Salah Kamar

Salah Kamar
Pencuci Perut


__ADS_3

"Dasar menantu malas, sejak kemarin Revan pergi dia hanya ada di kamar terus-menerus, dan pagi ini sudah pukul setengah tujuh pagi dia belum juga keluar dari kamarnya." gerutu Santi saat mulai duduk kursi meja makan. Namun saat akan memulai sarapannya tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Aha, lebih baik pagi ini kuberi dia pelajaran." kata Santi sambil terkekeh. Dia lalu mengambil sesuatu di dalam kamarnya.


"Hmmm obat ini sudah kupersiapkan untuk menjamu kedatanganmu, Giselle." kata Santi sambil tersenyum menyeringai.


Santi kemudian duduk kembali di kursi meja makan lalu mengambil dua buah french toast yang ada di depannya.


"Jika kutabur bubuk obat pencuci perut ini di atas rotinya tentu akan lebih aman bagiku karena dia tidak akan curiga padaku." kata Santi sambil terkekeh.


"Giselle, sarapan dulu Giselle." teriak Santi setelah selesai menabur obat itu. Namun tidak ada jawaban dari Giselle.


"Dasar menantu tidak tahu diri. Aku sampai berteriak-teriak seperti ini tapi dia tidak menjawabku sama sekali." gerutu Santi.


"Tenang Santi, tenang aku harus sabar dan bersikap manis padanya sebelum menemukan senjata yang bagus untuk membuatnya tidak berdaya. Jika aku tidak sabar dan bertindak ceroboh lagi, maka suamiku dan Revan bisa saja mengusirku dari rumah ini." kata Santi kemudian mengambil nafas dalam-dalam.


"Sekarang aku harus bisa bersikap manis pada Giselle, lebih baik kuantarkan saja sarapan ke kamarnya."


Santi lalu berjalan ke arah kamar Giselle sambil membawa dua buah french toast dan secangkir teh hangat.


TOK TOK TOK


"Giselle, Giselle, apa kau sudah bangun sayang?" tanya Santi sambil mengetuk pintu kamarnya.


Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. "Dasar tidak punya sopan santun, berulangkali aku bertanya padanya tapi tidak pernah ada jawaban padaku." gerutu Santi, dia kemudian membuka pintu kamar itu.


Namun kamar itu sudah kosong. "Dimana Giselle?" tanya Santi sambil melihat sekeliling kamar.


"Tidak ada Giselle di kamar ini." kata Santi lagi. Akhirnya dia pun memutuskan turun dan melihat Giselle yang sedang berjalan masuk rumah.


"Giselle, kau darimana?" tanya Santi saat melihat Giselle yang masuk ke dalam rumah dengan keringat sedikit bercucuran.


"Jalan-jalan ma." jawab Giselle.


"Oh jalan-jalan, kupikir kau belum bangun. Emh Giselle ini sudah mama bawakan sarapan untukmu."


"Iya ma, sebentar Giselle ke belakang sebentar untuk mencuci tangan." kata Giselle.


"Mama taruh di sini ya sayang."

__ADS_1


"Iya ma."


"Lebih baik kulanjutkan dulu sarapanku terlebih dulu. Gara-gara menantu sialan itu aku bahkan belum memakan sarapan ini sama sekali." gerutu Santi, namun saat baru saja mengambil french toast di piringnya tiba-tiba ponselnya pun berdering.


[Halo. ya Jeng Mira.]


[Jeng Santi, kau dimana? Sebentar lagi kita akan berangkat, tapi kenapa kau belum datang.]


[Oh iya sebentar, aku ganti baju dulu.] jawab Santi kemudian menutup teleponnya. Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


"Gara-gara menantu sialan itu aku jadi kesiangan." gerutu Santi sambil masuk ke dalam kamarnya.


Giselle yang berjalan ke arah meja makan sedikit terkejut melihat mertuanya yang kini sudah tidak ada lagi di meja makan.


"Mama kemana?"


"Yang mana sarapan yang mama buatkan untukku." kata Giselle sambil menggaruk kepalanya.


"Lebih baik aku ambil yang ini saja, bukankah sama saja." kata Giselle kemudian memakan french toast yang ada di dekatnya. Beberapa saat kemudian Santi pun keluar dari kamarnya dan melihat Giselle yang tengah menikmati sarapannya.


'Bagus, sekarang rasakan permainan dariku Giselle. Ini baru pemanasan saja dariku.' kata Santi dalam hati.


Dia lalu berjalan ke arah Giselle. "Mama mau kemana?" tanya Giselle yang melihat Santi dengan dandanan begitu rapi.


"Iya ma, memangnya mama mau pergi kemana?" tanya Giselle.


"Mama ada acara gathering dengan beberapa para istri pengusaha di sini, rencananya kami akan pergi ke puncak, kalau kau sedang tidak hamil tentunya kau pasti akan mama ajak."


"Oh iya ma, tidak apa-apa. Giselle juga sudah tidak kuat beraktivitas berat di luar rumah."


"Iya sayang, mama berangkat dulu ya." kata Santi sambil berjalan meninggalkan Giselle.


"Tunggu sebentar ma."


"Ada apa Giselle?"


"Bukankah sebaiknya mama sarapan terlebih dulu? Perjalanan ke puncak itu jauh ma, mama bisa sakit kalau tidak mengisi perut mama."


"Kau benar juga, tapi mama sudah terlambat. Lebih baik mama sarapan saja di mobil."

__ADS_1


"Iya ma."


Giselle lalu memberikan sebuah piring yang berisi french toast pada Santi.


"Ya sudah mama pergi dulu ya sayang." kata Santi kemudian berjalan meninggalkan Giselle sambil tersenyum menyeringai.


"Rasakan Giselle, hari ini tidak akan ada yang menolongmu jika kau kesakitan karena hari ini aku sudah menyuruh Bi Cici untuk pulang ke rumahnya." kata Santi sambil terkekeh.


☘️☘️☘️☘️☘️


"Kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali." gerutu Santi saat berada di dalam bus rombongan gathering.


"Kamu kenapa Jeng Santi? Kelihatannya Jeng Santi cemas sekali." kata salah seorang temannya di dalam bus tersebut.


"Oh tidak apa-apa, perutku hanya sedikit tidak nyaman." kata Santi sambil meringis.


"Benar Jeng Santi tidak apa-apa? Kenapa wajah Jeng Santi juga terlihat pucat?"


"Benarkah?" tanya Santi kemudian mengambil cermin di dalam tasnya.


"Wajahku pucat sekali, perutku juga rasanya semakin sakit, bagaimana ini?" gerutu Santi. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri sopir di dalam bus tersebut.


"Pak, Pak Sopir, bisakah kita berhenti sebentar di SPBU itu?" tanya Santi.


"Baik Nyonya, sebentar." jawab sopir tersebut.


Santi pun keluar dari dalam bus dengan begitu tergesa-gesa lalu masuk ke dalam toilet.


"Astaga kenapa perutku rasanya sakit sekali." gerutu Santi.


Dia lalu keluar dari toilet tersebut, tapi rasa sakit di perutnya kembali datang. Santi pun bergegas masuk kembali ke dalam toilet tersebut, hingga berulangkali. Teman-teman yang ada di dalam bus rombongan gathering pun sedikit terganggu. Saat masih di dalam toilet, salah seorang temannya pun menelpon Santi.


[Jeng Santi, kalau Jeng Santi sedang tidak enak badan, sebaiknya tidak usah memaksakan diri. Lebih baik sekarang Jeng Santi pulang saja. Kami juga tidak bisa menunggu Jeng Santi terlalu lama karena akan membuat acara sedikit berantakan.]


[Iya, kalian tinggalkan saja, aku memang sedikit tidak enak badan.]


[Baik terimakasih banyak Jeng Santi, semoga lekas sembuh.]


[Terimakasih.] jawab Santi sambil menutup teleponnya. Dia kemudian termenung di dalam toilet.

__ADS_1


"Kenapa aku tiba-tiba jadi seperti ini? Jangan-jangan Giselle sudah menukar sarapannya dengan sarapanku, benar-benar licik!"


"Mulai saat ini aku tidak akan bersikap baik lagi Giselle, tunggu pembalasaku!" teriak Santi dengan begitu menggema.


__ADS_2