
Rima masuk rumah dengan perasaan yang begitu bergemuruh, emosi kian memenuhi isi hatinya. Dia bahkan mengabaikan Calista yang sedang bermain bersama Nathan dan Nala tanpa menyapanya sedikitpun. Hingga Calista pun memanggilnya.
"Rima, kau kenapa?"
Rima lalu menghentikan langkahnya. "Em aku hanya sedikit pusing Kak, akhir-akhir ini banyak sekali pasien di rumah sakit jadi tenagaku sedikit terkuras."
"Oh ya sudah, lebih baik kau beristirahat."
"Iya Kak." jawab Rima kemudian masuk ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian Leo pun pulang dari kantor dan langsung menghampiri istri dan anaknya.
"Kau kenapa pulang terlambat Leo? Sepertinya kau juga sedikit tidak bersemangat. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Hmmm." jawab Leo kemudian menopang dagunya.
"Begini Calista, ini tentang Rima."
"Rima?"
"Ya, aku baru saja mencari informasi tentang Rima di panti asuhan tempat dia dahulu dibesarkan."
"Lalu?"
"Semua yang Rima ceritakan sangatlah berbeda dengan yang pengurus panti ceritakan padaku."
"Apa maksudmu Leo?"
"Pengurus panti itu mengatakan jika ibunya Rima berselingkuh dengan laki-laki lain sehingga suaminya menceraikannya."
"Jadi dia tidak pernah dihamili oleh ayahmu?"
Leo lalu menggelengkan kepalanya. Di saat itu juga, Bi Asih pun datang memberikan dua cangkir teh pada mereka.
"Maaf Tuan Leo jika saya lancang, saya sebenarnya ingin menceritakan sesuatu." kata Bi Asih lirih sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Ada apa Bi?"
"Ini mengenai cerita orang tua Rima yang sebenarnya."
"Ceritakan saja Bi Asih, Bi Asih tenang saja saya akan melindungi Bi Asih jika mau mengatakan yang sebenarnya."
"Emh iya Tuan Leo, sebenarnya saya sudah lama ingin menceritakan ini tapi saat itu Tuan Leo dan Nyonya Calista sedang begitu dekat dengannya jadi saya tidak berani, takut Tuan dan Nyonya tidak percaya pada saya."
"Ceritakan saja Bi." kata Calista.
__ADS_1
"Begini Tuan, Nyonya. Dahulu ibunya Rima, Kartika memang bekerja di sini. Saat itu dia mengatakan jika hubungannya dengan suaminya sedikit merenggang. Setelah beberapa bulan bekerja di sini, dia melakukan hubungan terlarang dengan salah satu satpam komplek hingga akhirnya dia hamil. Setalah tahu Kartika hamil, orang tua Tuan Leo pun mengusirnya. Saat dia pulang ke rumah, hubungannya dengan suaminya pun semakin buruk apalagi setelah tahu Kartika sedang hamil anak dari lelaki lain, suami Kartika lalu meninggalkan Kartika dan Rima begitu saja hingga akhirnya Kartika membawa Rima ke panti asuhan sedangkan Kartika sendiri meninggal karena pendarahan saat berusaha mengugurkan kandungannya.
"Astaga." kata Calista sambil menutup mulutnya.
"Jadi semua kejadian buruk pada keluarganya tidak ada hubungannya dengan papa dan mama Bi?"
Bi Asih lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Saya permisi dulu Tuan, Nyonya."
"Iya Bi terimakasih banyak." jawab Calista.
"Tidak, kita sudah ditipu mentah-mentah olehnya." kata Leo sambil mengusap kasar wajahnya.
"Leo jika Rima berani berbuat seperti ini pada kita, aku takut jika dia pun bisa berbuat nekad pada David dan Stella."
"Kau benar Calista, besok kita harus bertemu dengan Revan dan Giselle untuk membicarakan semua ini." kata Leo.
***
TOK TOK TOK
"Masuk." jawab David.
"Oh dokter Fadli, silahkan duduk, ada apa? Sepertinya anda tampak sedikit cemas."
"Seperti yang sudah saya duga, ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh Nyonya Stella. Dalam darahnya ada kandungan misoprostol, selain itu sepertinya dia juga mengkonsumsi obat dan vitamin pembentuk sel darah putih dengan dosis cukup tinggi sehingga satu minggu terakhir produksi sel darah putihnya meningkat drastis."
"BRENGSEK!" umpat David.
"Misoprostol? Untuk mengugurkan kandungan? Jadi memang ada yang sengaja ingin menyakiti Stella?" kata David.
"Ya, misoprostol kemungkinan jenis cytotec, tidak mungkin Nyonya Stella ingin mengugurkan kandungannya sendiri. Anda sebaiknya lebih berhati-hati dokter David."
"Iya, terimakasih banyak dokter Fadli, saya akan menyelidiki ini semua."
"Iya dokter David, saya permisi."
David pun kemudian mengangguk, setelah melihat Fadli pergi dia lalu langsung menggebrak mejanya.
"KURANG AJAR! BRENGSEK! BEDEBAH! SIAPA YANG SUDAH BERANI MENYAKITI STELLA? LIHAT SAJA AKU AKAN MENYELIDIKI SEMUA INI DAN KUBUAT PERHITUNGAN DENGANMU! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENDERITA KARENA SUDAH BERANI BERMAIN-MAIN DENGANKU!" teriak David sambil menahan perasaan emosi di dadanya yang begitu bergemuruh.
Rima masuk ke dalam rumah sakit dengan wajah sedikit murung. 'Masih ada waktu sebelum operasi itu dilakukan Rima, kau masih bisa melenyapkan Stella.' gumam Rima dalam hati. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Stella namun langkahnya kemudian terhenti saat melihat sepasang suami istri sedang berada di samping Stella.
"Siapa mereka? Apa mereka orang tua Stella yang baru pulang dari New York?" kata Rima.
"Lebih baik aku ke sana setelah mereka pergi saja." kata Rima kemudian menjauhi ruang perawatan Stella. Di saat itu juga David masuk ke dalam ruang perawatan Stella sambil membawa beberapa petugas untuk memasang CCTV.
__ADS_1
Stella dan kedua orang tuanya pun sedikit terkejut melihat kedatangan David dan beberapa orang tersebut.
"Hei, ada apa ini David?" tanya Stella.
"Emh aku ingin memasang CCTV di kamar ini agar aku selalu bisa memantau kondisimu Stella." jawab David berdusta karena tidak ingin Stella dan orang tuanya cemas jika dia menceritakan keadaan yang sebenarnya.
"Kau memang seperti itu, berlebihan." gerutu Stella.
Hilman pun kemudian mendekat pada David. "Maafkan papa Nak, maaf karena papa dan mama sudah meremehkanmu selama ini. Papa hanya memandang sebelah mata padamu tanpa bisa melihat cintamu yang begitu besar untuk putriku. Maafkan papa karena telah membuat kalian begitu menderita karena keegoisan kami berdua."
"Sudahlah om, semua sudah berlalu. Setelah Stella sembuh dan masa idahnya dengan Revan selesai, restui kami dan ijinkan kami untuk menikah."
"Tentu David, tentu kalian akan menikah secepatnya."
"Terimakasih, tapi sebaiknya om dan tante pulang terlebih dahulu. Sejak pulang dari New York kalian belum pulang ke rumah untuk beristirahat kan? Om perlu menjaga stamina dan kesehatan karena beberapa hari lagi akan melakukan operasi."
"Benar kata David, sebaiknya papa dan mama istirahat dulu. Sudah ada David dan perawat yang akan menjaga Stella."
"Iya David, Stella. Kami pulang dulu, titip Stella." kata Rena, David pun mengangguk.
"Hati-hati Pa, Ma." kata Stella saat Rena dan Hilman memeluknya.
"Iya sayang."
Mereka lalu meninggalkan ruang perawatan Stella. David lalu mendekat pada Stella kemudian memeluk dan menciumnya.
"Aku rindu kamu Stella." kata David sambil kian erat memeluk Stella. Disaat itu juga, Rima pun masuk ke ruangan Stella.
"Oh kau sudah datang Rima?" tanya Stella yang hanya dijawab anggukan oleh Rima karena menahan perasaan kesal saat harus melihat mereka yang sedang bermesraan.
'Lihat saja, hari ini kau akan kubuat menderita.' gumam Rima.
"Stella, aku kembali ke ruanganku sebentar ya, ada pekerjaan yang harus kukerjakan."
"Iya sayang." jawab Stella. David pun kemudian pergi. Melihat David keluar dari ruangan Stella, senyum pun tersungging di bibir Rima.
"Nyonya Stella, apa anda sudah minum obat?" tanya Rima.
Stella kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya anda minum obat lebih dulu." kata Rima lalu memberikan beberapa buah obat pada Stella, namun saat Stella akan meminum obat tersebut tiba-tiba David kembali masuk ke ruangan itu.
"Sebentar Stella jangan diminum dulu, aku ingin mengecek terlebih dulu obat yang kau minum." kata David sambil menghampiri Stella yang membuat Rima menelan ludah dengan kasar.
'BRENGSEK!' umpat Rima dalam hati.
__ADS_1