
"Roy, kau bisa menyuruh seorang kurir untuk mengambil ASI ku di rumah Mba Laras."
"Iya Aini, tapi biar aku saja yang mengambilnya. Aku akan ke rumah Laras setiap hari untuk mengambil ASI milikmu."
"Apa itu tidak merepotkanmu?"
"Tentu tidak, aku akan dengan senang hati melakukannya."
'Roy.' kata Aini dalam hati saat melihat Roy yang tersenyum di depannya.
πππππ
Kenan dan Olivia mendekat ke arah meja Leo dan Calista yang sedang menikmati makan siang di kantin rumah sakit.
"Jadi Roy benar-benar menyukai Aini?" tanya Calista saat mereka sudah duduk di sampingnya.
"Ya, kemungkinan besar seperti itu." jawab Kenan.
"Kenapa kemungkinan? Apa kau tidak yakin jika Roy menyukai Aini?"
"Aku sangat yakin Leo, hanya saja Roy sepertinya sedikit pesimis dengan perasaannya."
"Kenapa dia harus pesimis?"
"Perbedaan usia dan tragedi kecelakaan itu. Roy sangat takut jika Aini tahu kenyataan yang sebenarnya jika dialah yang menjadi penyebab kecelakaan itu."
"Sayang sekali, padahal Roy terlihat sangat menyayangi Aini dengan begitu tulus." gerutu Olivia.
"Kenan, posisi Roy akan aman jika tidak ada yang mengatakan jika dialah penyebab kecelakaan itu pada Aini."
"Ya, aku juga berfikiran yang sama denganmu Leo tapi Roy tidak menginginkan hubungannya dengan Aini didasarkan atas kebohongan, dia tidak ingin ada yang ditutupi."
"Jika seperti itu yang diinginkan oleh Aini, kita harus bisa membuat Aini benar-benar jatuh cinta dengan Roy, kita harus membuat Aini merasakan cinta dengan begitu dalam."
"Apa maksudmu Leo?"
"Calista apa kau ingat apa yang terjadi pada kita? Saat rasa cinta di hati kita sudah tumbuh dengan sangat dalam, bukankah kita tidak pernah mempermasalahkan hubungan kita yang yang dibangun atas dasar kebohongan? Meskipun kita sama-sama memiliki kesalahanan dan saling membohongi satu sama lain untuk kepentingan masing-masing kita tidak pernah mempermasalahkan itu semua, karena semua itu sudah tertutup oleh cinta. Itu yang seharusnya terjadi pada Aini dan Roy."
"Leo benar." jawab Kenan.
"Olive, mulai besok Aini sudah boleh pulang kan?"
"Iya Kak."
"Tolong kau beri penjelasan pada Laras tentang hubungan Aini dan Roy, dekatkan mereka berdua lalu kau juga harus mempengaruhi Aini agar mulai bersimpati pada Roy hingga akhirnya Aini jatuh cinta padanya."
"Iya Kak, aku akan melakukan itu karena aku yakin Aini pasti bisa hidup bahagia dengan Roy."
"Hei kalian melupakan aku, aku juga akan membantu kalian semua agar hubungan mereka berhasil." kata seorang wanita paruh baya yang kini berdiri di dekat mereka.
"TANTE HENIIIII." teriak mereka bersama-sama.
"Aku benar-benar kaget." gerutu Calista.
πβ€οΈπβ€οΈπβ€οΈπ
__ADS_1
β£οΈSatu minggu kemudian ya dear, Aini dah pulang ke rumah nih, sementara Darren masih di rumah sakit.β£οΈ
Sebuah mobil BMW warna putih tampak berhenti di depan rumah Laras. Seorang laki-laki tampak begitu tergesa-gesa turun dari mobil tersebut.
TOK TOK TOK
Pintu itu pun perlahan terbuka, seorang wanita cantik kini berdiri di balik pintu tersebut.
"Selamat sore, Aini."
"Selamat sore Roy."
"Maaf aku terlambat, tadi banyak sekali pekerjaan di kantor."
"Kalau kau sibuk, kau bisa menyuruh seorang kurir untuk mengambil ASI ini Roy."
"Tidak apa-apa, aku tidak sibuk hanya ada beberapa pekerjaan yang menumpuk."
Aini pun tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum, Aini?"
"Jika banyak pekerjaan yang menumpuk bukankah itu sama saja dengan sibuk, Roy?"
Roy pun tersenyum sambil tersipu malu.
"Hai Roy." sapa sebuah suara dari dalam rumah.
"Hai juga Laras."
Aini pun mengangguk, sedangkan raut wajah Roy pun kini berubah bahagia setelah mendengar perkataan Laras.
"Oh jadi aku boleh mengajak Aini keluar?"
"Iya Roy, tentu saja, kalau bisa kau sekalian ajak makan malam di luar, malam ini aku tidak memasak makan malam karena aku, Ramon, dan Dennis akan pergi ke pesta salah seorang teman kami."
'YES.' gumam Roy dalam hati.
"Bagaimana Roy, kau tidak keberatan kan mengajak Aini keluar?"
"Oh tentu saja tidak, Laras."
"Terimakasih Roy, Aini lebih baik sekarang kau bersiap-siap untuk pergi bersama Roy."
"Oh...O... Iya Mba."
Laras kemudian menarik tangan Aini untuk masuk ke dalam kamar.
"Mba, Aini kan mau ke rumah sakit, kenapa harus pake make up kaya gini sih." gerutu Aini.
"Sudah diam saja, ini Jakarta Aini, bukan di kampung, kau harus terlihat cantik saat keluar rumah." jawab Laras sambil tersenyum.
"Sudah selesai, sekarang kau temui Roy di depan."
"Iya." jawab Aini, dia kemudian berjalan ke ruang tamu. Melihat Aini yang kini tampil begitu segar dengan menggunakan make up minimalis jantung Roy pun berdegup semakin kencang."
__ADS_1
'Oh Tuhan, cantik sekali dia.' gumam Roy dalam hati sambil terus menatap Aini sampai akhirnya suara Aini membuyarkan lamunannya.
"Roy.. Roy.. Roy."
"Oh iya Aini."
"Ayo kita pergi sekarang."
"Ya." jawab Roy.
Laras yang melihat Aini memasuki mobil Roy pun hanya tersenyum. Dia lalu mengambil ponselnya lalu menelpon Olivia.
[Halo Mba Olive, beres, sesuai rencana.] kata Laras sambil terkekeh.
Aini tampak melirik Roy yang kini sedang mengemudikan mobilnya dengan begitu serius. Meskipun penampilan Roy terlihat sedikit berantakan yang hanya menggunakan kemeja dengan dasi yang dilonggarkan serta lengan kemeja yang tergulung sampai di batas siku-siku tangan, tapi dia terlihat begitu seksi di mata Aini.
'Roy, kenapa kau terlihat tampan sekali jika seperti ini? Kau benar-benar laki-laki dewasa yang matang.' gumam Aini dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar. Tanpa sadar, sepanjang perjalanan Aini lalui dengan memperhatikan Roy sambil sesekali bercanda dengannya.
"Ayo Aini." kata Roy sambil membukakan mobil saat mereka sampai di rumah sakit.
"Iya." jawab Aini.
Tanpa Roy sadari, tangganya kini menggandeng tangan Aini saat berjalan di sepanjang lorong rumah sakit tersebut. Aini yang sadar akan hal tersebut hanya tersenyum dan membiarkan tangannya kini digenggam oleh Roy. Mereka lalu masuk ke ruangan Darren lalu memberikan stok ASI Aini pada salah seorang perawat tersebut.
"Aini, beberapa hari lagi Darren sudah bisa kubawa pulang ke rumah."
"Oh syukurlah, aku ikut bahagia, aku sudah tak sabar ingin segera menggendongnya." kata Aini sambil menatap Darren yang kini sedang meminum ASI nya.
"Ya, aku juga sangat bahagia. Jadi, kau mau kan mengunjungi Darren di rumahku?"
"Tentu saja, aku akan sering mengunjunginya di rumahmu."
"Terimakasih."
"Lihat Roy, dia sangat lucu dan menggemaskan."
Roy pun tersenyum melihat tingkah Aini yang terlihat begitu bahagia saat melihat Darren. Hingga satu jam lamanya mereka di rumah sakit, mereka kemudian memutuskan untuk pulang.
"Kita makan malam di luar Aini?"
"Iya." jawab Aini sambil menahan gejolak di hatinya yang begitu tak menentu.
"Roy."
"Ya, kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Ada apa Aini, katakan saja."
"Roy, apakah ini yang disebut dengan kencan?" tanya Aini sambil tersipu malu, apalagi saat ini Roy mulai menatapnya. Aini kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Roy pun tersenyum, dia lalu membuka tangan Aini yang menutupi wajahnya.
"Apakah kau mau berkencan denganku?" kata Roy balik bertanya yang membuat Aini tersipu malu, apalagi saat ini jantungnya kian berdegup kencang.
NOTE:
__ADS_1
Ecieeee cieeee πππ