
"A... Apa maksudmu Stella? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"
Stella lalu menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. "Heh tidak usah berpura-pura baik di depanku Rima, buka saja topengmu yang sebenarnya."
"Stella aku sungguh tak mengerti mengapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?" jawab Rima.
"Coba katakan lagi, Stella? Bukankah biasanya kau memanggilku dengan sebutan Nyonya Stella? Sudahlah Rima tak usah berpura-pura lagi."
"Maaf saya salah ucap karena terbawa perasaan." kata Rima sambil menangis.
"Perasaan? Perasaan yang mana? Perasaan jika ternyata kau mencintai David dan berulangkali ingin membuat hidupku berantakan?"
"Tidak aku tidak pernah mencintai dokter David. Itu semua bohong, Giselle sudah mengarang semua cerita tentangku. Mereka sudah memfitnahku untuk menghancurkan hidupku."
"Apa untungnya Giselle mengarang cerita tentangmu? Memangnya siapa dirimu sehingga orang-orang berniat untuk menghancurkan dirimu? Bukankah kau hanya wanita miskin yang menumpang belas kasihan dari Leo dan Calista. Oh aku lupa, kau tidak hanya menumpang belas kasihan tapi kau juga sudah berani mencoba menghancurkan hidup orang lain untuk merebut kekasihnya." kata Stella dengan entengnya sambil asyik memainkan ponselnya.
"Dasar brengsek kau Stella! Wanita sialan dan penyakitan! Wanita tidak tahu diri sepertimu memang lebih pantas mati!" teriak Rima sambil mulai mencekik Stella dan mengguncangkan tubuhnya. Di saat itu juga pintu kamar pun terbuka.
Tampak David dan Nurma masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah begitu terkejut.
"RIMA!" bentak David kemudian mendekat pada Rima yang kini buru-buru melepaskan cekikannya pada Stella.
PLAKKKK
"Apa yang sudah kau lakukan pada Stella, Rima?" bentak David setelah menampar wajahnya.
Giselle dan Calista pun mendekat pada Stella yang kini terlihat sedikit kesakitan, mereka lalu membetulkan letak tubuh Stella yang hampir saja terjatuh dan memberikan air minum untuknya.
Nurma pun hanya terdiam, matanya memandang Rima dengan tatapan tajam. Rima pun kini semakin salah tingkah.
"Bagaimana tante? Itu kan yang tante maksud Rima bisa melakukan yang tidak pernah bisa Stella lakukan, itukan yang tante katakan pada Giselle tadi?" bisik Leo di telinga Nurma yang semakin membuat hatinya terasa begitu kesal.
"Rima kau akan kami penjarakan sekarang juga! Karena kau telah melakukan berbagai kejahatan, kau sudah mengugurkan kandungan Stella dan melakukan percobaan pembunuhan pada Stella dan kedua orang tuanya!"
"Tidak jangan, aku tidak bersalah. Stella yang telah memancing emosiku! Tante, Tante Nurma percaya padaku kan?" kata Rima dengan begitu mengiba di hadapan Nurma.
Nurma pun menggelengkan kepalanya. "Maaf Rima, aku sudah tidak lagi percaya padamu karena aku sudah melihat sendiri bagaimana kejamnya dirimu. Aku juga sudah melihat bukti-bukti kejahatanmu di ponsel milik David."
"Kau dengar Rima? Sudah tidak ada lagi yang percaya padamu."
__ADS_1
"Tapi aku percaya pada Rima, jangan laporkan dia pada polisi. Aku yakin tadi dia berbuat seperti itu karena tidak sengaja." kata Stella dengan begitu tenang.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun memandang Stella kembali.
"Leo, Calista, Revan, dan Giselle lebih baik kalian pulang, ini sudah hampir malam. Kalian harus beristirahat, terimakasih sudah banyak membantuku."
"Iya Stella." jawab Giselle dan Calista kemudian berpamitan pada Stella.
"Tenang saja, setelah aku selesai memberi pelajaran pada wanita itu kalian akan kukabari secepatnya. Dia boleh menyakitiku tapi aku tidak akan pernah bisa begitu saja memaafkan perbuatannya yang sudah membunuh anakku dan hampir mencelakai kedua orang tuaku." bisik Stella di telinga Giselle dan Calista.
"Iya kami mengerti." jawab Calista kemudian mereka keluar dari ruang perawatan Stella."
Sedangkan Rima yang kini sedang duduk di sofa melihat mereka semua dengan tatapan tajam. 'Apa yang sebenarnya sedang kalian rencanakan padaku?' gumam Rima.
***
Olivia duduk di taman depan rumah dengan raut wajah begitu kusut. Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat Ramon dan Laras pulang ke rumahnya di samping rumah Olivia.
"Mba Olive kenapa? Kenapa keliatan sedih?" tanya Laras.
"Aku kesepian, tadi Kenan baru saja menelponku jika dia menunda kepulangannya dari Surabaya. Sedangkan anak-anak dan mama Gisa baru pulang dari Australia tiga hari lagi." jawab Olivia dengan raut wajah sedih.
"Kenapa harus bersedih Mba Olive, kan ada kami disini, ada Denis juga. Kalau Mba Olive masih kesepian Mba kan juga bisa ke rumah Mba Calista. Apalagi beberapa hari ini Mba Calista sedang sedikit mengalami masalah."
"Mungkin belum sempat karena ini sedikit rumit."
"Memangnya apa yang sudah terjadi?"
"Mba Olive tahu Rima?"
"Ya, kakak pernah menceritakannya padaku. Memangnya kenapa dengan Rima?"
"Dia ternyata tidak sebaik yang Mba Calista dan Mas Leo pikirkan, dia sudah mengarang cerita tentang masa lalu orang tuanya yang membuat Mas Leo kasihan padanya. Bahkan demi mendapatkan cinta dari seorang lelaki, dia berani mencelakakan kekasih dari lelaki itu dan berniat untuk membunuh wanita itu dan kedua orang tuanya."
"Jahat sekali." kata Olivia sambil menutup mulutnya.
"Dan ternyata Rima adalah tetanggaku dulu saat masih tinggal di Jogja, aku sudah memberitahukan ayahnya. Dia selama ini hidup di panti asuhan karena orang tuanya bercerai."
"Laras kau harus mendatangkan ayahnya ke sini. Mungkin dia sampai bisa berbuat seperti itu karena kurang kasih sayang dari keluarganya."
__ADS_1
"Iya Mba, Laras sudah membelikan dua tiket pesawat untuknya."
"Bagus Laras, kau memang harus melakukan itu. Eh tapi kenapa dua tiket?"
"Ya, ayahnya Laras besok akan datang ditemani oleh Mas Ilham."
"Ilham? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu." kata Olivia.
Laras kemudian tertawa. "Tentu saja, saat liburan kalian kan sering mengunjungi kami di Jogja, sewaktu masih kecil Mba Olive dan Mba Calista kan dulu akrab dengan Mas Ilham."
"Oh, tapi sepertinya aku sedikit lupa." kata Olivia sambil menggaruk kepalanya.
***
"Stella apa yang harus kita lakukan pada dia?" tanya David pada Stella.
"Biarkan dia menemaniku, aku butuh teman David."
"Teman? Dia hampir saja membunuhmu tapi kau masih menganggapnya sebagai teman? Kau mau menyerahkan nyawamu begitu saja pada wanita biadab seperti itu Stella?"
'Brengsek kau David! Beraninya kau mengataiku seperti itu!' umpat Rima dalam hati.
"Sudahlah David, aku percaya Rima hanya sedikit khilaf."
Rima pun kemudian mendekat pada Stella dan David. "Dokter ampuni saya, saya tidaklah seburuk apa yang kalian pikirkan. Saya hanya sedikit khilaf, saya berjanji akan menjaga Nyonya Stella sebaik mungkin."
'Lihat saja Stella brengsek, saat ada kesempatan lagi aku akan langsung menghabisimu.' kata Rima dalam hati.
"Aduh." kata Stella sambil meringis.
"Kau kenapa Stella? Apa ada yang sakit?"
"Tidak apa-apa, hanya saja pergelangan tangan dan kakiku sedikit sakit, terasa kaku saat kugerakkan tadi."
Stella pun melirik pada Rima dengan tatapan memelas.
"Rima bukankah kau tadi mengatakan ingin menjaga Stella? Sekarang pijit kaki dan pergelangan tangannya." kata David.
Rima pun melirik pada Stella yang kini tersenyum kecut padanya.
__ADS_1
'BRENGSEK.' umpat Rima dalam hati sambil menatap Stella.
"Rima cepat pijat Stella sekarang juga!" bentak David yang membuat Rima terlihat begitu gugup.