
"Kau mau kemana Giselle?" tanya Calista saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Entahlah." jawab Giselle sambil tertunduk lesu.
"Lebih baik kau kuantar ke rumah."
"Tidakkk.. Tidak Calista, Revan tahu rumahku, dia bisa datang ke rumahku, aku tidak ingin orang tuaku tahu tentang semua yang telah terjadi padaku."
"Kau selalu saja begitu Giselle, kau selalu menyembunyikan sesuatu dari Mamamu."
"Ya karena Mama memilki penyakit jantung, aku tidak ingin keadaannya semakin memburuk karena memikirkan aku."
"Baik jika itu maumu, lebih baik kita ke rumahku saja."
"Ke rumahmu? Bagaimana dengan Leo? Apa yang akan kukatakan padanya?"
"Itu jadi urusanku, kau tenang saja, tenangkan dirimu di rumahku sampai kau siap untuk bertemu kembali dengan Revan."
Giselle terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Calista, tatapan matanya kosong memandang lalu lintas yang ada di hadapannya sambil sesekali menghapus air mata yang masih mengalir. "Apakah aku harus bertemu dengannya lagi Calista?" tanya Giselle setelah cukup lama terdiam.
"Ya harus, karena bagaimanapun juga dia masih suamimu, kau harus menyelesaikan semua masalah dengannya."
Giselle hanya menunduk kemudian menangis mendengar perkataan Calista. "Hei kau kenapa Giselle? Kenapa kau menangis lagi?"
"Tidak apa-apa aku hanya sedih karena mengalami kejadian seperti ini lagi dalam hidupku."
"Giselle jangan pernah menyesali keadaan, ini sudah takdir dan kau harus menjalaninya, coba kau lihat aku. Bagaimana kacaunya hidupku dulu Giselle? Kau tidak perlu khawatir karena setiap manusia memiliki proses agar memiliki kehidupan yang lebih baik."
"Tapi kenapa Revan harus membohongiku? Kenapa dia tidak mengatakan jika dia sudah menikah dengan Stella?"
"Dia pasti memiliki alasan untuk itu, kau sendiri yang mengatakan jika kalian menikah secara tidak sengaja. Mungkin karena itulah dia belum bisa jujur padamu sejak awal menikahimu."
"Mungkin, tapi ini terlalu menyakitkan untukku Calista."
"Giselle, sekarang aku bertanya padamu. Apakah kau mencintainya?"
__ADS_1
Giselle hanya terdiam, lidahnya seakan kelu dan hatinya terasa begitu berat untuk mengatakan perasaannya saat ini.
"Kenapa kau diam Giselle? Apakah kau mencintainya?" tanya Calista lagi. Giselle pun mengangguk perlahan.
"Jika kalian saling mencintai, kalian harus menyelesaikan semua masalah kalian sebelum semuanya semakin berlarut-larut dan menambah masalah pada hubungan kalian Giselle."
"Iya tapi tidak sekarang Calista, aku belum sanggup untuk bertemu dengan Revan."
"Tentu Giselle, aku akan selalu membantumu sampai kau siap bertemu dengan Revan, sekarang hapus air matamu, dan buang rasa sedihmu. Ayo kita turun." kata Calista saat mereka sudah sampai di rumahnya.
***
"Giselle, aku pulang. Kau dimana Giselle?" teriak Revan saat sudah sampai di rumah, dan melihat rumah yang sepi dan sedikit berantakan.
'Pasti dia sedang mandi, kau mau memancingku kembali Giselle?' gumam Revan sambil tersenyum nakal. Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Namun setelah membuka pintu kamar mandi, Revan tidak menemukan Giselle di dalamnya. 'Sial, kemana Giselle?' gumam Revan sambil duduk di atas ranjang, dia lalu mengambil ponselnya kemudian menelepon Giselle. Namun ponsel Giselle tidak dapat dihubungi, dia lalu mencoba mengirimkan pesan, tapi pesan itu pun tidak terkirim. Revan yang begitu panik lalu berlari ke arah walk ini closet dan melihat tidak ada satupun pakaian Giselle yang tersisa.
"Sial! Kenapa semua tiba-tiba jadi seperti ini?? Apa jangan-jangan semua ini terjadi karena Calista? Bukankah tadi Giselle bertemu dengan Calista? Mereka memang kurang ajar! Berani-beraninya mereka ikut campur urusan pribadiku!" teriak Revan di dalam kamar.
"Brengsek! Brengsek!" umpat Revan sambil membanting barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Ada apa lagi dia menelponku?" kata Revan sambil melemparkan ponsel itu ke atas ranjang. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tubuhnya kini terasa begitu lemas, tanpa dia sadari air mata pun mengalir dari sudut matanya.
"Brengsek kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku jadi lemah tanpa Giselle, kalau dia pergi meninggalkan aku itu karena kemauannya!" kata Revan kemudian duduk untuk menghapus air matanya. Di saat itu juga dia mendengar sebuah ketukan dari pintu apartemennya.
TOK TOK TOK
Wajah Revan pun kembali berbinar. 'Barangkali itu Giselle? Dia pasti menyesal telah meninggalkanku dan kembali lagi ke rumah ini.' gumam Revan sambil bergegas membukakan pintu.
"Giselle." teriak Revan saat membuka pintu, namun yang ada di hadapannya bukanlah Giselle melainkan Stella.
"Giselle? Enak saja kau samakan aku dengan wanita tak berkelas seperti dia. Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku?" tanya Stella kemudian masuk dan duduk di sofa.
Namun Revan tak menjawab pertanyaan Stella, dia lalu mendekat dan menatap tajam pada Stella. "Stella, bagaimana kau bisa tahu apartemen ini? Padahal aku tidak pernah memberitahukan pada siapapun dimana aku tinggal sekarang?"
"Emh.. E.. Itu."
__ADS_1
"Katakan Stella darimana kau bisa tahu tempat tinggalku?"
"E.. Itu.."
"Jangan-jangan kau sudah mengintaiku Stella? Cepat katakan apa kau sudah mengintaiku!"
Stella hanya diam, rasa takut mulai melanda hatinya melihat kemarahan Revan yang tampak begitu menakutkan.
"Jadi benar kau sudah mengintaiku? Dasar brengsek! Jadi kau juga yang telah membuat Giselle pergi dari sini!" teriak Revan.
"Revan sadarlah! Sudah sepantasnya dia pergi dari kehidupanmu, kembalilah padaku Revan dan kita bisa memulai kehidupan yang baru. Tinggalkanlah wanita jal*ng itu Revan!"
"Jaga mulutmu Stella, dia bahkan lebih baik dari dirimu."
"Lebih baik dariku? Memangnya kau tidak punya cermin Revan? Aku bahkan jauh lebih cantik dibandingkan dirinya."
"Penilaian terhadap seseorang itu bukan hanya dilihat dari penampilan ataupun materi Stella, dia memiliki kepribadian yang tidak pernah dimilikimu sebagai seorang istri!"
"Jangan pernah membandingkan aku dengan dirinya Revan, karena bagaimanapun juga aku tetap lebih baik darinya!"
"Itu menurutmu tapi tidak menurutku!"
"Revan sudahlah lupakan Giselle, bukankah sejak dulu kau mencintaiku? Kita pasti bisa memulai lembaran yang baru dan memulai kehidupan rumah tangga yang bahagia tanpa adanya orang lain."
"Orang lain? Bukankah kau yang lebih dulu memasukkan orang lain dalam kehidupan rumah tangga kita dan membuat semuanya berantakan? Jika saja kau sedari dulu mau menerima dan mencintaiku, rumah tangga kita tidak akan hancur seperti ini Stella."
"Kumohon Revan, kita masih bisa memperbaikinya, masih ada waktu Revan!"
"Tidak SEMUA SUDAH TERLAMBAT STELLA! SUDAH TERLAMBAT!" teriak Revan di depan wajah Stella.
Stella kemudian menutup wajahnya dan menangis dengan tersedu-sedu sambil menjatuhkan dirinya bersimpuh di atas lantai.
"Stella, maaf aku sudah tidak bisa menjalani rumah tangga ini lagi denganmu, setelah anakmu lahir aku akan menceraikanmu. Dan mulai hari ini kau STELLA DHIANDRA KUJATUHKAN TALAK PADAMU, KUHARAMKAN TUBUH INI UNTUK MENYENTUHMU STELLA!"
"HENTIKAN REVAN!!" Teriak seseorang dari pintu apartemen.
__ADS_1
"Papa.. Mama." kata Revan saat melihat kedua orang tuanya yang tiba-tiba kini ada di hadapannya.