
"Giselle, apa yang kau lakukan di sini?"
"Tuan Revan.." rintih Giselle.
"Astagaaaa ternyata kau mabuk!! Sebentar akan kupesankan teh hangat." kata Revan kemudian menutup tubuh tel*njang Giselle dengan selimut kemudian menelpon petugas hotel.
Giselle yang mulai mendapatkan kesadarannya kembali lalu duduk bersandar pada ranjang sambil menangis, tubuhnya masih dia tutup dengan selimut. Sedangkan Revan hanya sekilas memandang Giselle dengan perasaan yang begitu campur aduk. Beberapa saat kemudian, petugas hotel pun datang dengan membawa teh hangat yang dipesan Revan.
"Minumlah Giselle, dan tenangkan dirimu."
Giselle lalu meminum teh itu, di saat itu pula terdengar ketukan dari pintu kamar.
TOK TOK TOK
"Ya siapa?" tanya Revan.
"Saya ada janji dengan Tuan Revan."
Revan lalu berjalan untuk membukakan pintu, seorang wanita cantik dan seksi kini berdiri di hadapannya.
"Anda malam ini membuat janji dengan saya Tuan Revan." kata wanita itu dengan tatapan dan senyuman yang menggoda.
'Astaga, jadi ini wanita yang seharusnya melayaniku malam ini.' gumam Revan sambil menelan ludah.
"Maaf Nona, saya batalkan janji saya dengan anda. Saya tiba-tiba ada urusan mendadak,tapi tenang saja taya akan mentransfer uang bayaran sesuai perjanjian untuk anda, tapi tolong pergi dari sini sekarang juga."
"Baik Tuan, terimaksih, senang bekerja sama dengan anda." kata wanita itu sambil tersenyum kemudian berjalan menjauhi kamar Revan.
Revan lalu mendekat ke arah Giselle yang kini jauh lebih tenang dan sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Giselle, sebenarnya apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Kamar Pak Revan? Bukankah ini kamar saya?"
"Astaga Giselle coba lihat baik-baik, kau mabuk berat Giselle, sampai-sampai kau salah melihat nomor kamar!!" gerutu Revan.
Giselle kemudian menangis kembali. Revan yang masih merasa bersalah lalu mendekat padanya.
"Anda juga begitu ceroboh Pak Revan, kenapa anda langsung saja membuka seluruh pakaian saya saat saya sedang tidak berdaya." kata Giselle sambil terisak.
"Jangan menangis Giselle, kau semakin membuatku tambah bingung!"
"Saya juga bingung Pak, bagaimana jika sesuatu hal terjadi pada saya? Apakah Bapak mau bertanggung jawab pada saya?"
"Semoga semua itu tidak terjadi Giselle."
"Tapiiii Pak....." Giselle menghentikan kata-katanya lalu yang terdengar hanya isakan tangis darinya yang terasa menyayat hati.
"Baik.. Baikkk Giselle, aku akan menikahimu."
"APAAAA???"
__ADS_1
"Kenapa kau harus terkejut? Bukankah itu yang kau inginkan? Kau ingin aku menikahimu kan?"
Giselle hanya menggelengkan kepala perlahan. "Lalu apa maumu?"
Giselle menggelengkan kepalanya lagi lalu menangis terisak. "Giselle apa yang sebenarnya kau inginkan? Bukankah aku sudah mau menikahimu? Apa kau ingin aku mengulang waktu sehingga bisa mencegah musibah yang terjadi diantara kita? Jangan berkhayal Giselle, ini dunia nyata bukan negeri dongeng."
"Tapi saya tidak mencintai anda Pak."
"Heh kau pikir aku mencintaimu? Lihat dirimu! Kau bukan tipeku! Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang kulakukan padamu, bagaimana jika setelah ini sesuatu terjadi padamu?"
Tangis Giselle semakin kencang mendengar perkataan Revan. 'Tuhan, kenapa hal seperti ini harus terulang kembali dalam hidupku.' gumam Giselle sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei jangan menangis terus Giselle, kita harus mencari jalan keluar untuk masalah ini."
"Jadi kita akan menikah?"
"Ya aku akan menikahimu secara siri, tapi setelah tiga bulan ternyata kau tidak hamil, kita bercerai dan kau akan mendapatkan kompensasi sebagai mantan istriku! Bagaimana?"
"Kompensasi? Maksud anda mungkin nafkah idah?"
"Ya itulah, sama saja bukan?" gerutu Revan.
"Bagaimana? Jangan terlalu lama berfikir, masih bagus kau tidak kutinggalkan." kata Revan dengan sinis.
"Baik Pak Revan, kita akan menikah, semoga saja sesuatu tidak terjadi pada saya."
"Bagus, besok siang kita akan menikah!"
"Kau mau apa tidak?"
"Baik Pak Revan."
"Ingat selama menjadi istriku kau tidak boleh tinggal dengan kedua orang tuamu, kau harus tinggal denganku di apartemen milikku."
"Apakah harus seperti itu?"
"Ya, aku tidak mau orang tuamu tau kau sudah menikah denganku!"
"Baik." jawab Giselle ketus.
'Tuhan, kenapa aku harus memiliki urusan dengan lelaki yang kejam seperti ini.' gumam Giselle sambil menatap Revan yang kini sibuk menelepon seseorang.
Siang harinya, tampak beberapa orang masuk ke kamar hotel Revan, salah seorang diantara mereka lalu mendekat pada Revan yang sedang bersiap-siap.
"Tuan Revan, penghulu dan para saksi sudah datang."
"Baik, terimaksih Bram."
"Giselle, kau sudah siap kan?" tanya Revan pada Giselle yang kini sedang dirias oleh seorang MUA dan mengenakan kebaya layaknya pengantin.
"Sudah selesai kan Mba?"
__ADS_1
"Sudah." jawab MUA tersebut.
"Saya sudah siap Pak Revan." jawab Giselle sambil membalikkan tubuhnya.
Sejenak Revan terpana akan kecantikan Giselle yang kini berdiri di depannya. 'Ternyata dia gadis yang cantik.' gumam Revan sambil menatap Giselle.
"Pak.. Pak Revan." panggil Giselle karena Revan hanya berdiri diam sambil menatap dirinya.
"Ayo." jawab Revan sambil berjalan ke arah penghulu dan saksi yang sudah siap.
Acara ijab qabul berlangsung dengan lancar dan khidmat. Perasaan Giselle begitu campur aduk, rasa sedih, sakit dan takut akan rumah tangga yang akan dia jalani bersama Revan begitu menghantui dirinya. Perasaan cintanya untuk Leo yang belum pernah pudar pun semakin membuat hatinya terasa begitu sesak.
'Leo.' gumam Giselle sambil menitikkan air mata saat para saksi mengucap kata SAH.
"Hei kenapa kau menangis, cepat hapus air matamu!" bisik Revan pada Giselle.
"Maaf." jawab Giselle sambil menghapus air matanya.
Revan lalu menghampiri Bram yang kini berdiri di pojok ruangan. "Bram, tolong kau jamu mereka untuk menikmati hidangan di bawah, setelah mereka selesai, kau antar mereka pulang dan berikan komisi untuk mereka." kata Revan pada Bram.
"Baik Bos." jawab Bram, dia kemudian membawa rombongan penghulu dan saksi keluar dari kamar hotel.
Kini di kamar tersebut menyisakan Revan dan Giselle. Revan lalu mendekat pada Giselle yang kini duduk di atas ranjang sambil menatap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. "Bersiaplah sebentar lagi kita akan pulang, kau akan kuantar ke rumah untuk mengambil barang-barangmu, setelah itu kita langsung pulang ke apartemenku." kata Revan sambil melirik pada Giselle yang masih diam termenung.
"Kau dengar atau tidak Giselle!!"
"Saya dengar Pak Revan, anda tidak perlu membentak seperti itu." gerutu Giselle sambil bangkit dari tempat tidur lalu melepaskan kebaya yang dia kenakan di depan Revan.
'Brengsek, sengaja sekali dia berganti baju di depanku, apa dia mau menggodaku kembali dengan tubuh indahnya itu.' gumam Revan sambil menatap Giselle.
"Heh apa yang anda lihat Pak!"
"Saya tidak lihat apa-apa, lagipula siapa yang menyuruhmu berganti baju di sini! Apa kau tidak bisa berganti baju di kamar mandi!!"
"Saya hanya melepas kebaya saja bukannya berganti baju!!" kata Giselle sambil berjalan ke kamar mandi.
Revan mendengus kesal sambil menatap Giselle yang kini berjalan ke arah kamar mandi. Tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
'Stela.' gumam Revan saat melihat sebuah nama di ponselnya.
[Halo Stella.]
[Revan, kau dimana?]
[Bukankah sudah kukatakan aku ada proyek bersama Leo di Bandung.]
[Oh, maaf aku lupa.]
[Memangnya ada apa Stella?]
[Tidak ada apa-apa Revan sayang, memangnya aku tidak boleh menanyakan kabar suamiku sendiri?]
__ADS_1
[Suami? Memangnya kau pernah peduli padaku? Sudah aku sedang sibuk Stella, nanti kuhubungi lagi.] kata Revan sambil menutup panggilan dari istrinya.