
Giselle membiarkan ponselnya terus berdering begitu saja, hingga akhirnya sebuah pesan pun masuk.
"Angkat panggilan dariku atau kuberitahu yang sebenarnya pada Leo jika kita telah menikah."
Dengan malas, akhirnya Giselle pun mengangkat panggilan dari Revan.
[Halo Giselle.]
[Ada apa? Aku sedang sibuk.]
[Nanti sore kau kujemput.]
[Bagaimana jika aku tidak mau?]
[Akan kukatakan pada Leo jika kau sudah menikah denganku, dan kau tidak boleh lagi bekerja di kantor Leo.]
[Kau hanya bisa memaksa.] kata Giselle sambil menutup telepon dari Revan.
Menjelang jam makan siang, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Giselle yang tengah asyik bekerja. "Selamat siang Giselle."
"Oh Calista."
"Bagaimana kabarmu Giselle? Lama tak bertemu."
"Baik Calista, kau sendiri dan si kembar bagaimana?"
"Mereka baik dan tumbuh dengan sehat, tapi aku sedikit kurang enak badan, makanya Leo mengajakku pergi ke dokter dan makan siang di luar agar aku tidak terlalu jenuh mengurusi si kembar."
"Syukurlah jika mereka sehat, mereka bayi yang sangat lucu Calista."
"Terima kasih Giselle."
Giselle hanya tersenyum, namun hatinya terasa begitu sakit. 'Mungkin benar kata Revan jika aku memang harus berusaha melupakan Leo, jika aku terus-menerus hidup seperti ini, hanya akan menyakiti diriku sendiri, lagipula mereka juga sudah memiliki dua orang anak,' batin Giselle sambil menatap Calista yang masih bercerita tentang anak kembar mereka.
"Kau sudah datang sayang?"
"Ya Leo, aku sedang ngobrol dengan Giselle, bagaimana jika kita juga mengajaknya makan siang bersama."
"Tidak Calista, tidak bisa, ini khusus untuk kita berdua, bukankah kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua sejak twins lahir?"
"Tapi Leo, aku juga ingin ngobrol dengan Giselle."
"Benar apa kata Pak Leo, Calista kalian seharusnya menghabiskan waktu berdua untuk membuang rasa penatmu."
"Kau dengar kan Calista, Giselle saja bisa memahami kondisi kita."
"Baiklah," jawab Calista sambil menggerutu.
"Giselle, kami pergi dulu ya mungkin aku kembali ke kantor sedikit terlambat." kata Leo sambil menggandeng tangan Calista.
__ADS_1
"Iya Pak Leo." jawab Giselle sambil tersenyum, namun di hatinya menyimpan luka yang terasa begitu perih.
'Lihat Giselle, Leo saja menolak kehadiranmu diantara dia dan Calista, itu seharusnya membuatmu sadar untuk berhenti mencintai Leo.' kata Giselle dalam hati pada dirinya sendiri.
Lamunan Giselle tiba-tiba buyar ketika mendengar suara ponselnya berbunyi. 'Revan.' guman Giselle.
"Mau apa dia meneleponku lagi." kata Giselle sambil mengangkat panggilan itu dengan malas.
[Ya Pak Revan.]
[Kau temani aku makan siang, aku sudah di bawah.]
[Apaaa?]
[Cepat aku sudah di bawah, jika kau tidak mau...]
[Kau akan mengatakan pada Leo jika kita telah menikah.]
[Hahahaha, kau sekarang pintar Giselle, cepat lah turun.]
Giselle menutup teleponnya dengan begitu kesal. "Kenapa aku harus bertemu dia di saat hatiku sedang berantakan seperti ini? Bertemu dengannya pasti akan membuat hidupku semakin berantakan." gerutu Giselle sambil berjalan ke arah mobil Revan.
"Kau kenapa Giselle?" tanya Revan saat Giselle naik ke mobilnya.
"Tidak apa-apa Pak Revan."
"Baik."
"Kau sebenarnya kenapa? Siang ini kau bersikap terlalu manis padaku, biasanya kau selalu menolak apa yang kuminta darimu."
"Sebenarnya apa yang anda inginkan? Aku bersikap kasar kau marah, aku bersikap baik kau masih saja protes! Kau memang benar-benar sulit dimengerti!"
"Hahahaha, maafkan aku Giselle, kau hanya terlihat sedih jadi aku mencemaskanmu, apa kau belum memaafkanku?"
Giselle hanya menggeleng mendengar perkataan Revan, namun beberapa saat kemudian air mata mulai membasahi wajahnya.
"Kau kenapa Giselle? Apa aku sudah menyakitimu?"
Giselle hanya menggeleng, hanya isakan yang kini terdengar. "Apa ini ada hubungannya dengan Leo?"
Giselle kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Apa dia menyakitimu?" tanya Revan.
"Tidak."
"Giselle, bukankah sudah kukatakan kalau kau harus berusaha melupakan Leo, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika kau terus menerus seperti ini!"
"Aku sudah berusaha Revan, aku juga selalu berusaha tapi rasanya sangat sulit melupakannya!"
Revan lalu membelai rambut Giselle. "Aku akan membantumu Giselle."
__ADS_1
"Bagaimana caranya?"
"Yang harus kau lakukan pertama kali adalah menjauh dari kehidupan Leo."
"Maksudmu?"
"Ya, jika kau ingin benar-benar melupakannya kau harus menjauhi Leo, berhentilah menjadi sekretaris Leo, kau tenang saja jika kita bercerai suatu saat nanti, aku akan menjamin kehidupanmu dengan memberikan pekerjaan untukmu Giselle." kata Revan sambil menggenggam tangan Giselle.
"Haruskah seperti itu?"
"Ya, kau harus berani bertindak jika benar-benar ingin melupakan Leo."
Giselle lalu terdiam, pandangannya terlihat kosong. "Bagaimana Giselle? Jika kau belum memiliki keputusan, renungkan kembali kata-kataku dengan pikiran yang jernih."
"Kau benar Revan, aku memang harus menjauhi Leo, besok akan kupersiapkan surat pengunduran diriku."
Senyum pun tersungging di bibir Revan. 'Berhasil.' gumam Revan sambil melirik Giselle.
"Aku yakin kau pasti bisa melupakan Leo, aku akan membantumu keluar dari bayang-bayang masa lalumu."
"Terimakasih." kata Giselle, secara tidak sengaja dia menyandarkan kepalanya pada bahu Revan. Jantung Revan semakin berdegup kencang saat melihat Giselle yang kini terlihat begitu nyaman bersandar pada bahunya, Revan pun sedikit mendekatkan wajahnya pada Giselle, namun di saat itu juga ponsel Revan pun berbunyi.
Giselle yang terkejut mendengar suara ponsel itu pun kemudian bangun dari bahu Revan dan kembali duduk pada posisi semula. Revan lalu mengambil ponselnya di dashboard mobil kemudian melihat sebuah nama di layar ponselnya.
'Stella.' gumam Revan yang membuat dirinya semakin gugup, apalagi kini Giselle tengah menatapnya.
***
Dewi menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat Leo tengah asyik meminum kopi di mini bar. "Cangkir yang kau minum telah kuoles obat tidur, sebentar lagi kau akan tertidur dengan pulas Tuan Leo sayang." kata Dewi sambil tersenyum menyeringai.
Dia kemudian berpura-pura mendekat pada Leo yang masih meminum kopi sambil memainkan ponselnya.
"Selamat malam Tuan Leo." kata Dewi sambil mengambil air dingin di dalam kulkas, sejenak Dewi melirik pada Leo yang mulai memegang kepalanya.
'Bagus, sepertinya obat tidur itu mulai bereaksi.'
"Dewi."
"Ya Tuan."
"Tolong bantu saya berjalan ke dalam kamar, kepala saya rasanya sakit sekali."
"Ke kamar? Maaf sepertinya saya tidak kuat memapah Tuan Leo naik ke atas melewati tangga."
"Kalau begitu kau bantu aku ke kamar tamu saja."
"Baik Tuan." kata Dewi sambil memapah Leo ke dalam kamar tamu kemudian merebahkan tubuh Leo yang sudah tidak sadarkan diri di atas ranjang.
"Hahahaha sekarang tidurlah Tuan Leo, beristirahatlah karena esok saat kau bangun semuanya akan berubah," kata Dewi kemudian mengambil sesuatu di saku bajunya. Dia kemudian membuka bungkusan itu dan menaruhnya di atas seprei di samping tubuh Leo yang kini tertidur begitu pulas.
__ADS_1