Salah Kamar

Salah Kamar
Cinta Buta


__ADS_3

"Maaf saya tidak mengenal anda." jawab Rima kemudian pergi dari toilet menuju ke ruangannya.


"Kenapa Rim?" tanya Sherly saat melihat Rima yang tampak masuk dengan terburu-buru.


"Ada orang gila Sher."


"Orang gila?"


"Iya masa tiba-tiba bilang gue disuruh nikah sama anaknya."


"Hahahaha, masa sih? Ada-ada aja kamu Rim."


"Ih kok malah ketawa Sher, aku serius nih."


"Ya udah terima aja, siapa tahu jodoh?"


"Enak aja, masa gue disuruh nikah sama sembarang orang." gerutu Rima yang membuat Sherly tertawa terpingkal-pingkal.


***


"Sekarang hapus air matamu Stella, aku janji akan mencarikan donor sumsum tulang belakang untukmu. Selama ada aku disini masih ada harapan untuk sembuh bagimu." kata David sambil menghapus air mata Stella.


"Bagaimana dengan Papa?" jawab Stella lirih.


"Jangan pernah berharap pada orang tuamu Stella, kau tahu sendiri jika mereka tidak pernah memikirkan keadaanmu." gerutu David dengan sedikit kesal.


"Kau benar David, lebih baik kita mencari donor dari orang lain, apalagi saat ini Papa juga sedang sakit jantung."


"Iya Stella, kau tenang saja aku akan membayar berapapun bagi orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu."


"Heh enak sekali kau bicara seperti itu David! Apa akal sehatmu sudah hilang karena cinta?" kata seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamar perawatan Stella.


"Mama? Ada apa mama kesini?"


"Karena mama mendengar dari seseorang jika sudah satu minggu ini kau menemani wanita sialan itu di sini! Mama tidak rela kau berhubungan dengan wanita ini lagi David!"


"Tapi David mencintai Stella Ma."

__ADS_1


"Cih cinta? Apa kau sudah lupa bagaimana kedua orang tuanya menghina kita saat itu? Mereka bahkan membuang barang-barang yang kita bawa saat melamar dia! Pikirkan harga dirimu David! Kau tampan dan sukses, kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau!"


"Maaf Ma, David hanya mencintai Stella."


"Cinta katamu? Kau masih bisa mengatakan itu padahal ayahmu sudah menjadi korban dari cinta kalian berdua!"


"Korban?" tanya Stella dengan penuh tanda tanya.


"Oh jadi David belum mengatakan padamu jika ayahnya sampai meninggal karena perbuatan kedua orang tuamu yang sudah menyuruh para preman bayaran untuk mengancam kami semua!"


Stella lalu mengalihkan pandangannya pada David. "David kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa kau hanya mengatakan jika orang tuaku mengancam keluargamu tapi tidak mengatakan jika Papa sampai meninggal?" tanya Stella.


"Bukan seperti itu Stella, kondisi kesehatan Papa memang sudah memburuk dan itu bukan sepenuhnya karena kesalahan orang tuamu."


"Terus saja kau membelanya David! Kau memang sudah dibutakan oleh cinta!"


Stella lalu bangkit dari ranjangnya, kemudian mendekat pada Nurma, mama David dan bersimpuh di hadapannya.


"Stella apa yang kau lakukan?" kata David kemudian mendekati Stella dan memegang tubuhnya yang masih lemas.


"Maaf.. Maafkan aku tante, aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti keluarga kalian. Aku sungguh tidak tahu apa yang telah Papa dan Mama lakukan pada kalian semua!" kata Stella sambil terisak.


"Tolong maafkan Stella ma. Stella ikhlas jika mama tidak merestui hubungan kami dan mencarikan jodoh lagi yang menurut mama baik untuk David tapi Stella mohon tolong maafkan Stella."


"Stella apa yang sudah kau katakan? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apalagi sampai menikah dengan orang lain! Apa kau lupa kau sedang mengandung anakku Stella!" teriak David yang membuat Nurma begitu terkejut, tubuhnya terlihat sedikit lemas mendengar perkataan David, dia kini duduk di atas sofa dengan perasaan yang begitu berkecamuk sambil menutup mulutnya.


David lalu membopong tubuh Stella kembali ke atas ranjang karena kondisinya terlihat menurun.


"Tidak.. Tidak mungkin, tidak mungkin kau mengandung darah daging David karena kau juga memiliki suami kan? Stella kau jangan berani-berani menjebak kami dengan mengatakan janin yang kau kandung adalah darah daging putraku!"


Nurma lalu mengalihkan pandangannya pada David. "Nak kau jangan percaya begitu saja pada wanita murahan itu! Sadarlah dia wanita yang sangat hina karena telah menjalin hubungan denganmu saat dia sudah memiliki suami! Bisa saja anak yang dia kandung adalah darah daging suaminya! Apa kau tidak bisa berfikir secara jernih jika dia adalah wanita murahan yang tubuhnya bisa dijamah oleh siapapun!"


"HENTIKAN TANTE! STELLA TIDAKLAH SEPERTI YANG TANTE BICARAKAN!"


"Si.. Siapa kau?" tanya Nurma pada sepasang suami istri yang baru saja datang.


"Saya Revan, saya adalah mantan suami Stella! Saya berani bersumpah jika selama kami menikah, saya sama sekali tidak pernah menyentuh Stella! Perjodohan yang telah orang tua kami lakukan adalah sebuah kesalahan dan kami tidak pernah bahagia dengan pernikahan kami."

__ADS_1


Nurma hanya terdiam sambil menatap tajam pada Revan yang kini berdiri di hadapannya. Sedangkan Giselle sudah berada di samping Stella dan David untuk menenangkan Stella yang masih menangis.


"Jadi tolong tante sebaiknya restui hubungan mereka. Stella tidak bersalah, dia hanyalah korban keegoisan orang tuanya."


"TAU APA KAMU!" bentak Nurma sambil meninggalkan ruangan itu.


Revan lalu tersenyum kecut sambil menatap kepergian Nurma. Dia kemudian mendekat ke arah Stella yang masih menangis dalam pelukan Giselle.


"Bagaimana keadaanmu Stella?"


"Baik Revan." jawab Stella sambil tersenyum.


"Terimakasih, terimakasih banyak Revan. Aku minta maaf akan sikap mama padamu." kata David sambil memegang pundak Revan.


"Sudahlah David tidak apa-apa, aku mau menebus kesalahanku pada kalian. Sejak awal ini adalah salahku, aku sudah memaksakan pernikahan kami sedangkan aku tahu Stella tidak pernah mencintaiku, saat itu aku hanya berharap dia akan melupakanmu tapi ternyata aku salah. Aku juga sudah tahu alasanmu meninggalkan Stella saat itu, itu bukan maumu kan? Keadaan yang membuatmu berbuat seperti itu."


"Iya Revan, aku juga minta maaf karena diriku yang tiba-tiba meninggalkan Stella membuat hubunganmu dan Giselle menjadi sedikit berantakan karena Stella membutuhkan status untuk bayi yang dia kandung. Dia juga sempat terbawa emosi karena hubungan kalian berdua."


"Sudahlah David, semua sudah berlalu. Tidak usah dibicarakan lagi. Kami sudah hidup bahagia, dan semoga kau juga bisa bahagia dengan Stella."


Revan lalu mengalihkan pandangannya pada Stella. "Dan kau anak nakal, aku pasti yakin kau bisa sembuh, aku juga akan membantu kekasih mu untuk mencari donor sumsum tulang belakang untukmu. Jangan bersedih, kau pasti bisa hidup bahagia dengan David." kata Revan sambil mengacak-acak rambut Stella yang membuat dia tersenyum.


"Hei dimana Rima? Kenapa dia belum datang untuk menjaga Stella? Hari ini aku sedang banyak pekerjaan." gerutu David.


"Bagaimana jika aku saja yang panggilkan Rima." kata Giselle.


"Terimakasih Giselle, ruangan Rima tidak jauh dari sini, kau tanyakan saja pada perawat di depan."


"Iya David." jawab Giselle lalu keluar dari kamar Stella dan menanyakan pada seorang perawat letak ruang kerja Rima.


'Itu dia.' gumam Giselle saat melihat Rima yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Giselle lalu mendekat ke arah Rima, namun saat dia berdiri di belakang Rima betapa terkejutnya Giselle saat melihat Rima sedang melihat foto David di ponselnya sambil menangis.


'Jadiiiii.' gumam Giselle sambil menggigit bibirnya.


Note:


Jangan lewatkan episode selanjutnya ya.

__ADS_1


kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak, kalau ga suka skip aja 🤗✌️


Terimakasih 😘🤗


__ADS_2