Salah Kamar

Salah Kamar
Trouble Maker


__ADS_3

Ramon menyandarkan tubuhnya pada sofa sambil sesekali memijat kepalanya. "Ada apa Ramon? Kenapa beberapa hari ini kau terlihat sedikit cemas?"


"Laras, sepertinya aku telah melakukan sebuah kesalahan?" kata Ramon sambil terus memijit dahinya.


"Kesalahan apa Ramon? Apakah ini berhubungan dengan pekerjaanmu?"


Ramon pun menggeleng. "Katakan Ramon, apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Giselle." jawab Ramon singkat.


"Giselle? Ada apa dengan Giselle?"


"Laras, aku telah melakukan sebuah kesalahan. Aku secara tidak sengaja membuka rahasia masa lalu Giselle pada mertuanya."


"Astagaaaa Ramonnnnn!!!" teriak Laras.


"Kenapa kau bisa melakukan kesalahan sebesar ini Ramon? Bagaimana jika keluarga suami Giselle belum bisa menerima masa lalu Giselle?"


"Entahlah Laras, itu yang sebenarnya sedang aku cemaskan."


"Mba Olive, aku harus memberitahu Mba Olive." kata Laras kemudian pergi keluar dan berlari ke rumah Kenan di samping rumahnya.


Laras langsung membuka pintu rumah itu sambil berteriak memanggil Olivia di dalam rumah. "Mba Olive.. Mba Olive, kamu dimana?" panggil Laras.


"Laras, aku di dapur." jawab Olivia.


Laras pun langsung berlari menuju dapur untuk menemui Olivia.


"Laras, kau kenapa?"


"Mba Olive.. E.. Aduh gimana ya?"


"Kamu kenapa Laras?"


"Itu Mba, Ramon udah bikin kesalahan. Dia membuka masa lalu Giselle pada mertuanya."


"APAAAAA? Kenapa Ramon bisa seceroboh itu sih Laras?"


"Ga tau Mba, Laras juga kesel sama Ramon kenapa dia bisa berbuat seperti itu? Gimana ini Mba Olive?"


"Kak Calista, aku harus menghubungi kakak." kata Olivia kemudian mengambil ponselnya.


[Halo Kak.]


[Ya kenapa Olive?]


[Ramon kak. Ramon tidak sengaja bercerita pada mertua Giselle, jika Giselle pernah menikah sebelumnya.]


[APAAAA???" Kenapa Ramon bisa seceroboh itu sih? Dasar trouble maker!!]


[Olive juga ga tau kak, lebih baik kak Calista hubungi Giselle secepatnya.]


[Iya Olive.] jawab Calista kemudian menutup teleponnya.

__ADS_1


Calista lalu tampak sibuk mengetik sesuatu di ponselnya sambil sesekali menaruh ponselnya di telinganya. Namun kecemasan semakin menyelimuti wajahnya karena tidak ada balasan apapun dari orang yang dihubunginya.


"Lebih baik aku ke rumahnya saja." kata Calista sambil berjalan menuju ke arah pintu rumahnya. Namun saat Calista membuka pintu itu, tampak seseorang berdiri di hadapannya.


'Kau disini." kata Calista yang begitu terkejut sambil menutup mulutnya.


***


Revan keluar dari kamar dengan penampilan yang begitu kacau. "Giselle, kau dimana?" teriak Revan.


"Giselle, kau dimana Giselle?" teriak Revan kembali namun tak ada jawaban dari sosok yang dipanggilnya.


"GISELLE!"


"Revan, apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?"


"Ma, Giselle dimana? Sudah malam kenapa dia tidak masuk ke dalam kamar?"


"Revan kenapa kau masih menanyakan wanita itu?"


"Apa maksud mama?"


"Bukankah kau sudah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang istrimu?"


"Memangnya kenapa ma? Revan akui jika Revan memang kecewa pada Giselle tapi bagaimanapun juga dia istri Revan dan saat ini dia sedang mengandung anak Revan, darah daging Revan."


"Jadi kau masih menganggap wanita itu sebagai istrimu?"


"Tentu saja, memangnya kenapa ma?"


"Cukup Ma! Giselle bukan wanita murahan!"


"Revan buka matamu baik-baik! Jangan hanya karena dibutakan oleh cinta kau sampai mengesampingkan akal sehatmu! Apa pantas dia disebut wanita baik-baik jika pernah mencoba merusak pernikahan orang lain?"


"Mama, itu adalah bagian masa lalu Giselle. Dia memang bersalah karena sudah berbohong pada kita semua tapi kita berhak memberinya kesempatan. Revan yakin Giselle sudah berubah."


"Bagaimana kau bisa memiliki pemikiran seperti itu Revan? Coba pakai logikamu!"


"Revan sudah berfikir dengan logika ma. Bagaimana mungkin Giselle bisa dekat dengan Calista dan Leo jika dia belum berubah. Mereka saja mau memberikan Giselle kesempatan, mengapa aku tidak? Revan yakin Giselle pasti kini sudah berubah."


"Dasar keras kepala!"


"Mama dimana Giselle sebenarnya?"


"Mama sudah mengusirnya." jawab Santi dengan ketus.


"Mama kenapa mama tega melakukan seperti itu? Apa mama tidak sadar jika Giselle saat ini sedang hamil?"


Santi hanya terdiam melihat Revan yang kini tampak begitu marah di depannya.


"Karena sebenarnya mama tidak mau memiliki menantu seperti dia Revan! Tolong mengertilah! Dia tidak sepadan dengan kita!" .


Revan lalu menatap Santi sambil mengerutkan keningnya dan menahan emosi yang begitu bergejolak di hatinya.

__ADS_1


"Mama kenapa pemikiran mama begitu picik? Revan sungguh tidak menyangka memiliki orang tua yang hatinya begitu jahat seperti mama!"


"Revan jaga kata-katamu!"


"Memang itulah kenyataannya ma! Mama sangat jahat, mama bahkan tidak memiliki hati nurani karena sudah tega mengusir wanita hamil yang begitu lemah! Padahal dia sedang mengandung cucu mama sendiri!"


"Cukup Revan! Lebih baik kau masuk saja ke kamarmu dan renungkan semua kata-katamu karena telah menyakiti hati mama! Mama berbuat seperti ini untuk kebaikanmu!"


"Untuk kebaikan mama tapi bukan Revan." kata Revan kemudian pergi keluar dari rumah.


"Revan... Kau mau kemana Revan?" teriak Santi yang tak diindahkan oleh Revan yang kini terdengar mulai mengendarai mobilnya keluar dari rumah mereka.


***


Revan tampak begitu cemas saat menunggu pintu yang ada di hadapannya terbuka.


"Selamat malam Tuan Revan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang asisten rumah tangga saat membuka pintu itu.


"Bi, bisakah saya bertemu Leo dan Calista?"


"Iya Tuan, sebentar saya panggilkan. Silahkan Tuan Revan duduk dulu di dalam." kata Bi Asih sambil mempersilahkan Revan.


"Iya Bi." jawab Revan kemudian masuk ke dalam rumah.


Revan tampak begitu cemas menunggu Leo dan Calista yang kini sedang menuruni tangga dan berjalan ke arahnya.


"Revan, ada apa malam-malam kau kesini?"


"Leo.. Calista, aku tahu Giselle pasti ada di sini. Cepat pertemukan aku dengannya."


"Maaf Revan, kau salah. Giselle tidak ada di sini." jawab Calista.


"Tidak.. Tidak mungkin, kalian pasti sudah menyembunyikan Giselle kan?"


"Heh Revan apa untungnya kami menyembunyikan Giselle."


"Kau jangan bercanda Leo?"


"Aku tidak bercanda, coba saja kau cari di rumah ini kalau tidak percaya."


"Baik.. Baik aku akan mencarinya di rumah ini." kata Revan kemudian dia mulai berlari mencari Giselle ke setiap sudut ruangan.


"Giselle.. Giselle.." teriak Revan sambil terus mencari.


Revan pun naik ke lantai atas dan mulai mencari Giselle kembali, namun dia juga tidak menemukan Giselle di sana.


Dengan langkah lemas, Revan pun akhirnya berjalan mendekat pada Leo dan Calista.


"Bagaimana? Tidak ada kan?"


Revan pun mengangguk lemas. "Revan, ini sudah malam sebaiknya kau pulang dan tenangkan dirimu!"


"Iya Leo." jawab Revan dengan suara begitu lirih sambil pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Leo dan Calista melihat Revan dengan tatapan memelas. "Bagaimana Leo?" tanya Calista.


"Lihat saja besok, Calista."


__ADS_2