
Sudah tiga hari ini, istriku memperlakukan ku tak adil. Namun tetap kubiarkan saja dia dengan pikirannya tanpa aku berusaha memberi penjelasan. Karena aku tau, diberi penjelasanpun akan percuma. Justru aku berusaha mengimbagi apa yang ia lakukan padaku. Bukan aku tak ingin segera menyelesaikan masalah, namun aku hanya ingin memberikan ruang bebas di hatinya yang tertutup untuk bisa terbuka dengan sendirinya. Dan aku yakin setiap masalah tentu ada penyelesaiannya, apa lagi ini hanya salah paham semata. Bukankah Allah tidak tidur?
Aku tak keberatan dengan sikapnya, karena aku tau disitulah kekurangannya. Cemburunya yang ku rasa kelewatan bukan satu hal yang membuat aku Jengkel, marah, atau pun membencinya. Justru di sinilah letak keberhasilanku jika aku mampu menyikapinya dengan baik.
Hari ini aku sengaja pulang terlambat, aku ingin tau bagaimana reaksi istriku. Sengaja handphone tak ku aktifkan. Karena sejak perang dingin, istriku berkirim pesan hanya sekedar menginggatkan tentang makan siang dan tentang Sholatku. Tak ada pesan manjanya, tak ada pesan nakalnya, bahkan tak ada lagi pesan dengan emot kiss bertubi-tubinya. Tapi seperti kataku, aku mengimbanginya. Membiarkan dulu apa yang menurutnya baik dia lakukan.
Untuk urusan kebutuhan lahir, dia tetap istriku yang trampil. Melayani semua kebutuhanku dengan baik meski kondisi hatinya tengah kacau. Oleh karnanya, aku tidak terlalu kerepotan dengan sikap ngambegnya saat ini. Persoalan justru datang dari hal sisi lain, yaitu Joni. Yah, joni terbengkelai tanpa perawatannya. Jangankan di rawat, ataupun di mandikan. Di jenguk pun tidak. Di situlah kadang Joni jadi sering sakit kepala.
Lampu ruang tamu sudah di matikan, tandanya para penghuni sudah tidur. Namun aku tak khawatir, karena aku memiliki kunci serep yang selalu ku bawa. Jadi aku tak perlu mengganggu mereka yang telah tertidur nyenyak. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, itu artinya aku sudah telat pulang selama lima jam.
Perlahan aku membuka pintu kamarku, aku yakin istriku pasti sedang menungguku dengan gelisah. Dan benar saja, dia duduk di sofa kamar terlihat sibuk dengan ponselnya.
‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif’ mungkin begitulah kira-kira suara di ponselnya. Konsentrasinya pada smartphonenya membuatnya tak menyadari kehadiranku. Hingga ia nampak terkejut saat pintu kamar mandi ku buka yang engselnya memang sedikit mengeluarkan bunyi. Spontan dia berdiri, berlari dan menghambur memelukku. Saking kuatnya sampai-sampai aku terhuyung kebelakang, karena tak ada persiapan.
“Darimana saja sih Mas, Hp tidak bisa di hubungi sejak siang. Sms gagal terus, Wa contreng satu sampe sekarang. Kamu kemana? Trus hp kenapa tidak aktif,” sambil terisak dia memberondongku dengan pertanyaan. Aku terdiam, antara bahagia dan kasihan. Perlahan kubalas pelukannya dengan mendekapkan kedua tanganku ke tubuhnya. Kupeluk erat!
“Darimana?” katanya lagi sambil mendongakkan kepalanya. Terlihat pipinya basah dengan air mata, sorot matanya terpancar kekhawatiran yang mendalam. Aku tau, dia pasti sangat gelisah seharian ini, bahkan kegelisahan bertambah karena tak mendapatkan informasi apapun dari Aldo. Dan itu sudah ku susun dengan baik tentunya. Aku berpesan pada Aldo untuk tidak mengatakan apapun jika Anita bertanya tentang keberadaanku padanya.
“Hmm,” gumamnya saat aku tak segera memberi jawaban.
“Lowbet,” hanya itu yang mampu ku ucapkan.
“Darimana?” kejarnya. Namun aku tetap tak menjawab. Ku kecup keningnya, ku kendorkan pelukanku. Lalu ku lepaskan. Ku tinggalkan dia yang masing berdiri mematung. Dan segera ku melangkah masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi Ku lihat istriku sudah tidur di ranjang Riri. Entah tidur beneran atau pura-pura tidur. Akh! Sepertinya pura-pura tidur saja, tak mungkin dia secepat itu tertidur. Kurebahkan badanku yang sedikit terasa penat, karena sejak pulang dari kantor tadi aku memutar-mutari kota tanpa tujuan yang pasti, yang tentunya sengaja kulakukan untuk mengulur waktu pulang ke rumah. Segera ku pejamkan mata, berharap tertidur cepat dengan harapan mimpi yang indah menyertai tidurku.
********
“Jon,,” bisikan lembut mengelitik telingaku. Kupicingkan mata mencari tau apa yang terjadi. Sedikit tersentak terkejut tak percaya dengan pemandangan di depan mataku. Anita terlihat duduk disampingku dengan menggunakan lingerie renda warna merah hitam. Sangat feminim namun tetap nampak keseksiannya. Belum penuh kesadaranku, istriku telah memagut bibirku. Dengan beringas dia melucuti pakaianku. Dimanjakan setiap inci tubuhku dengan luar biasa.
“Matikan lampunya,” bisikku.
“Gak usah,” katanya, sambil terus memainkan permainannya dengan luar biasa. Dan malam ini pertama kalinya aku bercumbu dengannya dibawah sinar cahaya lampu. Dan dapat ku lihat jelas setiap lekuk tubuhnya. Sangat indah, dan tentu itu membuat ku semakin bergairah. Tumpah ruah kerinduanku padanya, gesekan kaki ranjang dengan lantai terdengar. Tanda bahwa betapa hebatnya pertempuran kami. Hingga akhirnya kami sama-sama terkulai lemas menuntaskan Ibadah nikmat ini. Kupeluk tubuhnya, dan kukecup keningnya sebagai tanda terima kasihku padanya.
Setengah jam berlalu...
“Darimana?” lirih kata itu terucap lagi. Ada sesuatu yang mengelitik sebenarnya. Namun ku urungkan niat untuk tertawa.
“Suatu tempat,”
“Iya, dimana?”
“Keliling kota, mencari Anitaku yang telah pergi beberapa hari ini entah kemana.”
“Maafkan aku, maafkan aku mas. Tiara sudah menjelaskan semuanya. Maafkan aku!” isak tangisnya pecah lagi. Sedikit terkejut mendengar nama Tiara di sebut, namun aku tak mau tau dan tak ambil pusing, yang terpenting sekarang semua sudah kembali membaik. Aku takut, jika aku menyebut nama Tiara dia akan ngambeg lagi. Tobat dah tobat!
__ADS_1
“Sudah! Aku cukup memahami apa yang kamu rasakan. Aku juga minta maaf, meskipun aku tak tau bagian mana yang harus kamu beri maaf,”
“Maaf Mas, aku hanya,,,” tak ingin ku mendengarkan Istriku bicara lagi, segera kulumat kembali bibirnya. Tak perlu lagi aku mendengar penjelasannya. Cukup sudah air matanya yang memberi penjelasan. Kali ini aku yang mencumbunya, kubangkitkan kembali gairahnya. Meskipun sudah tersalurkan namun ku ingin mengajaknya bermain lagi, lebih lama dan lebih dahsyat lagi tentunya. Membalas dendam untuk beberapa hari yang hilang.
*********
‘Kyunki Tum Hi Ho
Ab Tum Hi Ho
Zindagi Ab Tum Hi Ho
Chain Bhi, Mera Dard Bhi
Meri Aashiqui Ab Tum Hi Ho
Tumhi Ho... Tumhi Ho...’
Samar-samar ku dengar lantunan lagu nehi-nehi dari arah teras rumah. Suara merdu Aldo pun lamar-lamat ku dengar. Soal tampang dia memang nge-rock, tapi bicara hati, aldo tipikal yang lemah lembut. Dia tidak suka dunia hingar bingar, sama sepertiku. Dia tidak suka musik keras, sama sepertiku. Dia tipe lelaki setia, sama sepertiku. Dia penyayang Tiara, sama seperti.. Eits, kali ini tidak sama dong. Kalau aku penyayang Anita lah. Salah kata nanti ngambeg lagi. Cukup sekali saja si Joni terbengkalai.
Ku hampiri Aldo yang tengah bernyanyi di teras, terlihat nampak menghayati lagu yang dibawakannya. Aku mengambil duduk dekat kolam, sambil menaruh kopi susu yang baru kuambil dari dapur, lalu ikut benyanyi bersamanya.
‘Tere liye hi jiya main, khud ko jo yun de diya hai teri wafa ne mujkho sambhala,,, ‘
“Ga asik ah Do,” kataku protes.
“Kamu sih ganggu, suaramu pales. Ngerusak suasana aja lah Rey. Yang tadinya dah mau mewek kebalik ngakak. Nada kemana lirik kemana, udah gitu cengkok macem orang kesetrum gitu” kata Aldo menaruh gitar sambil ngomel-ngomel. Dan mulut berhenti bicara saat kopi susuku mendarat manis di mulutnya.
Namun itupun hanya sesaat, selanjutnya dia monyong-monyongin bibirnya. Tanda kepanasan.
“Rey, ga bilang kopi susunya masih panas,” sambil mengelap-elap bibirnya.
“Lah, masa tangan ga berasa kalau itu masih panas.”
“Ah kamu Rey, melepuhkan bibirku,”
“Biar, biar kelihatan seksi.”
“Seksi dengkulmu itu Rey.” Kata Aldo sambil ngipas-ngipasin mulut pakai tangan. Dan aku hanya cekikikan melihat tingkahnya.
“Makanya, kalau mau minum ijin dulu sama yang punya.”
Tak lama, muncul Anita menggendong Riri, disusul Tiara yang nampak membawa dua tas beisi baju-baju ganti.
“Yok Mas, kita dah siap.” Ajak Istriku.
__ADS_1
“Oke. Yok Do!” Kataku lalu mengambil gelas yang tadi disruput si aldo, dan menyimpannya di dapur. Hari ini kami akan bertandang ke rumah Ayah, rencananya seminggu kedepan kami akan membantu mempersiapkan acara prnikahan si kadal buntung Ferdy. Akh, ga nyangka manusia jadi-jadian satu itu akhirnya laku juga.
Perlahan mobil melaju merangkak membelah keramaian kota. Lagu mas Didi Kempot pun tak lupa menemani sepanjang perjalanan kami. Kartonyono medot janji.
“Rey, cewek khilaf mana yang mau sama si Ferdy?” suara Aldo memecah keheningan.
“Tau tuh, kayaknya pacarnya yang macam anak SMP dulu itu.”
“Masya Allah, kok mau ya cewek secantik itu sama si Ferdy yang Play Boy Bangkotan” kata Aldo sambil nyengirin bibirnya macem nenek-nenek lagi nyirih.
“Heleh, apa bedanya sama kamu.” kataku menyanggah.
“Dih, kita mah setia coy! Ganteng lagi,”
“Huekkk,” sahut istrinya.
“Noh istrimu aja mual mau muntah,” kataku tertawa.
“Awas kamu Yank!” kata Aldo sambil mencubit pipi Tiara.
“Awas apa?” kata tiara melotot.
“Awas ada suleeee..” kata Aldo lagi.
“Prikitew....” serempak kami menirukan suara pelawak yang sering muncul di global Tv. Tertawalah kami dalam lawakan yang gaing-garing gurih.
“Dulu tuh, aku kasihan aja sama dia. Makanya aku mau,” jelas Tiara.
“Iya Ra, kasihan karna si Aldo mogok makan seminggu gara-gara ngebet pengen kamu jadi istrinya itu kan,” istriku ikut nimbrung.
“Iya bener-bener!” kata Tiara lalu tertawa.
“Kuampret, dengar aja kamu Nit kabar itu,” kata Aldo mulai sewot.
“Dengar lah, malah ada yang mau ke dukun segala kan dulu itu....”
“Eitssss, sudah-sudah ya sodara-sodara. Ga usah dilanjutin. Bikin malu aja.”
“Waitt? Jadi ada yang mau main dukun dulu dek?” kataku mempertegas.
“Rey-reyyy. Jangan ikutan bahas Rey! Tar ku keluarin jurus pelet Ambyar baru tau rasa kamu Rey!
“Wihh, ga nyangka! Orang ganteng mainannya ke dukun, untung ga di cabulin sama mbah dukunnya kamu Do” kataku lalu disambut tawa oleh seisi mobil. Terkecuali Aldo.
“Dasar kuampret kamu Rey. Kan belum jadi Rey!” kata Aldo manyun.
__ADS_1