
"Silahkan masuk," jawab Vallen.
Perlahan pintu ruangan Vallen pun terbuka, Roy dan Aini pun mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Delia," ucap Aini saat melihat Delia kini berdiri di depan mereka.
"Apa kabar Aini?" sapa Delia.
"Baik," jawab Aini sambil tersenyum.
"Silahkan duduk, Delia," kata Vallen sambil menepuk sofa di sampingnya, memberi kode agar Delia duduk di sampingnya.
"Iya, terimakasih Vallen."
Delia pun duduk di dekat Vallen, sedangkan Aini melihat kedatangan Delia dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Aini.
"Iya Aini, hubungan kami baik-baik saja."
"Aku pernah mendengar cerita dari ibuku jika pernah terjadi pertengkaran diantara kalian di sebuah minimarket."
"Memangnya dia siapa, Aini?" bisik Roy.
"Dia Delia, mantan istri Firman, suami Dokter Vallen."
"Oh."
"Hubungan kami baik-baik saja, Aini. Kami sudah menyelesaikan permasalah diantara kami sebelum aku kembali ke Jakarta."
"Oh syukurlah."
"Iya Aini, hubungan kami baik-baik saja. Dan...E... Sebenarnya kedatanganku kesini untuk bertemu dengan kalian, bukan bertemu dengan Vallen."
"Bertemu denganku kami?" tanya Aini dan Roy bersamaan.
"Ya, bertemu dengan kalian. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua."
"Delia, jangan bilang jika kau ingin membicarakan tentang Dimas pada kami berdua."
"Memang itu yang ingin kubicarakan Aini, aku ingin membicarakan tentang Dimas pada kalian berdua."
"Maaf Delia, jangan pernah berharap apapun pada kami karena sampai kapanpun kami tidak akan pernah menarik laporan kami pada Dimas, dia sudah sepantasnya di penjara atas semua kesalahan yang dia lakukan. Apalagi setelah kejadian itu, kondisi rahimku semakin bertambah buruk, kini aku bahkan tidak memiliki harapan lagi untuk bisa memiliki keturunan, padahal sebelum kejadian itu kondisi rahimku sudah sedikit membaik! Apa kau mengerti bagaimana perasaanku, Delia. Coba kau pikirkan bagaimana perasaanku!" teriak Aini.
Vallen kemudian menggenggam tangan Aini. "Tenang Aini."
__ADS_1
"Aini sudah, tenangkan dirimu. Dia belum mengatakan apapun pada kita tapi kenapa kau malah marah-marah padanya?"
"Mas, coba kau pikir untuk apa dia sampai pergi ke sini jika tidak untuk meminta kita mencabut laporan pada Dimas?"
Roy pun terdiam, dia kemudian menatap Delia yang kini tampak sedang menangis di hadapan mereka.
"Delia, apakah tujuanmu menemui kami untuk meminta kami mencabut laporan pada Dimas?"
Delia kemudian mengangkat wajahnya lalu memandang Roy dan Aini secara bergantian.
"Ya, awalnya aku sampai pergi sejauh ini untuk meminta itu pada kalian. Tapi setelah kemarin aku bertemu dengan Vallen dan Firman, aku mengurungkan niatku. Aku sadar permintaanku ini terlalu egois, jujur saja saat ini aku sedang hamil, aku sedang hamil anak dari Dimas lagi, aku tidak rela menjalani kehamilan ini sendiri tanpa Dimas karena itulah aku berinisiatif datang menemui kalian untuk meminta kalian mencabut laporan pada Dimas."
"Jadi kau sudah mengurungkan niatmu untuk meminta kami mencabut laporan itu?"
"Ya, aku tidak akan meminta hal itu lagi pada kalian berdua. Sekarang aku sadar jika aku sangatlah egois, aku hanya mementingkan perasanku saja dan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Aini yang kehidupannya hancur akibat perbuatan Dimas, dan itu tidak hanya sekali saja, tapi berulangkali. Aku sadar, aku tidak pantas menerima kebaikan dari kalian berdua, dan aku tidak akan meminta apapun kecuali permintaan maaf dari kalian berdua," ucap Delia sambil terisak.
Roy dan Aini pun kemudian saling berpandangan, lalu mereka menatap Vallen yang juga ikut kebingungan dengan perkataan Delia.
"Atas nama Dimas, aku meminta maaf padamu Aini, jika aku berada di posisimu pasti aku akan merasa sangat hancur. Aku yakin kejadian tempo hari pasti menimbulkan luka dan trauma bagimu, sekarang kau pun harus mengalami kenyataan pahit kembali sebagai dampak dari kejadian itu dan tentunya ini pasti akan semakin berat bagimu. Aku minta maaf Aini, aku minta maaf."
"Delia, ini bukan kesalahanmu. Kau tidak perlu minta maaf padaku, aku tahu kau pasti juga merasa sangat hancur dan sakit karena menjelang hari pernikahanmu kau juga harus menerima kenyataan pahit jika calon suamimu harus mendekam dalam penjara, apalagi saat ini kau sedang mengandung darah dagingnya."
"Iya Aini."
"Delia, ikhlaskan Dimas menerima hukumannya. Semoga setelah kejadian ini, dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Selama ini Dimas selalu hidup dalam kemewahan dan tidak pernah mengalami penderitaan, itulah yang membuat dirinya menjadi orang yang egois dan selalu berbuat sekehendaknya, karena dia tidak pernah mendapatkan pelajaran hidup. Biarkan dia menjalani kehidupannya saat ini, dan kau bersabarlah menanti kebebasannya. Aku yakin kesabaranmu pasti akan berbuah manis, Delia."
Aini kemudian menggenggam tangan Delia. "Delia, bersabarlah. Aku yakin setelah kejadian ini Dimas pasti bisa berubah.
"Ya, semoga saja semua ini akan menjadi pelajaran yang berarti dalam hidupnya dan mampu merubah semua sikap buruknya."
"Iya, Delia."
"Maaf, Delia. Kau ke sini sendirian?"
"Iya, aku menginap di rumah salah seorang sanak saudaraku. Setelah pulang dari rumah sakit aku memutuskan langsung pulang karena aku pikir sudah cukup jika aku sudah meminta maaf pada kalian."
"Jadi setelah ini kau langsung pulang?"
"Ya, setelah pulang dari sini aku langsung ke stasiun."
"Delia, bagaimana jika kau kami antarkan saja ke stasiun."
"Tidak usah, Aini. Aku tidak mau merepotkan kalian."
"Sama sekali tidak merepotkan, iya kan mas?"
__ADS_1
"Iya sama sekali tidak merepotkan."
"Terimakasih."
Delia kemudian mengalihkan pandangannya pada Vallen yang duduk di sampingnya.
"Vallen, terimakasih banyak. Kau wanita yang sangat baik, Mas Firman sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu."
Vallen pun tersenyum. 'Tentu saja,' gumam Vallen dalam hati.
"Aku pamit pulang dulu Vallen, terimakasih atas semua bantuanmu."
"Ya sama-sama, tapi aku tidak membantu apapun, hanya membantu mempertemukan kalian saja."
"Tapi pertemuan ini sangat berarti bagiku."
"Oh iya, semoga bermanfaat bagimu."
"Ya, sekarang aku pamit pulang dulu. Terimakasih banyak."
"Iya."
"Vallen, kami juga pamit pulang sekarang karena kami akan mengantarkan Delia ke stasiun."
"Iya Aini, kalian hati-hati. Ingat kata-kataku, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk kalian berdua."
"Terimakasih banyak, Vallen."
"Ya."
Aini dan Delia lalu memeluk Vallen, kemudian mereka keluar dari ruangan Vallen bersamaan. Sedangkan Vallen tampak menghembuskan nafas panjangnya.
"Ini tidak seburuk yang kupikirkan, syukurlah jika Delia bisa bersikap lebih dewasa," kata Vallen sambil terkekeh.
Sementara Delia dan Aini kini sedang merapikan diri di toilet rumah sakit.
"Mas Firman sungguh beruntung memiliki istri seperti Vallen. Dia wanita yang sangat cantik, pintar dan baik," ucap Delia saat merapikan riasannya.
"Iya Delia, dia sangat baik."
"Keputusan Mas Firman menceraikan diriku adalah keputusan yang tepat karena aku memang bukanlah jodohnya."
Aini kemudian tersenyum mendengar perkataan Delia. Tanpa mereka sadari di balik salah satu pintu toilet ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
"Firman, menceraikan seseorang? Apakah ini artinya Firman seorang duda? Astaga!!"
__ADS_1
NOTE:
Mereka bertiga pernah suka sama Firman semua, akur bener ya 😂😂ðŸ¤