
"Kenapa kau diam, Rima? Apa kau sedang hamil?" tanya Drey lagi.
"Aku tidak tahu." jawab Rima sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi kau belum memeriksakannya ke dokter?"
"Belum." jawab Rima lirih.
'Tuhan apakah benar aku sedang hamil? Selama ini bahkan aku tidak menyadarinya karena sibuk menahan sakit di tubuhku. Benar kata Leo, baru sebulan aku hidup dengan Ilham tapi sudah begitu banyak luka di sekujur tubuhku. Ilham memang telah menyiksaku sejak awal pernikahan kami tanpa kusadari.' kata Rima dalam hati.
"Emh Drey, kenapa kau kembali ke rumahku?" tanya Rima mencoba mengalihkan perhatian Drey agar tidak menanyakan tentang rumah tangganya.
"Aku mau mengembalikan ini Rima, ponselmu tertinggal di mobilku." jawab Drey sambil mengeluarkan ponsel milik Rima di saku bajunya.
"Oh, terimakasih. Kau sudah begitu baik padaku. Bagaimana caranya aku membalas semua ini padamu?"
"Sudah jangan kau pikirkan, lebih baik sekarang pikirkan kondisimu."
"Iya."
🍀🍀🍀
Sebelum pergi dari dari taman, di dalam mobil Olivia tampak menghubungi Calista.
'Cepat angkat teleponnya Kak.' kata Olivia dalam hati karena Calista tak juga mengangkat telepon darinya. Beberapa saat kemudian, akhirnya terdengar jawaban dari ponsel Calista.
[Halo Kak.]
[Iya Olive, ada apa?]
[Aku baru saja bertemu dengan Ilham, Kak.]
[Bertemu dengan Ilham? Untuk apa Olive? Bukankah ini hari minggu?]
[Dia mengajakku bertemu di taman Kak, dan dia mengatakan agar aku jangan memercayai semua kata-katamu. Memangnya apa yang telah terjadi diantara kalian berdua?]
[Olive, lebih baik kita bertemu sekarang, kau ada dimana?]
[Aku ada di taman dekat rumah.]
[Baik Olive, sebentar lagi aku dan Leo akan ke rumahmu, kebetulan kami juga masih di jalan.] kata Callista kemudian menutup teleponnya.
"Leo kita harus ke rumah Olive."
"Ada apa Calista? Memangnya apa yang telah terjadi?"
"Ilham, Leo. Dia baru saja menemui Olivia dan mengatakan sesuatu tentang kita."
"BRENG*EK JADI TADI DIA BERPURA-PURA MENYESAL DI DEPAN KITA?" teriak Leo.
"Ya, dan aku yakin permintaan maafnya pada Rima pasti juga palsu."
"Iya Calista, dasar sakit jiwa!" umpat Leo lagi.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Drey tampak mengamati dokter yang kini sedang memeriksa Rima.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Saya perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Nyonya Rima, karena dia tidak tahu dia sedang hamil atau tidak. Jadi saya perlu memastikan darah itu berasal dari janin Nyonya Rima atau dari penyakit lainnya."
"Baik dok."
"Saya bawa Nyonya Rima ke ruang dokter kandungan dulu."
"Iya dok, silahkan."
Seorang perawat lalu membantu Rima turun dari brankar kemudian duduk di kursi roda. Mereka lalu membawa Rima keluar dari ruang UGD.
Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali ke ruangan itu. Dokter tersebut lalu mendekat pada Drey sambil tersenyum.
"Tuan, istri anda Nyonya Rima sedang hamil."
Mendengar perkataan dokter tersebut, Rima kemudian memandang Drey sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf dok, saya bukan suaminya."
"Oh maaf, saya pikir anda suaminya. Begini Tuan, saat ini Nyonya Rima sedang hamil empat minggu."
Rima pun kemudian menutup mulutnya. 'Astaga ternyata aku hamil.' kata Rima dalam hati.
"Ya, dia mengalami sedikit pendarahan."
"Lalu bagaimana keadaan janinnya dok?"
"Untungnya Nyonya Rima cepat dibawa ke sini, jadi kemungkinan besar janin dalam kandungan Nyonya Rima masih bisa dipertahankan jika dia mau menjalani bed rest di rumah sakit ini."
"Bed rest?"
"Ya, maksudnya adalah istirahat total."
"Oh tentu, dia akan menjalani bed rest di rumah sakit ini."
"Baik Tuan, kami sudah memberikan obat-obatan dan vitamin kehamilan untuk Nyonya Rima, sebentar lagi Nyonya Rima akan dipindahkan ke ruang perawatan, anda bisa mengurus administrasinya terlebih dulu."
"Baik dok, terimakasih."
Dokter tersebut lalu meninggalkan Drey dan Rima.
"Drey apa-apaan ini? Aku bahkan tidak membawa uang sepeserpun ke rumah sakit ini."
"Tenang ada aku."
"Tidak Drey, kita baru mengenal dan kau sudah begitu baik padaku."
"Rima, sesama manusia harus tolong menolong. Kutinggal sebentar, aku mau mengurus administrasi agar kau bisa dipindahkan ke ruang perawatan secepatnya." kata Drey lalu meninggalkan Rima.
__ADS_1
"Terimakasih." kata Rima sambil menatap Drey yang kini keluar dari ruang UGD.
🍀🍀🍀🍀
Leo dan Calista keluar dari mobil dengan begitu tergesa-gesa saat mereka sudah sampai di rumah Kenan. Saat mereka masuk ke rumah itu, tampak Olivia dan Kenan yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Bagaimana keadaanmu, Kenan?" tanya Calista.
"Baik, Calista."
"Olive, apa sebenarnya yang telah terjadi?" kata Calista lagi.
"Kakak, tadi Ilham menghubungiku dan dia mengatakan ingin bertemu denganku, jadi aku menemuinya di taman."
"Lalu, apa yang dia katakan?"
"Dia menyuruhku agar tidak mempercayai kalian jika kalian mengatakan sesuatu tentangnya."
"DASAR BRE*GSEK!" teriak Leo.
"Leo sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Kenan.
"Kenan, tadi aku dan Calista pergi ke rumah Rima, kau tahu ternyata Rima tidak ada di rumah dan Ilham tidak tahu dimana keberadaan Rima, beberapa saat kemudian Rima pulang diantar seseorang yang menolongnya."
"Astaga, memangnya apa yang telah terjadi pada Rima sampai dia harus mendapatkan pertolongan?" tanya Olivia.
"Olive, kepala Rima robek dan orang itu tadi malam menemukan Rima sedang mencari taksi, akhirnya dia membawa Rima ke rumah sakit. Tapi yang lebih membuat kami marah adalah sikap Ilham yang sama sekali seperti tidak merasa bersalah."
"DASAR LAKI-LAKI PENGECUT! TEGA-TEGANYA DIA MEMPERLAKUKAN WANITA SEPERTI ITU!"
"Iya Kenan, dia memang sakit jiwa! Di depan kami dia meminta maaf akan semua sikapnya, namun setelah kami pergi ternyata dia menemui Olivia dan mengatakan agar tidak mempercayai aku dan Calista! Benar-benar bre*gsek!"
"Ini sudah keterlaluan, kita harus segera melaporkan Ilham ke polisi."
"Iya Kenan, aku juga khawatir bagaimana nasib Rima selanjutnya jika terus-menerus hidup bersama Ilham."
"Ayo kita laporkan Ilham ke polisi sekarang juga, kami juga sudah memiliki bukti-bukti yang lengkap untuk menjebloskan dia ke penjara."
"Benarkah?" kata Leo dan Calista bersamaan.
"Tentu, kalian pikir istriku terlalu polos? Hari ini dia bahkan sudah bisa menjebak Ilham sampai mendapatkan bukti-bukti kejahatannya di ponselnya." kata Kenan sambil mengelus rambut Olivia.
Leo dan Calista pun bertatapan sambil mengerutkan keningnya.
🍀🍀🍀
"Rima... Kau dimana Rima?" teriak Ilham saat sudah sampai di rumahnya. Dia lalu mencari Rima di setiap bagian rumah itu namun dia tidak menemukan Rima.
"Dasar wanita sialan! Jangan-jangan dia kabur dariku!" umpat Ilham sambil melemparkan jaketnya ke sofa.
"Jika dia kabur, itu bukan masalah besar bagiku. Lagipula sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan hati Olivia, jadi aku tidak memerlukan Rima lagi dalam hidupku, meskipun aku belum puas menyakiti tubuhnya. Hahahaha."
"Lebih baik aku tidur saja." kata Ilham lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya. Namun baru saja matanya terpejam, sebuah dobrakan pintu begitu mengagetkannya.
__ADS_1