Salah Kamar

Salah Kamar
Keguguran


__ADS_3

Setelah melihat Stella yang tertidur pulas, Rima kemudian masuk kembali ke dalam ruangan itu. Dia lalu mencibir Stella yang tidur dengan raut wajah yang begitu pucat sambil tersenyum kecut. 'Dasar wanita sialan, sekarang rasakan ini.' gumam Rima lalu secepat kilat mengambil sesuatu di balik protective gown kemudian menyuntikkannya ke cairan infus Stella.


'Selamat menikmati hadiah yang kuberikan untukmu Stella, aku yakin hari ini akan menjadi hari yang tidak pernah kau bayangkan bersama David.' gumam Rima sambil tersenyum melihat Stella. Dia kemudian bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


"Gimana Rim? Aman kan?" tanya seseorang saat Rima sedang asyik memainkan ponselnya.


"Aman May, sepertinya Nyonya Stella jauh lebih baik sekarang."


"Ya tentu saja, kau tahu sendiri jika dokter David sangat mencintai kekasihnya itu. Dia memberikan obat-obatan dan penanganan terbaik untuk Nyonya Stella." jawab Maya yang membuat Rima semakin dongkol.


"Ya udah gue balik ke ruangan gue dulu ya, mau rekap laporan data pasien."


"Oke Rim, thanks ya."


"Sama-sama." jawab Rima kemudian berjalan ke ruangannya.


Saat Rima tengah asyik mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba dia melihat dokter David dan beberapa orang dokter berlari dengan raut wajah sedikit panik.


"Sher, ada apa sih? Kok tiba-tiba rame?" tanya Rima saat Sherly masuk ke ruangan mereka setelah kontrol beberapa pasien.


"Itu, Nyonya Stella dia pendarahan saat dibawa keluar dari ICU."


"Astaga, kasihan sekali."


"Iya, makanya dokter David panik dan langsung membawa beberapa dokter."


"Oh." jawab Rima sambil menyembunyikan senyuman dari Sherly kemudian melirik ke arah tasnya sambil melihat sebuah obat bertuliskan Cytotec.


"Eh tadi kamu bilang apa Sher? Nyonya Stella keluar dari ICU?"


"Iya dia sudah keluar dari ICU."


'Brengsek! Dia sudah keluar dari ICU.' umpat Rima dalam hati sambil memijat keningnya.


'Aku harus melakukan sesuatu.' kata Rima dalam hati kemudian mengambil ponselnya dan tampak sibuk mengetikkan sesuatu.


"Beres." kata Rima sambil tersenyum menyeringai.


***


"Bagaimana dokter Ridwan?" tanya David pada salah seorang dokter kandungan yang menangani Stella.


"Sudah tidak bisa diselamatkan lagi dokter David, semua jaringannya sudah keluar."


David lalu mengusap kasar wajahnya, dia lalu memandang ke arah Stella yang kini menangis sedikit kencang meskipun kondisinya masih lemah.

__ADS_1


"Kapan kita bisa melakukan kuret?" tanya David pada dokter itu lagi.


"Tergantung kondisinya."


"Bagaimana kondisi Stella dokter Fadli?" tanya David lagi pada dokter Fadli yang menangani penyakit kanker Stella.


"Sebenarnya kondisi Nyonya Stella sudah cukup baik, dan memang siang ini dia bisa keluar dari ICU, tapi saat kami akan memindahkan Nyonya Stella ke kamar perawatan dia tiba-tiba mengalami pendarahan."


"Jadi, kondisi Stella sudah cukup baik dan bisa dilakukan kuret secepatnya?"


"Iya dokter."


"Baik dokter Ridwan, lakukan kuret secepatnya. Aku tidak mau Stella kesakitan."


"Baik dokter, besok pagi kita bisa melakukan kuret untuk Nyonya Stella, beri saya waktu untuk memastikan keadaannya terlebih dahulu."


"Baik terimakasih dokter Ridwan dan dokter Fadli. Kalian bisa kembali ke ruangan kalian."


"Iya dok, kami permisi."


David lalu mengangguk, dia kemudian memerintahkan beberapa orang perawat untuk membawanya kembali ke ruang perawatan Stella. Saat para perawat itu sudah pergi, David lalu mendekat pada Stella kemudian memeluknya.


"Stella, tegarkan dirimu." kata David sambil memeluk Stella.


"Kita sudah kehilangan anak kita David."


Sementara Rima melihat mereka di balik pintu sambil menyunggingkan senyuman. 'Dokter David, setelah Stella keguguran, kau tidak memiliki alasan lagi untuk bisa mempertahankan hubunganmu dengan Stella itu, apalagi kondisinya saat ini sudah sangat memprihatikan.' kata Rima dalam hati.


"Hari yang indah bukan Stella? Hari ini sepertinya cukup, kita lanjutkan permainan kita besok." kata Rima dari balik pintu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


Beberapa saat setelah Rima pergi, seorang wanita paruh baya pun masuk ke ruang perawatan Stella.


"David, wanita sialan itu sudah keguguran kan? Sekarang kau tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan hubunganmu dengannya."


"Ada seribu alasan untuk mempertahankan hubunganku dengan Stella karena aku mencintainya ma."


"Apa yang bisa kau dapatkan dari wanita penyakitan seperti dia David? Usianya pun mungkin tidak lama lagi."


"Stella pasti bisa sembuh ma, aku yakin."


"Kau benar-benar keras kepala, padahal mama sudah memiliki calon istri yang lebih baik untukmu!" kata Nurma yang membuat Stella begitu terkejut.


"David." kata Stella sambil menggenggam tangan David disertai air mata yang mengalir di wajahnya.


"Tidak Stella, itu tidak akan terjadi, semua keputusan ada di tanganku."

__ADS_1


"Terserah mama, tapi semua keputusan ada di tanganku dan aku tidak akan merubah keputusanku untuk tetap menikahi Stella setelah masa idahnya selesai."


"Dasar anak tidak tahu diri, berani-beraninya kau membangkang perintah orang tua!"


"David sudah besar ma, aku berhak mengambil keputusan untuk menentukan kehidupanku. Lihat Stella dan Revan, pernikahan mereka tidak bahagia karena perjodohan yang dipaksakan hingga akhirnya mereka memilih jalan masing-masing. Apa mama mau hal itu terjadi padaku yang tidak bahagia karena hidup dengan orang yang tidak kucintai? Itu hanya akan menyakiti hati kami masing-masing ma."


"Tau apa kamu tentang kebahagiaan? Mama lebih tahu siapa yang akan membuatmu lebih bahagia!" bentak Nurma.


"Maaf ma, yang akan menjalani kehidupan rumah tangga itu David, bukan mama. Lebih baik sekarang mama pulang karena Stella harus istirahat."


"Dasar keras kepala, suatu saat mama pasti bisa memisahkanmu dengan wanita sialan itu, David." kata Nurma kemudian pergi meninggalkan ruangan Stella.


***


Giselle tampak begitu panik saat membaca sebuah pesan dari Stella tentang kondisinya saat ini. Dia lalu bergegas menelpon Revan yang kini sedang tidak ada di rumah.


[Bagaimana Revan? Apakah kau sudah sampai.]


[Ya, aku baru saja sampai Giselle ada apa? Apakah kau sudah merindukan aku?] ledek Revan sambil terkekeh.


[Ini bukan waktunya bercanda Revan, cepat lakukan tugasmu dengan baik. Saat ini Stella telah kehilangan bayinya. Stella keguguran Revan.]


[Apa? Stella keguguran?]


[Iya, dia keguguran tadi siang.]


[Astaga, kasihan sekali Stella.]


[Ya, karena itu cepat lakukan tugasmu dengan baik agar bisa menolong Stella.]


[Iya Giselle aku akan secepatnya kembali untuk menolong Stella.]


[Iya Revan.] kata Giselle kemudian menutup teleponnya karena terdengar suara ketukan pintu di apartemennya. Bergegas Giselle kemudian membukakan pintu itu dan melihat Santi yang sedang berdiri di depan pintu itu.


"Mama." kata Giselle sambil menelan ludah kasar.


"Apa kabar Giselle."


"Baik Ma, mari silahkan masuk."


"Kau sendirian?"


"Iya ma, Revan sedang pergi keluar kota untuk perjalanan bisnis."


"Aku tahu karena itulah aku ingin menemuimu disini. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

__ADS_1


"I..Iya Ma." jawab Giselle gugup.


__ADS_2