arah pintu, setelah pintu terbuka, Giselle keluar dari dalam rumah sambil berlari menuju ke arah pintu gerbang.
Sementara dari balkon kamar, Calista dan Olivia tersenyum saat melihat Giselle yang tengah berlari dengan sangat tergesa-gesa meninggalkan rumah itu. "Akhirnya dia pergi Kak."
"Iya Olive, sudah seharusnya begitu, bagus jika dia sadar di saat semuanya belum begitu terlambat dan Leo masih bisa menahan emosinya untuk tidak bertindak lebih jauh pada Giselle."
"Iya Kak."
"Terimakasih banyak Olive, karena sudah menghubungiku dan Leo saat kau bertemu dengan Giselle di rumah sakit saat dia baru saja mengalami keguguran."
"Iya Kak, aku sudah curiga saat pertama kali bertemu dengannya, dia tampak begitu ketakutan, bahkan panggilan dari seorang suster pun sampai dia abaikan, padahal suster itu membawa surat riwayat kesehatan Giselle yang tertinggal, dan untungnya malam itu kau sudah menceritakan semua padaku dan memberitahuku jika istri siri Leo bernama Giselle. Hahahaha." kata Olivia sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat dia bertemu dengan Giselle di rumah sakit.
***
Flashback
"**A**wwww." kata Olivia.
__ADS_1
"Mba gimana sih? Kalau jalan hati-hati dong." bentak Giselle.
"Loh, bukannya Mba yang nabrak saya? Saya kan lagi jalan tiba-tiba Mba nabrak saya, dari tadi Mba nya jalan sambil nengok kanan kiri terus seperti lagi dikejar-kejar orang."
"Enak aja, perut saya lagi sakit Mba, saya habis keguguran makanya nengok kanan kiri terus."
"Loh, apa hubungannya Mba, keguguran sama nengok kanan kiri?"
"Ga ada. Udah ah, saya banyak urusan." kata Giselle sambil berjalan pergi.
"Olive, kamu lagi ngapain sama perempuan itu?" tanya Kenan.
"Itu tuh tadi udah nabrak malah marah-marah sendiri. Pake alesan keguguran lagi." jawab Olivia.
"Tapi kamu gapapa kan sayang?"
"Gapapa, cuma kaget aja."
"Ya udah kita buruan ke ruang dokter yuk. Aku dah ga sabar liat anak kita yang ada di dalam perutmu." kata Kenan dengan tatapan jahil pada Olivia.
Namun saat Kenan dan Olivia akan melangkah pergi tiba-tiba seorang suster tampak berlari dan memanggil Giselle yang sudah berjalan ke arah pintu keluar, suster itu tampak berhenti di dekat Olivia sambil sedikit terengah-engah karena kelelahan mengejar Giselle.
"Ini Pak, saya mau memberikan riwayat kesehatan Ibu Giselle pasca keguguran, tapi dia malah berjalan begitu cepat dan menghiraukan panggilan dari saya."
"Giselle? wanita yang tadi berbicara dengan saya sus, dia bernama Giselle Fausta?"
"Iya Benar Bu."
"Biar saya berikan surat itu pada Ibu Giselle karena saya keluarganyanya." kata Olivia sambil tersenyum.
"Benar Ibu keluarga Ibu Giselle?"
"Tentu, dia istri dari kakak saya, ini kalau tidak percaya saya langsung telepon pada kakak saya." kata Olivia sambil menelpon Leo. Tak berapa lama, Leo kemudian mengangkat panggilan dari Olivia.
[Halo Olive, ada apa?]
__ADS_1
[Leo, aku mau bertanya padamu jika kau adalah suami Giselle bukan?] kata Olivia dengan bunyi ponsel yang sudah dia loud speaker agar suster itu mendengar percakapannya dengan Leo.
[Ya Olive, memangnya kenapa?]
[Bisakah kau mengirimkan bukti berupa foto pernikahanmu dengan Giselle?]
[Tentu, memangnya ada apa?]
[Nanti kuberi tahu, sekarang kirimkan foto pernikahanmu dengan Giselle.]
[Baik, Olive.] kata Leo lalu mengirimkan foto pernikahannya dengan Giselle.
Olivia lalu memperlihatkan foto pernikahan itu pada suster tersebut. "Gimana sus? Sekarang percaya kan jika saya saudara Ibu Giselle?" tanya Olivia.
"Iya Bu, ini saya titipkan surat ini pada Ibu agar diberikan pada suami Ibu Giselle."
"Baik sus terimakasih banyak." kata Olivia.
Kenan yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan tingkah Olivia lalu segera bertanya setelah suster itu pergi. "Hei apa yang sebenarnya sudah kau lakukan, Olive? Memangnya siapa Giselle itu? Dan apa urusanmu dengannya?"
"Sudah diam saja Kenan, nanti kuceritakan di rumah, semua ini kulakukan untuk menyelamatkan rumah tangga Kak Calista." kata Olivia sambil tersenyum.
***
Mata Giselle kian berbinar saat melihat taksi online yang sudah dipesannya telah menunggu di depan rumah itu. Giselle lalu masuk ke dalam mobil itu dan menghempaskan tubuhnya ke jok mobil sambil tertawa.
"Hahahaha.. Hahahaha, akhirnya aku bisa keluar dari rumah itu, sekarang aku harus bersembunyi agar Leo tidak bisa menemukanku. Aku tidak mau dia balas dendam padaku karena dia sudah tahu jika saat ini aku masih bekerjasama dengan Ramon dan sudah berani membohonginya."
"Ayo kita jalan Pak." kata Giselle.
Namun supir taksi tersebut hanya diam, dia lalu membalikkan tubuhnya ke arah Giselle sambil tersenyum. Giselle yang mulai dilanda ketakutan mencoba untuk keluar dari dalam mobil, namun pintu mobil telah terkunci. Supir taksi itu lalu mendekatkan tangannya untuk membekap Giselle dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius, gerakan tangan supir taksi itu begitu cepat sehingga membuat Giselle kesulitan untuk menghindar.
"Selamat tidur Nyonya Giselle." kata supir taksi itu sambil tersenyum menyeringai.
Mata Giselle perlahan terbuka, kepalanya masih terasa begitu pusing, dia lalu melihat sekeliling ruangan tempat dia kini berada. 'Dimana aku?' gumam Giselle saat melihat dia kini berada di sebuah ruangan kosong yang tertutup rapat, hanya ada satu buah sofa, yang dia dudukki saat ini. Giselle kemudian mencoba menggerakkan tangannya. Namun tubuhnya terasa begitu sulit untuk digerakkan. 'Si*l.' batin Giselle saat melihat tubuh dan kakinya telah terikat.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu ruangan itu pun terbuka. "Selamat malam Giselle, apakah tidurmu nyenyak?" kata sebuah suara.
🍒 Mumpung malam Minggu daripada gabut, mampir juga ke novel terbaruku ya TEMPTATION, kisah cinta yang begitu rumit, siapin tissue ya kalo baca TEMPTATION 🤗🤭