
"Apakah sebaiknya aku meminta tolong pada Calista?" kata Giselle sambil terus melihat sebuah nama di benda pipih itu.
"Baik, aku telepon Calista saja dulu." kata Giselle kemudian mencoba menghubungi Calista, namun setelah beberapa lama menghubungi Calista, tidak ada jawaban dari ponsel Calista.
"Mungkin Calista sedang sibuk. Lebih baik aku istirahat dulu saja, nanti sore aku akan mencoba berbicara dengan Revan." kata Giselle kemudian merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
TOK TOK TOK
Giselle pun bergegas bangun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
"Mama." kata Giselle saat melihat Santi telah berdiri di depan kamarnya dengan senyuman di bibirnya.
"Giselle, mama mau mengajakmu makan siang. Ayo kita turun."
Giselle pun kemudian mengangguk meskipun di dalam hatinya penuh tanda tanya. 'Apa yang sebenarnya mama rencanakan padaku?' kata Giselle dalam hati.
Giselle pun memandang makanan yang ada di depannya dengan sedikit ragu. Melihat raut kecemasan di wajah Giselle, Santi pun kemudian tersenyum.
"Kau takut dengan semua makanan ini Giselle?" tanya Santi. Giselle pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Kalau kau cemas kau bisa melihatku dulu memakan semua makanan ini." kata Santi sambil memakan semua makanan yang ada di depannya. Giselle kemudian tersenyum lalu mengambil makanan yang ada di meja makan ke dalam piringnya.
'Apakah mama sudah benar-benar berubah karena kejadian tadi?' kata Giselle dalam hati.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Revan sepertinya kita memang benar-benar harus menyelidiki tentang sikap mama yang sebenarnya pada Giselle."
"Memangnya kenapa pa?"
"Tadi saat papa pulang ke rumah, papa mendengar mama seperti sedang membentak Giselle."
BRAGGGGG
"Apa? Ini tidak bisa dibiarkan!" bentak Revan sambil menggebrak meja.
"Sabar Revan, kau tahu mama sangatlah pintar beralasan. Kita tidak bisa bertindak gegabah untuk saat ini, mamamu bisa berkata jika kita tak adil karena selalu membela Giselle."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang pa?"
"Mengawasi gerak-gerik mamamu."
"Mengawasi gerak-gerik mama? Apa maksud papa? Lalu siapa yang akan mengawasinya?"
Farhan pun kemudian tersenyum. "Kau tenang saja, biar papa yang akan mengurusnya."
"Baik pa, tapi pastikan keadaan Giselle dalam keadaan baik-baik saja."
"Iya Revan, kau tenang saja."
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
❣️ Satu bulan kemudian ❣️
"Revan selama satu bulan terakhir ini menurut orang yang memata-matai mama sikap mama begitu baik pada Giselle."
"Syukurlah jika mama sudah benar-benar bersikap baik."
"Iya, di rumah mama selalu bersikap manis pada Giselle dan selalu memperhatikan kehamilannya. Dia tidak pernah membentak Giselle lagi seperti dulu."
"Syukurlah, Revan jadi tenang pa karena sebentar lagi kita harus ke Kalimantan untuk pembukaan pabrik baru kita."
"Iya Revan, papa pun kini sudah tenang meninggalkan Giselle."
"Iya pa, tapi ngomong-ngomong siapa mata-mata papa sebenarnya?" tanya Revan dengan kening berkerut.
"Bi Cici." jawab Farhan sambil terkekeh.
"Hahahaha. Kenapa harus Bi Cici pa?"
"Karena Bi Cici lah yang tahu semua gerak-gerik mama dan Giselle di rumah."
"Papa, ada-ada saja."
"Papa juga sudah berpesan pada Bi Cici agar selalu mengawasi mama saat kita pergi ke Kalimantan besok."
"Iya pa."
🍀🍀🍀🍀🍀
Revan membelai rambut Giselle yang kini tertidur di pangkuannya.
"Iya Revan, aku tahu itu."
"Aku sebenarnya sangat mencemaskanmu, kandunganmu sudah memasuki usia delapan bulan. Aku tidak ingin berjauhan dengamu."
"Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja, aku tidak perlu mencemaskan apapun. Lebih baik kau urus pekerjaanmu dengan baik."
"Giselle, sebenarnya bagaimana sikap mama padamu?"
"Baik Revan, mama sangat menyayangiku dan memperhatikanku." jawab Giselle sambil tersenyum.
'Jawaban Giselle saat ini tentang mama sangat jauh berbeda dengan jawaban Giselle satu bulan yang lalu. Mungkinkah mama memang sudah benar-benar berubah?' gumam Revan dalam hati.
"Benarkah?"
"Ya, mama sangat baik dan perhatian padaku Revan."
"Syukurlah, aku jadi lebih tenang meninggalkanmu."
"Iya Revan, kau tenang saja."
'Revan, selama satu bulan terakhir ini Mama Santi selalu bersikap baik padaku. Sejak papa memergokinya saat sedang membentakku Mama Santi berubah menjadi baik padaku. Mungkin dia memang benar-benar sudah berubah.' kata Giselle dalam hati.
Keesokan paginya, Revan dan Farhan pun bersiap untuk pergi ke Kalimantan setelah sarapan pagi.
__ADS_1
"Aku pergi dulu sayang, jaga dirimu dan anak kita baik-baik." kata Revan sambil mencium kening Giselle.
"Iya Revan, kau jangan terlalu memikirkan kami. Kami baik-baik saja."
"Iya Revan, kau tidak perlu mencemaskan Giselle karena ada mama yang akan menjaganya."
"Iya ma, Revan titip Giselle ya."
"Iya Revan."
Farhan pun mendekat pada Santi. "Sayangi Giselle, bagaimanapun juga dia adalah menantumu."
"Iya Pa. Papa tenang saja. Papa bisa tanyakan pada Giselle bagaimana sikap mama selama ini."
Farhan lalu memandang Giselle. "Mama sangat baik pada Giselle pa." jawab Giselle sambil tersenyum.
"Ya sudah papa dan Revan berangkat dulu."
Giselle dan Santi pun mengangguk kemudian melambaikan tangan mereka. Melihat mobil Revan dan Farhan yang sudah keluar dari rumah, Santi pun mendekat pada Giselle sambil tersenyum menyeringai.
"Giselle, aku sudah lelah berpura-pura. Mari kita akhiri permainan ini."
"Permainan? Apa maksud mama?"
Santi pun kemudian tersenyum kecut. "Memangnya kau pikir selama satu bulan ini aku benar-benar baik padamu? Kau salah jika memiliki pemikiran seperti itu Giselle. Sampai aku mati, aku tidak akan pernah bersikap baik padamu."
"Jadi selama ini mama hanya berpura-pura baik padaku?"
"Ya, karena mama tahu setelah papa memergoki mama yang sedang membentakmu, papa pasti tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan menyuruh Bi Cici untuk mengawasi gerak-gerik mama, jadi selama ini mama harus bersandiwara agar mereka tidak curiga."
"Giselle pikir mama sudah benar-benar bisa menerima Giselle sebagai menantu mama."
"Kau jangan bermimpi Giselle, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai menantuku."
Giselle pun hanya terdiam mendengar perkataan Santi.
"Mulai hari ini, kau harus menuruti kata-kataku! Kalau tidak, kau tahu sendiri kapanpun aku bisa menyakiti mamamu."
"Jangan pernah lakukan itu ma."
"Baik, sekarang kau turuti kata-kataku. Hari ini Bi Cici sedang libur, jadi kau yang harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah."
"Tapi hari ini Giselle harus kontrol kandungan ma."
"Oh jadi kau mau melawan kata-kataku? Baik sekarang juga aku pergi ke rumah mamamu."
"Jangan ma, Giselle akan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah hari ini."
"Baik mama pegang kata-katamu. Sekarang mama ada urusan, saat nanti pulang semua pekerjaan rumah sudah harus selesai."
"Iya ma."
Santi pun meninggalkan Giselle kemudian masuk ke dalam mobilnya disertai tatapan yang begitu tajam. Sedangkan Giselle masuk ke dalam rumah dan mulai membereskan piring-piring kotor yang ada di meja.
__ADS_1
'Aku tidak bisa seperti ini, nyawa mama benar-benar dalam bahaya, aku harus berbicara dengan Calista. Ya, aku harus menemui Calista sekarang.' gumam Giselle saat sedang mencuci piring. Dia lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke rumah Calista diantar oleh seorang sopir.
"Tanganku sakit sekali, cucian piring tadi benar-benar banyak dan membuat tanganku pegal." gerutu Giselle saat dalam perjalanan menuju rumah Calista.