Salah Kamar

Salah Kamar
Mengambil Keputusan


__ADS_3

"Kau kenapa Leo? Kenapa akhir-akhir ini kau tampak begitu cemas?" tanya Calista saat melihat Leo yang terlihat mondar-mandir di dalam kamar.


"Aku memikirkan Giselle, Calista."


"Giselle? Memangnya kenapa dengan Giselle? Apa kau kehilangan dia, Leo?" tanya Calista sambil meledek.


"Jangan bercanda Calista, kau tahu kan jika aku hanya mencintaimu."


"Lalu? Kenapa dengan Giselle?"


"Saat dia mengundurkan diri, aku melihatnya pulang bersama Revan. Bahkan mereka tampak mesra di dalam mobil."


"APAAA? Yang benar saja Leo? Apakah Giselle tidak tahu jika Revan sudah memiliki istri?"


"Entahlah, kemungkinan tidak, karena aku tahu Giselle tidak mungkin mengulangi kesalahan yang sama."


"Leo, apakah kau ingat alasan Giselle mengundurkan diri karena dia akan menikah? Apakah laki-laki itu adalah Revan? Lalu bagaimana dengan Stella?"


"Mungkin mereka mulai dekat saat aku menyuruhnya mengantarkan berkas ke kantor Revan saat aku sedang menemanimu melahirkan, apalagi aku juga menyuruhnya untuk mengantikanku saat acara launching produk kami di Bandung. Jangan-jangan ada kejadian di Bandung yang tidak kita ketahui, Calista."


"Astaga, sepertinya kau benar Leo, kemungkinan mereka mulai dekat sejak kejadian itu. Kita harus bagaimana?"


"Sebaiknya kita tidak usah ikut campur urusan pribadi mereka dulu karena setahuku hubungan Revan dan Stella memang buruk bahkan tidak selayaknya suami istri sebagaimana mestinya. Tapi kita harus mengetahui bagaimana hubungan Giselle dan Revan agar kita bisa menolongnya jika sesuatu hal yang buruk terjadi padanya."


"Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Calista, coba kau hubungi Giselle, ajak dia bertemu denganmu, dan cari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada Giselle karena dia tidak tahu Revan sudah menikah."


"Iya Leo, besok coba kuhubungi Giselle. Ini sudah malam aku mau ambil anak-anak dulu. Dia sedang bersama Bi Asih dan Rima di bawah."


"Iya sayang."


Calista lalu menghampiri Nathan dan Nala yang sedang asyik bermain bersama Rima dan Bi Asih. "Nathan, Nala, saatnya kita tidur sayang."


"Mereka rewel?"


"Tidak Nyonya, mereka lucu dan menyenangkan." jawab Bi Asih.


"Ya sudah, aku bawa mereka ke kamar dulu, ayo Rima kamu bantu saya bawa mereka ke atas."

__ADS_1


"Iya Nyonya." jawab Rima sambil mengikuti Calista.


"Terima kasih Rima, sebaiknya kau sekarang beristirahat." kata Calista saat mereka sudah sampai di kamar Calista.


"Iya Nyonya." jawab Rima kemudian berjalan keluar.


'Sial, sudah dua bulan aku disini tapi aku belum bisa bertindak apapun untuk menyakiti anak-anak Leo, ternyata ini tidak semudah yang kukira. Di rumah ini banyak sekali CCTV, bahkan beberapa kali aku sempat ketahuan. Huhhh dasar menyebalkan.' gumam Rima sambil mengintip Leo dan Calista dari balik pintu.


***


"Jalan Pak, dan ikuti mobil itu!" perintah Stella pada sopir pribadinya saat melihat mobil Revan keluar dari gedung kantornya. Tak berselang lama, mobil Revan pun masuk ke sebuah apartemen mewah yang tak jauh dari kantornya.


Stella kemudian berjalan mengendap-endap mengikuti Revan yang kini sudah masuk ke dalam apartemen, hingga akhirnya dia berhenti pada sebuah pintu, kemudian dia masuk ke dalam apartemen tersebut.


"Jadi kau tinggal disini dengan perempuan murahan itu? Baik lihat saja besok, aku akan memastikan hubungan kalian hancur dan Revan kembali padaku." kata Stella sambil tersenyum menyeringai kemudian berjalan pergi meninggalkan apartemen tersebut.


"Aku pulang Giselle, kau dimana?" tanya Revan. Namun tidak ada jawaban dari Giselle. Dia lalu melihat ke arah balkon dan dapur, namun Giselle juga tidak ada disana.


'Kemana dia? Kenapa dia tidak menjawabku, jangan-jangan dia kabur,' batin Revan.


Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar, dan melihat Giselle yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kau kenapa Revan? Kau tampak aneh?" tanya Giselle, kemudian berjalan ke arah walk in closet dan mulai mengenakan satu per satu pakaiannya. Tanpa dia tahu, Revan mengikutinya ke dalam walk in closet dan di saat itu juga Revan mulai mendekat dan memeluk tubuhnya.


"Giselle." kata Revan sambil menciumi tengkuk dan leher Giselle.


"Revan?" jawab Giselle yang terkejut karena tiba-tiba Revan sudah memeluknya.


"Giselle, bisakah kita lakukan sekarang? Sepertinya aku sudah tidak sanggup untuk menahannya," bisik Revan di telinga Giselle dengan begitu mesra.


"Emh..E.." Giselle yang masih bingung hanya membiarkan Revan membopong tubuhnya ke atas ranjang kemudian ******* bibir Giselle dengan penuh bergairah.


"Aku mencintaimu Giselle, aku mencintaimu." bisik Revan di telinga Giselle sambil menciumi leher menanggalkan pakaian Giselle.


"Aku juga mencintaimu Revan." jawab Giselle kemudian ikut membuka pakaian Revan dan mulai membalas ciuman Revan dengan penuh gairah. Hingga akhirnya mereka larut, melewati malam dalam permainan yang penuh ******* dan erangan sampai pada puncak kenikmatan.


Giselle memeluk erat Revan yang kini kelelahan sambil menciumi tubuh polosnya. "Aku mencintaimu Revan." bisik Giselle yang membuat Revan tersenyum dan balas memeluk erat Giselle hingga akhirnya mereka tertidur.


***

__ADS_1


Wangi harumnya masakan begitu menggoda Revan untuk membuka matanya. "Oh ternyata sudah pagi." kata Revan kemudian bangun dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaiannya. Dia lalu berjalan keluar dari kamar dan melihat Giselle yang kini sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan.


"Kau sudah bangun Revan?"


"Aku bangun karena wangi masakanmu Giselle, tidak sia-sia aku menikahimu karena kau ternyata sangat pandai memasak. Hahahaha." kata Revan kemudian mulai menyantap makanannya.


"Revan, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu."


"Apa?"


"Setelah ini apakah kau akan menceraikanku?"


"Hahahaha, tentu tidak Giselle, aku tidak akan pernah menceraikanmu, bukankah tadi malam sudah kukatakan padamu jika aku mencintaimu."


Giselle lalu tersenyum mendengar perkataan Revan. "Terimakasih Revan, jadi kita juga akan melanjutkan pernikahan ini menjadi pernikahan resmi kan?" tanya Giselle yang membuat Revan tersedak hingga memuntahkan seluruh makanan dari mulutnya.


"Kau kenapa Revan?" tanya Giselle panik.


"Tidak apa-apa hanya tersedak."


"Makanya pelan-pelan kalau makan, ini minum dulu." kata Giselle sambil memberikan segelas air putih pada Revan.


Revan hanya tersenyum kemudian meminum air dari Giselle. "Pelan-pelan kalau makan, Revan." gerutu Giselle.


"Iya Giselle." jawab Revan lalu melanjutkan makannya.


"Lalu bagaimana?"


"Bagaimana apa?"


"Yang kutanyakan tadi mengenai pernikahan resmi kita?"


"O..O...Oh itu... kita akan menikah resmi tapi setelah orang tuaku pulang dari New York," jawab Revan dengan gugup.


"Tidak masalah, terima kasih Revan." kata Giselle sambil memeluk dan mencium Revan. Revan menelan ludah kasar disertai raut wajah yang kini tampak begitu kebingungan dan perasaan yang begitu kacau.


Tiba-tiba ponsel Giselle pun berbunyi. "Oh Calista, sebentar aku angkat telepon dari Calista dulu ya."


"Iya." jawab Revan.

__ADS_1


'Aku harus mengambil keputusan dan mengakhiri semua ini dengan Stella.' gumam Revan sambil menatap Giselle yang kini asyik ngobrol dengan Calista di telepon.


__ADS_2