
"Kamu ga makan?" tanya Revan pada Giselle.
"Nggak, saya sudah makan Pak Revan."
"Oh ya sudah, kamu temani saya saja." kata Revan sambil menghabiskan makanannya.
"Giselle tolong tanyakan pada Leo tentang acara di Hotel milik Leo besok yang ada di Bandung!"
"Acara apa Pak Revan?"
"Peluncuran produk terbaru kami."
"Baik akan saya tanyakan." kata Giselle kemudian tampak sibuk menelepon Leo. Setelah selesai menelpon, Giselle lalu kembali menemui Revan.
"Maaf Pak Revan, besok Pak Leo belum bisa ke Bandung, dia masih belum bisa meninggalkan Bu Calista sendirian di rumah. Dia menyuruh saya dan Rendi, salah satu staf dari kantor kami untuk menghadiri acara tersebut."
"Dasar bucin akut." gerutu Revan yang membuat Giselle tersenyum.
"Eh kenapa kamu senyum-senyum?"
"Ya namanya juga istri baru melahirkan Pak, wajar Pak Leo seperti itu, apalagi mereka baru dikaruniai momongan setelah enam tahun menikah."
"Hemmm tau apa kamu tentang pernikahan? Menikah itu sangatlah tidak menyenangkan." kata Revan lagi.
"Tidak selalu seperti itu Pak, buktinya Pak Leo dan Pak Kenan sangat mencintai istri-istri mereka."
"Mereka yang bodoh, mau saja takluk pada wanita."
'Nyebelin banget sih.' gumam Giselle sambil menatap Revan dengan tatapan kosong.
"Kenapa kamu liatin saya seperti itu?"
"Gapapa Pak."
"Ya sudah, kamu boleh pulang ke kantormu! Saya sudah selesai makan."
"Iya Pak. Permisi." kata Giselle kemudian pergi meninggalkan Revan yang masih duduk di kantin kantor sambil memainkan ponselnya.
"Dasar wanita brengsek." umpat Revan saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
'Kapan aku bisa mengakhiri pernikahan terkutuk ini, Tuhan.' gumam Revan dalam hati dengan begitu geram.
***
"Telepon dari siapa Leo?" tanya Calista.
"Dari Giselle, menanyakan acara di Bandung besok."
"Kamu jadi pergi ke Bandung?"
"Ga dong sayang, aku belum bisa ninggalin kamu sama si kembar di rumah. Aku masih pengen sama kalian." kata Leo sambil memeluk Calista.
__ADS_1
"Kamu berlebihan Leo, tidak seharusnya kau seperti ini apalagi untuk kepentingan bisnismu. Lagipula di rumah ini banyak yang menemaniku, ada baby sitter, Bi Asih, Bi Siti."
"Tapi tidak ada yang menemanimu tidur kan sayang? Hahahaha."
"Dasarrrr." kata Calista sambil memukulkan bantal ke tubuh Leo.
"Aku lapar Calista, kau mau menemaniku makan kan?"
"Iya, ayo kita turun ke bawah."
Senyuman mengembang di bibir Dewi saat melihat Leo dan Calista keluar dari kamar dan turun menuju meja makan. "Rimaaaa, lihat itu Tuan Leo mau makan."
"Hussstt Dewiiii, kok kumat lagi sih, bukannya tadi udah dibilangin sama Bi Asih kalau Tuan Leo itu cuma cinta sama Nyonya Calista, ga usah kebanyakan ngayal deh."
"Yeee siapa juga yang lagi ngayal, emang kalau sekedar kagum ga boleh? Siapa yang ga klepek-klepek liat cowok seganteng Pak Leo coba? Udah ganteng, kaya lagi. Nyonya Calista memang benar-benar beruntung." gerutu Dewi.
"Ya mereka kan sepadan Dew, Nyonya Calista bukan dari keluarga sembarangan, dia juga cantik. Kalau dibandingin sama kamu ya jauh. Hahahaha."
"Rimaaa, kamu kok malah ngomong gitu? Kamu ngejek aku Rim?"
"Ga, cuma ngasih tau biar kamu sadar diri."
"Sadar diri gimana? Apa kurangnya aku? Coba kau lihat aku baik-baik ga beda jauh sama Nyonya Calista yang cantik itu kan?"
"Kalau mimpi ga usah ketinggian Dew. Hahahaha." kata Rima sambil tertawa.
"Eh, udah diem Rim, tuh liat mereka mendekat ke kita, duh tambah deg-degan aku kalau di dekat Tuan Leo." kata Dewi sambil tersenyum manja.
"Istighfar Dew, istighfar sadar Dewi." gerutu Rima.
"Mereka anteng kok Nyonya."
"Bagus mungkin mereka sudah cocok dengan kalian. Sebaiknya kalian makan dulu saja, biar kami yang menjaga mereka."
"Iya kalian makan dulu saja." kata Leo ikut menimpali.
"Iya Tuan Nyonya." jawab Dewi dan Rima lalu berjalan ke arah dapur.
"Gimana sih baru aja deket sebentar langsung disuruh pergi." gerutu Dewi.
"Hahahaha itu tandanya kamu disuruh sadar diri Dew, jangan kebanyakan ngayal, deket sama Tuan Leo aja ga pernah bisa kan? Kita udah beda kasta tau."
"Ih Rima, sukanya bikin sebel."
***
"Akhirnya acaranya selesai juga ya Ren." kata Giselle pada Rendi.
"Kau mau langsung ke kamar atau ikut aku sebentar Giselle?"
"Kemana?"
__ADS_1
"Ke cafe sebelah." jawab Rendi.
"Emhhh gimana ya Ren? Aku ga biasa ke kelab kaya gitu, tapi kalau langsung ke kamar aku belum ngantuk.
"Udah ikut aja, kamu bisa pesen soda kok, sebentar aja."
"Ya udah aku ikut kamu deh." kata Giselle sambil mengikuti ke kelab di samping hotel. Saat berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba Revan lewat di depan mereka tanpa menoleh sedikitpun.
"Tuh liat sombong banget." gerutu Giselle pada Rendi.
"Udah biarin aja, yang penting urusan kita hari ini sama dia udah beres."
"Bener juga kau Ren." kata Giselle lalu berjalan mengikuti Rendi.
Mereka lalu berjalan masuk ke dalam kelab dan duduk di salah satu pojok ruangan. Giselle yang tidak terbiasa dengan suasana kelab merasa sangat tidak nyaman, dia lalu merajuk pada Rendi untuk pulang.
"Ren, aku pulang dulu ya, ngantuk."
"Kamu ga asyik banget sih Giselle, ya udah tapi kamu pulang sendiri ya."
"Iya aku pulang sendiri."
"Nih minum dulu." kata Rendi sambil memberikan sebuah minuman pada Giselle.
"Ini apa Ren?"
"Udah minum aja." kata Rendi sambil meminumkan minuman itu ke mulut Giselle, akhirnya Giselle pun terpaksa meminumnya. Awalnya Giselle merasa biasa saja, namun lama-kelamaan kepalanya terasa begitu pusing. Apalagi saat masuk ke dalam hotel, kepalanya semakin berkunang-kunang.
Dia lalu berjalan masuk ke dalam kamar hotel dengan begitu sempoyongan. "Aduh kepala gue pusing banget sih, mana nih kamar gue." kata Giselle sambil melihat angka yabg tertera di kunci kamarnya.
Dia lalu membuka pintu itu. "Loh kok ga dikunci?" kata Giselle.
"Ah mungkin petugas hotel lupa menguncinya." kata Giselle kemudian masuk ke dalam kamar hotel yang gelap sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia kemudian memejamkan matanya karena sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepalanya.
"Jadi kau wanita yang kupesan?" kata seorang lelaki yang tiba-tiba ada di sampingnya. Giselle begitu terkejut mendengar suara itu, dia sangat ingin meronta dan berlari namun pria itu sudah mencekal tubuhnya dan membuka seluruh pakaian Giselle.
"Tubuhmu sungguh indah Nona." kata laki-laki itu sambil menikmati tubuh Giselle. Giselle hanya bisa diam dan menangis karena dia benar-benar tidak berdaya. Waktu yang dia lalui terasa begitu lambat, desa*an nafas dan era*gan dari lelaki itu benar-benar membuatnya merasa jijik, apalagi saat dia menikmati setiap lekukan tubuh Giselle dan berada di puncak kenikmatan.
'Tuhan rasanya aku ingin mati saja.' gumam Giselle sambil menangis.
"Hei kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu?" tanya laki-laki itu yang sudah selesai menikmati tubuh Giselle, dia lalu menyalakan lampu di kamar hotel tersebut dan saat lampu menyala, keduanya pun berteriak.
"TIDAKKK Giselle!!!"
"TUAN REVAN." teriak Giselle dengan sedikit lemas karena masih dalam pengaruh alkohol.
*Catatan Penulis*
Salah Kamar 2, kalau di season 1 yang salah masuk kamar itu Kenan dan Leo, sekarang yang salah masuk kamar adalah Giselle 😌🤔,,
Gimana dear? Lanjut ga?
__ADS_1
Makasih buat yang udah mampir..
Salam sayang untuk kalian semua 😊💞