
"Ayo cepat Rima." bentak David.
Perlahan Rima pun mulai mendekat pada Stella dan mulai memijit tangan dan kakinya, Stella lalu tersenyum jail saat Rima memijatnya dengan raut wajah kesal dan terpaksa.
"AAAWWWWW." teriak Stella.
"Kau kenapa Stella?" tanya David yang kini sedang mengerjakan pekerjaannya di sofa sambil sesekali mengawasi Rima.
"Tidak apa-apa Rima hanya tadi memijit terlalu keras dan membuatku sedikit kaget."
"Hati-hati Rima, kau jangan sekali-kali membuat Stella terluka sedikitpun!"
Rima kemudian mengangguk sedangkan Stella pun tersenyum kecut padanya. 'Awas saja kalian, tunggu pembalasanku! Lihat saja aku pasti bisa menghabisimu Stella!' kata Rima dalam hati.
"David, apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah."
"Lebih baik kau beristirahat, kembalilah ke kamar pribadi di ruang kerjamu. Rima yang akan menemaniku disini."
"Tidak akan kubiarkan kau ditemani olehnya sendiri, nyawamu bisa saja terancam Stella."
"Tidak, aku yakin Rima adalah gadis yang baik. Kau tidur di kamar pribadimu saja, di sana jauh lebih nyaman dibandingkan di kamar ini." kata Stella sambil melirik Rima.
'Dasar wanita bermuka dua!' kata Rima dalam hati sambil menatap tajam pada Stella.
"Tidak aku ingin menemanimu malam ini, Stella."
"Rima sudah cukup, kakiku sudah tidak sakit, lebih baik kau tidur si sofa." kata Stella pada Rima. Sedangkan David kini sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang jaga pasien di ruangan itu.
'Jadi ada kamar pribadi di ruang kerja David? Bagus sekali, aku bisa melakukan sedikit permainan dengan mereka.' kata Rima dalam hati sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Rima pun kini mendekat ke arah Stella dan David yang sudah tertidur pulas dengan membawa sebuah bantal, dia lalu melihat ke arah David kemudian tersenyum.
'Kau tampan sekali dokter David, meskipun kau begitu galak padaku tapi aku yakin suatu saat nanti pasti aku bisa memilikimu.' kata Rima dalam hati. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Stella.
Perlahan, Rima semakin mendekat ke samping ranjang Stella, dia lalu mengangkat bantal yang ada di tangannya dan mengarahkannya ke arah wajah Stella, namun saat bantal itu akan mengenai wajah Stella tiba-tiba Stella tersenyum.
__ADS_1
"Rima, mungkin kau lupa di kamar ini ada CCTV, jangan sampai kesempatan yang kuberikan padamu hanya akan menjadi bumerang bagimu yang akan mencelakakan dirimu sendiri." kata Stella sambil tetap memejamkan matanya.
'Brengsek!' jadi Stella belum tidur?' kata Rima dalam hati kemudian berjalan ke arah sofa.
***
Mobil Laras berhenti di depan rumah saat Olivia dan Dennis sedang asyik bermain. Dua orang laki-laki lalu mengikuti Laras turun dari mobil tersebut dan menghampiri Olivia.
"Mba Olive, ini Pak Pram, ayahnya Rima dan ini Mas Ilham, teman Mba Calista dan Mba Olive dulu."
Olivia kemudian menyalami mereka satu per satu sambil tersenyum pada dua sosok yang ada di depannya. Seorang lelaki tua dengan tatapan sayu dan seorang pemuda yang cukup tampan dengan raut wajah yang masih terlihat polos.
"Silahkan kalian beristirahat dulu, sebentar lagi Laras antar ke rumah sakit bertemu dengan Rima." kata Laras pada mereka berdua.
"Permisi Olivia, saya masuk ke dalam dulu." kata Pram kemudian mengikuti Laras masuk ke dalam rumah. Sedangkan Ilham masih berdiri di dekat Olivia sambil tersenyum padanya.
"Kau Olivia teman masa kecilku dulu kan?"
"Iya aku memang dulu sering mengunjungi orang tua Laras, dan sedikit mengingat tentangmu."
"Iya Ilham, tapi kenapa kamu ga ikut istirahat di dalam?"
"Aku pengen ngobrol sebentar sama kamu Olivia, tapi kalau kamu keberatan lebih baik kau masuk ke dalam rumahmu saja Olive.
"Oh tidak, aku tidak keberatan Ilham."
"Maaf kita sudah lama tidak bertemu, jadi aku hanya ingin sedikit ngobrol denganmu. Terakhir kita bertemu saat usiaku dan Calista masih sepuluh tahun."
"Ya, kalian memang seumuran. Dan saat itu usiaku baru delapan tahun. Maaf Ilham jika aku sudah banyak lupa tentangmu."
"Tidak apa Olive, memang saat itu kita masih kecil. Bagaimana dengan Calista? Sejak kecil kakakmu sudah sangat cantik."
Olivia lalu tersenyum. "Sampai sekarang dia pun sangat cantik, dan sudah memiliki dua orang anak kembar yang sangat lucu."
"Benarkah? Lalu bagaimana denganmu, kau juga tak kalah cantik dibandingkan dengan Calista, Olive. Aku tak menyangka kau bisa secantik ini sekarang."
"Aku..."
__ADS_1
Belum sempat Olivia menjawab pertanyaan Ilham, Kenan sudah menariknya.
"Saya suami Olivia, maaf Olive harus pulang sekarang, tolong jangan ganggu istri saya lagi." kata Kenan sambil menggandeng tangan Olivia dan berjalan menjauhi Ilham.
Ilham lalu menepuk keningnya. "Sepertinya dia sudah salah paham, aku sama sekali tidak pernah berfikir untuk mendekati mereka berdua, aku hanya ingin mengobrol dengan Olivia karena kita sudah lama tidak bertemu." gerutu Ilham lalu masuk ke dalam rumah Laras.
"Kau kenapa tiba-tiba jadi seperti ini Kenan?"
"Aku tidak suka kau berdekatan dengan laki-laki lain Olivia."
"Tapi Ilham teman masa kecilku, kami sudah lama tidak bertemu."
"Tapi aku tetap saja tidak suka Olivia, mengertilah."
"Lalu bagaimana dengan dirimu di luar sana? Kau bahkan sudah satu minggu di Surabaya tanpa selalu menghubungiku, apa itu menjadi jaminan kau tidak memiliki wanita lain Kenan? Dulu kau selalu mengajakku saat pergi keluar kota, sekarang tidak pernah sama sekali, lalu apa aku pernah mencurigaimu? Tidak kan? Tapi saat aku hanya mengobrol dengan teman masa kecilku kau sudah bertindak seperti ini." kata Olivia sambil meninggalkan Kenan lalu berjalan menuju kamarnya.
"Olivia, kenapa kau sampai berfikir seperti itu. Bukankah kau tahu aku sangat mencintaimu." kata Kenan lirih sambil menatap Olivia yang kini berjalan menjauhinya.
***
"Emh dokter, maaf saja ijin ke depan sebentar. Saya mau mengambil pesanan yang diantarkan kurir di depan." kata Rima pada David saat David sedang menyuapi Stella makan siang.
"Silahkan tapi jangan harap kau bisa kabur dari sini karena seluruh rumah sakit sudah tahu tentangmu, dan kemanapun kau pergi semua petugas rumah sakit pun akan mengawasi gerak-gerikmu."
"Iya dokter, saya tidak akan melarikan diri." jawab Rima lalu keluar dari kamar perawatan Stella dan berjalan ke arah pintu masuk untuk menemui seorang kurir yang mengantar pesanannya.
Setalah mengambil barang pesanan itu. Rima pun kemudian tampak mengendap-endap masuk ke dalam ruang kerja David. Netra Rima lalu bergerak lincah memeriksa sekeliling ruangan tersebut. Tiba-tiba dia tertarik pada sebuah toples yang berisi biskuit di meja kerja David.
"Aha, kumasukkan ke biskuit itu saja." kata Rima kemudian mendekat ke arah meja dan tampak mencampurkan serbuk di dalam toples biskuit itu.
"Selamat menikmati biskuit dariku David, sampai bertemu nanti malam. Semoga malam ini kita bisa menghabiskan malam berdua dengan begitu romantis." kata Rima sambil tersenyum menyeringai.
Note:
Jangan lewatkan episode selanjutnya ya,
kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak, kalau ga suka skip aja 🤗✌️
__ADS_1